Bisnis.com, JAKARTA — Katarak yang selama ini identik dengan penyakit usia lanjut kini mulai lebih sering ditemukan pada kelompok usia muda dan produktif. Kondisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya penyakit metabolik seperti diabetes hingga tingginya paparan sinar ultraviolet dalam aktivitas sehari-hari.
Dokter Spesialis Mata sekaligus Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, dr. Nina Asrini Noor, mengatakan kasus katarak pada usia produktif memang mulai lebih banyak ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor mulai dari diabetes, rabun jauh tinggi, hingga paparan sinar matahari dalam jangka panjang.
“Sekarang memang mulai lebih sering ditemukan katarak pada usia produktif. Katarak bukan hanya penyakit usia lanjut karena ada faktor-faktor tertentu yang bisa mempercepat terjadinya katarak,” ujarnya dalam pemaparan di acara media briefing Jakarta Eye Center, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dr. Nina menjelaskan diabetes menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap percepatan munculnya katarak pada usia muda. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu metabolisme tubuh, termasuk aliran darah pada mata, sehingga lensa mata lebih cepat mengalami kekeruhan.
Di sisi lain, gangguan metabolisme akibat diabetes juga dapat mempengaruhi pembuluh darah di mata dan meningkatkan risiko kerusakan penglihatan. Penderita diabetes disebut memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami katarak lebih cepat dibandingkan orang dengan kadar gula darah normal.
“Diabetes itu mempengaruhi metabolisme seluruh tubuh, termasuk mata. Karena aliran darah ke mata ikut terganggu, risiko percepatan katarak juga meningkat,” katanya.
Selain diabetes, Nina mengatakan paparan sinar ultraviolet atau UV juga menjadi faktor yang mempercepat perubahan pada lensa mata. Menurutnya, banyak masyarakat masih belum terbiasa menggunakan pelindung mata saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan, padahal paparan UV tetap bisa mengenai mata meski berada di dalam mobil.
Dia menambahkan penggunaan kacamata dengan perlindungan UV dapat membantu memperlambat risiko kerusakan lensa mata. Kebiasaan tersebut dinilai penting dilakukan sejak usia muda agar proses munculnya katarak tidak terjadi lebih cepat.
“Paparan UV akan membuat lensa mata mengalami perubahan lebih cepat. Sebaiknya gunakan kacamata dengan perlindungan UV saat beraktivitas di luar,” tambahnya.
Sementara itu, Nina juga menyebut penderita rabun jauh tinggi atau minus tinggi memiliki risiko lebih cepat mengalami katarak dibandingkan orang lain. Meski demikian, kondisi tersebut tetap dapat ditangani melalui operasi katarak dengan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi mata pasien.
Lebih lanjut, dia mengatakan gejala katarak pada usia produktif sering kali tidak langsung menyebabkan kebutaan total. Namun, penderita biasanya mulai mengalami penglihatan buram, silau saat malam hari, hingga kualitas penglihatan yang menurun saat bekerja atau beraktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Nina, kondisi tersebut dapat mengganggu produktivitas apabila tidak segera diperiksa dan ditangani. Masyarakat pun diminta tidak menunda pemeriksaan mata ketika mulai merasakan perubahan pada penglihatan.
“Jangan tunggu sampai penglihatan benar-benar terganggu atau tidak bisa melihat. Semakin cepat ditangani, pemulihan biasanya juga akan jauh lebih baik,” tutupnya.