Bisnis.com, JAKARTA — PT Prudential Life Assurance atau Prudential Indonesia mencatat pendapatan premi dari produk asuransi kesehatan mencapai Rp5,2 triliun per kuartal III/2025.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengemukakan nilai tersebut berkontribusi sebesar 34% terhadap total pendapatan premi.
“Sementara itu, sampai dengan kuartal III/2025, kami mencatat pembayaran klaim didominasi oleh klaim rawat inap sebesar Rp2,9 triliun, serta klaim rawat jalan sebesar Rp1 triliun,” bebernya kepada Bisnis, Senin (15/12/2025).
Lebih lanjut, Yosie tidak menampik bahwa inflasi medis dan kenaikan biaya layanan kesehatan dapat memengaruhi premi dan klaim kesehatan.
Sebab itu, untuk menekan dampak inflasi medis, perusahaannya melihat perlu ada kebijakan atau ketetapan tarif secara nasional yang meliputi semua industri kesehatan, bukan hanya rumah sakit, tetapi juga farmasi hingga alat kesehatan.
“Karena di Indonesia, saat ini belum ada kebijakan atau ketetapan tarif yang berlaku secara nasional, sehingga kesenjangan biaya untuk jenis perawatan dan pengobatan yang sama masih sangat beragam,” ungkap Yosie.
Yosie turut menyoroti keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan, yang banyak diimplementasikan oleh BPJS Kesehatan.
Baginya, industri asuransi jiwa dan kesehatan di sektor swasta juga berharap penyesuaian tarif dapat dilakukan. Pasalnya, perusahaan memahami pentingnya penerapan standarisasi layanan kesehatan untuk meningkatkan transparansi, kualitas, dan efisiensi pelayanan serta mengurangi variasi dalam pelayanan.
“Kemudian, dari sisi produk asuransi kesehatan, kami juga melihat perlu ada produk yang bisa menjadi solusi menghadapi inflasi medis yang terus naik setiap tahunnya,” sebutnya.
Prudential Indonesia, ujar Yosie, berkomitmen melanjutkan strategi perusahaan yang berorientasi pada nasabah atau customer-centric. Untuk menggaet nasabah baru, perusahaan terus menghadirkan inovasi produk dengan fitur yang sesuai kebutuhan masyarakat
“Kami juga mengembangkan jaringan distribusi, terutama untuk menangkap peluang pasar generasi milenial dan Gen Z yang saat ini jumlahnya sudah mencapai 54% dari total populasi di Indonesia,” ucapnya.