Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah pesawat tempur milik Angkatan Udara AS akan memulai latihan di Timur Tengah seiring dengan tensi panas antara AS dengan Iran.
Dilansir dari Arabiya, latihan pesawat tempur AS itu akan dimulai dalam beberapa hari ke depan. Tujuan latihan adalah untuk menunjukkan kemampuan mengerahkan, menyebar, dan mempertahankan kekuatan tempur udara AS di wilayah tersebut.
“Latihan ini memperkuat perdamaian melalui kekuatan dengan mengerahkan kehadiran yang kredibel, siap tempur, dan bertanggung jawab yang dirancang untuk mencegah agresi, mengurangi risiko salah perhitungan, dan meyakinkan mitra,” tulis US Air Forces Central (USAFCENT) atau Komando Angkatan Udara Pusat AS dalam pernyataannya dikutip dari Arabiya pada Senin (26/1/2026).
Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan armadanya ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempur pendukungnya telah melintasi Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia pada pekan lalu.
“Kami mengirim armada besar ke arah itu dan kita lihat apa yang terjadi. Saya lebih memilih tidak ada apa-apa yang terjadi, tapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat," ujar Trump dikutip dari Bloomberg.
USS Abraham Lincoln didampingi tiga kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, USS Spruance, USS Michael Murphy, dan USS Frank E. Petersen Jr., yang mampu membawa rudal Tomahawk. Sayap udara kapal induk itu mencakup jet tempur F-35C.
Aset militer tersebut serupa dengan kapal yang dikerahkan AS ke Laut Karibia beberapa pekan sebelum operasi militer pada 3 Januari untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Ancang-ancang armada AS ke Timur Tengah seiring dengan ketegangan politik dengan Iran. Terjadi protes besar-besaran di Iran terhadap pemerintah yang berkuasa. Protes disebut sebagai ancaman terbesar terhadap rezim Iran dalam beberapa dekade, dipicu kejatuhan nilai mata uang nasional dan menyebar secara nasional dengan seruan pengakhiran kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Seiring dengan protes tersebut, Pemerintah Iran kemudian mengambil tindakan pengamanan. AS pun ancang-ancang serangan jika kondisi politik tidak terkendali dengan dalih membantu demonstran.
Konsultan risiko Eurasia Group memperkirakan peluang serangan AS dan Israel terhadap Iran sebelum 30 April sebesar 65%, dengan alasan upaya diplomasi kemungkinan gagal.
Sementara Rapidan Energy Group memperkirakan peluang serangan AS dalam beberapa hari atau pekan ke depan sebesar 70%. Namun, aksi militer terhadap Iran membawa risiko besar, dan belum jelas apakah Washington hanya ingin mencegah kematian demonstran lebih lanjut atau mendorong perubahan rezim melalui serangan udara.