Petugas Bandara Jeddah menemukan jemaah haji Indonesia membawa 5 kg tempe orek. Koper dibongkar untuk keamanan. Jemaah diimbau tidak membawa barang berlebihan. [278] url asal
Bisnis.com, MAKKAH — Petugas Bandara King Abdulaziz Jeddah menemukan jemaah haji Indonesia yang membawa tempe orek hingga lima kilogram, setelah membongkar koper jemaah asal embarkasi Palembang.
Tim Bagasi Bandara Jeddah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muhammad Riza Fahlevi, menjelaskan bahwa petugas X-Ray curiga dengan koper jemaah karena terdapat banyak barang yang tak mereka ketahui. Petugas pun membongkar koper tersebut untuk memastikan isinya.
"Ternyata ada tempe orek berkilo-kilogram, kami lalu menjelaskan pada petugasnya bahwa itu makanan," ujar Riza saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) di Bandara Jeddah, Senin (11/5/2026).
Petugas pun memberikan penjelasan soal prosedur pembongkaran tersebut, sebagai prosedur untuk memastikan keamanan dan penegakan aturan. Setelah itu, tempe orek tersebut bisa dibawa kembali oleh sang jemaah.
Riza juga menceritakan temuan lainnya, yakni jemaah yang membawa minyak zaitun tetapi dikemas berlapis dengan lakban.
"Kemasan itu yang membuat petugas X-ray curiga dan meminta pembongkaran," ujarnya.
Riza mengimbau jemaah untuk tidak membawa barang, terutama makanan, dalam jumlah berlebihan. Jemaah juga diminta tidak mengemas makanan dengan kemasan yang membuat petugas curiga, misalnya dengan dililit lakban.
"Karena proses pembongkaran ini bisa menghambat distribusi koper jemaah lainnya [dari bandara ke hotel]," katanya.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, mengatakan bahwa terdapat perbedaan penanganan koper jemaah di Bandara Madinah dan Jeddah. Di Madinah, koper jemaah akan masuk dalam gedung khusus kargo dan bagasi.
"Sedangkan di Jeddah tidak ada sehingga perlu ditempatkan satu petugas sebagai penghubung untuk mengetahui area mana bagasi jemaah akan didrop," kata dia.
Petugas haji bagian bagasi daker bandara selanjutnya melakukan pengecekan untuk memastikan koper jemaah dalam kondisi baik. Pengangkutan dari Bandara Jeddah ke Mekkah dilakukan dengan truk kontainer oleh pihak syarikah.
Harga plastik melonjak akibat perang di Timur Tengah, mendorong masyarakat beralih ke kemasan daur ulang. Wali Kota Bandung dan pegiat lingkungan mengajak penggunaan wadah pakai ulang untuk mengurangi [473] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Melonjaknya harga bahan baku plastik akibat perang di Timur Tengah dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan atau sustainable lifestyle.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya untuk kemasan makanan dan minuman yang dibawa pulang (take away).
Menurut Farhan, lonjakan harga plastik di pasaran saat ini sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, dia menilai kondisi ini menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
“Kita tahu harganya sekarang meningkat sampai 10 kali lipat. Saya ingin mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan kemasan, terutama plastik sekali pakai,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (14/4).
Lebih lanjut, Farhan juga meminta masyarakat agar beralih menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang, seperti tempat makan atau botol yang sudah dimiliki di rumah.
Dia menilai warga sebaiknya menggunakan tempat botram yang ada di rumah untuk makanan. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan wadah pakai ulang juga lebih ekonomis bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Langkah ini juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah plastik di Kota Bandung yang selama ini menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan pemerintah lebih mengarah kepada kesadaran konsumen, bukan semata-mata pembatasan dari sisi produksi.
“Ini pendekatan kepada konsumen agar beralih dari kontainer plastik sekali pakai menjadi kontainer yang bisa dipakai ulang,” jelas Farhan.
Pegiat lingkungan dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira mengatakan bahwa selama ini plastik sebenarnya memiliki harga, namun, tidak terlihat oleh konsumen.
“Dari dulu plastik ada harganya, tetapi tidak terlihat karena selalu disubsidi oleh pedagang dan diberikan gratis kepada konsumen,” kata Tiza.
Aktivis lingkungan hidup dan pakar kebijakan publik di bidang perubahan iklim dan pengelolaan limbah itu menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik pertama kali dirasakan oleh pedagang kecil. Peritel modern, seperti supermarket, sudah lebih dulu berhenti menyediakan kantong plastik sekali pakai beberapa tahun belakangan.
Tiza menilai perbedaan perilaku konsumen saat berbelanja di supermarket dan pasar tradisional menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan sebenarnya memungkinkan.
“Kita lihat konsumen kalau belanja ke supermarket bawa tas belanja sendiri, tapi kalau ke pasar tidak. Murni karena pedagang pasar masih memberikan, artinya bukan karena konsumen tidak bisa berubah,” imbuhnya.
Direktur Climate Policy Initiative Indonesia itu menambahkan bahwa kenaikan harga plastik dapat menjadi titik awal bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk mulai mengurangi ketergantungan pada plastik.
“Kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum pedagang UMKM akhirnya berani mengatakan kepada konsumen bahwa mereka tidak bisa menyediakan plastik,” ujar dia.
Untuk penggunaan plastik selain kantong kresek, seperti pada pedagang makanan, Tiza menyebut terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha.
Pendekatan pertama, biaya wadah plastik selain kantong kresek dibebankan langsung kepada konsumen. Pendekatan kedua, pedagang memberikan harga normal jika konsumen membawa wadah sendiri. Menurutnya, kedua pendekatan tersebut dapat mendorong perubahan perilaku konsumen untuk mengurangi penggunaan sampah plastik tanpa membebani pedagang.
“Dengan begitu, pedagang tidak terbebani dan konsumen juga jadi terbiasa membawa wadah sendiri,” ujar Tiza.
BoardOne menawarkan solusi paperboard berkelanjutan untuk kemasan makanan, ritel, dan grafis dengan kekuatan, fleksibilitas, dan sertifikasi keamanan. [632] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Kemasan telah menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari makanan dan minuman siap saji, produk kesehatan dan kebersihan, hingga pengiriman barang, semuanya bergantung pada kemasan yang mampu melindungi produk sekaligus menjaga kualitasnya hingga sampai ke tangan konsumen.
Meningkatnya kebutuhan tersebut juga diiringi dengan meningkatnya kesadaran, baik dari sisi konsumen maupun pelaku usaha, terhadap kemasan yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga berkualitas. Pertumbuhan sektor makanan dan minuman, ritel, serta e-commerce turut mendorong penggunaan material kemasan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan.
Dalam konteks ini, material kemasan berbasis serat kayu seperti paperboard menjadi salah satu solusi. Material ini dikenal memiliki struktur yang kuat, fleksibel, serta dapat didaur ulang. Permintaan terhadap kemasan berbasis kertas pun diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Salah satu inovasinya adalah BoardOne™, rangkaian paperboard yang dirancang untuk berbagai kebutuhan. Dengan portofolio yang beragam, BoardOne™ menawarkan berbagai jenis paperboard yang menggabungkan kekuatan struktur, kemampuan cetak yang baik, serta fleksibilitas desain untuk berbagai aplikasi kemasan.
Kemasan Makanan dan Minuman
Gelas kopi, wadah makanan siap saji, serta kemasan takeaway telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Untuk menampung makanan atau minuman, baik panas maupun dingin, kemasan perlu memiliki daya tahan yang baik agar tetap kuat, tidak bocor, dan mampu menjaga kualitasnya.
Untuk kebutuhan tersebut, BoardOne™ menghadirkan produk FBB Cupstock Hi-Bulk, FBB Platestock, dan FBB GC2 OBA Free yang dirancang aman untuk kontak langsung maupun tidak langsung dengan makanan. BoardOne™ telah memperoleh berbagai sertifikasi keamanan pangan internasional, seperti FSSC 22000 (Food Safety System Certification), FDA (U.S. Food and Drug Administration), serta ISEGA, lembaga sertifikasi Jerman yang menguji keamanan material kemasan untuk kontak dengan makanan.
Produk ini memiliki warna putih dengan tingkat kecerahan tinggi, namun bebas dari Optical Brightening Agent (OBA), yaitu zat pemutih yang digunakan untuk meningkatkan kecerahan kertas. Dengan demikian, material ini tetap aman digunakan sekaligus menghadirkan tampilan kemasan yang bersih dan menarik.
Produk FBB Cupstock Hi-Bulk dan FBB GC2 OBA Free juga telah memperoleh sertifikasi Halal, memberikan jaminan tambahan bagi produsen makanan dan minuman yang membutuhkan standar produksi sesuai ketentuan halal.
Kemasan Produk Ritel
Berbagai produk ritel, seperti kosmetik, produk kesehatan, produk rumah tangga, hingga barang elektronik ringan, memerlukan kemasan yang mampu melindungi produk sekaligus menampilkan identitas merek dengan baik.
Untuk kebutuhan ini, BoardOne™ tersedia dalam kategori Folding Box Board (FBB) yang umum digunakan dalam kemasan ritel. Struktur paperboard yang kuat membantu menjaga bentuk kemasan serta melindungi produk di dalamnya selama distribusi. Selain itu, permukaan yang rata dan halus memungkinkan hasil cetak yang lebih tajam dan warna yang lebih konsisten, cocok untuk kemasan yang membutuhkan tampilan visual yang menarik di rak ritel.
BoardOne™ juga menghadirkan grade EdgePak yang dirancang untuk menghasilkan kualitas cetak tinggi dengan hasil yang tajam dan konsisten, bahkan dalam volume produksi besar. Material ini juga dapat dioperasikan dengan baik pada mesin pengemas otomatis, sehingga membantu meningkatkan efisiensi dalam proses produksi kemasan.
Percetakan Grafis
Selain untuk kemasan, paperboard juga dapat digunakan dalam kebutuhan grafis dan percetakan, seperti brosur, kartu, kotak hadiah, serta berbagai materi promosi.
Untuk kebutuhan ini, BoardOne™ menghadirkan Art Board C2S Plus yang dirancang untuk menghasilkan kualitas cetak tinggi. Jenis paperboard ini memiliki tingkat brightness dan whiteness yang tinggi sehingga mampu menampilkan warna yang lebih hidup serta detail cetak yang lebih tajam untuk kedua sisinya.
Mengedepankan Keberlanjutan
Selain memenuhi kebutuhan berbagai aplikasi kemasan, BoardOne™ juga diproduksi dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Produk ini menggunakan sumber serat kayu yang dikelola secara lestari dan telah tersertifikasi Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC), salah satu standar internasional untuk pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.
Melalui sertifikasi ini, BoardOne™ memastikan bahwa produk paperboard berasal dari sumber terbarukan serta diproduksi dengan pengendalian mutu yang ketat. Hal ini memungkinkan terciptanya material paperboard yang berkualitas sekaligus memenuhi kebutuhan kemasan dengan dampak ekologi yang minimal.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai berbagai jenis paperboard BoardOne™ dan aplikasinya, kunjungi www.aprilasia.com/boardone.
Jakarta: Di era bisnis yang semakin kompetitif, keberlanjutan menjadi kunci untuk memastikan usaha tetap berkembang.
Salah satu contohnya adalah kolaborasi antara Pisang Goreng Madu Bu Nanik dan Foopak, produk kemasan ramah lingkungan dari APP Group.
Melalui acara Foopak Empowering UMKM - Membangun Bisnis Berkelanjutan Menuju UMKM Naik Kelas & Mandiri, kedua pihak berbagi wawasan mengenai pentingnya inovasi dan penggunaan kemasan yang aman serta ramah lingkungan bagi pelaku usaha kuliner.
Apa itu UMKM berkelanjutan?
UMKM berkelanjutan adalah usaha mikro, kecil, dan menengah yang menerapkan prinsip bisnis ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta memiliki dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Salah satu aspek utama dari bisnis berkelanjutan adalah penggunaan bahan baku dan kemasan yang tidak merusak lingkungan.
Dalam acara ini, sebanyak 50 UMKM binaan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (IKPP) Tangerang mendapatkan edukasi mengenai penggunaan Foopak Greaseproof Paper, kemasan berbasis kertas yang halal, aman untuk makanan, serta ramah lingkungan.
Bu Nanik, pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik, telah menggunakan kemasan ini sejak 2023 untuk memastikan produknya tetap higienis dan berkualitas.
Inovasi untuk bisnis kuliner berkelanjutan
Bu Nanik menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga daya tarik bisnis kuliner di tengah persaingan pasar.
"Saya memulai usaha ini dengan semangat untuk menghadirkan produk yang unik dan berkualitas. Tantangan terbesar adalah mempertahankan standar kualitas dan terus berinovasi. Dengan dukungan kemasan yang tepat seperti Foopak Greaseproof Paper, produk kami tetap higienis dan ramah lingkungan," ujar Bu Nanik.
Sementara itu, Head of Specialty Paper APP Group Lusiana Gomulia menjelaskan penggunaan kemasan berbasis kertas dapat meningkatkan daya saing UMKM kuliner.
"Kami ingin membantu UMKM memahami pentingnya kemasan aman serta bagaimana hal ini dapat mendukung pertumbuhan bisnis mereka," kata Lusiana.
Dukungan bisnis berkelanjutan untuk UMKM
Selain inovasi produk, UMKM juga perlu memahami strategi membangun bisnis berkelanjutan agar tetap kompetitif. Senior Sustainability Expert APP Group Sera Noviany mengungkapkan UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian nasional.
"UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia, dengan lebih dari 65 juta unit usaha yang berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional. Kami berharap dapat membantu UMKM naik kelas dan mandiri melalui edukasi serta dorongan untuk terus berinovasi," ujar Sera.
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(ANN)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56