KOMPAS.com – Banyak orang mengira keberhasilan investasi bergantung pada kecerdasan tinggi, rumus rahasia, atau kemampuan membaca pasar dengan sempurna. Namun investor legendaris Warren Buffett justru mengatakan sebaliknya.
Tokoh yang berhasil mengubah Berkshire Hathaway menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia itu menilai hambatan terbesar investor bukanlah kondisi pasar atau siklus ekonomi. Masalah utamanya justru berada di dalam pikiran investor sendiri.
Selama lebih dari tujuh dekade berinvestasi, Buffett berulang kali mengingatkan adanya sejumlah jebakan psikologis yang kerap membuat investor gagal membangun kekayaan jangka panjang.
Dikutip dari New Trader U, Jumat (6/3/2026), berikut lima jebakan psikologis yang menurut Warren Buffett kerap menjegal investor dan menghambat mereka membangun kekayaan.
1. Terbawa arus saat pasar euforia atau panik
Warren Buffett terkenal dengan nasihatnya: “Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut.”
Kalimat ini menggambarkan bagaimana emosi massa sering memengaruhi keputusan investasi.
Secara alami manusia cenderung mengikuti kerumunan. Ketika banyak orang membeli aset, investor lain merasa terdorong ikut membeli. Sebaliknya, ketika kepanikan melanda pasar dan investor mulai menjual, banyak orang ikut menjual karena takut kehilangan uang lebih besar.
Masalahnya, perilaku ini sering merugikan dalam jangka panjang. Investor yang membeli saat euforia pasar biasanya membeli pada harga yang terlalu mahal. Sementara investor yang menjual saat pasar turun justru mengunci kerugian dan kerap melewatkan pemulihan harga.
Buffett membangun kekayaannya dengan melakukan kebalikan dari perilaku massa tersebut. Ia melihat kepanikan pasar sebagai peluang membeli bisnis berkualitas dengan harga diskon.
Sebaliknya, ketika harga aset melonjak terlalu tinggi karena euforia, ia memilih menunggu dengan sabar.
2. Tidak sabar menunggu hasil investasi
Menurut Warren Buffett, pasar saham sebenarnya bekerja dengan cara yang sederhana.
Ia pernah mengatakan, “Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar.”
Di era modern, hampir semua hal bisa didapat secara instan. Makanan bisa diantar dalam hitungan menit, informasi menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.
Kondisi ini membuat banyak orang sulit bersabar ketika berinvestasi.
Padahal, kekayaan dari investasi biasanya terbentuk melalui proses jangka panjang. Kekuatan bunga majemuk atau compounding membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk berkembang.
Investor yang terlalu sering memantau harga, bereaksi terhadap berita harian, atau terus keluar-masuk saham justru mengganggu proses tersebut.
Warren Buffett sendiri dikenal memegang beberapa investasi lebih dari 30 tahun. Ia memahami bahwa bisnis yang baik membutuhkan waktu untuk meningkatkan laba, memperluas usaha, dan memberi imbal hasil kepada pemegang saham.
freepik ilustrasi investasi3. Mengabaikan pentingnya stabilitas emosi
Banyak orang beranggapan bahwa investasi sukses membutuhkan kecerdasan luar biasa atau pendidikan tinggi di bidang keuangan.
Namun Warren Buffett memiliki pandangan berbeda. Ia mengatakan, “Kualitas terpenting bagi investor adalah temperamen, bukan kecerdasan.”
Temperamen yang dimaksud adalah kemampuan menjaga emosi tetap stabil ketika pasar bergerak liar.
Investor perlu menahan dorongan untuk bereaksi terhadap setiap berita atau mengikuti setiap rekomendasi investasi yang sedang populer.
Menariknya, banyak investor yang sebenarnya memiliki pengetahuan luas justru gagal karena tidak mampu mengendalikan emosi saat pasar bergejolak.
Sebaliknya, investor yang bersikap tenang dan konsisten menjalankan strategi sederhana sering kali mampu membangun kekayaan lebih besar dibandingkan trader yang sangat cerdas tetapi emosional.
4. Mengambil risiko tanpa memahami investasi
Warren Buffett juga mengingatkan pentingnya memahami investasi sebelum menanamkan uang.
Ia pernah mengatakan, “Risiko muncul ketika Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda lakukan.”
Banyak investor tergoda mengejar keuntungan di bidang yang sebenarnya tidak mereka pahami. Mereka membeli produk keuangan yang rumit, berinvestasi di industri yang tidak bisa dijelaskan, atau mengikuti rekomendasi saham tanpa melakukan riset.
Pendekatan seperti ini membuat investasi berubah menjadi spekulasi.
Buffett selalu menekankan pentingnya berinvestasi dalam lingkaran kompetensi, yakni sektor atau bisnis yang benar-benar dipahami investor.
Ia bahkan sempat menghindari saham teknologi selama bertahun-tahun karena merasa tidak dapat memprediksi perusahaan mana yang akan mendominasi industri tersebut.
Keputusan itu mungkin membuatnya melewatkan sebagian peluang keuntungan, tetapi juga melindunginya dari potensi kerugian besar.
PIXABAY Ilustrasi saham.5. Mengira banyak aktivitas berarti kemajuan
Perkembangan teknologi membuat transaksi saham menjadi sangat mudah. Hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel, investor bisa membeli atau menjual aset kapan saja.
Namun Buffett justru memperingatkan bahwa terlalu banyak aktivitas tidak selalu berarti kemajuan.
Ia pernah mengatakan bahwa pendekatan investasinya sering kali ditandai dengan “mengabaikan sesuatu secara tenang, bahkan hampir seperti malas.”
Dalam praktiknya, Buffett jarang melakukan transaksi dan cenderung menahan investasi dalam jangka panjang.
Ia memahami bahwa setiap transaksi memiliki biaya, baik berupa biaya perdagangan maupun pajak atas keuntungan yang direalisasikan.
Lebih dari itu, aktivitas jual beli yang terlalu sering biasanya didorong oleh emosi, bukan analisis rasional.
Ketika pasar bergejolak, dorongan untuk bertindak memang sangat kuat. Namun menurut Buffett, kesabaran untuk mempertahankan investasi berkualitas justru sering menghasilkan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang