Bisnis.com, JAKARTA - Dalam beberapa waktu terakhir, istilah Peter Pan Syndrome ramai diperbincangkan publik, terutama setelah penyanyi Onadio Leonardo secara terbuka mengungkapkan pengalamannya menghadapi kondisi psikologis tersebut dalam sebuah siniar.
Pengakuan itu memicu rasa ingin tahu publik tentang sindrom yang kerap dikaitkan dengan ketidaksiapan emosional seseorang dalam menjalani peran kedewasaan tersebut. Namun, apa sebenarnya Peter Pan Syndrome dan bagaimana ciri-ciri orang yang mengidapnya?
Psikolog Klinis Forensik A. Kasandra Putranto menjelaskan, Peter Pan Syndrome menggambarkan kondisi individu yang secara usia telah dewasa, tetapi secara emosional dan perilaku belum siap menjalani peran orang dewasa.
Mereka cenderung menghindari tanggung jawab, enggan berkomitmen, serta lebih memilih kenyamanan dan kesenangan sesaat dibandingkan kewajiban jangka panjang.
"Sindrom ini adalah pola psikologis yang muncul akibat ketakutan seseorang akan tuntutan menjadi orang dewasa, seperti kemandirian, tanggung jawab, dan komitmen emosional," katanya
Kasandra menyebut istilah Peter Pan Syndrome sebenarnya bukan merupakan gangguan mental yang diakui secara resmi dan tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Meski demikian, fenomena ini ada dan tetap dapat dipahami melalui pendekatan teori psikologi perkembangan.
Kasandra mengungkapkan bahwa Peter Pan Syndrome memiliki sejumlah indikator yang dapat dikenali pada individu tertentu. Salah satu ciri yang paling umum adalah kecenderungan menghindari tanggung jawab, terutama kewajiban jangka panjang dalam pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sosial.
Ciri berikutnya adalah ketakutan terhadap komitmen. Kondisi ini terlihat dari kesulitan menjalin hubungan serius, seperti pernikahan atau komitmen karier, karena adanya rasa khawatir akan kehilangan kebebasan dan kenyamanan pribadi.
Kemudian, katanya, individu dengan sindrom ini juga cenderung memiliki ketergantungan emosional maupun finansial. Individu dengan kecenderungan ini masih sangat bergantung pada orang tua, pasangan, atau lingkungan sekitarnya, meskipun secara usia seharusnya telah mampu hidup mandiri.
Ciri lainnya adalah ketidakstabilan identitas diri. Kondisi ini ditandai dengan kebingungan dalam menentukan tujuan hidup, nilai-nilai pribadi, serta arah masa depan, sehingga individu cenderung “terjebak” secara psikologis dalam fase remaja.
"Secara umum, kondisi ini tampak melalui sikap serta pola perilaku yang menggambarkan ketidakmampuan atau hambatan individu dalam memasuki dan menjalani peran kedewasaan," imbuhnya.
Meski demikian, Kasandra menegaskan bahwa kemunculan ciri-ciri tersebut tidak serta-merta berarti seseorang pasti mengalami Peter Pan Syndrome. Setiap penilaian terkait kondisi kesehatan mental memerlukan asesmen yang komprehensif dan tidak bisa disimpulkan secara sepihak.
Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis mandiri, terutama di tengah ramainya perbincangan mengenai istilah tersebut. Kasandra menyarankan, apabila tanda-tanda tersebut dirasakan berlangsung dalam jangka waktu lama dan mengganggu fungsi kehidupan, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan psikolog.