Bisnis.com, JAKARTA — PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatat penyaluran pembiayaan baru untuk investasi sepanjang Januari 2025 hingga September 2025 mencapai Rp638 miliar.
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengemukakan pembiayaan investasi itu tumbuh sebesar 18% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp541 miliar.
“Pembiayaan baru untuk investasi ini berkontribusi sebesar 7% terhadap total keseluruhan portofolio CNAF yang tercatat sebesar Rp 11,07 Triliun sampai dengan September 2025,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Dia meneruskan, pembiayaan investasi di CNAF didominasi oleh sektor industri yang bergerak di bidang usaha jasa. Misalnya, jasa konstruksi mesin dan jasa pengadaan alat kesehatan. Per September 2025, realisasi kredit di sektor itu mengambil komposisi sebesar kurang lebih 40%.
Meski begitu, dia menilai ketidakstabilan kondisi makroekonomi membuat tahun ini menjadi periode yang cukup menantang bagi industri pembiayaan, termasuk dalam pembiayaan investasi. Pasalnya, pembiayaan investasi diperlukan untuk perluasan bisnis atau usaha.
“Salah satu tantangan yang dihadapi adalah risiko kredit yang cukup besar seiring dengan penurunan daya beli masyarakat yang masih terus berlangsung, sehingga berakibat terjadinya penundaan untuk melakukan perluasan bisnis atau usaha,” jelasnya.
Walaupun demikian, Ristiawan optimistis CNAF dapat mencapai target total penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp9,5 triliun yang di dalamnya termasuk pembiayaan investasi.
“CNAF melihat pembiayaan investasi masih memiliki peluang untuk tumbuh, didukung dengan keunggulan CNAF yakni dalam hal kecepatan dan simplifikasi proses yang akan semakin memudahkan nasabah, sehingga menjadikan transaksi pengajuan menjadi lebih cepat, mudah dan sederhana,” tutupnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan investasi di industri pembiayaan per Juni 2025 mencapai Rp177,33 triliun, tumbuh 8,18% year on year (YoY).
Kendati demikian, secara bulanan (month to month/MtM), pembiayaan investasi di industri multifinance turun 0,56% dari posisi sebelumnya Rp178,38 triliun.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai kinerja pembiayaan investasi saat ini dipengaruhi oleh melambatnya permintaan, terutama di sektor pertambangan, industri kecil, konstruksi, dan perumahan.
“Kemudian, daya beli sedang lesu, harga komoditas turun, sehingga permintaan pembiayaan investasi ikut menurun,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Bhima memperkirakan pembiayaan investasi di industri pembiayaan tetap tumbuh, tetapi cenderung melandai hanya di kisaran 7,5%–8% YoY.