Bisnis.com, MAKKAH — Lembar demi lembar daun pisang disiapkan untuk dijajakkan di Wonosobo, Jawa Tengah. Jualan itu mungkin tidak menghasilkan begitu banyak uang, tetapi menjadi perantara panggilan bagi Painah untuk beribadah haji ke Tanah Suci.
Ketika orang-orang masih terlelap, sekitar pukul 01.30 dini hari, Mbah Painah melangkahkan kakinya membawa hasil pertanian ke pasar pagi di Wonosobo. Menjelang Subuh dia pulang, beristirahat sejenak, lalu menyiapkan daun pisang pesanan pelanggan.
Painah berjalan dari satu kampung ke kampung lain untuk mengantar daun pisang. Dalam satu hari, dia bisa berjalan melewati lima desa, mengantarkan daun pisang ke pedagang pecel, penjual bubur, pengusaha katering, maupun kepada warga yang akan menggelar hajatan.
"Jalan kaki saya," ujar Painah dengan singkat, saat diwawancarai oleh tim Media Center Haji (MCH), dikutip pada Senin (8/6/2026).
Sudah lebih dari 35 tahun Painah menjalani pekerjaannya, dan setengah dari waktu itu dia gunakan untuk menabung haji. Total sudah 18 tahun Painah menabung dari hasil jualan daun pisang demi bisa terbang ke Tanah Suci.
Nominal yang disisihkan tidak besar, sekitar Rp200.000 per bulan. Namun dari uang receh yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu, perempuan asal Wonosobo itu akhirnya berhasil menapakkan kaki di depan Ka'bah pada musim haji 2026.
Keinginan untuk berhaji pertama kali justru datang dari sang suami.
Saat diajak mendaftar haji bertahun-tahun lalu, Mbah Painah sempat menolak karena merasa lebih nyaman tinggal di rumah bersama anak-anak. Namun, suaminya tetap bersikeras agar mereka mendaftar bersama.
Seiring berjalannya waktu, nomor porsi semakin mendekati masa keberangkatan. Akan tetapi, takdir berkata lain, suaminya justru tidak lolos pemeriksaan kesehatan (isthita'ah) akibat penyakit jantung yang dideritanya.
Porsi keberangkatan kemudian dilimpahkan kepada anak mereka yang kini mendampingi Mbah Painah di Tanah Suci.
"Yang ngajak dulu malah tidak berangkat," kata sang anak.
Tubuh yang Kuat, Hati yang Besar
Kebiasaan Painah berjalan kaki setiap hari justru menjadi modal penting saat menjalani ibadah haji di Makkah. Ketika keluarga menyarankan agar dia berlatih berjalan kaki menjelang keberangkatan, jawabannya membuat semua orang tertawa.
"Saya sudah cukup jalan-jalannya jualan," katanya.
Jawaban sederhana itu menggambarkan kehidupan yang telah dia jalani selama puluhan tahun. Perjalanan dari satu desa ke desa lain yang setiap hari dia tempuh ternyata menjadi bekal saat menjalani tawaf, sa'i, hingga lempar jumrah di Tanah Suci.
Meskipun usianya tidak lagi muda, seluruh rangkaian ibadah tersebut dia jalani dengan berjalan kaki.
"Tidak [capek]," ujar Painah saat ditanya soal bagaimana dia menjalani rangkaian ibadah haji.
Jawaban singkat itu kembali mengundang tawa. Namun bagi orang-orang yang mengetahui kisah hidupnya, perjalanan dari Shafa ke Marwah mungkin tidak lebih jauh dibandingkan rute yang selama ini dia lalui setiap mengantar daun pisang ke pelanggan.
Saat pertama kali melihat Ka'bah, Mbah Painah tidak mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang panjang. Senang, katanya, saat menjelaskan perasaannya melihat kiblat umat Islam itu, tetapi jawaban lebih besar sebenarnya ada di dalam hatinya.
Di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan rasa syukur yang selama bertahun-tahun dipupuk melalui kerja keras dan doa.
Di depan Ka'bah, dia tidak meminta banyak hal untuk dirinya sendiri.
"Saya memohon anak-anak dan cucu-cucu sehat walafiat," ujarnya.
Doa yang sama juga dia panjatkan saat menjalani wukuf di Arafah. Dia berharap anak-anaknya menjadi pribadi yang baik dan berbakti kepada orang tua.
Tidak ada daftar panjang keinginan duniawi. Hanya doa seorang ibu yang selama puluhan tahun berjalan dari satu desa ke desa lain sambil membawa harapan dalam hati.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dijalani, Mbah Painah sudah memikirkan aktivitas yang akan kembali dia lakukan saat tiba di Indonesia. Dia berencana kembali berjualan daun pisang seperti biasa.
Ketika ditanya apa harapannya setelah menyandang gelar hajjah, Mbah Painah sempat menjawab singkat.
"Kaya," ujarnya.
Jawaban itu kembali memancing tawa orang-orang di sekitarnya. Namun, sesaat kemudian dia menambahkan kalimat yang menggambarkan cara pandangnya terhadap kehidupan.
"Yang penting kaya sehat," ujar Painah.