Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru yang dirilis organisasi iklim untuk penggemar musik K-pop KPOP4PLANET bertajuk “Konser K-pop Rendah Karbon: Bernyanyi Bersama untuk Masa Depan Kita” menunjukkan bahwa industri K-pop masih tertinggal dalam praktik konser yang berkelanjutan.
Kerangka Evaluasi Konser Rendah Karbon dalam laporan ini menilai lima perusahaan K-pop terkemuka yakni CJ ENM, HYBE, JYP, SM, dan YG dalam mengatasi isu iklim. Beberapa perusahaan tercatat telah menyebutkan konser rendah karbon dalam laporan keberlanjutan mereka, tetapi belum ada tujuan atau kerangka waktu spesifik untuk mengurangi emisi terkait konser berkelanjutan atau penggunaan energi terbarukan.
Laporan menyebutkan bahwa YG Entertainment menjadi satu-satunya perusahaan besar yang menerbitkan laporan berkelanjutan, dengan fokus pada komitmen untuk beralih ke konser berkelanjutan pada 2030. Komitmen ini mengemuka seiring dengan penunjukan Blackpink sebagai duta COP26 pada 2021.
Sorotan aksi iklim dalam industri K-pop makin besar seiring dengan tumbuhnya jumlah penggemar. Fans musik K-pop diperkirakan mencapai 75 juta orang di seluruh dunia pada 2023, seiring dengan tur internasional yang digelar oleh grup-grup populer seperti BTS dan Blackpink.
Terlebih, penelitian oleh organisasi nonprofit Inggris, Julie’s Bicycle, memperkirakan bahwa sekitar 73% emisi industri musik berasal dari penampilan langsung. Persentase ini setara dengan emisi yang dihasilkan 92.000 mobil per tahun.
“Bencana alam yang makin sering terjadi seharusnya menjadi alarm memburuknya krisis iklim. Konser rendah karbon merupakan jalan untuk industri K-pop menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan K-pop, bumi kita, dan generasi mendatang,” ujar Nunik, ambasador Klimates KPOP4PLANET Indonesia dan leader dari fanbase My Day Jars Social Project dalam siaran pers, Jumat (7/11/2025).
“Penyelenggara konser harus mulai mendengarkan suara kami [penggemar] yang ingin konser idola kami dilaksanakan secara lebih berkelanjutan,” tambah Nunik.
Didukung oleh Music Sustainability Alliance, Julie’s Bicycle, dan Music Declares Emergency, laporan ini menyerukan adopsi dan standardisasi konser K-pop rendah karbon di seluruh industri.
“Dengan menunjukkan praktik terbaik dan mengadvokasi perubahan dalam komunitas K-pop, KPOP4PLANET memfokuskan perhatian pada apa yang mungkin dilakukan salah satu genre musik yang paling cepat berkembang dan berpengaruh di zaman kita,” kata Lewis Jamieson, CEO dari Music Declares Emergency Inggris.
Laporan ini menyoroti praktik terbaik bagi perusahaan K-pop, termasuk pengukuran dan pengungkapan emisi di seluruh area konser, serta penetapan rencana pengurangan emisi karbon yang jelas.
Perusahaan K-pop juga diminta beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin. Kemudian memanfaatkan platform musisi untuk memperkuat pesan iklim
Penggunaan plastik sekali pakai dan peningkatan pengelolaan sampah juga diharapkan dilakukan, serta minimalisasi emisi terkait perjalanan mulai dari musisi, kru, dan penonton.
“Kami pernah hidup di dunia tanpa penampilan langsung idola selama pandemi. Kami tidak akan membiarkan krisis iklim membuat kami mengalaminya lagi. K-pop memiliki kekuatan untuk memimpin. Konser rendah karbon telah terbukti dan meningkatkan skala konser sekarang akan menciptakan dampak nyata serta memperkuat reputasi K-pop di seluruh dunia,” kata Nayeon Kim, Juru Kampanye KPOP4PLANET di Korea Selatan.