#30 tag 24jam
Sinyal “habis gelap terbitlah terang” bagi UMKM Indonesia
Optimisme yang mengalir di kalangan UMKM Indonesia menjelang 2026 terasa bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari perjalanan adaptasi yang cukup ... [888] url asal
#umkm-indonesia #ukm #usaha-kecil #literasi-keuangan #teknologi-digital #krisis-ekonomi-global
Jakarta (ANTARA) - Optimisme yang mengalir di kalangan UMKM Indonesia menjelang 2026 terasa bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari perjalanan adaptasi yang cukup panjang dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika 86 persen pelaku usaha kecil menyatakan keyakinan untuk tumbuh, angka ini bukan hanya statistik yang mengesankan, tetapi juga penanda perubahan mentalitas.
Setelah melewati berbagai tekanan global dan domestik, kepercayaan diri ini menunjukkan bahwa usaha kecil tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai memosisikan diri sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang semakin matang.
Temuan dari Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik CPA Australia ke-17 memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang kondisi ini. Survei yang melibatkan 4.166 usaha kecil di 11 pasar tersebut mencatat bahwa optimisme di Indonesia, bahkan melampaui rata-rata kawasan Asia-Pasifik.
Sebanyak 71 persen pelaku usaha kecil di Indonesia percaya bahwa ekonomi nasional akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional sebesar 65 persen. Ini menunjukkan adanya kepercayaan yang relatif kuat terhadap arah ekonomi nasional, meskipun dunia masih dibayangi ketidakpastian global.
Salah satu fondasi utama dari optimisme ini adalah investasi teknologi. Sepanjang 2025, sebanyak 72 persen usaha kecil di Indonesia merasakan dampak positif teknologi terhadap profitabilitas mereka.
Angka ini jauh melampaui rata-rata survei yang hanya mencapai 56 persen. Priya Terumalay, Regional Head Asia Tenggara CPA Australia, menegaskan imbal hasil investasi teknologi yang kuat dan cepat menjadi pendorong utama tingginya adopsi digital di kalangan usaha kecil.
Di balik angka tersebut, ada nuansa yang perlu diperhatikan. Investasi teknologi yang dilakukan masih cenderung berfokus pada aspek yang langsung berinteraksi dengan pelanggan, seperti aplikasi gawai dan sistem pembayaran digital. Ini memang langkah penting, tetapi belum cukup untuk menciptakan keunggulan jangka panjang.
Teknologi, seperti kecerdasan buatan, layanan berbasis cloud, dan perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan, justru memiliki potensi lebih besar dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing secara berkelanjutan. Artinya, transformasi digital belum sepenuhnya menyentuh inti operasional bisnis.
Penjualan daring turun
Menariknya, meskipun teknologi diakui berkontribusi terhadap profitabilitas, penggunaan pembayaran digital dan penjualan daring justru mengalami sedikit penurunan.
Pada 2025, hanya 69 persen usaha kecil yang memperoleh lebih dari 10 persen penjualan dari platform pembayaran digital, turun dari 74 persen di tahun sebelumnya.
Penjualan daring juga mengalami tren serupa, turun dari 68 persen menjadi 64 persen. Fenomena ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa digitalisasi tidak selalu berjalan linear, dan bahwa pelaku usaha masih mencari keseimbangan antara kanal daring dan luring dalam strategi bisnis mereka.
Di sisi lain, ancaman yang muncul dari perkembangan digital juga semakin nyata. Sebanyak 49 persen usaha kecil melaporkan mengalami kerugian akibat serangan siber, baik dalam bentuk waktu maupun finansial.
Ironisnya, hanya 45 persen yang melakukan peninjauan keamanan siber dalam enam bulan terakhir. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap risiko belum sepenuhnya diimbangi dengan tindakan pencegahan yang memadai.
Dalam hal ini, investasi teknologi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai alat untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga sebagai sarana untuk melindungi keberlangsungan usaha.
Optimisme terhadap pertumbuhan juga tercermin dalam peningkatan tenaga kerja. Sebanyak 40 persen usaha kecil menambah jumlah karyawan pada 2025, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 52 persen pada 2026.
Ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis mulai terjadi secara nyata, bukan hanya dalam perencanaan. Namun, pertumbuhan ini juga membawa konsekuensi, terutama dalam kebutuhan pembiayaan.
Sebanyak 78 persen usaha kecil membutuhkan pendanaan eksternal, sebuah angka yang mengindikasikan bahwa akses terhadap pembiayaan tetap menjadi isu krusial.
Di tengah berbagai indikator positif, ada satu aspek yang justru mengalami perlambatan, yaitu inovasi. Hanya 28 persen usaha kecil yang berencana memperkenalkan produk, layanan, atau proses baru yang unik di Indonesia pada 2026, turun dari 37 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini bisa jadi dipengaruhi oleh kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian global, yang mendorong pelaku usaha untuk lebih berhati-hati. Namun, minimnya inovasi berpotensi menjadi hambatan dalam jangka panjang jika tidak segera diatasi.
Generasi muda
Di sinilah peran generasi pengusaha muda menjadi sangat penting. Data menunjukkan bahwa 57 persen pemilik usaha kecil di Indonesia berusia di bawah 40 tahun, proporsi tertinggi di antara negara yang disurvei.
Karakteristik generasi ini lebih berani mengambil risiko, lebih adaptif terhadap teknologi, dan memiliki ambisi ekspansi yang tinggi menjadi aset berharga bagi masa depan ekonomi Indonesia. Mereka tidak hanya membawa energi baru, tetapi juga cara pandang yang lebih terbuka terhadap perubahan.
Kekuatan utama dari usaha kecil Indonesia tampaknya terletak pada kemampuan mereka untuk belajar dan beradaptasi.
Fokus pada kepuasan pelanggan, yang disebut sebagai salah satu pendorong kinerja positif di 2025, menunjukkan bahwa pelaku usaha semakin memahami pentingnya pengalaman pelanggan dalam membangun loyalitas. Ketika hal ini dipadukan dengan adopsi teknologi yang lebih strategis dan manajemen bisnis yang matang, peluang untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan menjadi semakin besar.
Namun optimisme, sekuat apa pun, tetap perlu ditopang oleh kesiapan menghadapi risiko. Transformasi digital, tanpa perlindungan siber yang memadai bisa menjadi bumerang.
Pertumbuhan tanpa inovasi bisa membuat usaha kehilangan relevansi. Dan ekspansi tanpa perencanaan keuangan yang kuat bisa menimbulkan tekanan baru. Oleh karena itu, langkah ke depan bukan hanya soal bergerak lebih cepat, tetapi juga bergerak lebih cermat.
Semua yang tergambar dari survei ini adalah sebuah lanskap usaha kecil yang dinamis, penuh potensi, tetapi juga penuh tantangan. Optimisme yang tinggi adalah modal penting, tetapi bukan jaminan.
Ke depan, bahkan perlu diterjemahkan menjadi strategi yang konkret, keputusan yang bijak, dan keberanian untuk terus belajar. Jika itu dapat dilakukan, maka angka 86 persen bukan hanya sekadar harapan, melainkan awal dari babak baru di mana usaha kecil Indonesia benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi yang tangguh dan berdaya saing tinggi.
Copyright © ANTARA 2026
Uji tangguh ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan 5,04 Persen
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen pada kuartal III tahun 2025 bukan sekadar angka statistik yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), ... [968] url asal
#pertumbuhan-ekonomi #ketangguhan-ekonomi #ekonomi-indonesia #pertumbuhan-lima-persen #stabilitas-ekonomi #krisis-ekonomi-global
Pertumbuhan sebesar 5,04 persen memang menggembirakan, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah
Jakarta (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen pada kuartal III tahun 2025 bukan sekadar angka statistik yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), melainkan cermin dari ketahanan dan daya lenting ekonomi nasional di tengah guncangan global dan dinamika sosial dalam negeri.
Di saat banyak negara masih berjuang menahan laju perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian geopolitik dan perubahan rantai pasok global, capaian Indonesia justru menunjukkan kemampuan beradaptasi serta kekuatan permintaan domestik yang menjadi penopang utama.
Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan mencapai Rp3.444,8 triliun, meningkat signifikan dibanding Rp3.279,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam angka ini, tersimpan cerita tentang konsumsi masyarakat yang tetap solid, investasi yang mulai pulih, dan belanja pemerintah yang kembali mengalir di penghujung tahun.
Kinerja ekonomi yang tetap tumbuh di atas 5 persen ini juga menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dan moneter berjalan beriringan dalam menjaga stabilitas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memproyeksikan kemungkinan perlambatan di kuartal ini, antara lain karena faktor non-ekonomi seperti demonstrasi besar yang terjadi pada Agustus 2025.
Namun, fakta bahwa pertumbuhan tetap bertahan di level psikologis 5 persen menandakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat.
Dalam situasi yang sering kali diuji oleh faktor eksternal dan sosial, daya tahan semacam ini menjadi aset penting bagi pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik dan pelaku usaha terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh percepatan realisasi belanja pemerintah menjelang akhir tahun.
Ini menegaskan kembali peran strategis sektor publik sebagai pemicu aktivitas ekonomi, khususnya di tengah lemahnya ekspor akibat perlambatan global.
Ketika konsumsi rumah tangga mulai menyesuaikan diri dengan inflasi yang masih moderat, belanja pemerintah berfungsi sebagai stimulus yang mampu menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga daya beli masyarakat.
Namun, strategi ini juga mengandung tantangan, bagaimana memastikan bahwa setiap rupiah belanja negara benar-benar produktif, efisien, dan berdampak luas pada perekonomian riil.
Sektor manufaktur
Dalam konteks struktur ekonomi, sektor manufaktur kembali membuktikan diri sebagai jangkar utama ketahanan nasional. PMI manufaktur Indonesia yang tetap berada di atas level 50 selama tiga bulan berturut-turut menunjukkan sektor ini masih berada di fase ekspansi.
Hal ini penting karena industri manufaktur bukan hanya penyerap tenaga kerja terbesar, tetapi juga pusat inovasi, rantai pasok, dan ekspor non-komoditas.
Ketika sektor ini tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global, itu berarti Indonesia mulai menemukan keseimbangan baru antara orientasi ekspor dan kekuatan pasar domestik.
Selain juga dapat digarisbawahi bahwa permintaan dalam negeri menjadi faktor utama yang menjaga momentum ekspansi ini, sehingga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mampu menjaga konsumsi dan investasi di tingkat nasional.
Namun, di balik optimisme ini, perlu ada refleksi kritis. Pertumbuhan sebesar 5,04 persen memang menggembirakan, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah atau mempercepat transformasi ekonomi menuju nilai tambah tinggi.
Pertumbuhan di atas 6 persen secara konsisten masih dibutuhkan untuk menciptakan lompatan kesejahteraan yang nyata.
Di sinilah peran kebijakan industri, digitalisasi ekonomi, dan reformasi birokrasi menjadi sangat penting. Pemerintah harus mendorong agar belanja publik tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mengarah pada investasi produktif seperti infrastruktur hijau, pendidikan vokasi, dan teknologi industri.
Sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, ekonomi digital, dan agroindustri perlu diberi ruang tumbuh melalui kebijakan fiskal yang adaptif.
Dalam konteks ini, pertumbuhan 5,04 persen harus dibaca sebagai momentum, bukan titik akhir. Pemerintah bersama dunia usaha dan akademisi perlu memastikan agar tren pertumbuhan ini diikuti oleh peningkatan produktivitas, pemerataan ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja berkualitas.
Selain itu, penting untuk memastikan bahwa sektor-sektor baru yang tumbuh tidak menimbulkan ketimpangan regional. Daerah-daerah di luar Jawa harus menjadi bagian dari rantai nilai nasional agar kontribusi mereka terhadap PDB semakin meningkat.
Kondisi global yang masih bergejolak mulai dari ketegangan di Timur Tengah, perubahan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, hingga risiko resesi di beberapa negara Eropa, menuntut Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonominya.
Ketahanan pangan, kedaulatan energi, dan transformasi digital harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga stabilitas makro. Pertumbuhan berbasis konsumsi domestik memang baik, tetapi akan lebih sehat bila disertai dengan peningkatan ekspor bernilai tambah dan substitusi impor yang efektif.
Stabilitas ekonomi
Sektor manufaktur yang kini menjadi tumpuan harus terus diberi dukungan dalam bentuk kemudahan logistik, efisiensi perizinan, serta ekosistem investasi yang kondusif.
Proyeksi lembaga keuangan seperti Danamon dan Bloomberg yang menempatkan pertumbuhan Indonesia antara 4,8 hingga 5,02 persen menunjukkan adanya konsistensi kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Meski sedikit di bawah ekspektasi pemerintah, rentang ini masih memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menjaga momentum di tengah tekanan eksternal.
Maka dapat ditekankan bahwa capaian ini menjadi landasan untuk merancang strategi yang lebih agresif di kuartal IV 2025, dengan target pertumbuhan mencapai 5,5 persen sebagaimana diharapkan oleh Menteri Keuangan.
Kunci untuk mencapai target tersebut ada pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal ekspansif dan pengendalian inflasi.
Pemerintah perlu memperkuat program padat karya dan belanja produktif, memastikan distribusi barang dan jasa berjalan lancar, serta menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas harga bahan pokok.
Di sisi lain, reformasi struktural harus terus digerakkan agar birokrasi tidak menjadi penghambat inovasi ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi 5,04 persen adalah sinyal bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh meski dihadang tantangan. Namun, agar angka ini bermakna lebih dari sekadar pencapaian statistik, ia harus diiringi oleh kebijakan yang memberdayakan, inklusif, dan berpihak pada penciptaan nilai tambah.
Indonesia sedang berada pada fase penting menuju transformasi ekonomi yang berkeadilan. Tantangan global tidak boleh menjadi alasan untuk melambat, justru menjadi dorongan untuk berinovasi dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Dengan arah kebijakan yang jelas, fokus pada produktivitas, serta keberanian melangkah di tengah ketidakpastian, Indonesia dapat menjadikan pertumbuhan 5,04 persen bukan hanya angka, tetapi simbol dari bangsa yang tangguh, berdaya, dan siap melampaui batas.
*) Penulis adalah Peneliti ekonomi GREAT Institute dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas YARSI.
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56