Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) diagendakan akan menyampaikan perkembangan hasil pembicaraan dengan MSCI pada sore hari ini, Jumat (20/2/2026).
Saat ini, otoritas bursa Indonesia sedang memperbaiki transparansi pasar agar indeks saham RI tak turun kasta ke frontier market. BEI, OJK dan KSEI diberikan waktu paling lambat hingga Mei 2026.
Sembari pelaku pasar menanti kabar terbaru dari regulator, indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam intraday pukul 14.38 WIB melemah 0,03% ke 8.271. Indeks komposit sepanjang hari mayoritas bergerak di zona merah, bahkan berakhir turun 0,16% ke 8.261 pada sesi I perdagangan.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan pada dasarnya pergerakan pasar saat ini mencerminkan aliran dana riil, bukan cuma karena sentimen kabar terbaru otoritas bursa.
"Pelemahan sesi I wajar karena update regulator ini dampaknya baru sebatas menahan supaya pasar tidak panik. Selama belum ada inflow dana asing atau perubahan regulasi bursa yang diundangkan, pasar akan lebih memilih wait and see," kata Wafi kepada Bisnis, Jumat (20/2/2026).
Menurut Wafi, hal yang paling ditunggu pasar saat ini adalah resolusi terkait likuiditas dan polemik full call auction (FCA). Investor asing cenderung menghindari perdagangan yang kurang transparan.
"Asing alergi dengan mekanisme perdagangan yang mengaburkan transparansi bid-offer karena itu merusak kriteria likuiditas mereka," ujarnya.
Adapun, sampai penutupan perdagangan Kamis (19/2/2026) pasar mencatat net sell asing sebesar Rp14,65 triliun year to date (YtD). Sedangkan, dalam sehari perdagangan tersebut, saham emiten yang paling banyak dilego asing antara lain BBCA dengan net sell asing di pasar reguler Rp391,20 miliar, BMRI Rp222,82 miliar, INKP Rp146,22 miliar, MEDC Rp47,28 miliar, hingga INET dengan net sell asing RP45,87 miliar di pasar reguler.
Wafi melanjutkan, dalam pengumuman perkembangan sore ini para pelaku pasar ingin mendengar kepastian bahwa regulator bisa melobi dan meyakinkan MSCI agar bobot Indonesia di indeks tidak dipangkas.
"Kalau sore ini regulator bisa memberi jaminan kalau kriteria MSCI bisa diakomodasi oleh sistem bursa, ini bisa menjadi katalis positif buat perdagangan Senin dan seterusnya," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.