Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tren pariwisata yang semakin mengutamakan pengalaman, destinasi wisata tidak lagi semata menawarkan pemandangan atau bangunan bersejarah.
Di sejumlah destinasi wisata, pengalaman tersebut justru hadir dari hal sederhana, seperti keberadaan kucing yang hidup berdampingan dengan manusia di ruang publik.
Bagi wisatawan, terutama pecinta kucing, destinasi ini menawarkan suasana berbeda seperti berjalan di kawasan wisata sambil bertemu kucing yang bebas berkeliaran, dirawat, dan diterima sebagai bagian dari kehidupan kota.
Interaksi alami tersebut perlahan membentuk citra destinasi yang khas dan menarik minat pengunjung dari berbagai negara.
Kucing tidak hanya menjadi penghuni jalanan, tetapi juga ikon yang menguatkan identitas dan daya tarik pariwisata.
Berikut tempat wisata di dunia yang dikenal sebagai destinasi wisata ramah kucing dan kerap menjadi tujuan para pecinta kucing.
1. Houtong, Taiwan
Houtong di Taiwan utara dikenal dengan julukan cat village karena populasi kucing liarnya yang sangat banyak. Desa ini dulunya merupakan kawasan tambang batu bara yang mulai ditinggalkan warga setelah industrinya menurun.
Pada akhir 1990-an, jumlah penduduk Houtong tercatat kurang dari 100 orang. Keberadaan kucing-kucing liar membuat desa ini tetap hidup dan tidak benar-benar ditinggalkan.
Pada 2008, warga mulai merawat kucing dan membagikan foto serta video aktivitas tersebut. Konten tersebut menarik perhatian wisatawan dan memicu tumbuhnya pariwisata bertema kucing.
Kucing-kucing di Houtong dapat ditemui bersantai di pot bunga, rak toko, tangga, hingga atap bangunan. Area desa juga dipenuhi lapak souvenir bertema kucing.
Pada 2013, sebuah jembatan pejalan kaki direnovasi agar ramah kucing dengan tambahan pijakan dan lompatan. Jembatan ini kemudian dikenal sebagai Cat Bridge.
Houtong meraih rating 4,3 bintang di Google dari lebih dari 12.000 ulasan. Seorang pengunjung menyebutnya sebagai surga bagi pecinta kucing, sementara ulasan lain menyebut wisatawan bisa betah seharian di desa ini.
2. Istanbul, Turki
Istanbul dikenal luas sebagai salah satu kota dengan populasi kucing terbanyak di dunia. Kucing hidup bebas dan dapat ditemukan di jalan, kafe, museum, hingga masjid.
Warga setempat terbiasa memberi makan dan merawat kucing liar. Saat cuaca dingin, kucing juga dibiarkan masuk ke dalam bangunan untuk berlindung.
Pemerintah kota menyediakan ambulans hewan gratis untuk keadaan darurat. Tim medis tersebut juga melakukan perawatan serta sterilisasi tanpa biaya.
Rumah-rumah kucing dapat ditemui di banyak sudut kota dan dipasang oleh pemerintah kota. Fasilitas ini menjadi bagian dari pengelolaan populasi kucing di ruang publik.
Banyaknya kucing di Istanbul berkaitan dengan sejarahnya sebagai kota pelabuhan. Kucing dulunya dibawa ke kapal untuk mengusir tikus lalu menetap karena iklim hangat dan pasokan ikan yang melimpah.
Budaya Islam yang memandang kucing sebagai hewan bersih turut memengaruhi sikap masyarakat. Hal ini membuat kucing diterima sebagai bagian dari kehidupan kota.
3. Kotor, Montenegro
Kotor merupakan kota resor yang dipenuhi kucing dengan latar bangunan abad pertengahan berstatus UNESCO. Kucing bebas berkeliaran di jalan, kafe, dan tangga kota tua.
Sejak 1914, Lonely Planet telah memasukkan Kotor sebagai salah satu kota terbaik bagi pecinta kucing. Meski demikian, nama Kotor tidak berasal dari kata kucing karena kucing di sana disebut macka.
Warga, pemilik kafe, dan pedagang setempat dikenal sangat peduli terhadap kucing. Kepedulian ini terlihat dari kebiasaan memberi makan dan perlindungan.
Pada 2010, warga bersatu melindungi kucing setelah terjadi kasus peracunan. Pemerintah kemudian menetapkan area resmi untuk memberi makan kucing di dekat Gereja St. Mary.
Di kota tua Kotor terdapat Museum Kucing yang berlokasi di bekas biara Virgin of Angels. Museum ini dibuka oleh kolektor Piero Paci setelah menerima lebih dari 1.500 koleksi bertema kucing.
Koleksi museum terus bertambah, termasuk dari gambar kiriman anak-anak. Seluruh pendapatan tiket digunakan untuk membantu kucing-kucing di kota.
4. Tbilisi, Georgia
Kucing jalanan mudah ditemui di hampir setiap sudut Kota Tbilisi. Banyak di antaranya berkeliaran di kafe terbuka dan area tempat ibadah.
Sebagian kucing aktif mendekati pengunjung untuk meminta makanan. Namun, ada pula kucing yang memilih menghindari interaksi dengan manusia.
Meski jumlah kucing cukup banyak, pengelolaan populasi di Tbilisi masih terbatas. Langkah yang dilakukan saat ini hanya berupa sterilisasi.
Belum tersedia sistem atau infrastruktur terpadu untuk pengendalian populasi. Kondisi ini membuat kucing tetap hidup bebas di ruang publik kota.
5. Pulau Tashiro, Jepang
Pulau Tashiro di Jepang dikenal sebagai “surga kucing” karena jumlah kucingnya jauh lebih banyak dibandingkan penduduk. Pulau ini hanya dihuni sekitar 70 orang di dua desa, Odomari dan Nitoda.
Kucing awalnya didatangkan untuk membasmi tikus yang mengganggu produksi sutra. Sejak itu, anjing dilarang masuk ke pulau.
Warga memperlakukan kucing dengan penuh penghormatan. Di pusat pulau terdapat kuil yang didedikasikan untuk dewa kucing sebagai simbol keberuntungan.
Pulau ini sempat menjadi destinasi wisata populer sebelum pandemi. Warga negara AS dapat tinggal di Jepang hingga 90 hari tanpa visa dengan paspor yang masih berlaku.
6. Zelenogradsk, Rusia
Zelenogradsk di wilayah Kaliningrad dikenal sebagai kota kucing sejak 2012. Julukan ini muncul setelah dibukanya Museum Murarium di menara air yang telah direnovasi.
Museum tersebut menyimpan lebih dari 4.500 koleksi bertema kucing. Koleksinya meliputi perhiasan, lukisan, patung, dan dekorasi interior.
Popularitas museum mendorong pemerintah mengembangkan citra Zelenogradsk sebagai kota kucing. Konsep ini kemudian menjadi bagian dari strategi pariwisata kota.
Saat ini, kucing dapat ditemui di hampir setiap sudut kota. Kehadirannya tampak baik sebagai hewan hidup maupun dalam bentuk patung, mural, dan suvenir.