Erros Djarot berbagi kisah hidupnya, dari trauma keluarga hingga perjalanan cinta dan politik, dalam autobiografi yang menggugah emosi. [1,155] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Suara Erros Djarot mendadak serak. Terdengar terbata-bata. Pria paruh baya itu mencoba tegar. Namun, tak kuasa dia menahan jatuhnya air mata. Tangis pun pecah saat memanggil sebuah nama.
Adalah Slamet Rahardjo Djarot. Saudara tua Erros Djarot yang mampu meluluhkan hati penganut Marhaenisme, ideologi politik yang digagas oleh Presiden RI-1 Soekarno sebagai sosialisme ala Indonesia, itu.
Hampir 3 jam, saat mondar-mandir di atas panggung, pencipta lagu fenomenal Merpati Putih itu terlihat ceria. Testimoni dari kolega hingga kata-kata mutiara dari istri tercinta, Dewi Triyadi Surianegara Djarot, tak membuat bulir-bulir air mata terjatuh.
Wajar air mata peraih Piala Citra terbanyak di film Tjoet Nja’Dhien itu terjatuh. Romansa philia yang terjalin antara kakak beradik tersebut penuh samudra kesedihan. Hal itu tertuang dalam narasi buku Autobiografi Erros Djarot yang dirilis pada bulan lalu.
Relasi mendalam telah terjadi lebih dari enam dekade. Saat Erros Djarot masih berusia 9 tahun, 1959. Mereka harus menelan pil pahit perceraian kedua orang tuanya. Tak ada kata terucap saat mereka mengakhiri mahligai rumah tangga.
Hanya dekapan hangat Slamet Rahardjo menjadi obat penenang Erros bersama dua adiknya saat dibawa sang ayah, Djarot Djojoprawiro, ke Balikpapan. Terpisah dengan tiga adiknya yang masih balita untuk tetap tinggal bersama ibu di Jakarta.
Slamet Rahardjo selalu menjadi malaikat pelindung saat anak-anak kampung mau mengeroyok Erros Djarot. Erros kecil emang usil. Suka mencari gara-gara. Suatu hari, dia pernah mencari keributan dengan warga lokal yang memiliki badan lebih besar.
Dia lari mencari perlindungan ke kakaknya. “Cepet sono ambil pisau,” kata Slamet. Erros pun terbengong saat disuruh ambil pisau. Namun, gertak sambal yang disampaikan kakaknya itu membuat nyali anak kampung itu ciut. Lari tunggang-langgang.
Tak berselang lama, Erros Djarot bersama kakak dan adiknya hijrah ke Yogyakarta. Dia menempuh pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) sekaligus nyantri di rumah kakeknya.
Erros mengenal dunia pesantren hingga aktivitas pergerakan di kota ini. Jiwanya terpatri terhadap ajaran Bung Karno, Marhenisme, di Yogyakarta. Dia ikut Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), underbow Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI).
Belum tuntas mengenyam pendidikan SMP, Erros terseret sentimen G-30-S/PKI. Padahal, GSNI memiliki haluan berbeda dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh akan menggulingkan sistem demokrasi di Indonesia pada 60 tahun lalu.
Secara senyap, Erros bersama Slamet Rahardjo diterbangkan olah ayahnya ke Tanjung Pandan, Belitung. Djarot Djojoprawiro merupakan seorang pilot, yang ditunjuk menjadi Danlanud Tanjung Pandan. Djojoprawiro dekat dengan Marsekal Omar Dhani sehingga dipercaya berada di garis depan saat konfrontasi ‘Ganyang Malaysia’.
Selama di Tanjung Pandan, Erros dilarang membicarakan politik. Urusannya hanya melanjutkan sekolah. Celakanya, tidak lama di Tanjung Pandan, Djojoprawiro difitnah ada kedekatan dengan Pemuda Rakyat, sayap pergerakan PKI.
Dia dituding dekat dengan PKI karena sering memberikan bantuan kepada Pemuda Rakyat saat mengadakan acara. Ada tiga pengusaha lokal yang membela Djojoprawiro, Kiem Nam (orang tua Basuki Tjahaja Purnama), Idris (orang tua Yusril Ihza Mahendra) dan Azhar (Antasari Azhar).
Kepada Erros dan anak-anaknya, Djojoprawiro berpesan agar tidak melupakan jasa mereka. Hal itu terbukti saat Ahok maju pilkada Belitung Timur, Erros memberikan dukungan lewat partainya, PNBK. Pun dengan Yusril dan almarhum Antasari, Erros bersahabat dekat.
Berkat pembelaan tiga pengusaha lokal itu, Djojoprawiro lolos dari lubang jarum sebagai antek PKI di tubuh AURI. Namun, dia dicopot dari Danlanud Belitung dan dikembalikan ke Jakarta dengan posisi fungsional.
Kedekatan Dengan Megawati
Selepas dari Belitung, Erros Djarot bersama Slamet Rahardjo dan ayahnya, memilih tinggal di daerah Kramat, Jakarta Pusat. Djojoprawiro menolak tinggal di mess AURI. Trauma dengan peristiwa fitnah saat di Belitung.
Erros pun memilih melakukan aktivitas bermusik selama di bangku SMA. Sebagai remaja, kehidupan jalanan pernah dijalani. Dia juga pernah ikut geng mobil yang memacu kecepatan di ruas Thamrin-Sudirman.
Saat SMA, dia mulai mengenal anak Menteng. Dari Jalan Cendana, Bambang Triatmodjo, hingga Teuku Umar, mulai Guruh Soekarno Putra, Guntur Soekarno hingga Megawati Soekarno Putri.
Dia mengenal keluarga penguasa Orde Lama dan Orde Baru itu melalui musik. Semasa SMA tidak ada aktivitas pergerakan atau politik. Kehidupannya diisi dengan bermain musik dari panggung ke panggung.
Dunia pergerakan kembali dijalani saat menjadi mahasiswa di Jerman dan Inggris di era 1970-an. Erros masuk dalam Persatuan Pelajar Indonesia dengan membuat tabloid yang berisi kritik soal pemerintahan. Sembari kuliah, Erros sempat menghasilkan karya musik dan film. Seperti Kawin Lari hingga Badai Pasti Berlalu.
Pada era 1980-an dia mulai masuk politik praktis. Debut perdananya dengan masuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di bidang Litbang. Dia sempat menjadi panitia kongres PDI pada 1986 di Surabaya. Namun, dia kecewa karena arah PDI tidak jauh beda dengan pemerintah.
Erros sempat vakum dan kembali terjun ke dunia seni hingga melahirkan sebuah karya besar film Tjoet Nja’Dhien yang menggondol 8 Piala Citra. Kemudian di era 1990-an Erros kembali berpolitik.
Dia turut menjadi saksi sejarah dalam peristiwa penyerangan markas PDI atau dikenal Kudatuli 1996. Dia juga menjadi pelaku sejarah lahirnya PDI Perjuangan dan menghantarkan Megawati Soekarno Putri menjadi Presiden ke-4 RI.
Erros Pemuja Keindahan Cinta
Erros terkenal dengan sebutan flamboyan. Hal itu diakui oleh sang istri, Dewi Djarot, saat menyampaikan sambutan pada peluncuran buku Autobiografi Erros Djarot.
“Dia sangat setia kepada istrinya, saya yakini secara intellectually, conectly dan batinnya dia sangat setia. Karena kalau itu tidak saya yakini saya tidak ada sampai sekarang. Bahwa dia mencintai keindahan itu adalah fitrah Allah,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Pada sisi lain, Dewi Djarot mengaku berterimakasih telah memilih dirinya menjadi pendamping hidup dan membuatnya lebih baik dari kehidupan sebelumnya.
“Thank you for being my better half, terimakasih untuk untuk menjadi partner saya, dan membuat saya menjadi lebih baik dari yang dulu. Itu tidak terjadi tanpa bimbingan dan cintanya, Kang Erros.”
Dalam buku itu diceritakan bahwa perjalanan cinta Erros, sebelum menemukan Dewi Djarot, cukup berliku. Dia mengenal cinta untuk pertama kali selepas SMA. Erros muda cukup naif. Untuk sekadar apel pun harus ada mak comblang, yakni Slamet Rahardjo.
Bahkan, untuk berciuman pun dia harus mengeluarkan keberanian ekstra, yakni sesaat sebelum pergi ke Jerman pada awal era 1970-an. Jodoh tak dapat di raih, malang tak dapat ditolak, selama mengadu nasib dan belajar di Jerman, Erros justru ditinggalkan pacar pertamanya.
Selepas diputus pacar dan ditinggal nikah, kondisi kejiwaan Erros sangat labil. Dia jatuh ke pelukan satu wanita ke wanita lainnya. Kebanyakan pasangannya bule. Bahkan, mantannya saat ini ada yang menjadi walikota dan rektor di sebuah kampus ternama.
Perjalanan cinta Erros akhirnya terhenti pada Dewi Djarot. Hati Erros luluh dan memantapkan pilihan pada anak diplomat senior Ilen Surianegara saat pandangan pertama. Meski perjalanan mendapatkan Dewi Djarot tidak mudah.
Orang tua Dewi sempat menentang. Namun, berkat keteguhan Erros untuk mendapatkan Dewi, Ilen Surianegara pun luluh. Usai menikah biduk rumah tangga mereka pun tidak mudah. Mereka sempat ‘terpisah’ hubungan dan komunikasi, kendati tidak ada kata pisah.
Dinamika percintaan orang tua yang kandas, hingga hubungan rumah tangga Erros sendiri diceritakan secara gamblang, tanpa menghakimi pihak tertentu, di dalam buku setebal 669 halaman ini.
Menurut rencana, buku Autobiografi Erros Djarot ini akan diterbitkan jilid kedua yang lebih banyak mengulas perjalanan politik. Pada penerbitan jilid pertama dibarengi dengan rilis buku Erros Djarot Apa Kata Sahabat.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56