Bisnis.com, KUNINGAN-Pemerintah Kabupaten Kuningan mendorong percepatan penguatan sektor pertanian melalui skema kemitraan berbasis produksi hingga pemasaran, dengan komoditas jagung sebagai fokus utama.
Program ini ditargetkan menggarap lahan hingga 2.500 hektare sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi petani.
Langkah tersebut dijalankan melalui kerja sama operasional antara perusahaan agribisnis dan kelompok tani lokal. Skema ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menyasar aspek hilir, termasuk jaminan penyerapan hasil panen oleh pihak offtaker.
Direktur utama perusahaan mitra, Bahtiar, menjelaskan pengembangan jagung di Kuningan saat ini telah mencapai sekitar 435 hektare. Dalam waktu dekat, luasan tersebut akan kembali bertambah melalui perluasan tanam baru, sebagai bagian dari target besar yang telah ditetapkan.
Menurutnya, jagung dipilih karena memiliki nilai strategis yang luas. Selain sebagai bahan pangan, komoditas ini juga memiliki potensi besar dalam sektor energi alternatif seperti bioetanol.
"Dengan demikian, pengembangan jagung tidak hanya menyasar kebutuhan konsumsi, tetapi juga peluang industri berbasis energi terbarukan," kata Bahtiar, Rabu (1/4/2026).
Lebih jauh, skema kemitraan yang diterapkan dirancang untuk meminimalkan risiko yang selama ini dihadapi petani. Mulai dari penyediaan akses permodalan, distribusi benih dan pupuk, hingga kepastian pasar, seluruh rantai usaha diklaim telah terintegrasi dalam satu sistem.
“Petani tidak lagi dibebani persoalan pascapanen. Hasil produksi akan langsung diserap, sehingga perputaran keuangan mereka tetap stabil,” ujar Bahtiar.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menilai pendekatan ini sebagai langkah strategis dalam membangun sistem pangan daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Ia menegaskan, sektor pertanian tidak bisa lagi dikelola secara parsial, melainkan harus berbasis ekosistem dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, penguatan sektor pangan bukan semata soal produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi daerah dan kemandirian jangka panjang. Karena itu, intervensi yang dilakukan harus menyentuh seluruh rantai nilai, termasuk pengolahan dan pemasaran.
Ia juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir petani agar mampu beradaptasi dengan sistem pertanian modern. Profesionalisme dan penguatan kelembagaan kelompok tani dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks.
“Pertanian harus naik kelas. Tidak cukup hanya menghasilkan, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah,” ujarnya.
Peran perusahaan mitra sebagai offtaker dinilai menjadi elemen penting dalam skema ini.
Selain menyerap hasil panen, kehadiran pihak swasta juga berfungsi sebagai penghubung antara petani dengan pasar yang lebih luas, termasuk potensi industri.