Bisnis.com, DENPASAR — Produksi vanili di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan turun hingga 40% akibat serangan penyakit yang menyebabkan batang tanaman membusuk.
Eksportir vanili NTB Muhir Ali mengatakan penyakit tersebut turut menekan luas lahan produksi di wilayah Lombok Timur dan Lombok Utara.
"Luas lahan produksi awalnya 180 hektare, setelah ada penyakit jadi turun menjadi 40 hektare," jelas Muhir kepada media, Jumat (10/4/2026).
Dia menambahkan, jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, ekspor vanili ke Amerika Serikat berpotensi terdampak. Vanili merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan NTB di luar sektor pertambangan.
Meski demikian, Muhir menyebut ekspor vanili organik masih dapat dilakukan karena masih terdapat produksi dari lahan seluas sekitar 120 hektare. Pada April, pihaknya masih melakukan pengiriman ke pasar Amerika Serikat meski dalam volume terbatas.
Untuk menjaga kualitas ekspor, pihaknya melakukan kurasi ketat guna memastikan produk yang dikirim memenuhi standar organik.
"Saat ini kami sedang melakukan audit terhadap petani vanili, khususnya untuk memastikan standar organik sesuai dengan ketentuan pasar internasional. Upaya ini penting agar produk vanili NTB tetap memiliki daya saing di pasar global," kata Muhir.
Dari sisi permintaan, Muhir mengakui terdapat perlambatan terbatas akibat kondisi geopolitik global yang memengaruhi industri hilir. Namun, permintaan vanili organik dinilai tetap stabil, bahkan cenderung meningkat.
“Memang ada pengaruh situasi global, mungkin dari perang, sehingga produk turunan vanili di sana agak melambat. Tapi kebutuhan tetap ada. Bahkan untuk organik, permintaan tidak turun, justru lebih tinggi,” jelasnya.
Untuk memulihkan produksi, Muhir berencana mencari lahan baru. Hal ini karena lahan yang telah terdampak pembusukan tidak dapat digunakan kembali untuk budidaya vanili.