Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan pertanian raksasa Louis Dreyfus Company (LDC) memperluas komitmennya berinvestasi di Indonesia.
Tahun ini, salah satu yang menjadi sorotan utama adalah peresmian pabrik penyulingan gliserin dan lini pengemasan minyak nabati baru di Lampung.
Pada Mei 2025, LDC kembali melakukan investasi signifikan di Indonesia dengan pembukaan pabrik penyulingan gliserin baru, dengan kapasitas tahunan sebesar 55.000 ton, dan lini pengemasan minyak nabati baru yang mampu memproduksi 64.800 metrik ton per tahun.
LDC telah memiliki jejak aset yang luas di negara ini, termasuk membuka lahan perkebunan di Lampung dan Balikpapan, dan menjalankan operasi midstream dan upstream untuk komoditas ekspor dan impor.
LDC sendiri sudah berdiri lebih dari 170 tahun sebagai perusahaan global, dan telah beroperasi di lebih dari 100 negara, dengan fokus pada originasi, pemrosesan, dan pengiriman kopi, kapas, gula, solusi pangan dan pakan, biji-bijian, minyak sayur, dan beras ke pasar global.
Historia Louis Dreyfus Company
Berdirinya Louis Dreyfus Company sebagai perusahaan global masa kini tak lepas dari andil pendirinya, Leopold Louis-Dreyfus, seorang pengusaha, diplomat, dan investor Prancis.
Lahir dengan nama Léopold Dreyfus dari keluarga Yahudi di Sierentz di Alsace di timur laut Prancis, dia merupakan keturunan seorang petani
Semasa muda, Dreyfus muda sering bepergian ke Basel, Swiss, mengirimkan gandum dari pertanian keluarga untuk dijual. Pada tahun 1851, dia mulai berdagang gandum dari pertanian tetangga.
Di usia 16 tahun, Dreyfus kemudian mendirikan perusahaan dengan nama ayahnya, karena dia terlalu muda untuk menggunakan nama keluarganya sendiri.
Dreyfus muda kemudian mengubah nama keluarganya menjadi Louis-Dreyfus, tetapi tetap menggunakan nama perusahaan tanpa tanda hubung.
Pada tahun 1858, setelah pertumbuhan pesat, ia memindahkan perusahaannya ke Berne, Swiss, di mana perusahaan memperluas operasinya ke seluruh Eropa dengan membeli gandum dari "lumbung" Eropa Timur dan mengangkutnya ke pasar-pasar yang membutuhkan di Eropa Barat.
Pada tahun 1864, perusahaannya berpindah ke Zürich, Swiss dan pada tahun 1872, setelah Perang Prancis-Prusia ketika Prancis menyerahkan Alsace ke Jerman, Louis Dreyfus memilih kewarganegaraan Prancis.
Dia kemudian pindah ke pelabuhan pengiriman Marseille dan pada tahun 1875 telah memindahkan kantor pusat perusahaannya ke Paris.
Pada tahun 1883, Louis Dreyfus Group menjadi salah satu perusahaan pertama yang terlibat dalam perdagangan berjangka di Asosiasi Perdagangan Jagung Liverpool, yang memungkinkan perusahaan tersebut untuk membeli dan menjual komoditas secara bersamaan.
Kemudian, pada tahun 1900, Louis Dreyfus Group menjadi pedagang biji-bijian terbesar di dunia.
Pada tahun 1905, Dreyfus mendirikan Banque Louis-Dreyfus, bank untuk membantu membiayai operasi perusahaan di pasar biji-bijian. Setelah itu, perusahaan berekspansi secara internasional mulai pada tahun 1909 dengan membuka kantor di Duluth, Minnesota dan mulai mengekspor gandum durum.
Selanjutnya, pada tahun 1911, mulai memperdagangkan kapas di Brasil, dan pada tahun 1913, mendirikan operasi di Melbourne.
Menjelang kematiannya pada tahun 1915, Léopold telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Komandan Ordo Kerajaan Rusia (1905), Komandan Légion d’Honneur (1912), dan Perwira Agung Mahkota Rumania (1914).
Pada tahun 1915 Léopold Louis-Dreyfus meninggal, menyerahkan perusahaan keluarga kepada putra-putranya. Generasi kedua bisnis ini, dengan Charles dan Louis sebagai pemimpinnya, kini memimpin dan berekspansi ke Amerika dan sekitarnya.