Bisnis.com, JAKARTA – Steve Jobs, salah satu pebisnis besar dan terkenal di dunia yang mendirikan Apple memberikan wawancara berharga kepada majalah Rolling Stone. Wawancara yang awalnya membahas tentang kemajuan teknologi, justru beralih menjadi salah satu pelajaran kepemimpinan paling berharga dari hidupnya.
Wawancara pada 1994 tersebut dilakukannya setelah dikeluarkan dari Apple dan sedang menata kembali kariernya sebelum akhirnya kembali memimpin revolusi besar melalui iPhone dan iPad.
Dilansir dari Inc.com, Selasa (sebuah media bisnis, saat Steve Jobs ditanya apakah masih memiliki keyakinan besar akan teknologi seperti dulu, Jobs menjawab dengan sederhana namun penuh makna:
“Technology is nothing. What’s important is that you have a faith in people, that they’re basically good and smart, and if you give them tools, they’ll do wonderful things with them.”
(“Teknologi itu bukan apa-apa. Yang penting adalah anda percaya pada orang lain bahwa mereka baik dan pintar, dan saat Anda memberi mereka “alat”, mereka akan membuat hal-hal luar biasa dengan alat itu.”)
Dari ungkapan Steve Jobs tersebut, terdapat lima kata sederhana yang menjadi inti filosofi kepemimpinan Jobs: “have a faith in people” (percaya kepada orang lain). Lima kata tersebut memiliki nilai bahwa kepercayaan sejati dimulai dari manusia, bukan dari mesin.
Seiring waktu, Jobs semakin matang sebagai seorang pemimpin yang tidak sekadar percaya pada teknologi, melainkan pada kemampuan kita, manusia, untuk memanfaatkan secara kreatif dan maksimal teknologi itu. Menurutnya, ketika seorang pemimpin memulai dengan kepercayaan, maka secara otomatis perilaku kerja sama dan inovasi-inovasi segar akan mengikutinya. Baginya, kepercayaan adalah hadiah yang diberikan pemimpin kepada timnya, bahkan diberikan sebelum mereka membuat hasil.
Hal ini sesuai dengan pendapat Stephen M.R. Covey, seorang penulis dan pakar kepercayaan dari Amerika Serikat, dalam bukunya The Speed of Trust. Dalam buku tersebut, ia menegaskan bahwa sebuah tim dengan tingkat kepercayaan tinggi satu sama lain akan bergerak lebih cepat, lebih menghasilkan yang terbaik, dan menekan biaya lebih efisien.
Dampak dari leadership yang berlandaskan kepercayaan, sesuai yang dilansir dari Inc.com adalah sebagai berikut:
1. Rasa Aman
Ketika ketua memimpin dengan penuh kepercayaan kepada rekan kerjanya, ia akan menciptakan rasa aman secara psikologis. Karyawan akan merasa bebas berpendapat, mengambil risiko, dan berinovasi tanpa takut disalahkan.
2. Membangun Rasa Tanggung Jawab
Jobs percaya pada para insinyur bahkan sebelum mereka resmi bekerja di Apple. Filosofinya jelas: “It doesn’t make sense to hire smart people and tell them what to do; we hire smart people so they can tell us what to do.”
(Tidak masuk akal untuk mempekerjakan orang pintar dan memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan. Tetapi kita mempekerjakan orang pintar agar mereka dapat memberi tahu kita apa yang harus dilakukan.)
Dari sini, Jobs mengutarakan bahwa memberikan kepercayaan ke rekan kerja untuk mengelola sesuatu secara mandiri, berarti membangun rasa tanggung jawab dan kebanggaan terhadap hasil kerja.
3. Rekan akan Merasa Dihargai
Kepercayaan adalah bentuk penghormatan. Saat pemimpin tim mempercayai karyawan untuk bebas berpendapat menurut pengetahuan dan kepercayaannya sendiri, akan tercipta rasa saling menghormati dan loyalitas dalam tim. Inilah fondasi budaya kerja yang kuat.
4. Membuat Pemahaman Visi Bersama Lebih Kuat
Jobs menilai bahwa kejelasan dan satu paham akan visi, atau cita-cita bersama, jauh lebih penting daripada pengawasan ketat dalam tim. Suatu momen, Steve Jobs pernah berkata:
“Once they know what to do, they’ll go figure out how to do it. What they need is a common vision.”
(Begitu mereka tahu apa yang harus dilakukan, mereka akan mencari tahu bagaimana melakukannya. Yang mereka butuhkan adalah visi bersama.)
Bagi Jobs, leadership yang baik berarti mampu menjelaskan visi bersama dengan tepat dan efektif, agar semua orang bergerak ke arah yang sama dengan caranya masing-masing.
5. Dapat Menyelesaikan Masalah Lebih Cepat
Ketika karyawan dipercaya untuk bertindak, mereka mampu mengambil keputusan tanpa harus menunggu persetujuan berlapis-lapis. Hasilnya, proses akan berjalan lebih cepat dan pengalaman bagi pelanggan maupun karyawan pun meningkat.
Pelajaran kepemimpinan Steve Jobs dimulai dari hal sederhana: percaya pada orang.
Sebagai pemimpin, berikan rekan kerja anda visi yang jelas, peralatan/tenaga, dan kebebasan untuk bekerja dengan cara mereka sendiri. Dari situlah budaya kepercayaan, kolaborasi, dan inovasi akan tumbuh. Budaya kerja tersebut akan membawa hasil bisnis yang menguntungkan, dan tetap menghargai karyawan sebagai sesama manusia, bukan semata “tenaga” penghasil uang. (Stefanus Bintang)