Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan tren apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bakal berlanjut dalam jangka waktu yang cukup panjang, didorong oleh sentimen global terkait manuver penguatan yen Jepang yang berpotensi menekan kedigdayaan dolar AS.
Purbaya menekankan bahwa menjaga kurs rupiah merupakan tugas Bank Indonesia (BI). Menurutnya, beberapa waktu terakhir langkah bank sentral menjaga stabilitas pasar valuta asing (valas) sejauh ini sudah on the track.
Lebih dari itu, sambungnya, momentum penguatan mata uang Garuda kini mendapatkan angin segar dari faktor eksternal, yakni adanya indikasi upaya terkoordinasi (concerted effort) di pasar global untuk melemahkan dolar AS dan mengerek posisi yen.
"Apalagi kalau saya lihat dolar AS akan cenderung dilemahkan di pasar global, [sementara] yen dikuatkan. Concerted effort seperti itu biasanya berpengaruh ke nilai tukar dolar dan mata uang yang lain dalam jangka waktu yang cukup panjang," ujarnya usai acara Tirto Indonesia Fiskal Forum 2026 di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, jika momentum ini dimanfaatkan dengan strategi yang tepat maka rupiah memiliki peluang besar untuk menjauh dari level psikologis Rp17.000 per dolar AS yang sempat membayangi pasar sepekan terakhir.
"Jadi kalau kita pintar-pintar sedikit, harusnya rupiah gampang sekali diperkuat lebih jauh lagi dari level yang sekarang," tegasnya.
Di sisi fiskal, bendahara negara itu berkomitmen menjaga kepercayaan investor melalui perbaikan fundamental ekonomi yang riil, bukan sekadar angka di atas kertas. Dengan demikian, dia meyakini akan terjadi arus modal asing yang masuk ke Tanah Air akibat kepercayaan investor pulih sehingga menjadi katalis tambahan bagi penguatan rupiah.
Lebih lanjut, dia juga tidak meyakini penguatan rupiah belakangan hanya akibat terpilihnya keponakan Prabowo Subianto sekaligus Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai deputi gubernur BI.
Rupiah Jauhi Level Psikologis
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan awal pekan ini, Senin (26/1/2026), dengan penguatan ke posisi Rp16.782 per dolar AS.
Level ini membaik signifikan dibandingkan posisi sepekan sebelumnya, di mana rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp16.985 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (19/1/2026), nyaris menembus level psikologis Rp17.000.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang susut 0,4% pada awal pekan, melanjutkan tren koreksi sebesar 1,6% pada pekan lalu.
Tekanan terhadap dolar AS dipicu oleh spekulasi pasar terkait keterlibatan Amerika Serikat dalam intervensi pasar valas untuk menyokong yen Jepang. Spekulasi ini mencuat setelah Federal Reserve Bank of New York dilaporkan melakukan pengecekan tarif yen pada lembaga keuangan, sebuah sinyal yang ditafsirkan Wall Street sebagai indikasi awal intervensi.
Mata uang yen sendiri terpantau menguat 1% terhadap dolar AS. Pelaku pasar mulai mengaitkan fenomena ini dengan memori Plaza Accord 1985, sebuah kesepakatan bersejarah untuk melemahkan dolar AS demi daya saing ekspor, mengingat langkah intervensi terkoordinasi untuk menopang yen tergolong langka dan terakhir terjadi pada 1998.