#30 tag 24jam
Bapanas: Intervensi 1,34 juta ton beras jaga harga tetap terkendali
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,34 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) berhasil menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi ... [673] url asal
Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri
Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,34 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) berhasil menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi beras nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
"Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Bapanas menyatakan intervensi CBP 1,34 juta ton beras itu dilakukan melalui Perum Bulog selama Januari hingga Juni 2026 guna menjaga stabilitas harga komoditas tersebut.
Hal itu terdiri dari realisasi penjualan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di Januari dan Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian SPHP beras Maret sampai Juni yang 406,5 ribu ton.
Untuk program bantuan pangan alokasi Februari dan Maret telah difinalkan sampai akhir Juni. Realisasinya telah mencapai 33,14 juta keluarga penerima manfaat dengan total beras tersalurkan sebanyak 662,86 ribu ton.
Selebihnya CBP disalurkan untuk program golongan anggaran ASN di wilayah tertentu 40,72 ribu ton dan bencana alam 11,37 ribu ton.
"Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,1 juta ton. (Kemudian) FAO (Food and Agriculture Organization) baru mengeluarkan pengumuman, justru produksi kita melompat, estimasi di 2026 itu 38 juta ton," ucap Amran.
Dalam kalkulasinya jika total produksi beras setahun masih di kisaran 34 juta ton seperti tahun 2025, berarti ada surplus produksi terhadap tahun 2024 sekitar 4 juta ton.
Surplus 4 juta ton tersebut dapat berulang jika produksi beras di 2026 masih di kisaran 34 juta ton. Namun jika produksi 2026 berhasil sentuh 38 juta ton, maka surplus produksi dapat semakin meninggi.
"Kalau ini terjadi (prediksi FAO), artinya 8 juta ton surplus tambah 4 juta, itu (bisa sampai) 13 juta ton, sehingga kita bangun gudang cepat. Ada 100 gudang. Anggarannya Rp 5 triliun dan gudang yang bisa menyimpan 2 sampai 3 tahun beras," kata Amran.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (yoy) sebesar 3,98 persen. Angka itu mulai melandai 0,57 persen lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.
Sementara secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi beras tercatat 0,45 persen, masih berada di bawah level 1 persen sehingga mencerminkan pergerakan harga yang relatif terkendali.
"Di tingkat eceran terjadi inflasi (beras) secara month to month sebesar 0,45 persen dan secara year on year terjadi inflasi di tingkat eceran sebesar 3,98 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7).
Secara historis, inflasi beras secara tahunan di Juni 2026 juga masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi Juni 2024 yang sempat mencapai 11,88 persen, serta hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang berada pada level 3,38 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga beras semakin terkendali dibandingkan periode dua tahun sebelumnya.
BPS pun mencatat inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 masih lebih stabil dibandingkan inflasi bawang merah dan bawang putih.
Bawang merah mengalami inflasi 6,52 persen dengan andil 0,04 persen. Sementara inflasi bawang putih 6,88 persen dengan andil 0,03 persen. Andil beras terhadap inflasi secara bulanan di Juni 2026 hanya 0,02 persen.
Untuk inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 dengan 0,45 persen dapat pula menandakan tren harga beras di tingkat konsumen yang masih bergerak stabil. Hal ini karena tingkat inflasi beras secara bulanan belum pernah melebihi level 1 persen sejak Desember 2025.
Kala itu, inflasi beras Desember 2025 mulai bergerak positif setelah mengalami deflasi yang cukup dalam dengan 0,59 persen pada November 2025. Desember 2025 berada di 0,18 persen.
Lalu Januari sampai Juni 2026 secara berurutan antara lain 0,16 persen; 0,43 persen; 0,65 persen; 0,58 persen; 0,38 persen, dan terakhir di 0,45 persen.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Bitcoin (BTC) Rebound ke 60.000 Dollar AS, Usai Pernyataan Ketua The Fed soal Inflasi
Bitcoin kembali tembus $60.000 pasca pernyataan Kevin Warsh (The Fed) yang tegaskan komitmen inflasi 2% dan bahas potensi AI mengubah ekonomi AS. [460] url asal
#the-fed #bitcoin #inflasi #kecerdasan-buatan
(Kompas.com - Money) 02/07/26 06:02
v/265769/
NEW YORK, KOMPAS.com- Harga Bitcoin kembali menembus level 60.000 dollar AS pada Rabu (2/7/2026) waktu setempat, setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyatakan risiko inflasi telah mereda, sembari menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Dalam diskusi panel pada forum tahunan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) di Sintra, Portugal, Warsh menolak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga The Fed berikutnya.
Menurutnya, para pembuat kebijakan masih akan membahas berbagai data ekonomi yang masuk pada pertemuan The Fed empat pekan mendatang.
Sebaliknya, Warsh menekankan bahwa fokus utama bank sentral AS tetap menjaga stabilitas harga.
“Risiko inflasi telah menurun. Jika ada rumah tangga, pelaku usaha, maupun pelaku pasar keuangan yang mengira bank sentral akan merasa nyaman dengan target inflasi di atas 2 persen, maka mereka akan kecewa. Kami akan mewujudkan stabilitas harga di Amerika Serikat,” ujar Warsh dikutip dari CoinDesk, Kamis (2/7/2026).
Pernyataan tersebut mendorong Bitcoin memangkas pelemahan yang sempat terjadi sebelumnya dan kembali diperdagangkan di atas level 60.000 dollar AS.
Berdasarkan data CoinDesk, harga aset kripto tersebut menguat lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir.
Warsh juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai faktor yang berpotensi mengubah struktur perekonomian Amerika Serikat.
Ia memandang, ledakan investasi pada sektor AI saat ini mendorong peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) yang masih tecermin dari sisi permintaan, namun pada akhirnya diperkirakan akan memperbesar kapasitas sisi penawaran ekonomi.
Berbeda dengan periode sebelumnya ketika banyak perusahaan lebih mengandalkan rekayasa keuangan, seperti pembelian kembali saham (share buyback), kini perusahaan mulai meningkatkan investasi karena meyakini AI mampu meningkatkan kapasitas produksi.
Apabila investasi tersebut benar-benar memperluas sisi penawaran ekonomi, hal itu akan membawa implikasi yang sangat besar terhadap kebijakan moneter, meski menurut Warsh masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tersebut.
Forum tersebut juga dihadiri Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde, Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) Andrew Bailey, dan Gubernur Bank Sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) Tiff Macklem.
Secara umum, para pejabat bank sentral sepakat bahwa sudah saatnya bank sentral mengurangi penggunaan panduan kebijakan (forward guidance) yang terlalu eksplisit.
Lagarde mengatakan dirinya menyesali pernah merasa “terikat dan terdorong” oleh pendekatan forward guidance. Ia kini lebih memilih konsep yang disebutnya sebagai “framework guidance”, yaitu pendekatan di mana ECB menjelaskan kerangka dan pertimbangan dalam mengambil keputusan kebijakan tanpa memberikan sinyal mengenai arah suku bunga yang telah ditentukan sebelumnya.
Warsh menyampaikan pandangan serupa.
Menurut dia, prioritas utama Federal Reserve adalah menghasilkan kebijakan yang tepat.
Karena itu, apabila suatu instrumen komunikasi justru menghambat proses pengambilan keputusan terbaik, maka instrumen tersebut sebaiknya ditinggalkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangWamenko Pangan Sebut Penguatan Sistem Jadi Fondasi Kota Tangguh
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya sistem pangan terintegrasi sebagai fondasi kota tangguh dalam Rakernas APEKSI 2026 di Medan. [517] url asal
#sistem-pangan #kota-tangguh #ketahanan-pangan #urbanisasi #pusat-konsumsi #rantai-distribusi #stabilitas-harga #pelayanan-publik #pengendalian-inflasi #kesehatan-masyarakat #ketahanan-sosial #ekosiste
(Bisnis.Com - Ekonomi) 02/07/26 05:00
v/265748/
Bisnis.com, MEDAN – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyebut ketangguhan sistem pangan sebagai fondasi untuk menciptakan kota yang tangguh.
Hal itu disampaikan Hanif dalam agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke-18 tahun 2026 yang digelar di Medan, Rabu (1/7/2026).
Hanif mengatakan ketahanan pangan perkotaan harus menjadi perhatian mengingat mayoritas masyarakat tinggal di perkotaan.
“Menurut data BPS, di tahun 2025 sebanyak 60% masyarakat tinggal di perkotaan. Urbanisasi yang terus meningkat membuat ketahanan pangan perkotaan tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan pasokan semata,” kata Hanif.
Dia menjelaskan, kota memang tak selalu menjadi pusat produksi pangan. Namun, daerah ini adalah pusat konsumsi, pusat perdagangan, pusat logistik, dan pusat pengambilan keputusan ekonomi masyarakat.
Sistem pangan yang terintegrasi di sebut Hanif harus dimiliki wilayah perkotaan yang mencakup ketersediaan pasokan, kelancaran rantai distribusi, stabilitas harga, hingga kemampuan pemerintah kota dalam merespons gejolak secara cepat dan terkoordinasi.
“Kita belajar bahwa ketika terjadi bencana, gangguan iklim, kenaikan harga, atau hambatan distribusi, yang pertama kali dirasakan masyarakat adalah pangan. Kalau pasokan terganggu, harganya naik. Kalau harga naik, daya beli tertekan, dan bisa membuat stabilitas sosial dan ekonomi kota ikut terdampak,” jelas Hanif.
Hanif pun menekankan ketahanan pangan sebagai fondasi pelayanan publik, pengendalian inflasi, kesehatan masyarakat, dan ketahanan sosial. Menurut Hanif kota dengan sistem pangan dan logistik yang rapuh akan sulit menjadi kota yang tangguh.
Untuk membangun kota yang tangguh, lanjutnya, perlu pendekatan ekosistem di mana sistem pangan harus dihubungkan dengan 6 (enam) pilar yang saling terintegrasi.
Keenam pilar itu yakni tata kelola yang berbasis data yang terutama dibutuhkan untuk melakukan intervensi, rantai pasok yang kuat, serta kestabilan harga yang terpantau dan direspons secara cepat serta terkoordinasi terutama saat terjadi gejolak.
Selain itu, perlu pula dibangun pembiayaan sistem pangan yang kolaboratif baik dengan BUMN/ BUMD, pihak swasta maupun dunia usaha mengingat pemerintah pusat dan daerah tidak bisa menanggung seluruh kebutuhan sendiri. Apalagi di tengah kapasitas fiskal yang terbatas.
“Dalam situasi fiskal yang terbatas, pembiayaan ketahanan pangan kota harus disusun dengan prinsip kolaboratif dan bertahap di mana pemerintah pusat memberi arah kebijakan dan dukungan sesuai kewenangan, lalu pemerintah daerah memastikan perencanaan, penganggaran dan eksekusi, kemudian BUMD dan dunia usaha yang memperkuat sisi operasional, distribusi, investasi, dan hilirisasi,” tambahnya.
Hanif juga memasukkan soal pengelolaan sampah sebagai pilar yang terhubung dengan sistem pangan. Menurutnya, sampah makanan, sampah organik pasar, dan sisa konsumsi masyarakat perkotaan harus masuk dalam desain besar kota tangguh karena dapat diolah menjadi kompos, energi alternatif, maupun bahan baku ekonomi sirkular.
Adapun Rakernas APEKSI ke-18 tahun 2026 digelar mulai 28 Juni hingga 4 Juli mendatang dengan tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”. Rakernas ini akan menyusun rekomendasi, memperkuat kerja sama, dan mempercepat transformasi kota menuju kota yang tangguh, baik tangguh bencana, tangguh fiskal, tangguh perencanaan, tangguh sosial, hingga tangguh pangan.
Tahun ini, Kota Medan menjadi tuan rumah Rakernas APEKSI ke-18. Sebanyak 96 perwakilan pemerintah kota dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 88 wali kota, 4 wakil wali kota, 2 sekretaris daerah, dan 1 kepala Bappeda hadir di Medan untuk memperkuat sinergi antar pemerintah kota serta merumuskan kebijakan pembangunan perkotaan yang adaptif, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.
BPS: Inflasi Bengkulu Januari-Juni terkendali dan harga perlu dijaga
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyebut inflasi di Bengkulu dari Januari hingga Juni 2026 dicatat masih terkendali sebesar 1,77 persen (ytd) ... [274] url asal
Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyebut inflasi di Bengkulu dari Januari hingga Juni 2026 dicatat masih terkendali sebesar 1,77 persen (ytd) dan mengingatkan perlunya pengendalian harga komoditas terus diperkuat pada semester kedua.
"Inflasi Januari sampai Juni kita masih 1,77 persen, tetapi kita masih punya enam bulan lagi. Kalau tidak dijaga, bisa melewati target. Mudah-mudahan kalau kita menjaga pergolakan harga, kita masih dalam target," kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu, Rabu.
Menurut dia, inflasi pada Juni memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, namun kondisi tersebut tetap menunjukkan adanya kenaikan harga sehingga pengendalian inflasi tidak boleh diabaikan.
Dia menjelaskan.capaian inflasi semester pertama 2026 belum dapat menjadi jaminan inflasi tahunan tetap rendah karena masih terdapat enam bulan yang akan mempengaruhi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Win mengatakan apabila laju inflasi pada semester kedua berlangsung dengan pola yang sama seperti semester pertama, maka inflasi tahunan berpotensi melampaui batas atas sasaran inflasi nasional.
Dia menyebutkan secara year on year inflasi Bengkulu tercatat 3,98 persen atau berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan rentang deviasi plus minus 1 persen.
Karena itu, kata dia pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu terus menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas yang memberikan pengaruh besar terhadap inflasi.
Selain menjaga harga, pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan pasokan barang di pasar agar gejolak harga dapat ditekan dan inflasi tetap terkendali hingga akhir tahun.
BPS berharap upaya pengendalian inflasi yang dilakukan secara konsisten dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan inflasi Bengkulu tetap berada dalam rentang sasaran nasional pada akhir 2026.
Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
DJPb: Inflasi terkendali pembiayaan UMKM tumbuh dukung ekonomi Maluku
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku menyatakan inflasi di Maluku masih terkendali, sementara pembiayaan bagi pelaku usaha ... [518] url asal
Ambon (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku menyatakan inflasi di Maluku masih terkendali, sementara pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus tumbuh sehingga menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan perekonomian daerah.
Kepala Kanwil DJPb Maluku Anang Rohmawan di Ambon, Rabu, mengatakan stabilitas harga yang terjaga dan meningkatnya akses pembiayaan produktif menjadi modal penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di wilayah kepulauan.
"Inflasi Maluku masih terkendali dan pembiayaan UMKM terus tumbuh untuk mendukung ekonomi Maluku. Kondisi ini perlu terus dijaga melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Anang.
Ia menjelaskan inflasi Maluku pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,27 persen secara tahunan (year on year), 0,93 persen secara bulanan (month to month), dan 1,34 persen sejak awal tahun (year to date).
Menurut dia, stabilitas harga tersebut tetap perlu dijaga melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi pangan, terutama mengingat karakteristik Maluku sebagai daerah kepulauan yang memiliki tantangan logistik.
Selain menjaga inflasi, kata Anang, pemerintah juga terus memperhatikan kesejahteraan sektor primer. Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku tercatat sebesar 93,00, sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) mencapai 117,82. Data tersebut menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan.
Di sisi pembiayaan, Anang mengatakan akses permodalan bagi UMKM menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Mei 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp305,92 miliar kepada 6.006 debitur atau tumbuh 21,75 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) telah disalurkan sebesar Rp13,56 miliar kepada 2.271 debitur atau meningkat 56,42 persen.
"Pertumbuhan penyaluran KUR dan UMi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM agar mampu mempertahankan usahanya, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus membuka lapangan kerja," ujarnya.
Meski demikian, Anang mengakui sektor perdagangan luar negeri masih menjadi tantangan. Hingga Mei 2026, nilai ekspor Maluku tercatat sebesar 31,33 juta dolar AS, sedangkan impor mencapai 331,56 juta dolar AS sehingga masih terjadi defisit perdagangan sekitar 300,25 juta dolar AS.
Ia menjelaskan ekspor Maluku masih didominasi komoditas perikanan dan biota air, sedangkan impor sebagian besar berasal dari kebutuhan bahan bakar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan serta peningkatan ekspor langsung guna menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Lebih lanjut, Anang mengatakan arah kebijakan fiskal ke depan difokuskan pada peningkatan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan sinergi pemerintah pusat dan daerah.
Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan kepatuhan perpajakan, optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pengelolaan aset, percepatan belanja pemerintah yang berkualitas, pengendalian inflasi pangan, serta pengembangan hilirisasi produk perikanan dan pertanian.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong mempercepat transformasi pelayanan publik melalui sinkronisasi program pembangunan, efisiensi belanja pegawai, percepatan belanja modal, revitalisasi Perusahaan Umum Daerah (Perumda), badan usaha milik daerah (BUMD), badan layanan umum daerah (BLUD), serta optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).
"Pemanfaatan skema pembiayaan kreatif juga perlu terus diperluas untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas layanan publik yang berkelanjutan, sehingga ketahanan ekonomi Maluku sebagai daerah kepulauan semakin kuat," kata dia.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
BI: Inflasi Juni terjaga, didukung sinergi pemerintah pusat dan daerah
Bank Indonesia (BI) memandang inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tetap terjaga dalam sasaran target, dengan realisasi 3,34 persen (yoy), ... [422] url asal
Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) memandang inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tetap terjaga dalam sasaran target, dengan realisasi 3,34 persen (yoy), berkat eratnya sinergi pengendalian inflasi antara bank sentral bersama pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, inflasi yang terjaga juga didukung oleh penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional serta konsistensi kebijakan moneter yang ditempuh BI.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Rabu (1/7), IHK pada Juni 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month-to- month/mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,34 persen (year-on-year/yoy).
Inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), relatif stabil dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,22 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh tingginya harga komoditas global di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Secara tahunan, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat 2,76 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,59 persen (yoy).
Kelompok volatile food pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,22 persen (mtm).
Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras seiring dengan penurunan produksi di daerah sentra, kenaikan biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 6,24 persen (yoy).
“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP (Tim Pengendalian Inflasi Pusat) dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah), serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS),” kata Ramdan.
Sementara itu, kelompok administered prices pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 1,41 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,52 persen (mtm).
Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas bensin dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global.
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 3,42 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,07 persen (yoy).
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Purbaya Yakin Tekanan Inflasi Mereda Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia
Menkeu Purbaya menilai inflasi Juni dipicu kenaikan harga BBM dan pangan yang bersifat musiman. Tekanan inflasi diperkirakan segera mereda. [354] url asal
#inflasi #harga-minyak-dunia #purbaya
(Kompas.com - Money) 01/07/26 22:04
v/265637/
JAKARTA, KOMPAS.com- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai inflasi Indonesia pada Juni 2026 terutama dipicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan yang bersifat fluktuatif. Kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara sehingga tekanan inflasi akan mereda.
“Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Purbaya menilai laju inflasi saat ini belum mencerminkan lonjakan permintaan masyarakat. Indikasinya terlihat dari inflasi inti yang masih berada pada level terkendali.
“Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali,” ujarnya.
“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” kata Purbaya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mencatat inflasi 2,29 persen dengan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Komoditas bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi kelompok transportasi dengan andil 0,21 persen. Berikutnya tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi 0,20 persen dengan andil 0,06 persen.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok tersebut ialah bawang merah dengan andil 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, serta beras sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan dan 2,76 persen secara tahunan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Purbaya sebut inflasi Juni dipicu harga BBM dan pangan yang fluktuatif
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, inflasi Indonesia pada Juni 2026 terutama dipengaruhi kenaikan harga komoditas yang bersifat ... [353] url asal
Laju inflasi saat ini belum mencerminkan adanya peningkatan permintaan masyarakat yang berlebihan.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, inflasi Indonesia pada Juni 2026 terutama dipengaruhi kenaikan harga komoditas yang bersifat fluktuatif, khususnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan.
Maka dari itu, ia memperkirakan tekanan inflasi akan mereda.
“Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” kata Purbaya, di Jakarta, Rabu.
Purbaya menilai, laju inflasi saat ini belum mencerminkan adanya peningkatan permintaan masyarakat yang berlebihan. Hal itu tercermin dari inflasi inti yang masih berada pada level yang relatif terkendali.
“Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali,” ujarnya pula.
“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” kata Purbaya.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Tiga komoditas utama yang mendorong inflasi kelompok transportasi adalah bensin dengan andil 0,21 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil 0,06 persen.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok ini, antara lain bawang merah dengan andil 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, dan beras sebesar 0,02 persen.
Kemudian, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm) dan 2,76 persen (yoy).
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Daftar Komoditas Pemicu Inflasi Sumsel 2,89% pada Juni 2026
Inflasi Sumsel pada Juni 2026 mencapai 2,89% YoY, dipicu makanan, minuman, tembakau, dan transportasi. [281] url asal
#inflasi-sumsel #inflasi-tahunan-sumsel #inflasi-bulanan-sumsel #komoditas-pemicu-inflasi #bps-sumatra-selatan #kelompok-pengeluaran #makanan-minuman-tembakau #perawatan-pribadi-jasa #transportasi-sums
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/07/26 19:34
v/265509/
Bisnis.com, PALEMBANG — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Provinsi Sumatra Selatan pada Juni 2026 mencapai 2,89%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Sumatra Selatan (Sumsel) Moh Wahyu Yulianto mengatakan kenaikan inflasi pada Juni 2026 dipicu oleh seluruh kelompok pengeluaran, dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,13%.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang andil 0,89%, disusul kelompok transportasi sebesar 0,36%.
“Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, memang seluruhnya mengalami inflasi secara YoY,” katanya, Rabu (1/7/2026).
Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan diSumsel pada Juni 2026 antara lain emas perhiasan, bensin, bawang merah, cabai merah, dan minyak goreng.
Sementara itu, secara bulanan inflasi Sumsel tercatat sebesar0,36% month-to-month (mtm), lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 0,51% mtm.
Wahyu menuturkan angka inflasi bulanan tersebut juga berada di bawah angka nasional yang tercatat sebesar 0,44% mtm pada periode yang sama.
Kelompok pengeluaran yang paling memengaruhi inflasi bulanan adalah transportasi dengan andil 0,24%, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,12%.
Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan meliputi bensin, bawang putih, tomat, bawang merah, dan beras.
“Tapi secara umum, memang [inflasi] Sumsel relatif masih naik, pemicunya itu karena BBM, transportasi, dan ada peningkatan karena libur, persiapan dana untuk anak sekolah dan sebagainya,” jelasnya.
Wahyu menambahkan, dari empat kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan inflasi, Kabupaten Muara Enim mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,82%, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir sebesar 2,68%.
Secara bulanan, inflasi tertinggi juga terjadi di Kabupaten Muara Enim sebesar 0,49% mtm, sedangkan yang terendah tercatat di Kota Palembang sebesar 0,30% mtm.
Inflasi Jatim Juni 2026 Sentuh 3,36%, Lampaui Nasional
Inflasi tahunan Jawa Timur Juni 2026 mencapai 3,36%, melebihi nasional 3,34%, didorong oleh perawatan pribadi, transportasi, dan makanan. [392] url asal
#inflasi-jatim #inflasi-juni-2026 #inflasi-tahunan-jatim #inflasi-nasional #bps-jatim #indeks-harga-konsumen #perawatan-pribadi-jatim #transportasi-jatim #makanan-jatim #emas-perhiasan-inflasi #angkuta
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/07/26 19:27
v/265506/
Bisnis.com, SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) pada Juni 2026 di Provinsi Jawa Timur berada pada level 3,36%, melampaui catatan nasional pada periode yang sama sebesar 3,34%.
Kelompok pengeluaran perawatan pribadi, transportasi, hingga makanan menjadi komponen penyumbang utama inflasi tahunan di Jatim pada periode tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim Herum Fajarwati memaparkan catatan inflasi yang dibukukan tersebut sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami peningkatan selama satu tahun terakhir.
"Inflasi year on year sebesar 3,36% terjadi pada Juni 2026, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,52 pada Juni 2025 menjadi 112,17 pada Juni 2026," ungkap Herum saat jumpa pers, Rabu (1/7/2026).
Ia mengungkapkan inflasi tahunan yang terjadi pada Juni 2026 tersebut secara utamanya disumbang oleh tiga kelompok pengeluaran masyarakat. Pertama, penyumbang inflasi terbesar di Jatim adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 10,34%, yang memberikan andil terhadap inflasi y-on-y pada Provinsi Jawa Timur sebesar 0,73%.
"Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi y-on-y, di antaranya emas perhiasan, pasta gigi, sampo, bedak, dan pembalut wanita," ucapnya.
Kedua, kelompok transportasi yang memberikan andil terhadap inflasi tahunan di Jatim sebesar 5,87%, dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,72%. BPS mencatat tekanan harga pada kelompok pengeluaran ini utamanya didorong oleh kenaikan angkutan udara dan bensin.
"Lalu, terdapat mobil, sepeda motor, pemeliharaan/servis, serta pelumas/oli mesin yang memberikan andil inflasi tahunan di Provinsi Jawa Timur pada Juni 2026," tuturnya.
Ketiga, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan harga secara tahunan pada Juni 2026 sebesar 4,01%, serta memberikan andil terhadap inflasi tahunan di Jatim sebesar 1,10%.
"Komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi antara lain adalah beras, minyak goreng, daging sapi, cabai, bawang merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, air kemasan, tahu mentah, tempe, Sigaret Kretek Tangan (SKT), wortel, jeruk, Sigaret Putih Mesin (SPM), ikan tongkol/ikan ambu-ambu, ikan bandeng/ikan bolu, pepaya, dan udang basah," tuturnya.
Selanjutnya, inflasi bulanan Jatim pada Juni 2026 (month-to-month/MtM) tercatat sebesar 0,30%, dengan inflasi tertinggi tercatat di Kota Surabaya sebesar 0,46%, dan terendah di Kabupaten Sumenep sebesar 0,01%. Kelompok pengeluaran transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan Juni 2026 di Jatim dengan andil 0,31%.
Harga BBM Jadi Motor Baru Inflasi Juni 2026, Lampaui Andil Pangan
Pergerakan inflasi Indonesia pada Juni 2026 memperlihatkan perubahan pola dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. [1,595] url asal
#inflasi #inflasi-indonesia #harga-bbm #indepth #inflasi-juni-2026
(Kompas.com - Money) 01/07/26 16:16
v/265209/
JAKARTA, KOMPAS.com – Pergerakan inflasi Indonesia pada Juni 2026 memperlihatkan perubahan pola dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Jika tekanan harga selama ini lebih banyak berasal dari kelompok bahan pangan, pada Juni justru kelompok transportasi tampil sebagai penyumbang terbesar inflasi bulanan.
Di balik perubahan tersebut, kenaikan harga bensin menjadi faktor yang paling dominan mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).
KOMPAS.com/ RUBY RACHMADINA ilustrasi inflasiData Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34 persen dengan IHK sebesar 111,89. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Juni 2026 mencapai 1,79 persen.
Meski angka inflasi nasional masih berada dalam kisaran tiga persen secara tahunan, komposisi penyumbangnya mengalami perubahan. Selama ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kerap menjadi pendorong utama kenaikan harga setiap bulan.
Namun pada Juni 2026, kelompok transportasi justru menjadi kelompok pengeluaran dengan andil terbesar terhadap inflasi nasional.
Perubahan ini menunjukkan tekanan harga tidak hanya datang dari kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga mulai dipengaruhi kenaikan biaya mobilitas.
Dalam data BPS, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan, disusul tarif angkutan udara dan pelumas atau oli mesin.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM.Bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan
BPS mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,29 persen secara bulanan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh kelompok pengeluaran pada Juni 2026.
Besarnya kenaikan harga pada kelompok transportasi membuat sektor ini memberikan andil sebesar 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Kontribusi tersebut jauh lebih besar dibandingkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang hanya memberikan andil sebesar 0,06 persen terhadap inflasi bulanan.
Jika ditelusuri lebih jauh, kenaikan harga bensin menjadi faktor utama yang mengangkat inflasi kelompok transportasi.
Dalam laporan BPS, bensin memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Angka ini menjadi kontribusi terbesar dibandingkan seluruh komoditas penyusun inflasi Juni.
Selain bensin, tarif angkutan udara memberikan andil sebesar 0,05 persen, sedangkan pelumas atau oli mesin menyumbang sebesar 0,01 persen terhadap inflasi bulanan nasional.
Dominasi bensin menunjukkan bahwa perubahan harga pada komoditas energi memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan inflasi bulanan.
Kenaikan harga bensin tidak hanya mendorong inflasi pada kelompok transportasi, tetapi juga menjadikan kelompok tersebut sebagai kontributor terbesar terhadap inflasi nasional pada Juni.
Andil harga BBM lampaui komoditas pangan
Besarnya kontribusi bensin atau harga BBM semakin terlihat ketika dibandingkan dengan komoditas pangan yang selama ini menjadi sumber utama inflasi.
BPS mencatat komoditas pangan dengan andil inflasi bulanan terbesar adalah bawang merah, yakni sebesar 0,04 persen.
PIXABAY/SUANPA Ilustrasi bawang merah.Di bawahnya terdapat bawang putih sebesar 0,03 persen, beras sebesar 0,02 persen, serta wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen.
Jika dibandingkan, kontribusi bensin terhadap inflasi bulanan mencapai lebih dari lima kali lipat dibandingkan bawang merah yang merupakan komoditas pangan penyumbang inflasi terbesar pada Juni.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga pada Juni lebih banyak dipengaruhi oleh biaya transportasi dibandingkan harga pangan. Selama beberapa bulan terakhir, komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, maupun beras lebih sering menjadi penyebab utama inflasi.
Namun pada Juni 2026, posisi tersebut bergeser ke komoditas energi.
Perubahan pola tersebut juga tercermin dari andil masing-masing kelompok pengeluaran terhadap inflasi nasional.
Selain kelompok transportasi yang memberikan kontribusi sebesar 0,28 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 0,06 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil sebesar 0,02 persen, demikian pula kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
Sementara kelompok pakaian dan alas kaki, kesehatan, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, penyediaan makanan dan minuman atau restoran, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi nasional.
Adapun kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya serta kelompok pendidikan tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi bulanan.
SHUTTERSTOCK/LEONID SOROKIN ilustrasi inflasiData tersebut menunjukkan pada Juni 2026, kenaikan harga di sektor transportasi menjadi penopang utama inflasi bulanan Indonesia.
Di sisi lain, kelompok pangan yang selama ini mendominasi inflasi tetap mengalami kenaikan harga, tetapi kontribusinya terhadap inflasi bulanan tidak sebesar kelompok transportasi.
Pangan masih menjadi penopang inflasi tahunan
Meski kelompok transportasi menjadi motor inflasi bulanan pada Juni 2026, gambaran yang berbeda terlihat ketika inflasi dihitung dalam periode satu tahun.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,67 persen dengan kontribusi mencapai 1,36 persen terhadap inflasi nasional.
Sementara itu, kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan sebesar 4,57 persen dengan andil sebesar 0,55 persen.
Artinya, meski tingkat inflasi kedua kelompok hampir sama, kontribusi kelompok pangan terhadap inflasi nasional masih lebih besar dibandingkan transportasi.
Dominasi kelompok pangan tersebut menunjukkan tekanan harga yang berlangsung sepanjang satu tahun terakhir masih berasal dari berbagai komoditas kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah ikan segar sebesar 0,23 persen.
Setelah itu terdapat beras sebesar 0,16 persen, minyak goreng sebesar 0,14 persen, cabai merah sebesar 0,11 persen, serta daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah yang masing-masing menyumbang 0,08 persen.
Selain itu, daging sapi dan sigaret kretek tangan (SKT) masing-masing memberikan andil sebesar 0,04 persen, sedangkan jeruk dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing menyumbang 0,03 persen terhadap inflasi tahunan.
SHUTTERSTOCK/YELLOW_MAN Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.Tidak hanya komoditas pangan, BPS juga mencatat sejumlah barang dan jasa lain yang turut memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan.
Di antaranya adalah bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, bensin, tarif angkutan udara, telepon seluler, uang kuliah akademi atau perguruan tinggi, nasi dengan lauk, hingga emas perhiasan.
Dengan demikian, data BPS memperlihatkan dua pola yang berbeda. Dalam jangka pendek atau secara bulanan, kenaikan harga bensin menjadi pemicu utama inflasi.
Sementara dalam jangka satu tahun, tekanan harga masih didominasi oleh berbagai komoditas pangan yang mengalami kenaikan secara berkelanjutan.
Tidak semua harga mengalami kenaikan
Di tengah kenaikan harga pada sejumlah komoditas, BPS juga mencatat terdapat beberapa barang yang justru mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi.
Untuk perhitungan bulanan, daging ayam ras menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar, yakni sebesar 0,06 persen.
Selain itu terdapat telur ayam ras yang memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Sementara sawi hijau dan ketimun masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Dalam perhitungan tahunan, pola serupa juga terlihat.
Telur ayam ras menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Kemudian terdapat kelapa, bawang putih, kacang panjang, daging babi, serta ketimun yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi tahunan.
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.Kehadiran komoditas yang mengalami penurunan harga tersebut membuat laju inflasi tidak sepenuhnya berasal dari seluruh barang konsumsi.
Sebaliknya, tekanan inflasi pada Juni lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas tertentu yang mengalami kenaikan harga cukup besar, terutama pada sektor transportasi dan sejumlah komoditas pangan.
Hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi
Selain transportasi dan pangan, BPS mencatat seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada Juni 2026.
Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi tahunan sebesar 1,00 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,04 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatat inflasi sebesar 1,44 persen, sedangkan kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 1,84 persen.
Kemudian kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,26 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,40 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,27 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,36 persen.
Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan inflasi tertinggi, yakni sebesar 10,10 persen.
Pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, BPS mencatat emas perhiasan menjadi komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan, yakni sebesar 0,61 persen. Namun secara bulanan, emas perhiasan justru menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
SHUTTERSTOCK/D.EE_ANGELO Ilustrasi inflasi.Inflasi Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya
Secara historis, inflasi pada Juni 2026 juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.
BPS mencatat inflasi tahunan pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen. Sebagai perbandingan, inflasi Juni 2025 tercatat sebesar 1,87 persen, sedangkan Juni 2024 sebesar 2,51 persen.
Untuk inflasi bulanan, Juni 2026 mencapai 0,44 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,19 persen. Bahkan pada Juni 2024 Indonesia masih mengalami deflasi sebesar 0,08 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Juni 2026 mencapai 1,79 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 1,38 persen maupun Juni 2024 yang sebesar 1,07 persen.
Data tersebut memperlihatkan tekanan harga pada pertengahan 2026 lebih besar dibandingkan dua tahun sebelumnya. Namun, sumber tekanan inflasinya menunjukkan karakter yang berbeda.
Pada Juni 2026, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan bensin sebagai komoditas yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan melalui kenaikan harga berbagai komoditas seperti ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, hingga daging ayam ras.
Dengan demikian, data BPS menunjukkan inflasi Juni 2026 terbentuk dari dua sumber tekanan yang berbeda. Dalam jangka pendek, kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadikan kelompok transportasi sebagai motor utama inflasi bulanan.
Sementara dalam periode satu tahun, kelompok pangan masih menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi nasional melalui kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Harga BBM Jadi Motor Baru Inflasi Juni 2026, Lampaui Andil Pangan
Pergerakan inflasi Indonesia pada Juni 2026 memperlihatkan perubahan pola dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. [1,595] url asal
#inflasi #inflasi-indonesia #harga-bbm #indepth #inflasi-juni-2026
(Kompas.com - Money) 01/07/26 16:16
v/265208/
JAKARTA, KOMPAS.com – Pergerakan inflasi Indonesia pada Juni 2026 memperlihatkan perubahan pola dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Jika tekanan harga selama ini lebih banyak berasal dari kelompok bahan pangan, pada Juni justru kelompok transportasi tampil sebagai penyumbang terbesar inflasi bulanan.
Di balik perubahan tersebut, kenaikan harga bensin menjadi faktor yang paling dominan mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).
KOMPAS.com/ RUBY RACHMADINA ilustrasi inflasiData Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34 persen dengan IHK sebesar 111,89. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Juni 2026 mencapai 1,79 persen.
Meski angka inflasi nasional masih berada dalam kisaran tiga persen secara tahunan, komposisi penyumbangnya mengalami perubahan. Selama ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kerap menjadi pendorong utama kenaikan harga setiap bulan.
Namun pada Juni 2026, kelompok transportasi justru menjadi kelompok pengeluaran dengan andil terbesar terhadap inflasi nasional.
Perubahan ini menunjukkan tekanan harga tidak hanya datang dari kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga mulai dipengaruhi kenaikan biaya mobilitas.
Dalam data BPS, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan, disusul tarif angkutan udara dan pelumas atau oli mesin.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM.Bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan
BPS mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,29 persen secara bulanan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh kelompok pengeluaran pada Juni 2026.
Besarnya kenaikan harga pada kelompok transportasi membuat sektor ini memberikan andil sebesar 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Kontribusi tersebut jauh lebih besar dibandingkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang hanya memberikan andil sebesar 0,06 persen terhadap inflasi bulanan.
Jika ditelusuri lebih jauh, kenaikan harga bensin menjadi faktor utama yang mengangkat inflasi kelompok transportasi.
Dalam laporan BPS, bensin memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Angka ini menjadi kontribusi terbesar dibandingkan seluruh komoditas penyusun inflasi Juni.
Selain bensin, tarif angkutan udara memberikan andil sebesar 0,05 persen, sedangkan pelumas atau oli mesin menyumbang sebesar 0,01 persen terhadap inflasi bulanan nasional.
Dominasi bensin menunjukkan bahwa perubahan harga pada komoditas energi memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan inflasi bulanan.
Kenaikan harga bensin tidak hanya mendorong inflasi pada kelompok transportasi, tetapi juga menjadikan kelompok tersebut sebagai kontributor terbesar terhadap inflasi nasional pada Juni.
Andil harga BBM lampaui komoditas pangan
Besarnya kontribusi bensin atau harga BBM semakin terlihat ketika dibandingkan dengan komoditas pangan yang selama ini menjadi sumber utama inflasi.
BPS mencatat komoditas pangan dengan andil inflasi bulanan terbesar adalah bawang merah, yakni sebesar 0,04 persen.
PIXABAY/SUANPA Ilustrasi bawang merah.Di bawahnya terdapat bawang putih sebesar 0,03 persen, beras sebesar 0,02 persen, serta wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen.
Jika dibandingkan, kontribusi bensin terhadap inflasi bulanan mencapai lebih dari lima kali lipat dibandingkan bawang merah yang merupakan komoditas pangan penyumbang inflasi terbesar pada Juni.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga pada Juni lebih banyak dipengaruhi oleh biaya transportasi dibandingkan harga pangan. Selama beberapa bulan terakhir, komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, maupun beras lebih sering menjadi penyebab utama inflasi.
Namun pada Juni 2026, posisi tersebut bergeser ke komoditas energi.
Perubahan pola tersebut juga tercermin dari andil masing-masing kelompok pengeluaran terhadap inflasi nasional.
Selain kelompok transportasi yang memberikan kontribusi sebesar 0,28 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 0,06 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil sebesar 0,02 persen, demikian pula kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
Sementara kelompok pakaian dan alas kaki, kesehatan, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, penyediaan makanan dan minuman atau restoran, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi nasional.
Adapun kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya serta kelompok pendidikan tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi bulanan.
SHUTTERSTOCK/LEONID SOROKIN ilustrasi inflasiData tersebut menunjukkan pada Juni 2026, kenaikan harga di sektor transportasi menjadi penopang utama inflasi bulanan Indonesia.
Di sisi lain, kelompok pangan yang selama ini mendominasi inflasi tetap mengalami kenaikan harga, tetapi kontribusinya terhadap inflasi bulanan tidak sebesar kelompok transportasi.
Pangan masih menjadi penopang inflasi tahunan
Meski kelompok transportasi menjadi motor inflasi bulanan pada Juni 2026, gambaran yang berbeda terlihat ketika inflasi dihitung dalam periode satu tahun.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,67 persen dengan kontribusi mencapai 1,36 persen terhadap inflasi nasional.
Sementara itu, kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan sebesar 4,57 persen dengan andil sebesar 0,55 persen.
Artinya, meski tingkat inflasi kedua kelompok hampir sama, kontribusi kelompok pangan terhadap inflasi nasional masih lebih besar dibandingkan transportasi.
Dominasi kelompok pangan tersebut menunjukkan tekanan harga yang berlangsung sepanjang satu tahun terakhir masih berasal dari berbagai komoditas kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah ikan segar sebesar 0,23 persen.
Setelah itu terdapat beras sebesar 0,16 persen, minyak goreng sebesar 0,14 persen, cabai merah sebesar 0,11 persen, serta daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah yang masing-masing menyumbang 0,08 persen.
Selain itu, daging sapi dan sigaret kretek tangan (SKT) masing-masing memberikan andil sebesar 0,04 persen, sedangkan jeruk dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing menyumbang 0,03 persen terhadap inflasi tahunan.
SHUTTERSTOCK/YELLOW_MAN Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.Tidak hanya komoditas pangan, BPS juga mencatat sejumlah barang dan jasa lain yang turut memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan.
Di antaranya adalah bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, bensin, tarif angkutan udara, telepon seluler, uang kuliah akademi atau perguruan tinggi, nasi dengan lauk, hingga emas perhiasan.
Dengan demikian, data BPS memperlihatkan dua pola yang berbeda. Dalam jangka pendek atau secara bulanan, kenaikan harga bensin menjadi pemicu utama inflasi.
Sementara dalam jangka satu tahun, tekanan harga masih didominasi oleh berbagai komoditas pangan yang mengalami kenaikan secara berkelanjutan.
Tidak semua harga mengalami kenaikan
Di tengah kenaikan harga pada sejumlah komoditas, BPS juga mencatat terdapat beberapa barang yang justru mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi.
Untuk perhitungan bulanan, daging ayam ras menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar, yakni sebesar 0,06 persen.
Selain itu terdapat telur ayam ras yang memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Sementara sawi hijau dan ketimun masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Dalam perhitungan tahunan, pola serupa juga terlihat.
Telur ayam ras menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Kemudian terdapat kelapa, bawang putih, kacang panjang, daging babi, serta ketimun yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi tahunan.
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.Kehadiran komoditas yang mengalami penurunan harga tersebut membuat laju inflasi tidak sepenuhnya berasal dari seluruh barang konsumsi.
Sebaliknya, tekanan inflasi pada Juni lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas tertentu yang mengalami kenaikan harga cukup besar, terutama pada sektor transportasi dan sejumlah komoditas pangan.
Hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi
Selain transportasi dan pangan, BPS mencatat seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada Juni 2026.
Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi tahunan sebesar 1,00 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,04 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatat inflasi sebesar 1,44 persen, sedangkan kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 1,84 persen.
Kemudian kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,26 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,40 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,27 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,36 persen.
Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan inflasi tertinggi, yakni sebesar 10,10 persen.
Pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, BPS mencatat emas perhiasan menjadi komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan, yakni sebesar 0,61 persen. Namun secara bulanan, emas perhiasan justru menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
SHUTTERSTOCK/D.EE_ANGELO Ilustrasi inflasi.Inflasi Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya
Secara historis, inflasi pada Juni 2026 juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.
BPS mencatat inflasi tahunan pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen. Sebagai perbandingan, inflasi Juni 2025 tercatat sebesar 1,87 persen, sedangkan Juni 2024 sebesar 2,51 persen.
Untuk inflasi bulanan, Juni 2026 mencapai 0,44 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,19 persen. Bahkan pada Juni 2024 Indonesia masih mengalami deflasi sebesar 0,08 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Juni 2026 mencapai 1,79 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 1,38 persen maupun Juni 2024 yang sebesar 1,07 persen.
Data tersebut memperlihatkan tekanan harga pada pertengahan 2026 lebih besar dibandingkan dua tahun sebelumnya. Namun, sumber tekanan inflasinya menunjukkan karakter yang berbeda.
Pada Juni 2026, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan bensin sebagai komoditas yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan melalui kenaikan harga berbagai komoditas seperti ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, hingga daging ayam ras.
Dengan demikian, data BPS menunjukkan inflasi Juni 2026 terbentuk dari dua sumber tekanan yang berbeda. Dalam jangka pendek, kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadikan kelompok transportasi sebagai motor utama inflasi bulanan.
Sementara dalam periode satu tahun, kelompok pangan masih menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi nasional melalui kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56