Bisnis.com, JAKARTA — Para peneliti dari University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, berhasil menemukan proses mengubah limbah makanan menjadi bahan bakar pesawat.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam artikel berjudul Nature Communications. Para insinyur pertanian menemukan strategi mengolah sisa limbah makanan yang biasanya dibuang menjadi biofuel.
Setelahnya, biofuel akan diproses lagi menjadi bahan bakar jet yang bisa langsung digunakan pesawat tanpa perlu mengubah infrastruktur pada pesawat.
Profesor di University of Illinois Urbana-Champaign sekaligus penulis utama Yuanhui Zhang, mengatakan dalam sistem ekonomi linear masyarakat memproduksi barang, menggunakannya, lalu membuangnya sebagai limbah.
Melalui riset ini, tim peneliti mencoba memanfaatkan kembali limbah makanan untuk memulihkan energi dan materialnya agar dapat diolah menjadi produk yang berguna, yakni bahan bakar penerbangan.
“Ini mengisi mata rantai yang hilang dalam paradigma ekonomi sirkular,” ujar Zhang, dikutip dari Popular Science, Senin (16/2/2026).
Penemuan ini sangat berpengaruh pada keberlanjutan lingkungan hidup, karena industri penerbangan masih sulit mengurangi emisi karbon.
Menurut Environmental Protection Agency (EPA), sektor transportasi menyumbang sekitar 29% emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat pada 2022, dan sekitar 7% di antaranya berasal dari pesawat komersial.
Berbeda dengan mobil yang sudah mulai beralih ke listrik untuk menekan emisi, pesawat tidak semudah itu untuk beralih menggunakan baterai karena membutuhkan energi yang sangat besar.
Penggunaan baterai memang memungkinkan untuk menerbangkan pesawat, namun hanya untuk jarak pendek. Untuk perjalanan jarak jauh bahkan lintas negara, energi yang dibutuhkan sangat besar.
Bahan bakar jet membawa sekitar 50 kali lebih banyak energi per kilogram dibandingkan baterai lithium-ion konvensional.
Karena itu, muncul solusi bernama Sustainable Aviation Fuel (SAF), yaitu bahan bakar pesawat berbasis bahan organik yang bisa mengurangi emisi hingga sekitar 80% dibandingkan bahan bakar biasa.
Masalahnya, tidak semua bahan bakar berbasis biomassa cocok untuk pesawat karena standar keamanannya jauh lebih ketat.
Dalam penelitian ini, limbah makanan dikumpulkan lalu diproses menggunakan metode bernama likuifikasi hidrotermal (HTL). Proses ini mirip cara alam membentuk minyak mentah dari sisa makhluk hidup selama jutaan tahun, tetapi dipercepat menggunakan suhu dan tekanan tinggi.
Hasilnya adalah minyak mentah dari limbah makanan. Minyak ini kemudian dimurnikan melalui beberapa tahap untuk menghilangkan kotoran seperti garam, air, nitrogen, sulfur, dan oksigen. Setelah dimurnikan, yang tersisa adalah senyawa hidrokarbon yang dibutuhkan untuk bahan bakar jet.
Bahan bakar tersebut kemudian diuji berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) dan ASTM International. Hasilnya, bahan bakar dari limbah makanan ini lolos uji dan memenuhi syarat sebagai bahan bakar jet.
Meski demikian, penelitian ini masih tahap awal. Secara teknis sudah terbukti bisa dilakukan, tetapi memproduksinya dalam jumlah besar untuk kebutuhan pesawat komersial masih menjadi tantangan besar. Diperlukan investasi, waktu, dan dukungan industri untuk mewujudkannya dalam skala luas. (Nur Amalina)