Bisnis.com, MAKASSAR - Beban puncak konsumsi listrik di wilayah Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) diproyeksi turun 5% saat momen Lebaran 2026. Dari yang semula mencapai sekitar 1.900 Megawatt (MW), diprediksi hanya akan berada di level 1.700 MW.
Oleh sebab itu pasokan listrik di wilayah ini dipastikan aman karena memiliki daya mampu yang cukup mencapai 2.300 MW. Bahkan PLN juga masih memiliki cadangan kurang lebih 536 MW.
Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Mahmud Azhar Lubis mengatakan, berdasarkan peninjauan Satgas RAFI di Makassar, kondisi kelistrikan di sistem Sulbagsel berada dalam status sangat aman dengan cadangan daya yang mencukupi.
Kondisi ini didukung oleh implementasi sistem monitoring digital PLN yang mampu mendeteksi titik rawan gangguan secara real-time.
Kemudian persiapan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi gangguan akibat faktor cuaca seperti hujan dan angin kencang.
"Kami telah melihat data dan berdiskusi terkait kondisi di Sulawesi Selatan, Tengah, Barat, hingga Tenggara. Pasokan bukan hanya cukup, tetapi memiliki cadangan yang bagus. Masyarakat tidak perlu khawatir karena PLN siaga 24 jam," ujar Mahmud saat melakukan peninjauan di Kantor PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) di Makassar, Sabtu (14/3/2026).
Mahmud menjelaskan bahwa kelistrikan di Sulbagsel cukup ditopang oleh energi baru terbarukan (EBT) yang berkontribusi sekitar 30%-45%.
Oleh sebab itu dia mendorong agar PLN mampu mengoptimalkan beberapa pembangkit saat Lebaran tahun ini, utamanya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
"PLN juga harus jeli mempelajari aspek intermittency, seperti penurunan debit air PLTA saat kemarau atau fluktuasi angin dan surya, agar cadangan tetap terjaga," ujar Mahmud.
General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah menambahkan bahwa karakteristik konsumsi listrik di wilayah operasionalnya selama periode Lebaran, biasanya justru mengalami penurunan dibandingkan hari operasional biasa. Hal ini disebabkan oleh berhentinya aktivitas di sektor industri dan perkantoran.
Dengan daya yang mencapai 2.300 MW dan beban puncak yang diperkirakan hanya sekitar 1.700 MW, maka listrik di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara diproyeksi tetap menyala saat Idulfitri.
"Kita memantau Makassar akan tetap menjadi titik dengan konsumsi listrik tertinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PLN menerapkan sistem merit order dengan memprioritaskan pembangkit berbasis EBT (Energi Baru Terbarukan)," tutur Edyansyah.