Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan jangka panjang menjadi pendorong utama PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) go-public. Emiten perdagangan besar farmasi dan alat laboratorium ini tengah mengembangkan fasilitas produksi di Cikupa dan Solo, mendukung pengembangan kapabilitas manufaktur medis nasional.
Alasan tersebut diutarakan oleh Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja dalam wawancara ekslusif dengan Bisnis.com. Pria yang menyelesaikan pendidikan S1 Manufacturing Engineer di University of New South Wales ini menyampaikan bahwa initial public offering (IPO) bukanlah sekadar sarana untuk menggalang dana publik.
"Bagi saya IPO bukan sekadar langkah penghimpunan dana, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang menuju perusahaan yang lebih transparan, memiliki tata kelola yang kuat, serta mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya, dikutip dari harian Bisnis Indonesia edisi Kamis 25 Juni 2026.
Florian menambahkan, melalui penguatan struktur permodalan dan pengembangan kapasitas udaha, EMMI diharapkan dapat memperluas kontribusinya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan Indonesia di masa depan.
Saat ini, ruang lingkup bisnis EMMI meliputi perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia. Perseroan memiliki satu kantor pusat, dua fasilitas manufaktur, dan empat kantor perwakilan, serta jaringan tenaga pemasar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Portofolio perseroan fokus pada peralatan medis barang modal atau capital equipment yang digunakan secara jangka panjang oleh fasilitas kesehatan. Produk yang dipasarkan mencakup kebutuhan layanan kritikal seperti ruang operasi, ICU, IGD, sistem sterilisasi, hingga pelbagai peralatan medis yang mendukung keselamatan pasien, efisiensi operasional rumah sakit, dan kualitas layanan klinis.
"Selain memperkuat distribusi produk dari berbagai prinsipal global, perseroan juga mengembangkan kapabilitas manufaktur lokal melalui fasilitas produksi di Cikupa dan Solo sebagai bagian dari strategi jangka panjang mendukung penguatan industri alat kesehatan nasional," ungkapnya.
Florian mengatakan bahwa EMMI sedang memperluas keterlibatan dalam berbagai proyek pengadaan alat kesehatan berskala besar. Misalnya, perseroan berpartisipasi dalam sejumlah proyek strategis nasional, termasuk proyek yang didanai Islamic Development Bank (IsDB) dan World Bank melalui program Strengthening of Primary Healthcare di Indonesia.
Pada 2025, perseroan membukukan penjualan bersih Rp454,64 miliar atau tumbuh 18,11% year on year (YoY). Sementara laba bersih yang diraup perusahaan melejit 188,23% YoY menjadi Rp32,44 miliar.
"Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan kontribusi proyek-proyek pengadaan alat kesehatan serta penguatan aktivitas bisnis inti perseroan," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.