Bisnis.com, JAKARTA — PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih pada kuartal I/2026, ditopang meningkatnya permintaan ekspor sarang burung walet dari pasar Jepang. Ke depan, perseroan berencana memacu produksi seiring dengan beroperasinya pabrik baru.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) membukukan pendapatan sebesar Rp93,6 miliar, tumbuh 11,8% dibandingkan capaian periode sama tahun lalu sebesar Rp83,7 miliar.
Sejalan dengan kenaikan penjualan, laba bersih emiten sarang burung walet itu naik 38,2% secara tahunan menjadi Rp6,12 miliar dari sebelumnya Rp4,43 miliar.
Direktur Utama NEST Hoo Anton Siswanto mengatakan pertumbuhan penjualan pada kuartal I/2026 didorong oleh meningkatnya permintaan pasar selama momentum Tahun Baru Imlek, termasuk lonjakan permintaan dari pelanggan di Jepang.
“Perseroan memperoleh permintaan dalam jumlah besar dari pelanggan di Jepang untuk produk sarang burung walet mess atau remahan sebanyak 70 kilogram, sehingga turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan penjualan pada kuartal I/2026,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).
Selain pasar Jepang, perseroan juga terus memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara lain seperti Taiwan dan China.
Di tengah pertumbuhan pendapatan dobel digit, NEST mampu menjaga kenaikan beban pokok penjualan hanya sebesar 2,7% secara tahunan menjadi Rp82,72 miliar. Kondisi tersebut mendorong laba bruto perseroan meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp10,9 miliar.
Marjin laba bruto perseroan pun naik signifikan menjadi 11,6% dibandingkan dengan posisi kuartal I/2025 sebesar 3,7%.
Menurut Hoo Anton, peningkatan marjin ditopang strategi pengembangan produk bernilai tambah tinggi dan peningkatan kapasitas produksi melalui operasional pabrik baru PT Tunas Esta Indonesia.
“Beroperasinya pabrik baru turut meningkatkan kapasitas produksi hingga 200% dan membuka potensi kenaikan omzet sampai 300% per tahun,” katanya.
Perseroan juga menilai pelemahan rupiah terhadap yuan China memberikan dampak positif terhadap kinerja. Negeri Tirai Bambu menjadi salah satu pasar utama ekspor produk sarang burung walet NEST.
Sebagai informasi, nilai tukar CNY/IDR yang dalam 6 bulan terakhir mengalami kenaikan 10,7 persen,
Pada level operasional, laba usaha perseroan tercatat naik 83,7% menjadi Rp7,9 miliar dengan operating margin meningkat menjadi 8,4% dari sebelumnya 5,1%.
Ke depan, NEST berencana memperkuat pengembangan riset dan teknologi produksi guna meningkatkan efisiensi operasional. Perseroan juga akan memfokuskan pabrik PT Tunas Esta Indonesia untuk memproduksi sarang walet jenis jidun yang saat ini memiliki permintaan tinggi di pasar.
Sarang burung walet jenis jidun adalah istilah dagang di industri sarang walet yang merujuk pada sarang walet dengan bentuk mangkuk penuh dan tebal, biasanya berukuran besar serta relatif utuh. Hal ini umum dipakai di kalangan pengepul dan eksportir, terutama untuk membedakan kualitas dan bentuk sarang.
Dari sisi neraca, jumlah kas dan setara kas perseroan melonjak 119% menjadi Rp22,14 miliar per akhir Maret 2026. Kenaikan itu ditopang arus kas operasi sebesar Rp43,88 miliar atau melesat tajam dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp273,69 juta.