Bisnis.com, MALANG — Emiten produsen tisu dan kertas PT Suparma Tbk. (SPMA) akan mengejar penjualan bersih sebesar Rp3 triliun pada 2026, naik sekitar 7,1% dibanding target tahun sebelumnya, seiring ekspansi kapasitas produksi melalui investasi mesin kertas baru dan membaiknya permintaan produk kertas.
Direktur SPMA Hendro Luhur mengungkapkan, hingga lima bulan pertama 2026, perseroan telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,17 triliun atau setara 39,1% dari target tahunan.
"Volume penjualan mencapai 92.960 metrik ton atau sekitar 36,5% dari target penjualan 255.000 metrik ton tahun ini. Sementara itu, realisasi produksi tercatat 97.994 metrik ton atau 39,2% dari target produksi 250.000 metrik ton," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Selasa (30/6/2026)
Dia menyebut, manajemen optimistis target tersebut dapat dicapai seiring peningkatan kapasitas produksi dan beroperasinya mesin kertas (Paper Machine/PM) 11 yang dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV/2026.
Untuk mendukung proyek tersebut, kata dia, Suparma mengalokasikan belanja modal sekitar US$23 juta. Perseroan telah menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dari pemasok asal Finlandia senilai €6,35 juta pada Februari 2025. Pendanaan proyek berasal dari kas internal sekitar US$6 juta, sedangkan sisanya akan diperoleh melalui fasilitas kredit investasi dari perbankan.
"Mesin baru tersebut diproyeksikan menambah kapasitas terpasang hingga 27.000 metrik ton per tahun sehingga memperkuat kemampuan produksi perseroan dalam memenuhi permintaan pasar," ungkapnya.
Di sisi lain, menurutnya, Suparma berhasil mempertahankan pertumbuhan kinerja sepanjang 2025. Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp2,74 triliun atau meningkat 0,41% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan volume penjualan sebesar 2,5% menjadi 235.100 metrik ton, terutama berasal dari produk kraft yang tumbuh 5,5% dan duplex sebesar 1,5%.
"Efisiensi biaya produksi turut menopang profitabilitas. Beban pokok penjualan turun 0,45% dibandingkan 2024 sehingga laba kotor meningkat 5,23% menjadi Rp434,4 miliar dari sebelumnya Rp412,8 miliar. Alhasil, margin laba kotor naik menjadi 15,9% dari 15,1% pada tahun sebelumnya," jelasnya.
Meski demikian, lanjut dia, perseroan mencatat kenaikan beban operasional. Beban penjualan meningkat 1,5%, sedangkan beban umum dan administrasi naik 12,2%, seiring kenaikan biaya gaji dan upah masing-masing sebesar 5,9% pada beban penjualan serta 9,6% pada beban umum dan administrasi.
"Melalui peningkatan kapasitas produksi, efisiensi operasional, dan target penjualan yang lebih tinggi, Suparma berharap dapat memperkuat posisi di industri kertas nasional sekaligus menangkap pertumbuhan permintaan pasar pada 2026," tuturnya.
Hendro menambahkan, meski membukukan laba komprehensif sebesar Rp104,8 miliar pada 2025 atau meningkat 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya, perseroan memutuskan tidak membagikan dividen tunai kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2026.
"Perseroan menetapkan pembentukan dana cadangan wajib sebesar Rp20 miliar. Adapun sisa laba akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, mendukung pengembangan usaha, serta membiayai sejumlah proyek investasi strategis," katanya.
Dia melanjutkan, alokasi investasi tersebut antara lain untuk meningkatkan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF), pembangunan fasilitas dan mesin pendukung Mesin Kertas (Paper Machine/PM) 11, serta peningkatan kualitas mesin pengolahan kertas bekas (de-inking machine), mesin cetak, instrumen Quality Assurance (QA), dan gedung perkantoran.
Sebagai gantinya, RUPS yang digelar pada 30 Juni 2026 menyetujui pembagian dividen saham melalui kapitalisasi saldo laba dengan nilai maksimal Rp492,04 miliar atau setara paling banyak 1.230.095.230 saham baru.
"Perseroan menetapkan rasio pembagian dividen saham sebesar 100:30, yakni setiap pemegang 100 saham lama dengan nilai nominal Rp400 per saham berhak memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal yang sama," ucapnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.