Bisnis.com, JAKARTA — Bagi kebanyakan miliarder, punya hunian dengan pemandangan laut dan dengan penjagaan khusus sudah jadi hal yang lumrah. Hanya saja, mendiang miliarder Charlie Munger tak seperti kebanyakan miliarder.
Wakil ketua Berkshire Hathaway, yang telah lama menjabat dan meninggal dunia hanya beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-100 pada November 2023, menghabiskan hampir tujuh dekade tinggal di rumah sederhana yang sama di Los Angeles.
Rumah itu tidak hanya jauh dari kata mewah, tetapi dilansir The Wall Street Journal, rumah itu bahkan tidak dilengkapi AC.
Selama gelombang panas yang ekstrem tiga tahun sebelum kematiannya, teman-temannya dilaporkan membawa kipas angin listrik dan kantong-kantong es hanya untuk mendinginkan perpustakaannya.
Charlie Munger, seorang pengacara real estat terlatih yang menjadi salah satu investor paling dihormati di era modern, meninggalkan kekayaan miliaran dolar AS saat meninggal dunia.
Dalam profil tahun-tahun terakhirnya yang diterbitkan Kamis, The Wallstreet Journal melaporkan bahwa ia sebenarnya memiliki rumah dengan pemandangan laut yang digambarkan sebagai "spektakuler" di Montecito, California.
Rumah itu terletak di sebuah kompleks perumahan berpagar yang dirancang sendiri oleh Munger, sebuah ceruk yang begitu erat hubungannya dengan dirinya sehingga penduduk setempat menyebutnya "Mungerville."
Pada suatu saat, Munger memberi tahu seorang teman bahwa ia berharap akan menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di sana.
Namun, rumah itu sebagian justru jarang terpakai. Sebaliknya, Munger tetap tinggal di rumah yang tenang dan fungsional yang dibelinya sekitar tahun 1953, dan tidak pernah direnovasi.
Sementara rekan-rekannya mengubah kekayaan mereka menjadi perumahan mewah, Munger tetap merasa sejuk dengan es dan kipas angin. Sungguh-sungguh.
Dalam beberapa wawancara media yang ditayangkan tak lama setelah kematiannya, Munger menjelaskan mengapa ia menolak kehidupan mewah bak rumah miliarder yang begitu diidam-idamkan banyak orang.
"Buffett dan saya sama-sama cukup cerdas untuk menyaksikan teman-teman kami yang kaya raya membangun rumah-rumah mewah ini. Dan saya akan mengatakan dalam hampir semua kasus, rumah-rumah itu justru membuat orang tersebut kurang bahagia, bukan lebih bahagia," ungkapnya.
"Rumah sederhana," kata Munger, sudah cukup. Rumah yang lebih besar mungkin bisa menampung lebih banyak orang, tapi lebih dari itu, rumah itu sangat mahal tapi tidak banyak manfaatnya.
Keputusannya juga mengandung dimensi moral. Munger, yang memiliki sembilan anak dari dua pernikahan, percaya bahwa memamerkan kekayaan, terutama dalam bentuk rumah-rumah mewah, bisa menjadi bumerang.
"Saya punya banyak anak, jadi itu masih bisa dibenarkan [punya rumah besar]. Tapi, saya tetap memutuskan untuk tidak menjalani kehidupan yang membuat saya terlihat seperti Duke of Westchester atau semacamnya. Saya melakukannya dengan sengaja. Saya pikir itu tidak akan baik untuk anak-anak," lanjutnya.
Menahan kemewahan semacam itu mendefinisikan kehidupan Munger. Dia sering mengatakan bahwa hidup di bawah kemampuan bukan hanya praktis, tetapi juga strategis.
Di kala orang lain terobsesi dengan luas bangunan, Munger berfokus pada kerangka kerja, taruhan jangka panjang, dan orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak pernah berhenti belajar. Meskipun mobilitasnya menurun dan penglihatannya meredup, Munger terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar, berdebat tentang kecerdasan buatan, mendukung investasi real estat, dan berkumpul dengan teman-teman sambil makan siang bersama di rumah.