Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah meningkatnya popularitas aplikasi kencan digital, sebuah riset mengungkap bahwa banyak pengguna ternyata tidak benar-benar bertujuan untuk menjalin hubungan serius meskipun platform tersebut identik dengan pencarian pasangan romantis.
Riset yang dipublikasikan oleh Mary Ann Liebert Journals menyurvei hampir 1.400 pengguna Tinder berusia 18 hingga 74 tahun. Hasilnya, sekitar 50% responden mengaku tidak berniat benar-benar mencari pasangan atau pergi berkencan melalui aplikasi tersebut, dan hampir dua pertiga dilaporkan sudah berada dalam hubungan, termasuk sebagian yang telah menikah.
Dalam riset tersebut, para peneliti mengajukan sejumlah pertanyaan terkait motivasi penggunaan aplikasi, jumlah kecocokan (match) dan kencan, serta kondisi psikologis seperti rasa kesepian dan harga diri. Tingkat kepuasan pengguna terhadap aplikasi juga diukur melalui kuesioner daring.
Peneliti menemukan banyak pengguna tetap aktif di aplikasi kencan bukan untuk mencari relasi, melainkan sebagai sarana hiburan dan interaksi sosial. Platform tersebut dinilai semakin menyerupai media sosial yang memberikan dorongan kepercayaan diri melalui akumulasi like dan match.
Salah satu penulis riset, Germano Vera Cruz dari University of Picardie Jules Verne, menyebut kondisi ini menciptakan dinamika yang menyesatkan bagi sebagian pengguna.
“Sebagian orang merasa tertipu dalam penggunaan aplikasi kencan, karena setiap kali muncul platform baru, mereka berpikir mungkin kali ini benar-benar bisa menemukan seseorang,” ujarnya dikutip dalam NBC News, Kamis (19/2/2026).
Dia juga menambahkan, pengguna yang benar-benar mencari koneksi nyata memiliki peluang lebih kecil untuk berhasil karena tidak semua orang berada di aplikasi dengan tujuan yang sama.
“Kemudian orang-orang berpindah dari satu platform ke platform lainnya, tetapi setiap kali berada di sana, mereka tetap tidak merasa puas.” tambahnya.
Rekan penulis lainnya, Dr. Elias Aboujaoude dari Stanford Medicine, mengatakan temuan tersebut sejalan dengan pengalamannya menangani pasien. Dia menyebut ada perasaan bahwa sebagian orang menghabiskan terlalu banyak waktu menggunakan aplikasi kencan sebagai hiburan atau untuk mengalihkan diri dari hal-hal lain.
“Ada perasaan bahwa mereka menghabiskan terlalu banyak waktu menggunakannya sebagai hiburan atau untuk mengalihkan diri dari hal-hal lain,” katanya.
Dia juga mengingatkan adanya potensi kelelahan emosional akibat paparan pilihan yang tampak tidak terbatas, yang menurutnya dapat terasa melelahkan dan dalam beberapa kasus membuat orang berpikir selalu ada pilihan yang lebih baik di luar sana, seolah-olah rumput tetangga terlihat lebih hijau.
“Hal itu bisa terasa melelahkan, dan dalam beberapa kasus dapat membuat orang berpikir bahwa selalu ada pilihan yang lebih baik di luar sana, seolah-olah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau,” jelasnya.