Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) mengaku tidak sulit untuk mengadopsi beragam solusi inovatif korporasi milik China Mobile ke Indonesia guna memacu pertumbuhan bisnis perusahaan di segmen business-to-business (B2B). Segmen ini dinilai masih cukup segar bagi bisnis masa depan operator seluler.
XLSMART menilai bahwa operator seluler perlu memacu pendapatan di luar layanan konektivitas atau go beyond connectivity, untuk menjaga pertumbuhan bisnis dengan memboyong teknologi mutakhir seperti monetisasi 5G, solusi industri vertikal, kecerdasan buatan (AI), hingga pengembangan kota pintar (smart city) ke pasar domestik.
XLSMART menilai ruang pertumbuhan sektor B2B di Indonesia masih sangat besar, terutama dalam mendukung digitalisasi layanan pemerintahan asalkan pemerintah bersedia untuk memberi dukungan lebih baik dari sisi kemudahan penggelaran hingga komando tunggal.
Director and Chief Enterprise Strategic Relationship Officer XLSMART, Andrijanto Muljono, mengungkapkan optimalisasi pasar korporasi menjadi keharusan bagi operator seluler saat ini mengingat pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) dari sektor B2C cukup menantang.
Perusahaan membuka peluang membawa solusi B2B yang dipamerkan China Mobile pada ajang MWC Shanghai 2026 ke Indonesia.
“B2B solution yang ada di Cina sukses diterapkan. Karena kan kalau kita mobile operator ini kan ARPU dari B2C nya udah susah ya. Jadi kita harus go beyond connectivity, nah itu adalah B2B business,” ujar Andrijanto kepada Bisnis di sela-sela acara MWC Shanghai 2026, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Andrijanto menambahkan XLSMART telah menjalin kerja sama dengan raksasa telekomunikasi asal Negeri Tirai Bambu tersebut dan saat ini sudah mengantongi beberapa proyek dalam perencanaan (pipeline). Meski demikian, transfer teknologi ini memerlukan penyesuaian struktural agar dapat berjalan optimal di Indonesia.
“[Solusi China Mobile] Bisa diadopsi di Indonesia, dengan modifikasi karena di sini kan rule dan regulasinya berbeda,” kata Andrijanto.
Dia mencontohkan penerapan konsep smart city di Cina dinilai sangat efektif karena didukung oleh pusat komando dan manajemen data terpadu yang melintasi berbagai departemen dalam satu sistem komando. Sementara di Indonesia, struktur pemerintahan yang demokratis membuat koordinasi antar-instansi menjadi lebih kompleks sehingga tata kelola data berdaulat memerlukan pendekatan yang berbeda.
Tantangan lainnya muncul pada aspek pendanaan, mengingat proyek-proyek sektor publik di Indonesia sangat bergantung pada anggaran negara, baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
“Itu juga penggunaan APBN/APBD menjadi satu pertimbangan. Teknologinya tidak ada masalah, tinggal lokal wisdom-nya,” tutur Andrijanto.
Solusi China Mobile
Dalam ajang MWC Shanghai 2026, raksasa telekomunikasi global China Mobile memamerkan portofolio solusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terintegrasi yang menyasar berbagai sektor kehidupan, mulai dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, olahraga, budaya, hingga sektor keuangan.
China mengeksplorasi bentuk-bentuk baru kecerdasan seluler mencakup perangkat keras mutakhir seperti ponsel AI, kacamata AI, dan pengembangan robot humanoid guna merekonstruksi paradigma layanan di era kecerdasan murni.
Chairman Mobile Communications Group, Chen Zhongyue, menyatakan pentingnya nilai inklusivitas di balik pengembangan inovasi teknologi masa depan seperti AI. Teknologi mutakhir dituntut mampu menjangkau kelompok-kelompok yang sebelumnya terisolasi dari akses digital komersial.
“Kecerdasan buatan seharusnya tidak hanya melayani segelintir elit, juga tidak hanya melayani masyarakat umum. Seharusnya juga memperhatikan setiap kehidupan,”kata Chen pada ajang MWC Shanghai 2026, Rabu (24/6/2026).
Sebagai bukti nyata, China Mobile menghadirkan model AI khusus yang memberikan kemandirian bagi penyandang disabilitas wicara dan rungu di Tiongkok.
Melalui platform pintar ini, jaringan telekomunikasi berfungsi memproses penguraian semantik, penalaran cloud, serta generasi cerdas dalam hitungan milidetik sehingga pengguna dapat berkomunikasi secara mandiri.
Selain aspek inklusivitas sosial, perusahaan membawa kapabilitas kecerdasan buatan ke sektor hiburan dan olahraga, salah satunya diaplikasikan pada siaran Piala Dunia 2026 melalui anak usahanya, Migu Mobile.
Platform tersebut merilis agen tampilan cerdas yang mentransformasikan jalannya pertandingan di stadion menjadi peta taktis visual pada layar gawai pelanggan dalam waktu seketika.
Di segmen industri makro, korporasi membangun Platform Internet Industri Cina untuk mengotomatisasi sektor manufaktur, perbankan, dan energi. Melalui kolaborasi sistem pemadam kebakaran cerdas, keahlian manual para pekerja baja digantikan oleh deteksi api dan penilaian suhu berbasis data algoritma AI, sehingga mampu mereduksi risiko kecelakaan kerja di lingkungan ekstrem beradiasi tinggi.
SD-WAN Huawei
Selain bekerja sama dengan China Mobile, XLSMART juga baru saja menjalin kerja sama dengan Huawei Technologies dalam menghadirkan One Stop Solution untuk UKM berbasis jaringan 5G SD-WAN.
CMO of ICT Huawei Asia Pacific James Zhang menjelaskan identifikasi masalah di lapangan menjadi kunci dalam merumuskan solusi teknologi yang tepat sasaran bagi para pelaku usaha. Sebelum One Stop Solution 5G SD-WAN ini hadir, perusahaan telah melakukan riset pasar dan mendengar masalah yang dihadapi UKM.
“Kami bisa mendengar dari pelanggan, dan belajar dari titik masalah, dan menemukan kebutuhan ICT yang tepat. Jadi kami menemukan tiga titik masalah dan kebutuhan,” ujar James.
Menurutnya, para pelaku UKM setidaknya menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, kebutuhan akan konektivitas tinggi yang stabil. Kedua, urgensi pemanfaatan teknologi AI CCTV guna mendukung operasi keamanan sekaligus operasional pintar (smart operation).
Menjawab kebutuhan tersebut, Huawei dan XL Smart menawarkan produk standar 'konektivitas plus'. Skema ini mengintegrasikan operasional jaringan sebagai titik masuk awal, yang kemudian diperkuat dengan kemampuan AI guna memangkas biaya operasional, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan manajemen usaha yang lebih cerdas.
Untuk model bisnis multi-jaringan, solusi yang ditawarkan mencakup penggunaan SD-WAN dengan pengetahuan intelektual serta perlengkapan otomatis yang mengintegrasikan keamanan dan operasi pintar. Sementara itu, pendekatan berbeda diterapkan untuk sektor kuliner maupun jaringan toko tunggal (single-store).
“Untuk makanan dan jaringan, untuk jaringan single-store, kami menggunakan 5G network untuk menghasilkan aktivitas yang berharga. Sementara itu, kami bisa menjaga bisnis kami dengan 0 interruption dan 0 lag. Akhirnya, kami bersama-sama menjalankan SME, Connect Better, See Smarter, and Service Faster,” kata James.