Bisnis.com, JAKARTA — Strategi divestasi aset yang dijalankan oleh PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) diproyeksi menjadi kunci utama perbaikan fundamental pada tahun ini sekaligus membuka prospek jangka panjang yang lebih sehat.
Sejak 2017, APLN konsisten melakukan monetisasi portofolio properti bernilai tinggi guna membiayai proyek baru serta memangkas utang, khususnya dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Sejumlah aset besar yang telah didivestasi APLN antara lain Central Park Mall, Neo Soho Mall, Pullman Ciawi Vimala Hills, hingga yang terbaru Deli Park Mall Medan.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai strategi ini sebagai langkah krusial yang berhasil mendorong turnaround kinerja APLN pada kuartal I/2026.
“Kami melihat turnaround APLN pada kuartal I/2026 merefleksikan hasil dari strategi asset recycling dan optimalisasi aset. Monetisasi aset matang berhasil mendorong revenue dan sekaligus memperbaiki bottom line perusahaan," ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Pengaruh dari strategi optimalisasi aset ini juga merambah pada perbaikan profil risiko Perseroan. Melalui hasil penjualan aset, APLN secara bertahap mengurangi beban utang secara signifikan, termasuk pelunasan kewajiban dalam mata uang asing.
Menurut Wafi, langkah deleveraging menjadi krusial dalam meminimalkan risiko nilai tukar atau kurs yang sering kali menjadi beban bagi perusahaan dengan eksposur valas yang tinggi. Dengan berkurangnya tekanan bunga dan risiko kurs, menurutnya, struktur permodalan APLN saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih stabil.
Wafi menjelaskan, dalam konteks industri, skema asset recycling seperti yang diterapkan APLN dianggap sebagai salah satu praktik terbaik untuk menjaga kesehatan finansial, terutama saat menghadapi fase siklus yang menantang.
Hanya saja, dia mengingatkan, keberlanjutan kinerja ini akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan dalam menyeimbangkan monetisasi aset dengan pengembangan proyek baru.
Pasalnya peningkatan likuiditas saat ini memberikan APLN fleksibilitas yang lebih besar untuk melakukan pembiayaan kembali, menjaga kelancaran operasional, serta melakukan ekspansi secara selektif.
Fundamental yang lebih kuat ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas neraca perusahaan dalam jangka panjang.
Dia menegaskan langkah-langkah strategis tersebut merupakan modal bagi stabilitas perusahaan jangka panjang. Investor dan pelaku pasar akan terus memperhatikan konsistensi manajemen dalam mengeksekusi rencana bisnis ke depan.
"Langkah ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, terutama dari sisi stabilitas neraca dan profil risiko. Namun, investor akan tetap menunggu konsistensi eksekusi serta kejelasan pendapatan di masa depan sebelum terjadi penilaian ulang yang signifikan terhadap nilai perusahaan," jelasnya.
Prospek bisnis APLN akan ditentukan oleh kemampuan dalam mengelola keseimbangan antara pendapatan dari aset yang ada serta percepatan pengembangan proyek-proyek baru yang potensial.
Corporate Secretary APLN Justini Omas mengatakan perseroan tengah membangun dan mengembangkan proyek-proyek properti baru di berbagai kota di Indonesia. Seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Karawang, Balikpapan, Medan, dan Bali. Selain proyek kawasan hunian, APLN juga membangun pusat perbelanjaan baru dan hotel baru yang akan menjadi sumber pendapatan berulang di masa depan.
"Kami terus berusaha mengoptimalkan peluang sektor properti dan konsumen yang terus bertumbuh setiap tahunnya. Melalui strategi yang tepat dan eksekusi yang disiplin, terukur dan matang, kami yakin APLN akan terus menunjukkan kinerja positif ke depan,” katanya.
Berdasarkan laporan keuangan, APLN mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp2,9 triliun pada kuartal I/2026, melonjak 232% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp874,5 miliar. Lonjakan ini turut mendorong perbaikan signifikan pada laba bersih, dari rugi Rp55,6 miliar pada kuartal I/2025 menjadi laba Rp513,8 miliar pada tahun ini.