Bisnis.com, JAKARTA - Virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan merebak di India dan memicu kewaspadaan global. Virus yang berasal dari hewan kelelawar ini dikenal berbahaya dan mematikan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menyampaikan bahwa peningkatan kewaspadaan perlu dilakukan setiap kali kasus virus Nipah muncul. Pasalnya, penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia ini memiliki tingkat kematian yang tinggi, sekitar 40%-70% dari total kasus.
Dominicus mengatakan sejak tahun 1998, tercatat lebih dari 800 kasus Nipah di dunia, dengan konsentrasi kasus sejauh ini hanya di lima negara, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Bangladesh.
Hingga saat ini, kata Dominicus, Indonesia belum mendeteksi satu pun kasus pada manusia. Meski demikian, kedekatan geografis dengan negara-negara yang pernah melaporkan wabah membuat potensi risiko penyebaran tetap perlu diwaspadai.
Meski belum ditemukan pada manusia, virus ini telah terdeteksi pada hewan di Indonesia. Sebagai catatan, virus Nipah merupakan bagian dari kelompok Henipavirus yang secara alami hidup pada kelelawar buah dan dalam beberapa wabah dapat berpindah ke hewan lain, seperti babi atau kuda, sebelum menginfeksi manusia.
“Penular utama tetap berasal dari kelelawar buah sebagai inang alami. Indonesia termasuk negara yang memiliki populasi kelelawar buah tersebut dan virusnya ditemukan ada, tetapi hingga kini belum terdeteksi pada manusia,” katanya dalam media briefing Mengenal dan Mewaspadai Nipah, Kamis (29/1/2026)
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Airlangga Surabaya ini juga mengungkapkan, pada 2023 pernah dilakukan penelitian menggunakan metode uji ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) terhadap sejumlah hewan yang berpotensi menjadi pembawa virus. Riset tersebut dilaksanakan di berbagai wilayah, antara lain Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan.
Dari penelitian tersebut, sekitar sepertiga sampel liur kelelawar buah menunjukkan keberadaan antibodi Nipah, bahkan dua di antaranya terdeteksi mengandung virus Nipah. Sementara itu, pengujian pada babi potong di Jakarta, Medan, Sumatera Utara dan Barat, serta Sulawesi Utara tidak menemukan keberadaan antibodi Nipah.
"Jadi, yang positif ditemukan di Indonesia sejauh ini adalah kelelawar. Penularannya bisa melalui apa? Bisa cairannya, seperti kencing, ludah, napas, atau makan daging mentah hewan yang kena virus Nipah," jelasnya.
Oleh karena itu, dirinya menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan, terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas atau pekerjaan yang berkaitan erat dengan hewan.
Kelompok tersebut antara lain peternak babi, pekerja pemotongan babi, serta pengumpul nira atau aren, yang cukup banyak dijumpai di Indonesia, maupun mereka yang menangani buah-buahan yang berpotensi telah terpapar oleh kelelawar buah.