Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang protes besar mengguncang Bulgaria setelah ratusan ribu warga, khususnya generasi muda atau Gen Z, turun ke jalan di Sofia dan sejumlah kota lain.
Gerakan anak muda Bulgaria, khususnya dari kelompok Gen Z telah berhasil melengserkan kabinet yang korupsi. Para demonstran banyak yang marah hingga membuat rezim Bulgaria yang berkuasa sadar dan mengundurkan diri.
Simak fakta-fakta terbaru berikut ini, terkait situasi pemerintahan Bulgaria:
1. Kabinet Resmi Mengundurkan Diri
Dilansir The Guardian (Selasa, 16/12/2025), Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov menyerahkan pengunduran diri kabinetnya setelah kurang dari satu tahun menjabat, tepat sebelum parlemen menggelar pemungutan suara mosi tidak percaya.
The New York Times pun mencatat kemarahan publik kali ini tidak hanya ditujukan pada pemerintah, tetapi juga kepada figur-figur politik kuat yang dianggap mewakili korupsi struktural di Bulgaria.
2. Figur Oligarki Jadi Sasaran Protes
Salah satu nama yang paling disorot adalah Delyan Peevski, mantan konglomerat media yang kini menjadi politisi berpengaruh. Peevski telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan Inggris atas dugaan korupsi.
Dia sempat membantah tudingan tersebut, tetapi banyak demonstran meyakini pengaruh Peevski tetap kuat dalam lingkar kekuasaan, sehingga simbol oligarki menjadi fokus utama tuntutan perubahan.
3. Rancangan Anggaran Picu Aksi Massa
Pemicu awal gelombang protes adalah rancangan anggaran 2026, yang memuat rencana kenaikan pajak, iuran jaminan sosial, serta belanja negara di Bulgaria. Pemerintah negara setempat sempat menarik rancangan tersebut, tetapi langkah itu dinilai terlambat dan gagal meredam kemarahan publik.
4. Isu Korupsi dan Mafia Politik Menguat
Demonstran menilai persoalan anggaran hanyalah puncak gunung es. Aksi massa berkembang menjadi kritik luas terhadap praktik korupsi, kolusi, dan dominasi oligarki yang dianggap menghambat reformasi politik dan ekonomi.
5. Presiden Turut Mendesak Pemerintah Mundur
Presiden Bulgaria Rumen Radev secara terbuka meminta pemerintah mengundurkan diri. Dalam pernyataannya, Radev menegaskan bahwa pemerintah gagal memilih antara suara rakyat dan ketakutan terhadap mafia. Pernyataan tersebut memperkuat tekanan politik terhadap kabinet yang akhirnya resmi mundur.
6. Aksi Protes Kreatif Warnai Jalanan
Selain jumlah massa yang besar, demonstrasi juga diwarnai simbol-simbol kreatif. Sebuah patung babi merah muda raksasa dipasang di depan gedung parlemen sebagai lambang kemarahan publik terhadap korupsi dan pemborosan anggaran negara.
7. Ancaman Instabilitas Politik dan Ekonomi
Menurut Reuters, pengunduran diri kabinet berpotensi memperpanjang ketidakstabilan politik Bulgaria. Negara anggota Uni Eropa dan NATO ini telah menggelar tujuh pemilu nasional dalam empat tahun terakhir akibat parlemen yang terfragmentasi dan rapuhnya koalisi pemerintahan. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu kepercayaan investor dan persiapan transisi ke euro.
8. Pemerintahan Sementara dan Pemilu Dini Mengintai
Presiden Radev akan meminta partai-partai di parlemen membentuk pemerintahan baru. Jika upaya itu gagal, Bulgaria berpotensi kembali menggelar pemilu dini, yang akan menjadi pemilu kedelapan sejak 2020.
Bulgaria selama ini juga berada di peringkat bawah Indeks Persepsi Korupsi Transparency International di kawasan Eropa. Analis menilai rendahnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara dan elite politik menjadi akar krisis yang terus berulang. (Angela Keraf)