#30 tag 24jam
Mimpi Lukman Lestarikan Budaya Betawi lewat Ondel-Ondel, Kian Nyata Berkat Dukungan BRI
Berawal dari kesulitan ekonomi, Lukman menjaga budaya Betawi lewat miniatur ondel-ondel daur ulang. Dukungan KUR BRI membuat mimpinya terus berkembang. - Bagian all [1,075] url asal
JAKARTA, iNews.id - Kecintaan Lukman Hakim terhadap budaya Betawi tak diwujudkan lewat panggung pertunjukan semata. Pria asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu memilih merawat ikon budaya tersebut melalui miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas yang diproduksinya sejak 2013.
Kerajinan tersebut dijalankan bersama sang istri. Bukan semata untuk mencari penghasilan, miniatur ondel-ondel itu juga menjadi cara yang dia pilih untuk menjaga agar budaya Betawi tetap dikenal lintas generasi.
"Karena orang Betawi itu semakin lama semakin dilupain, makanya kita temanya di ondel-ondel," kata Lukman saat ditemui iNews.id pada Kamis (25/6/2026).
Bersama warga, dia lebih dulu membuat ondel-ondel berukuran sekitar dua meter dari bahan-bahan sederhana dan limbah yang ada di sekitar lingkungannya. Ondel-ondel itu dipajang bersama dekorasi rumah Betawi pada berbagai kegiatan.
"Jadi kita mengangkat lagi budaya kita. Dari situ beberapa RT pada ngelihat, 'Bagus nih.' Jadi tertarik," ujarnya.
Semangat itu terus berkembang hingga pada 2013 Lukman menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas. Ide tersebut lahir setelah mendapat tantangan dari lurah untuk membuat ondel-ondel berukuran kecil.
"Saya enggak mau niru orang. Saya mau menciptakan sendiri. Akhirnya saya pilih dari botol plastik bekas," katanya.
Dia pun bereksperimen menggunakan berbagai jenis botol sebelum menemukan bahan yang paling sesuai.
"Beberapa botol dicobain dulu. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," ujarnya.
Tak hanya botol plastik, Lukman juga memanfaatkan limbah kain dari konveksi sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel.
"Kain kita ambil dari konveksi. Kadang kita pesen limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," tuturnya.
Keinginan memperkenalkan budaya Betawi tak berhenti lewat produksi kerajinan. Lukman juga aktif mengajarkan cara membuat miniatur ondel-ondel kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak PAUD hingga orang dewasa.
"Saya ngajarin cara bikin ondel-ondel dari daur ulang ini dari anak PAUD, anak playgroup, anak TK, SD, SMP, SMA sampai gurunya aja pada mau belajar," katanya.
Bahkan, kegiatan tersebut membawanya hingga ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berawal dari keponakannya yang belajar di pesantren itu membawa beberapa pasang miniatur ondel-ondel, Lukman akhirnya diundang untuk mengajar para santri.
"Senang orang sana. Akhirnya saya ke Gontor sana. Saya ngajar di sana santri, 200 orang di aula," ujarnya.
Dalam pelatihan itu, Lukman tidak membatasi kreativitas para peserta. Dia membebaskan mereka mengembangkan bentuk ondel-ondel sesuai imajinasi masing-masing.
"Saya kasih kebebasan juga. Jadi bentuknya bukannya ondel-ondel aja. Silakan kalau mau punya imajinasi yang lain, misalnya ondel-ondel wisuda, ondel-ondel adat Jawa, ondel-ondel pakaian Muslim," katanya.
Selain mengajar kerajinan, Lukman juga mendirikan Yayasan Karya Seni Betawi yang mewadahi berbagai sanggar seni. Melalui yayasan tersebut, dia mengembangkan beragam kesenian Betawi mulai dari palang pintu, lenong, gambang kromong, hingga pembuatan ondel-ondel.
"Jadi rezeki kan Allah yang ngatur, yang penting kita punya misi yang sama untuk mengangkat budaya, memperkenalkan budaya," ujarnya.
Usaha miniatur ondel-ondel yang kini dikenal luas ternyata lahir dari upaya Lukman mencari tambahan penghasilan. Saat masih bekerja sebagai petugas keamanan, penghasilannya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah, terutama setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, kita harus cari tambahan lagi," ujar Lukman.
Keadaan itu mendorongnya menghidupkan kembali bakat seni yang sempat lama ditinggalkan. Berawal dari membuat dekorasi untuk kegiatan warga dan perayaan 17 Agustus, kreativitasnya terus berkembang hingga berhasil menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
Saat ini, usaha tersebut dikelola bersama sang istri. Hasil produksinya dipasarkan dengan sistem titip jual (konsinyasi) di sejumlah toko mainan di kawasan Pondok Labu, Pondok Petir, hingga Kebayoran Lama.
"Variatif (jumlah ondel-ondel yang dititipkan di toko). Ada yang sepuluh, ada yang lima puluh, ada yang tiga puluh. Tinggal tergantung penjualannya aja," katanya.
Dia mengatakan, jumlah pesanan sempat melonjak saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Lukman mengaku mampu menghabiskan ratusan botol plastik bekas untuk diolah menjadi miniatur ondel-ondel.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis," ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, Lukman memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk memperbesar kapasitas usahanya. Pinjaman pertama dia peroleh pada 2019 sebesar Rp20 juta yang digunakan sebagai tambahan modal membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," katanya.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Lukman kembali mengakses KUR BRI senilai Rp50 juta. Selain dipakai memperkuat modal usaha, dana tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah agar lebih aman dan nyaman sebagai tempat produksi.
"Yang Rp50 juta saya renovasi. Lantai dua dulu masih papan, saya ngeri kerja enggak tenang. Akhirnya saya cor," ujarnya.
Menurut Lukman, hubungan dengan BRI tidak berhenti setelah pencairan pinjaman. Dia mengaku masih rutin mendapat pendampingan dan kesempatan mengikuti bazar maupun kegiatan promosi bertema budaya Betawi.
"Iya, kontrol. Kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," katanya.
Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI telah mencapai Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, mayoritas pembiayaan tersebut disalurkan kepada pelaku usaha di sektor produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat. Dari total penyaluran KUR, sebanyak 67,18 persen mengalir ke sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Menurut Akhmad, KUR tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan bagi UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. Penyalurannya diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan nasional, mulai dari peningkatan ketahanan pangan hingga pengembangan kewirausahaan.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menambahkan, akses pembiayaan yang semakin mudah dan tepat sasaran diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing UMKM di berbagai daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Sejak program KUR dijalankan pada 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia.
Realisasi tersebut mencerminkan konsistensi BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Melalui dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, BRI terus mendorong pelaku usaha agar semakin berkembang, naik kelas, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Editor: Rizky Agustian
Ketika Sampah Menjelma Ondel-Ondel, Kisah Lukman Bangkit dari Masa Sulit Didukung BRI
Berawal dari kesulitan ekonomi, Lukman Hakim mengubah botol plastik menjadi miniatur ondel-ondel khas Betawi. Dengan dukungan KUR BRI, usahanya berkembang. - Bagian all [1,204] url asal
JAKARTA, iNews.id - Tangan Lukman Hakim bergerak lincah memotong dan merangkai botol plastik bekas yang menumpuk di sudut rumahnya kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Benda yang bagi sebagian orang hanya sampah itu perlahan berubah menjadi sepasang miniatur ondel-ondel berwarna mencolok.
Tak disangka, hasil kreasi itu menjelma jadi tambahan sumber penghasilan bagi Lukman. Petugas keamanan di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman atau Sudirman Central Business District (SCBD), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu perlahan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.
Ratusan botol plastik telah diolah menjadi kerajinan tangan yang dipasarkan ke berbagai toko mainan di Jakarta. Bahkan saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta, permintaan meningkat tajam hingga membuat pria berusia 56 tahun itu harus memproduksi ratusan pasang ondel-ondel mini.
Usaha yang dirintis sejak 2013 itu berawal dari kebutuhan menambah penghasilan keluarga. Lukman semula berusaha mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Di 2004 itu ya, kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup punya anak dua. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, waduh, kita harus cari tambahan lagi," kata Lukman saat ditemui iNews.id di rumahnya, Kamis (25/6/2026).
Berbekal minat seni yang dimilikinya sejak kecil, Lukman mulai aktif membuat berbagai dekorasi untuk kegiatan warga. Bersama pemuda sekitar, dia juga berupaya mengangkat kembali budaya Betawi melalui berbagai kreasi.
Dari aktivitas itulah muncul ide membuat miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
"Saya ada dapat tantangan dari lurah. Lurahnya ibu-ibu, 'Mana lu bikin yang kecil? Saya tahu kalau kamu yang gede saya tahu kamu bisa. Coba bikin yang kecil'," ujarnya.
Alih-alih meniru produk yang sudah ada, Lukman memilih menciptakan konsep sendiri menggunakan botol plastik bekas. Berbagai jenis botol dicoba sebelum akhirnya menemukan bentuk yang paling sesuai.
"Awalnya kita eksperimen. Botol apa aja. Beberapa botol dicobain dulu. Dicoba semua. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," katanya.
Lukman menuturkan bahan baku diperoleh dari tetangga, teman, hingga kerabat yang mengumpulkan botol bekas untuknya. Dia membeli botol bekas yang telah dikumpulkan seharga Rp5.000 per kilogram.
Bahkan, limbah kain dari konveksi di dekat rumahnya juga dimanfaatkan sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel. "Kadang kita pesan limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," ujarnya.
Saat ini, Lukman menjalankan usaha tersebut bersama istrinya. Produk miniatur ondel-ondel dipasarkan melalui sistem konsinyasi ke sejumlah toko mainan.
Menurut dia, miniatur ondel-ondel buatannya sudah dipasarkan di sejumlah toko kawasan seperti Pondok Labu dan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, hingga Pondok Petir, Depok. Sepasang ondel-ondel dijual seharga Rp25.000 kepada reseller, dan Rp35.000 jika dijual secara langsung ke pembeli.
"Variatif. Ada yang 10, ada yang 50, ada yang 30. Tinggal tergantung penjualannya aja. Ramai atau enggaknya," ujar Lukman saat menjelaskan jumlah miniatur ondel-ondel yang dititipkan di setiap toko.
Lukman mengungkapkan permintaan produk meningkat menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Pada momen tersebut, produksi melonjak 250 unit.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin tuh hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis. Ini baru mulai lagi nih," katanya.
Dalam mengembangkan usahanya, Lukman mendapat dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Dia mengaku pertama kali memperoleh pinjaman KUR pada 2019 sebesar Rp20 juta.
Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya pinjam sebelum Covid-19, 2019 kalau enggak salah. 2019 saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," ujarnya.
Selain untuk kebutuhan usaha, sebagian dana juga digunakan membantu biaya anaknya yang baru lulus sekolah.
Saat pandemi Covid-19, Lukman kembali mengakses KUR BRI sebesar Rp50 juta. Dana itu digunakan untuk merenovasi rumahnya yang sekaligus menjadi lokasi pembuatan miniatur ondel-ondel.
Sebagian dana lainnya dipakai untuk menambah stok bahan baku dan kebutuhan pengemasan produk.
"Sisanya belanja aja kebutuhan stok, cetak merek hampir 10.000 lembar, stok plastik kemasan," katanya.
Tak hanya memperoleh akses permodalan, Lukman mengatakan pihak BRI juga kerap melakukan pendampingan dan mengajaknya mengikuti berbagai kegiatan promosi.
"Iya, kontrol, kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," ujarnya.
Menurut Lukman, keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut membantu memperluas jangkauan pemasaran. Dia juga memandang keterlibatannya dalam kegiatan tersebut sekaligus sebagai ajang memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat.
Ke depan, Lukman berharap usahanya dapat berkembang lebih besar dan menjangkau pasar ritel modern. Dia bermimpi untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tinggal di sekitar rumahnya.
"Rencananya ya buat lebih besar lagi. Jadi kita mau terobosan masukin ke Indomaret, Alfamart. Misal satu Alfamart atau Indomaret 10 (miniatur ondel-ondel) aja, kali berapa Indomaret, kali berapa Alfamart? Jutaan. Kan kita bisa buka lapangan kerja," katanya.
Manfaat usaha yang dijalankan Lukman juga dirasakan warga sekitar. Salah satu tetangganya, Marni, mengaku sudah lama mengenal usaha miniatur ondel-ondel yang dibuat dari botol bekas tersebut.
Dia mengatakan aktivitas produksi kerajinan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya. Marni kerap melihat Lukman bersama istrinya membuat miniatur ondel-ondel di rumah.
"Memang dari dulu jualan ondel-ondel. Saya sering lihat bikin di rumah," kata Marni.
Dia mengatakan produk buatan Lukman cukup dikenal karena dipasarkan ke berbagai tempat dan sering mendapat pesanan saat ada kegiatan bertema budaya Betawi.
"Kalau ada pesanan atau acara biasanya ramai. Banyak yang datang juga ke sini," ujarnya.
Marni menilai usaha tersebut menjadi kebanggaan warga sekitar karena tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga ikut menjaga budaya Betawi agar tetap dikenal masyarakat.
"Bagus sih, jadi orang tahu ondel-ondel. Apalagi sekarang kan budaya Betawi harus terus dikenalkan," katanya.
Keberadaan usaha tersebut, kata Marni, juga membuat lingkungan sekitar lebih hidup. Warga, terutama anak-anak, kerap datang untuk melihat proses pembuatan miniatur ondel-ondel dari dekat.
"Banyak juga yang lihat-lihat, terutama anak-anak. Mereka jadi tahu kalau botol bekas bisa dijadikan kerajinan," ujar Marni.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program KUR. Selama periode Januari hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari total kuota penyaluran tahun ini yang mencapai Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan sebagian besar pembiayaan tersebut mengalir ke sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Dari total KUR yang telah disalurkan, sekitar 67,18 persen diberikan kepada pelaku usaha di sektor produktif.
Menurut dia, KUR menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas akses permodalan bagi UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Penyaluran kredit tersebut juga diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan wirausaha.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menjelaskan, dukungan pembiayaan yang tepat sasaran diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat daya saing, serta membuka peluang kerja baru di daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Secara akumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta debitur di seluruh Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen berkelanjutan BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Melalui penyaluran KUR, BRI terus mendorong tumbuhnya usaha-usaha rakyat yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di berbagai wilayah.
Editor: Rizky Agustian
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56