#30 tag 24jam
Lapak Jus Pensiunan Guru Makin Segar Berkat KUR BRI
KUR BRI mendorong usaha jus pensiunan guru di Bekasi tumbuh stabil, aman berkat asuransi lapak, dan berkelanjutan. - Bagian all [331] url asal
BEKASI, iNews.id – Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi pemicu lonjakan usaha jus Sulistyowati, pensiunan guru yang kini mengelola lapak minuman segar di BRINS Plaza Kuliner Galaxy, Bekasi.
Sulistyowati memutuskan pensiun di usia 46 tahun. Dia bersama suami, juga pensiunan karyawan swasta, memilih berwirausaha demi menjaga kemandirian ekonomi keluarga.
Pilihan jatuh pada usaha jus buah di kawasan kuliner yang berada di bawah naungan BRI Insurance. Lingkungan ini memberi rasa aman bagi pedagang melalui program asuransi lapak.
"Semua pedagang di sini di ikut BRI Insurence. Jadi lapak kita bisa mendapat asuransi kalau amit-amit terjadi kebakaran atau hal-hal yang tidak diinginkan," kata Sulistyowati kepada iNews.id.
Dia menyebut iuran asuransi terjangkau dan manfaatnya nyata.
"Dia mengaku hanya membayar iuran Rp40.000 kepada BRI per tahun untuk ikut asuransi."
Kecepatan layanan menjadi alasan kepercayaan.
"Bahkan kalau lampu mati saja ini warung bisa diganti sama BRI mas. Mereka cepat kerjanya. Suka ada yang kontrol juga," ucapnya.
Kepercayaan itu mendorong langkah lebih besar. Pada 2023, Sulistyowati mengambil KUR dari Bank Rakyat Indonesia untuk mengembangkan usaha jusnya. Kini selain jus, dia juga berjualan salad buah dan sop buah.
"Ngambil 10 juta waktu itu langsung diacc. Saya belikan untuk tambahan stok buah. Mesin pres gelas plastik," kata dia.
Dukungan pembiayaan tersebut membuat operasional lebih rapi dan pasokan terjaga. Usaha berjalan stabil, aktivitas dagang berlangsung lancar setiap hari.
Di tingkat nasional, BRI terus menguatkan ekonomi kerakyatan lewat penyaluran KUR ke sektor produktif. Periode Januari hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI mencapai Rp84,36 triliun atau 46,87 persen dari alokasi 2026 senilai Rp180 triliun.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif,” kata Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI menyalurkan KUR senilai Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat. Konsistensi ini menegaskan peran BRI memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkokoh UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
Editor: Reynaldi Hermawan
JAKARTA, iNews.id – KUR BRI menjadi titik balik hidup Rachmat, tukang ketoprak di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Dia sukses bangkit dari jalanan dan meninggalkan profesi pengamen berkat akses pembiayaan usaha.
Rachmat, 30 tahun, pemuda asal Cirebon, Jawa Barat, merantau ke Ibu Kota sejak 2010 usai lulus SMA. Tekad mencari penghidupan lebih baik membawanya pada pekerjaan serabutan, termasuk mengamen di bus kota demi bertahan hidup.
Perjalanan itu tidak mudah. Dia menghadapi penghasilan minim dan kewajiban setoran di wilayah tertentu. Titik jenuh muncul saat dia bertemu teman sekampung asal Cirebon yang berjualan ketoprak di Jakarta.
Dari pertemuan itu, Rachmat meminta diajari mengolah ketoprak. Keputusan tersebut diambil karena dia sudah lelah bertahan sebagai pengamen dan ingin memiliki usaha sendiri.
“Susah banget jadi pengamen di Jakarta. Dapetnya sedikit tapi haris setoran sama yang punya kawasan. Jadi saya mulai belajar ngolah ketoprak,” ujarnya kepada iNews.id.
Setelah belajar dan menabung pengalaman, Rachmat memberanikan diri membuka lapak ketoprak di sekitar Stasiun Gondangdia pada 2020. Untuk memperkuat modal, dia mengajukan Kredit Usaha Rakyat dari Bank Rakyat Indonesia.
“Awalnya saya minjam 15 juta, tapi di acc 10jt saja. Tapi itu sudah lumayan buat tambahan belanja,” kata dia.
Dukungan KUR BRI membuat usaha ketoprak Rachmat bertahan hingga kini, meski persaingan pedagang di kawasan Gondangdia cukup ketat. Konsistensi rasa dan lokasi strategis menjaga pelanggan tetap datang.
“Alhamdulillah sehari bisa 60 porsi. Cukuplah buat saya,” ucapnya.
Di level nasional, BRI terus mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran KUR ke sektor produktif. Periode Januari hingga Mei 2026, realisasi penyaluran KUR BRI mencapai Rp84,36 triliun atau 46,87 persen dari alokasi 2026 senilai Rp180 triliun.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif,” kata Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat. Konsistensi ini menegaskan peran BRI memperluas inklusi keuangan sekaligus menguatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
Editor: Reynaldi Hermawan
Mimpi Lukman Lestarikan Budaya Betawi lewat Ondel-Ondel, Kian Nyata Berkat Dukungan BRI
Berawal dari kesulitan ekonomi, Lukman menjaga budaya Betawi lewat miniatur ondel-ondel daur ulang. Dukungan KUR BRI membuat mimpinya terus berkembang. - Bagian all [1,075] url asal
JAKARTA, iNews.id - Kecintaan Lukman Hakim terhadap budaya Betawi tak diwujudkan lewat panggung pertunjukan semata. Pria asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu memilih merawat ikon budaya tersebut melalui miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas yang diproduksinya sejak 2013.
Kerajinan tersebut dijalankan bersama sang istri. Bukan semata untuk mencari penghasilan, miniatur ondel-ondel itu juga menjadi cara yang dia pilih untuk menjaga agar budaya Betawi tetap dikenal lintas generasi.
"Karena orang Betawi itu semakin lama semakin dilupain, makanya kita temanya di ondel-ondel," kata Lukman saat ditemui iNews.id pada Kamis (25/6/2026).
Bersama warga, dia lebih dulu membuat ondel-ondel berukuran sekitar dua meter dari bahan-bahan sederhana dan limbah yang ada di sekitar lingkungannya. Ondel-ondel itu dipajang bersama dekorasi rumah Betawi pada berbagai kegiatan.
"Jadi kita mengangkat lagi budaya kita. Dari situ beberapa RT pada ngelihat, 'Bagus nih.' Jadi tertarik," ujarnya.
Semangat itu terus berkembang hingga pada 2013 Lukman menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas. Ide tersebut lahir setelah mendapat tantangan dari lurah untuk membuat ondel-ondel berukuran kecil.
"Saya enggak mau niru orang. Saya mau menciptakan sendiri. Akhirnya saya pilih dari botol plastik bekas," katanya.
Dia pun bereksperimen menggunakan berbagai jenis botol sebelum menemukan bahan yang paling sesuai.
"Beberapa botol dicobain dulu. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," ujarnya.
Tak hanya botol plastik, Lukman juga memanfaatkan limbah kain dari konveksi sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel.
"Kain kita ambil dari konveksi. Kadang kita pesen limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," tuturnya.
Keinginan memperkenalkan budaya Betawi tak berhenti lewat produksi kerajinan. Lukman juga aktif mengajarkan cara membuat miniatur ondel-ondel kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak PAUD hingga orang dewasa.
"Saya ngajarin cara bikin ondel-ondel dari daur ulang ini dari anak PAUD, anak playgroup, anak TK, SD, SMP, SMA sampai gurunya aja pada mau belajar," katanya.
Bahkan, kegiatan tersebut membawanya hingga ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berawal dari keponakannya yang belajar di pesantren itu membawa beberapa pasang miniatur ondel-ondel, Lukman akhirnya diundang untuk mengajar para santri.
"Senang orang sana. Akhirnya saya ke Gontor sana. Saya ngajar di sana santri, 200 orang di aula," ujarnya.
Dalam pelatihan itu, Lukman tidak membatasi kreativitas para peserta. Dia membebaskan mereka mengembangkan bentuk ondel-ondel sesuai imajinasi masing-masing.
"Saya kasih kebebasan juga. Jadi bentuknya bukannya ondel-ondel aja. Silakan kalau mau punya imajinasi yang lain, misalnya ondel-ondel wisuda, ondel-ondel adat Jawa, ondel-ondel pakaian Muslim," katanya.
Selain mengajar kerajinan, Lukman juga mendirikan Yayasan Karya Seni Betawi yang mewadahi berbagai sanggar seni. Melalui yayasan tersebut, dia mengembangkan beragam kesenian Betawi mulai dari palang pintu, lenong, gambang kromong, hingga pembuatan ondel-ondel.
"Jadi rezeki kan Allah yang ngatur, yang penting kita punya misi yang sama untuk mengangkat budaya, memperkenalkan budaya," ujarnya.
Usaha miniatur ondel-ondel yang kini dikenal luas ternyata lahir dari upaya Lukman mencari tambahan penghasilan. Saat masih bekerja sebagai petugas keamanan, penghasilannya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah, terutama setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, kita harus cari tambahan lagi," ujar Lukman.
Keadaan itu mendorongnya menghidupkan kembali bakat seni yang sempat lama ditinggalkan. Berawal dari membuat dekorasi untuk kegiatan warga dan perayaan 17 Agustus, kreativitasnya terus berkembang hingga berhasil menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
Saat ini, usaha tersebut dikelola bersama sang istri. Hasil produksinya dipasarkan dengan sistem titip jual (konsinyasi) di sejumlah toko mainan di kawasan Pondok Labu, Pondok Petir, hingga Kebayoran Lama.
"Variatif (jumlah ondel-ondel yang dititipkan di toko). Ada yang sepuluh, ada yang lima puluh, ada yang tiga puluh. Tinggal tergantung penjualannya aja," katanya.
Dia mengatakan, jumlah pesanan sempat melonjak saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Lukman mengaku mampu menghabiskan ratusan botol plastik bekas untuk diolah menjadi miniatur ondel-ondel.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis," ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, Lukman memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk memperbesar kapasitas usahanya. Pinjaman pertama dia peroleh pada 2019 sebesar Rp20 juta yang digunakan sebagai tambahan modal membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," katanya.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Lukman kembali mengakses KUR BRI senilai Rp50 juta. Selain dipakai memperkuat modal usaha, dana tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah agar lebih aman dan nyaman sebagai tempat produksi.
"Yang Rp50 juta saya renovasi. Lantai dua dulu masih papan, saya ngeri kerja enggak tenang. Akhirnya saya cor," ujarnya.
Menurut Lukman, hubungan dengan BRI tidak berhenti setelah pencairan pinjaman. Dia mengaku masih rutin mendapat pendampingan dan kesempatan mengikuti bazar maupun kegiatan promosi bertema budaya Betawi.
"Iya, kontrol. Kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," katanya.
Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI telah mencapai Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, mayoritas pembiayaan tersebut disalurkan kepada pelaku usaha di sektor produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat. Dari total penyaluran KUR, sebanyak 67,18 persen mengalir ke sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Menurut Akhmad, KUR tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan bagi UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. Penyalurannya diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan nasional, mulai dari peningkatan ketahanan pangan hingga pengembangan kewirausahaan.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menambahkan, akses pembiayaan yang semakin mudah dan tepat sasaran diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing UMKM di berbagai daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Sejak program KUR dijalankan pada 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia.
Realisasi tersebut mencerminkan konsistensi BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Melalui dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, BRI terus mendorong pelaku usaha agar semakin berkembang, naik kelas, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Editor: Rizky Agustian
Ketika Sampah Menjelma Ondel-Ondel, Kisah Lukman Bangkit dari Masa Sulit Didukung BRI
Berawal dari kesulitan ekonomi, Lukman Hakim mengubah botol plastik menjadi miniatur ondel-ondel khas Betawi. Dengan dukungan KUR BRI, usahanya berkembang. - Bagian all [1,204] url asal
JAKARTA, iNews.id - Tangan Lukman Hakim bergerak lincah memotong dan merangkai botol plastik bekas yang menumpuk di sudut rumahnya kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Benda yang bagi sebagian orang hanya sampah itu perlahan berubah menjadi sepasang miniatur ondel-ondel berwarna mencolok.
Tak disangka, hasil kreasi itu menjelma jadi tambahan sumber penghasilan bagi Lukman. Petugas keamanan di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman atau Sudirman Central Business District (SCBD), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu perlahan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.
Ratusan botol plastik telah diolah menjadi kerajinan tangan yang dipasarkan ke berbagai toko mainan di Jakarta. Bahkan saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta, permintaan meningkat tajam hingga membuat pria berusia 56 tahun itu harus memproduksi ratusan pasang ondel-ondel mini.
Usaha yang dirintis sejak 2013 itu berawal dari kebutuhan menambah penghasilan keluarga. Lukman semula berusaha mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Di 2004 itu ya, kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup punya anak dua. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, waduh, kita harus cari tambahan lagi," kata Lukman saat ditemui iNews.id di rumahnya, Kamis (25/6/2026).
Berbekal minat seni yang dimilikinya sejak kecil, Lukman mulai aktif membuat berbagai dekorasi untuk kegiatan warga. Bersama pemuda sekitar, dia juga berupaya mengangkat kembali budaya Betawi melalui berbagai kreasi.
Dari aktivitas itulah muncul ide membuat miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
"Saya ada dapat tantangan dari lurah. Lurahnya ibu-ibu, 'Mana lu bikin yang kecil? Saya tahu kalau kamu yang gede saya tahu kamu bisa. Coba bikin yang kecil'," ujarnya.
Alih-alih meniru produk yang sudah ada, Lukman memilih menciptakan konsep sendiri menggunakan botol plastik bekas. Berbagai jenis botol dicoba sebelum akhirnya menemukan bentuk yang paling sesuai.
"Awalnya kita eksperimen. Botol apa aja. Beberapa botol dicobain dulu. Dicoba semua. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," katanya.
Lukman menuturkan bahan baku diperoleh dari tetangga, teman, hingga kerabat yang mengumpulkan botol bekas untuknya. Dia membeli botol bekas yang telah dikumpulkan seharga Rp5.000 per kilogram.
Bahkan, limbah kain dari konveksi di dekat rumahnya juga dimanfaatkan sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel. "Kadang kita pesan limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," ujarnya.
Saat ini, Lukman menjalankan usaha tersebut bersama istrinya. Produk miniatur ondel-ondel dipasarkan melalui sistem konsinyasi ke sejumlah toko mainan.
Menurut dia, miniatur ondel-ondel buatannya sudah dipasarkan di sejumlah toko kawasan seperti Pondok Labu dan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, hingga Pondok Petir, Depok. Sepasang ondel-ondel dijual seharga Rp25.000 kepada reseller, dan Rp35.000 jika dijual secara langsung ke pembeli.
"Variatif. Ada yang 10, ada yang 50, ada yang 30. Tinggal tergantung penjualannya aja. Ramai atau enggaknya," ujar Lukman saat menjelaskan jumlah miniatur ondel-ondel yang dititipkan di setiap toko.
Lukman mengungkapkan permintaan produk meningkat menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Pada momen tersebut, produksi melonjak 250 unit.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin tuh hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis. Ini baru mulai lagi nih," katanya.
Dalam mengembangkan usahanya, Lukman mendapat dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Dia mengaku pertama kali memperoleh pinjaman KUR pada 2019 sebesar Rp20 juta.
Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya pinjam sebelum Covid-19, 2019 kalau enggak salah. 2019 saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," ujarnya.
Selain untuk kebutuhan usaha, sebagian dana juga digunakan membantu biaya anaknya yang baru lulus sekolah.
Saat pandemi Covid-19, Lukman kembali mengakses KUR BRI sebesar Rp50 juta. Dana itu digunakan untuk merenovasi rumahnya yang sekaligus menjadi lokasi pembuatan miniatur ondel-ondel.
Sebagian dana lainnya dipakai untuk menambah stok bahan baku dan kebutuhan pengemasan produk.
"Sisanya belanja aja kebutuhan stok, cetak merek hampir 10.000 lembar, stok plastik kemasan," katanya.
Tak hanya memperoleh akses permodalan, Lukman mengatakan pihak BRI juga kerap melakukan pendampingan dan mengajaknya mengikuti berbagai kegiatan promosi.
"Iya, kontrol, kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," ujarnya.
Menurut Lukman, keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut membantu memperluas jangkauan pemasaran. Dia juga memandang keterlibatannya dalam kegiatan tersebut sekaligus sebagai ajang memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat.
Ke depan, Lukman berharap usahanya dapat berkembang lebih besar dan menjangkau pasar ritel modern. Dia bermimpi untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tinggal di sekitar rumahnya.
"Rencananya ya buat lebih besar lagi. Jadi kita mau terobosan masukin ke Indomaret, Alfamart. Misal satu Alfamart atau Indomaret 10 (miniatur ondel-ondel) aja, kali berapa Indomaret, kali berapa Alfamart? Jutaan. Kan kita bisa buka lapangan kerja," katanya.
Manfaat usaha yang dijalankan Lukman juga dirasakan warga sekitar. Salah satu tetangganya, Marni, mengaku sudah lama mengenal usaha miniatur ondel-ondel yang dibuat dari botol bekas tersebut.
Dia mengatakan aktivitas produksi kerajinan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya. Marni kerap melihat Lukman bersama istrinya membuat miniatur ondel-ondel di rumah.
"Memang dari dulu jualan ondel-ondel. Saya sering lihat bikin di rumah," kata Marni.
Dia mengatakan produk buatan Lukman cukup dikenal karena dipasarkan ke berbagai tempat dan sering mendapat pesanan saat ada kegiatan bertema budaya Betawi.
"Kalau ada pesanan atau acara biasanya ramai. Banyak yang datang juga ke sini," ujarnya.
Marni menilai usaha tersebut menjadi kebanggaan warga sekitar karena tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga ikut menjaga budaya Betawi agar tetap dikenal masyarakat.
"Bagus sih, jadi orang tahu ondel-ondel. Apalagi sekarang kan budaya Betawi harus terus dikenalkan," katanya.
Keberadaan usaha tersebut, kata Marni, juga membuat lingkungan sekitar lebih hidup. Warga, terutama anak-anak, kerap datang untuk melihat proses pembuatan miniatur ondel-ondel dari dekat.
"Banyak juga yang lihat-lihat, terutama anak-anak. Mereka jadi tahu kalau botol bekas bisa dijadikan kerajinan," ujar Marni.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program KUR. Selama periode Januari hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari total kuota penyaluran tahun ini yang mencapai Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan sebagian besar pembiayaan tersebut mengalir ke sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Dari total KUR yang telah disalurkan, sekitar 67,18 persen diberikan kepada pelaku usaha di sektor produktif.
Menurut dia, KUR menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas akses permodalan bagi UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Penyaluran kredit tersebut juga diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan wirausaha.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menjelaskan, dukungan pembiayaan yang tepat sasaran diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat daya saing, serta membuka peluang kerja baru di daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Secara akumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta debitur di seluruh Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen berkelanjutan BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Melalui penyaluran KUR, BRI terus mendorong tumbuhnya usaha-usaha rakyat yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di berbagai wilayah.
Editor: Rizky Agustian
Dari KUR BRI ke BRILink, Usaha Fotocopy Hendra Melonjak Pesat
KUR BRI membantu usaha fotocopy di Babelan berkembang pesat - Bagian all [386] url asal
BABELAN, iNews.id – Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi kunci kebangkitan usaha fotocopy milik Hendra di Desa Huripjaya, Babelan, Bekasi. Dukungan permodalan dari Bank Rakyat Indonesia membuat bisnisnya tumbuh, stabil, dan terus berkembang hingga hari ini.
Hendra mengenang awal perjalanannya menjadi nasabah BRI pada 2014. Saat itu, dia membutuhkan tambahan modal untuk memulai usaha alat tulis kantor (ATK), fotokopi, dan cetak foto. Akses pembiayaan yang tepat menjadi kebutuhan mendesak agar rencana usaha bisa berjalan.
“Saya ngajuin KUR yaitu pinjaman awal Rp20 juta untuk membuat usaha ATK, fotocopy dan cetak foto. Jadi pinjaman awal itu buat pengembangan usaha,” kata Hendra kepada iNews.id.
Modal awal tersebut menjadi fondasi penting. Usaha yang dirintis Hendra perlahan berjalan sesuai harapan. Arus pelanggan mulai terbentuk, layanan bertambah, dan kebutuhan operasional bisa terpenuhi tanpa hambatan berarti.
Seiring waktu, BRI menawarkan peluang lanjutan kepada Hendra untuk menjadi agen BRILink. Keputusan itu membawa perubahan signifikan pada pendapatan harian usaha yang dikelolanya.
“Omset ATK saja itu Rp400.000 kalau dengan agen BRILink itu bisa sampai 600-700,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan pendapatan berkat diversifikasi layanan keuangan di lokasi usahanya.
Hendra menilai KUR BRI sangat membantu pelaku usaha kecil. Skema pembiayaan tanpa jaminan, bunga rendah, dan proses pengajuan yang tidak berbelit menjadi alasan utama dia memilih BRI sejak awal.
“Kenapa saya memilih BRI karena termasuk pinjaman tanpa jaminan. Bunganya rendah dan prosesnya tidak begitu sulit. Pinjaman dari BRI ini memang dampaknya luar biasa buat saya,” ucapnya.
Cerita Hendra menjadi gambaran peran KUR BRI di tingkat akar rumput. Program ini tidak hanya mendorong pembukaan usaha, tetapi juga memperluas peluang pendapatan melalui layanan tambahan seperti BRILink.
Di level nasional, BRI terus memperkuat peran mendorong ekonomi kerakyatan dengan menyalurkan KUR ke sektor produktif. Periode Januari hingga Mei 2026 mencatat realisasi penyaluran Rp84,36 triliun atau 46,87 persen dari total alokasi 2026 sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan KUR memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif,” kata dia.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat. Konsistensi ini menegaskan komitmen BRI memperluas inklusi keuangan dan menguatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
Editor: Reynaldi Hermawan
BEKASI, iNews.id – Bos bengkel di Bekasi Jojo Sutarjo memilih Kredit Usaha Rakyat Bank Rakyat Indonesia (KUR BRI) sampai 3 kali. Kombinasi bunga rendah, proses cepat, dan dampak langsung pada kelancaran usahanya jadi alasan.
Jojo merupakan pemilik Bengkel Mobil Tekun Auto Service di Cimuning, Mustika Jaya, Bekasi. Sebelum berdiri sendiri, dia menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai montir di bengkel milik temannya untuk mengasah keterampilan dan memahami ritme usaha.
Pada 2018, Jojo memulai bengkel mandiri bermodal tabungan. Tantangan awal langsung muncul, terutama menjaga ketersediaan stok oli dan kebutuhan servis agar operasional tidak tersendat.
Rekomendasi teman memperkenalkan Jojo pada Kredit Usaha Rakyat. Skema pembiayaan dengan bunga rendah dan proses cepat menjadi pemantik keputusan pinjaman pertama.
“Ngambil KUR tahun 2018 di acc 20 juta waktu itu buat belanja buat beli oli," kata Jojo kepada iNews.id.
Tambahan modal tersebut memberi efek instan. Stok oli meningkat, layanan servis lebih siap, dan perputaran usaha menjadi lancar.
“Efek dari perkembangan bengkel jadi punya stok oli dengan modal yang lumayan," ujarnya.
Kemudahan proses dan tingkat bunga membuat Jojo memilih tetap menggunakan KUR dari Bank Rakyat Indonesia. Menurut dia, pembiayaan ini mendukung kesinambungan usaha tanpa menekan arus kas.
“Bunganya rendah dan proses sekarang udah pengambilan ketiga," tuturnya.
Seiring usaha berkembang, Jojo menaikkan plafon pinjaman secara bertahap untuk memperkuat operasional bengkel.
“Pertama 20jt, kedua 50jt, ketiga 100jt," lanjutnya.
Seluruh dana KUR dimanfaatkan tepat sasaran, mulai dari modal kerja, promosi, hingga peningkatan layanan. Dampaknya terasa pada prospek usaha dan penghasilan keluarga.
“Lumayan bermanfaat buat bangun bengkel, modal, iklan dan bengkel jadi lumayan terbantu prospeknya juga makin naik penghasilan juga cukup buat keluarga," ucapnya.

Jojo menilai keberlanjutan KUR BRI menjaga stabilitas usaha dalam jangka panjang. Kepastian modal memberi rasa aman untuk merencanakan ekspansi bertahap.
Di tingkat nasional, BRI memperkuat peran mendorong ekonomi kerakyatan melalui penyaluran KUR ke sektor produktif. Periode Januari hingga Mei 2026 mencatat realisasi Rp84,36 triliun atau 46,87% dari alokasi 2026 sebesar Rp180 triliun.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif," kata Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI menyalurkan KUR Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat. Konsistensi ini mempertegas peran BRI memperluas inklusi keuangan dan menguatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Editor: Reynaldi Hermawan
BEKASI, iNews.id – Kredit Usaha Rakyat Bank Rakyat Indonesia (KUR BRI) menjadi kunci pertumbuhan bengkel mobil milik Jojo Sutarjo di Bekasi. Bantuan itu mendorong usaha kecilnya naik kelas dan semakin stabil hingga kini.
Jojo merupakan pemilik Bengkel Mobil Tekun Auto Service yang berlokasi di Cimuning, Mustika Jaya, Bekasi. Sebelum memiliki usaha sendiri, dia bekerja sebagai montir di bengkel milik temannya dan menimba pengalaman bertahun-tahun.
Pada 2018, Jojo memberanikan diri membuka bengkel sendiri setelah tabungannya mencukupi. Di fase awal inilah kebutuhan modal tambahan muncul, terutama untuk menjaga ketersediaan stok dan kelancaran operasional.
Rekomendasi teman memperkenalkan Jojo pada Kredit Usaha Rakyat. Skema pembiayaan dengan bunga rendah dan proses cepat menjadi pertimbangan utama saat dia mengajukan pinjaman pertama.
“Ngambil KUR tahun 2018 di acc 20 juta waktu itu buat belanja buat beli oli," kata Jojo kepada iNews.id.
Tambahan modal tersebut langsung berdampak pada perkembangan bengkel. Stok oli dan kebutuhan servis meningkat, sementara perputaran usaha berjalan lebih lancar dari sebelumnya.
“Efek dari perkembangan bengkel jadi punya stok oli dengan modal yang lumayan," ujarnya.
Kemudahan proses dan suku bunga menjadi alasan Jojo tetap setia menggunakan KUR dari BRI. Menurut dia, layanan KUR mendukung kesinambungan usaha tanpa membebani arus kas.
“Bunganya rendah dan proses sekarang udah pengambilan ketiga," tuturnya.
Seiring pertumbuhan usaha, Jojo meningkatkan plafon pinjaman KUR secara bertahap. Modal yang semakin besar digunakan untuk memperkuat operasional bengkel.
“Pertama 20jt, kedua 50jt, ketiga 100jt," lanjutnya.

Seluruh dana KUR dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, mulai dari modal kerja, promosi, hingga peningkatan layanan bengkel.
“Lumayan bermanfaat buat bangun bengkel, modal, iklan dan bengkel jadi lumayan terbantu prospeknya juga makin naik penghasilan juga cukup buat keluarga," ucapnya.
Jojo menilai KUR BRI berperan penting menjaga kelangsungan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Stabilitas usaha memberi rasa aman dalam jangka panjang.
Di sisi lain, BRI terus memperkuat komitmen mendorong ekonomi kerakyatan melalui penyaluran KUR ke sektor produktif. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI mencapai Rp84,36 triliun atau 46,87% dari total alokasi tahun 2026 sebesar Rp180 triliun.
“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif," kata Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Konsistensi ini mempertegas peran BRI dalam memperluas inklusi keuangan dan memperkuat UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Editor: Reynaldi Hermawan
JAKARTA, iNews.id - Warung Asep di kawasan Bintaro, Kecamatan Pesanggarahan, Jakarta Selatan, masih melayani pelanggan hingga larut malam. Sejumlah mahasiswa Institut Pariwisata (IP) Trisakti masih memenuhi bangku-bangku di warmindo tersebut sambil menikmati hidangan.
Pemilik Warung Asep, Utayana atau akrab disapa Asep, mengaku sudah berjualan sejak 1996. Sebelum menetap di lokasi sekarang, dia beberapa kali berpindah tempat.
Awalnya, Asep merintis usaha di kawasan Pondok Betung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada 1992. Dua tahun berselang atau pada 1994, dia memindahkan usahanya ke Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sebelum akhirnya menetap di Bintaro hingga kini.

“(Buka Warung Asep) di Bintaro sini masih bujangan, dari tahun 1996. Cuma udah tiga kali pindah geser-geser gitu,” kata Asep saat ditemui iNews.id pada Selasa (26/5/2026). Namun perjalanan usahanya tak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 sempat membuat kondisi usaha menurun drastis. Di saat bersamaan, Asep juga harus memindahkan lokasi warungnya dan menanggung biaya pendidikan anak-anaknya. “Waktu Covid-19 memang ngedrop usaha,” ujarnya. Asep mengaku sempat kesulitan memenuhi kebutuhan usaha dan keluarga. Dua dari tiga anaknya kala itu masih menjalani pendidikan di pondok pesantren, sementara kondisi keuangan warung sedang tidak stabil. “Saya jujur tidak bisa bayar cicilan waktu itu,” katanya. Di tengah kondisi tersebut, Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu penopang agar usahanya tetap berjalan. Asep mulai mengenal layanan BRI sejak 2017 setelah membandingkan cicilan pinjaman bank lain. “Ternyata saya pinjaman di BPR Rp50 juta cicilan sekian. Terus nanya di BRI dengan nominal yang sama ternyata cicilan per bulan lebih rendah,” ujarnya. Di bank itu, Asep mengaku mengambil pinjaman umum sebesar Rp50 juta dengan tenor tiga tahun. Setelah mengetahui adanya program KUR, Asep kemudian melunasi pinjaman sebelumnya dan beralih menggunakan KUR BRI. Dana KUR BRI kemudian digunakan untuk menopang operasional usaha. Pinjaman KUR lalu diajukan kembali dengan nominal yang sama pada 2021 dan digunakan untuk membangun kembali warungnya. Menurut dia, keberadaan KUR BRI membantu dirinya memulai usaha kembali dari nol setelah kondisi usaha sempat terpukul akibat pandemi. “Dengan cicilan yang relatif kecil, rendah, itu membantu banget. Terputar modal,” katanya. Asep mengaku bahagia Warung Asep kembali berjalan normal di lokasi barunya. Dia mengatakan hasil usaha tersebut menjadi penopang utama pendidikan ketiga anaknya. Anak pertamanya telah lulus sarjana hukum pada 2024, sementara anak kedua kini tengah menyelesaikan kuliah dan bersiap wisuda pada Oktober 2026. “Alhamdulillah yang pertama udah wisuda S1, yang kedua juga sekarang udah semester akhir,” ujarnya. Selain KUR, Asep juga menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI sebagai metode alternatif pembayaran pelanggan. Menurut dia, transaksi digital kini menjadi kebutuhan utama karena mayoritas pelanggannya merupakan mahasiswa dan anak muda yang jarang membawa uang tunai. Dia mengaku penggunaan QRIS memudahkan transaksi karena pelanggan bisa langsung membayar tanpa harus mencari uang tunai atau menunggu kembalian. “Kalau ada QRIS kan ya langsung. Gak punya cash juga bisa langsung makan, langsung bayar,” ujarnya. Meski usahanya mulai kembali stabil, Asep mengaku masih membutuhkan tambahan modal untuk kebutuhan kontrakan dan biaya pendidikan anak-anaknya. Karena itu, dia berencana kembali mengajukan KUR BRI dalam waktu dekat. “Mungkin September udah ngajuin lagi pinjaman KUR,” katanya. Warung Asep sejak lama dikenal sebagai salah satu tempat nongkrong mahasiswa dan anak muda di kawasan Bintaro. Salah satu pelanggan, Zidan, mengaku sudah sering datang ke Warung Asep sejak masih duduk di bangku sekolah. “Nongkrong di sini dari zaman sekolah,” kata Zidan. Dia bahkan sempat merasakan suasana Warung Asep sebelum pindah ke lokasi sekarang dan direnovasi. Menurutnya, kondisi warung saat ini jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya. “Menurut saya pribadi lebih bagus yang sekarang, karena sudah full renovasi,” ujarnya. Dia juga mengatakan keberadaan QRIS BRI membuat transaksi di Warung Asep semakin praktis bagi pelanggan. Dia mengaku kini jarang membawa uang tunai saat nongkrong ataupun memesan makanan dan minuman di Warung Asep. “Lumayan sangat membantu sih, salah satu cara efektif karena semua sudah era digital,” ujarnya. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya menyatakan BRI terus berkomitmen menguatkan fondasi ekonomi kerakyatan melalui penyaluran pembiayaan. Upaya ini dilakukan lewat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas usaha dan kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp65,95 triliun hingga April 2026. Jumlah itu disalurkan kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia. “KUR merupakan instrumen pembiayaan BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. BRI pun senantiasa menyalurkan KUR dengan memperluas akses permodalan, yang tidak hanya berdampak pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas usaha serta perputaran ekonomi di berbagai wilayah,” ujar Akhmad, Kamis (28/5/2026). Dia mengatakan penyaluran KUR BRI diarahkan untuk mendorong pelaku usaha berkembang seiring dengan meningkatnya akses permodalan. Tercatat, sejumlah debitur mampu memperluas usaha dan meningkatkan kapasitas bisnis. Capaian tersebut terlihat dari jumlah debitur yang berhasil naik kelas, yakni sebanyak 307.000 debitur atau 31,96 persen dari target 962.000 debitur. Editor: Rizky Agustian

KWT Mawar 8 Bersama BRI Beri Manfaat Nyata, Hasil Panen Penuhi Kebutuhan Pangan Warga

QRIS BRI Bikin Transaksi di Depot Mirah Bulungan Praktis, Bayar Tinggal Scan
Bangkit Lewat KUR BRI

Jadi Tempat Nongkrong Langganan Mahasiswa
KUR BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Dorong UMKM Naik Kelas
BRI bersama Pemerintah Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif di Bali lewat Akad Massal KUR 1.000 UMKM
Pemerintah terus memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada ribuan pengusaha UMKM ekonomi kreatif di Bali - Bagian all [670] url asal
DENPASAR, iNews.id - Pemerintah terus memperkuat dukungan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada ribuan pengusaha UMKM ekonomi kreatif di Bali. Program tersebut menjadi bagian dari kolaborasi lintas kementerian, perbankan, pemerintah daerah hingga perguruan tinggi dalam memperluas akses pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku usaha kreatif di Indonesia.
Kegiatan “Akad Massal KUR 1.000 UMKM Ekonomi Kreatif dan Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Bali 2026” yang digelar di Auditorium Widya Sabha, Universitas Udayana, Jimbaran, Bali pada Rabu (13/5/2026), turut melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai penyalur KUR terbesar di Indonesia.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta dan Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta para pemangku kepentingan dari unsur kementerian/lembaga, perbankan, akademisi, dan pelaku UMKM.
Waspada Modus Penipuan, BRI Pastikan Pengajuan KUR Tak Ditawarkan Secara Online
BRI menegaskan bahwa proses pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tidak pernah dilakukan melalui penawaran online menggunakan tautan tidak resmi. - Bagian all [307] url asal
#pt-bank-rakyat-indonesia #kur-bri #pengajuan-kur-bri #modus-penipuan #inews-id-stories
JAKARTA, iNews.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan bahwa seluruh proses pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tidak pernah dilakukan melalui penawaran online menggunakan tautan tidak resmi maupun media sosial. Perseroan memastikan bahwa setiap proses pengajuan KUR hanya dilakukan melalui petugas BRI dan diproses melalui Kantor BRI.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa maraknya penawaran KUR melalui pesan singkat, tautan digital, hingga akun media sosial merupakan modus penipuan yang menyalahgunakan nama BRI.
“BRI tidak pernah menawarkan ataupun memproses pengajuan KUR secara online melalui tautan tidak resmi, akun pribadi, maupun pihak yang tidak memiliki keterkaitan dengan BRI. Seluruh proses pengajuan KUR hanya dilakukan melalui unit kerja resmi BRI dan diproses langsung oleh petugas BRI resmi,” ujarnya.
Dhanny menambahkan bahwa masyarakat dapat mengakses layanan pengajuan KUR melalui Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, BRI Unit, Teras BRI, AgenBRILink, maupun tenaga pemasar resmi BRI yang tersebar di seluruh Indonesia. BRI juga menegaskan bahwa seluruh proses pengajuan KUR tidak dipungut biaya apa pun di awal. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap penawaran yang menjanjikan pencairan cepat dengan syarat tidak wajar. Selain itu, BRI mengingatkan masyarakat untuk tidak pernah memberikan data pribadi maupun data perbankan yang bersifat rahasia seperti PIN, kata sandi (password), kode OTP, maupun data pribadi lainnya kepada pihak mana pun. “Setiap permintaan data rahasia nasabah dapat dipastikan merupakan indikasi penipuan. Masyarakat diharapkan selalu melakukan verifikasi informasi melalui kanal resmi BRI,” tuturnya. BRI mengimbau masyarakat untuk hanya memperoleh informasi melalui kanal resmi perusahaan seperti website resmi BRI, media sosial resmi BRI, maupun Contact BRI 14017/1500017. “Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan keamanan layanan perbankan, BRI terus memperkuat edukasi literasi keuangan dan kewaspadaan masyarakat, sekaligus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam menindaklanjuti berbagai modus penipuan yang menyalahgunakan nama perusahaan,” ucapnya. Editor: Rizqa Leony Putri
BRI Catatkan Profitabilitas Solid, ROE dan ROA Meningkat pada Triwulan I-2026
KUR BRI Ubah Salad Umma Jadi Ladang Belajar Mahasiswa, Anak Kampus Turun ke Bazar
Salad Umma jadi ladang belajar buat Mahasiswa - Bagian all [868] url asal
JAKARTA, iNews.id - Salad Umma menjadi bukti kebangkitan Hikma Nurul Aulia. Pandemi Covid-19 menghancurkan usaha make up artist (MUA) miliknya, hingga membuat dia kehilangan penghasilan dan menjual mobil pribadi demi bertahan hidup.
Hikma mulai menjalani bisnis MUA sejak pindah ke Jakarta mengikuti suaminya pada 2016. Namun situasi berubah drastis saat pandemi melanda pada 2020. Hampir seluruh pesanan pernikahan dibatalkan dan dia harus mengembalikan uang muka pelanggan, termasuk pembayaran vendor tenda, bunga, hingga katering yang sebelumnya sudah dibayar.
Tekanan ekonomi membuat Hikma kehilangan sumber penghasilan. Di tengah kondisi sulit tersebut, dia memilih mengikuti program pelatihan prakerja dari pemerintah untuk mencari peluang usaha baru. Dari situ, dia melihat bisnis makanan sehat memiliki peluang bertahan lebih besar saat pandemi.
Menurut Hikma, usaha salad lebih ringan dijalankan karena tidak membutuhkan proses produksi rumit maupun penggunaan kompor. Bisnis tersebut kemudian berjalan dengan nama Umma’s Kitchen sebelum akhirnya berganti menjadi Salad Umma pada 2020. Nama Salad Umma terinspirasi dari panggilan anaknya kepada Hikma, yakni Umma. Dalam perjalanannya, produk salad justru menjadi menu paling laris dibandingkan makanan lain yang sempat dijual. “Awalnya jual berbagai makanan. Tapi di perjalanannya ada satu varian makanan yang sustain penjualannya dan malah omzetnya lebih banyak dari situ yaitu salad. Makanya kami lepas beberapa menu makanan,” tutur Hikma. Bisnis Salad Umma terus berkembang setelah Hikma fokus menjual salad sayur, dessert, dan salad buah pada akhir 2022. Respons pasar melonjak tajam, terutama saat menu mango milkcheese dan mango sagu viral di kalangan pelanggan. “Ternyata salad buah malah responsnya lebih bagus lagi daripada saat salad sayur. Dari situ nama Salad Umma sudah mulai naik. Ada waktu itu mango milkcheese dan mango sagu sempat hits,” ujar Hikma. Perkembangan usaha semakin terasa usai Hikma mengikuti program pembinaan UMKM Jakarta Entrepreneur pada 2023. Dari program tersebut, dia memahami pentingnya sertifikasi halal untuk memperluas pasar. Setelah memiliki sertifikat halal, pelanggan Salad Umma berkembang dari pembelian satuan menjadi pesanan massal dari kementerian dan instansi pemerintah. Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, Hikma juga mulai memberdayakan mahasiswa kewirausahaan untuk membantu menjaga bazar sekaligus belajar praktik bisnis langsung di lapangan. Langkah itu dilakukan karena bazar Salad Umma kerap berlangsung di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan. "Kalau high season bisa bazar satu hari di beberapa tempat. Saya biasanya hire mahasiswa, mahasiswa kewirausahaan. Kebetulan suami dosen di Universitas Saintek Muhammadiyah, Ciracas," ungkapnya. "Katanya mereka teori-teori terus, bosan ya, jadi dikasih praktik kemarin (bazar) di balai kota, ada yang dinas ketahanan pangan, ada yang di mall point square, lebak bulus," imbuhnya. Hikma memilih mahasiswa karena dinilai memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan mampu menjelaskan keunggulan produk kepada konsumen baru saat bazar berlangsung. "Kalau ditempatkan bazar di tempat baru, ya harus itu, aku bilang harus bisa menjelaskan produk knowledgenya harus bagus diterangin ini itu juga," katanya. Salah satu mahasiswa yang ikut membantu bazar Salad Umma, Lastri Oktavia, mengaku mendapatkan pengalaman langsung mengenai dunia usaha dan cara menghadapi konsumen di lapangan. “Awalnya saya kira jualan di bazar itu gampang, ternyata harus bisa jelaskan produk dan komunikasi dengan pembeli. Dari Salad Umma saya jadi belajar praktik usaha langsung,” ujar Lastri. Meski bisnisnya berkembang pesat, perjalanan Hikma tidak selalu berjalan mulus. Dia mengaku sempat berpindah dari satu bazar ke bazar lain menggunakan motor bersama suaminya sambil membawa produk, banner, dan perlengkapan jualan sendiri karena belum memiliki booth usaha. Momentum besar datang pada Mei 2025 saat Hikma mendatangi kantor cabang BRI Tebet Barat untuk mencari informasi mengenai KUR BRI. Sebagai nasabah aktif BRI, dia mulai tertarik mengembangkan usaha lebih besar setelah merasa bisnisnya berjalan di tempat. “Saya merasa usaha saya begini-begini saja. Lalu di situ mulai terpikir untuk mengajukan KUR ke BRI. Akhirnya cair tuh Rp100 juta, tenor 3 tahun, cicilan Rp3,8 juta per bulan,” ujar Hikma. Pengajuan KUR BRI tersebut disetujui setelah dilakukan survei usaha dan pengecekan kelayakan bisnis. Hikma memperoleh pembiayaan Rp100 juta dengan tenor tiga tahun dan cicilan sekitar Rp3,8 juta per bulan. Dana itu digunakan untuk mengubah carport rumah menjadi outlet usaha Salad Umma. Menurut Hikma, keunggulan KUR BRI tidak hanya terletak pada proses pencairan yang cepat, tetapi juga pendampingan usaha setelah pembiayaan cair. Dia mendapatkan pelatihan rebranding, pemasaran digital, hingga pengembangan UMKM melalui program pembinaan BRI. Kini Salad Umma memiliki puluhan varian salad buah dan dessert dengan pelanggan mulai dari pesanan pribadi hingga instansi besar. Dari usaha rumahan yang lahir saat pandemi, bisnis milik Hikma berkembang menjadi UMKM yang terus naik kelas sambil membuka peluang praktik usaha bagi mahasiswa. Sementara itu, Mantri BRI Unit Tebet Barat Nicko Irawan mengonfirmasi pemilik Salad Umma, Hikma Nurul Audhliya, merupakan nasabah BRI. Pendampingan usaha bermula saat Hikma datang ke kantor unit untuk mengembangkan bisnisnya. Pihak BRI kemudian melakukan survei lapangan guna memverifikasi kebutuhan sekaligus melihat potensi bisnis Salad Umma. Pengajuan pembiayaan tersebut disetujui dengan proses cepat dalam waktu dua hingga tiga hari. "Salad Umma ini termasuk nasabah kami yang sangat bagus progresnya. Kami terus mendampingi perkembangan usaha ini dan salut dengan kemajuannya yang sangat pesat," ungkap Nicko kepada iNews.id. Editor: Reynaldi Hermawan
Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade

BRI Catatkan Profitabilitas Solid, ROE dan ROA Meningkat pada Triwulan I-2026
Libatkan Mahasiswa demi Kembangkan Bisnis

BRI Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan, Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif

BRI Sukses Bawa SALAKU Tembus Pasar Global di FHA 2026 Singapura
Dari Jual Mobil saat Pandemi, Salad Umma Tembus Pesanan Kementerian Berkat KUR BRI
Salad Umma naik kelas berkat bantuan KUR BRI - Bagian all [766] url asal
JAKARTA, iNews.id - Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi titik balik kesuksesan Hikma Nurul Aulia. Ibu rumah tangga asal Cianjur itu membesarkan bisnis Salad Umma setelah sempat kehilangan penghasilan akibat pandemi Covid-19 yang menghantam usaha make up artist (MUA) miliknya.
Hikma mulai menjalani usaha MUA sejak pindah ke Jakarta mengikuti suaminya pada 2016. Namun saat pandemi melanda pada 2020, hampir seluruh pesanan pernikahan dibatalkan. Kondisi itu membuat dia harus mengembalikan uang muka pelanggan, termasuk biaya vendor tenda, bunga, hingga katering yang sebelumnya sudah dibayarkan.
Situasi tersebut membuat Hikma kehilangan sumber penghasilan. Demi bertahan hidup, dia bahkan menjual mobil pribadi. Di tengah tekanan ekonomi, dia memilih mengikuti program pelatihan prakerja dari pemerintah yang memberikan bantuan pelatihan sekaligus insentif.
Dari pelatihan itu, Hikma melihat peluang bisnis makanan sehat memiliki prospek lebih kuat saat pandemi. Selain modalnya lebih ringan, usaha salad juga tidak membutuhkan proses produksi rumit dan penggunaan kompor seperti usaha kuliner lain. Usaha tersebut awalnya berjalan dengan nama Umma’s Kitchen pada 2020 sebelum berganti menjadi Salad Umma. Nama itu terinspirasi dari panggilan anaknya kepada Hikma, yakni Umma. Seiring perjalanan bisnis, produk salad justru menjadi menu paling laris dibandingkan makanan lain yang sempat dijual. “Awalnya jual berbagai makanan. Tapi di perjalanannya ada satu varian makanan yang sustain penjualannya dan malah omzetnya lebih banyak dari situ yaitu salad. Makanya kami lepas beberapa menu makanan,” tutur Hikma. Bisnis Salad Umma terus berkembang. Setelah fokus menjual salad sayur, Hikma mulai mengembangkan produk dessert dan salad buah pada akhir 2022. Respons pasar melonjak tajam, terutama saat menu mango milkcheese dan mango sagu viral di kalangan pelanggan. “Ternyata salad buah malah responsnya lebih bagus lagi daripada saat salad sayur. Dari situ nama Salad Umma sudah mulai naik. Ada waktu itu mango milkcheese dan mango sagu sempat hits,” ujar Hikma. Perkembangan usaha semakin terasa setelah Hikma bergabung dalam program pembinaan UMKM Jakarta Entrepreneur pada 2023. Dari program tersebut, dia memahami pentingnya sertifikasi halal untuk memperluas pasar usaha. Setelah mengantongi sertifikat halal, pelanggan Salad Umma berkembang dari pembelian satuan menjadi pesanan massal dari kementerian dan instansi pemerintah. Meski bisnisnya terus tumbuh, perjalanan Hikma tidak selalu mulus. Dia mengaku sempat berpindah dari satu bazar ke bazar lain menggunakan motor bersama suaminya sambil membawa produk, banner, dan perlengkapan jualan sendiri. Saat itu, dia belum memiliki booth dan hanya mengandalkan meja sederhana untuk berjualan. Pada 2024, Hikma mulai merancang pengembangan usaha lebih besar, termasuk pengurusan izin BPOM. Namun rencana tersebut terkendala syarat dapur produksi yang harus terpisah dari dapur rumah tangga. Di saat bersamaan, dia mulai mencari informasi mengenai pembiayaan UMKM melalui program KUR. Momentum penting datang pada Mei 2025 saat Hikma memberanikan diri mendatangi kantor cabang BRI Tebet Barat untuk mencari informasi mengenai KUR BRI. Sebagai nasabah aktif BRI, dia awalnya hanya ingin membandingkan skema pembiayaan yang tersedia untuk pengembangan usaha. “Saya merasa usaha saya begini-begini saja. Lalu di situ mulai terpikir untuk mengajukan KUR ke BRI. Akhirnya cair tuh Rp100 juta, tenor 3 tahun, cicilan Rp3,8 juta per bulan,” ujar Hikma. Proses pengajuan KUR BRI berjalan cepat setelah dilakukan survei usaha dan pengecekan kelayakan bisnis. Hikma akhirnya memperoleh pembiayaan sebesar Rp100 juta dengan tenor tiga tahun dan cicilan sekitar Rp3,8 juta per bulan. Dana tersebut digunakan untuk mengubah carport rumah menjadi outlet usaha Salad Umma. Menurut Hikma, keunggulan KUR BRI bukan hanya terletak pada proses pencairan yang cepat dan mudah, tetapi juga pendampingan usaha setelah pembiayaan cair. Dia mendapatkan pelatihan rebranding, pemasaran digital, hingga pengembangan UMKM melalui program pembinaan BRI. Kini Salad Umma memiliki puluhan varian salad buah dan dessert dengan pelanggan mulai dari pesanan pribadi hingga instansi besar. Dari usaha rumahan yang lahir saat pandemi, bisnis milik Hikma berkembang menjadi UMKM yang terus naik kelas berkat dukungan pembiayaan dan pendampingan KUR BRI. Sementara itu, Mantri BRI Unit Tebet Barat Nicko Irawan mengonfirmasi pemilik Salad Umma, Hikma Nurul Audhliya, merupakan nasabah BRI. Pendampingan usaha bermula saat Hikma datang ke kantor unit untuk mengembangkan bisnisnya. Pihak BRI kemudian melakukan survei lapangan guna memverifikasi kebutuhan sekaligus melihat potensi bisnis Salad Umma. Pengajuan pembiayaan tersebut disetujui dengan proses cepat dalam waktu dua hingga tiga hari. "Salad Umma ini termasuk nasabah kami yang sangat bagus progresnya. Kami terus mendampingi perkembangan usaha ini dan salut dengan kemajuannya yang sangat pesat," ungkap Nicko kepada iNews.id. Editor: Reynaldi Hermawan
BRI Catatkan Profitabilitas Solid, ROE dan ROA Meningkat pada Triwulan I-2026

BRI Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan, Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif
Dari Dibonceng Motor hingga Pesanan Instansi

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko

BRI Sukses Bawa SALAKU Tembus Pasar Global di FHA 2026 Singapura
KUR BRI Jadi Momentum Besar Salad Umma
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
