Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi Oracle saat ini tengah agresif berinvestasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI). Namun di balik langkah besar tersebut, muncul kekhawatiran dari pelanggan terkait potensi kenaikan harga serta penurunan kualitas layanan.
Langkah besar Oracle terlihat dari pembangunan pusat data AI dalam skala besar untuk mendukung kebutuhan mitra dan pelanggan seperti OpenAI, xAI, Meta, Nvidia, hingga AMD. Bahkan, kerja sama dengan OpenAI disebut bernilai sekitar US$300 miliar atau sekitar Rp5,1 kuadriliun dalam lima tahun.
Menurut CTO dari House of Brick Technologies Nick Walter, kualitas dukungan Oracle dilaporkan mulai menurun. Walter menyebut respons menjadi lebih lambat dan bantuan teknis terasa kurang memadai.
“Lebih banyak tanggapan Dukungan Oracle yang jelas-jelas ditulis oleh AI,” kata Walter dikutip dari The Register, Selasa (14/4/2026).
Di sisi lain, House of Brick juga mencatat semakin banyak pelanggan yang kesulitan dalam proses perpanjangan kontrak, yang kini cenderung lebih mahal dan lebih ketat dibanding sebelumnya.
Pengurangan atau penghapusan diskon juga membuat biaya layanan, khususnya Oracle Cloud Infrastructure, menjadi lebih tinggi saat kontrak diperpanjang.
Tekanan biaya juga diperkuat dengan kebijakan lisensi Java. Menurut CEO Palisade Compliance Craig Guarente, Oracle kembali melakukan audit lisensi secara aktif. Sebelumnya, sejak 2023 Oracle mengubah model berlangganan Java dari berbasis pengguna atau perangkat menjadi berbasis jumlah karyawan.
Perubahan ini dinilai dapat meningkatkan biaya secara signifikan, bahkan hingga 2–5 kali lipat untuk penggunaan yang sama.
Selain itu, pelanggan juga melaporkan adanya dorongan penjualan yang lebih agresif serta audit lisensi yang kembali diperketat, sehingga menambah tekanan dalam hubungan bisnis dengan Oracle.
Di sisi pendanaan, Oracle diketahui telah mengumpulkan dana besar, termasuk penerbitan obligasi senilai US$18 miliar atau sekitar Rp306 triliun, untuk membiayai ekspansi infrastruktur AI. Perusahaan juga diperkirakan akan terus menambah pembiayaan melalui utang, yang memunculkan kekhawatiran terhadap arus kas dan keberlanjutan jangka panjang.
Selain itu, Penasihat dan konsultan Oracle dan SAP Eric Guyer menunjukan dalam sebuah unggahan di media sosial margin keuntungan dari layanan perangkat lunak Oracle jauh lebih tinggi dibanding bisnis pusat data.
Artinya, meskipun pelanggan membayar lebih mahal untuk dukungan, nilai yang mereka terima bisa saja menurun dari sisi inovasi maupun kualitas layanan.
Dengan berbagai perubahan ini, banyak pelanggan mulai mempertanyakan apakah fokus besar Oracle pada AI akan berdampak pada bisnis perangkat lunak tradisional mereka dalam jangka panjang. (Nur Amalina)