Bisnis.com, JAKARTA – Prospek pasar keuangan RI di sisa tahun ini belum terlepas sepenuhnya dari berbagai sentimen penekan. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas hingga tekanan mata uang rupiah, menjadi pemberat bagi laju pasar keuangan RI.
Di pasar saham, tekanan yang mulai terjadi pada triwulan pertama tahun ini, masih menghantui. Kinerja Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat mengalami koreksi 34,74% year-to-date (YtD) ke level 5.643,2. Dana asing juga telah menguap Rp72,56 triliun sepanjang tahun ini.
Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tekanan pasar saham terbesar dibandingkan negara Asean dan Asia Pacific lain.
Sejalan dengan lesunya kinerja IHSG, sejumlah sekuritas di Tanah Air turut merevisi target IHSG mereka. Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su, menerangkan saat ini pihaknya menargetkan IHSG berada pada level 6.600 di penghujung tahun.
Pada Mei 2026 lalu, Samuel Sekuritas menerangkan pihaknya menargetkan IHSG bakal terparkir pada level 7.500 pada tahun ini.
”Rupiah dan arus dana asing memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap arah IHSG karena pasar Indonesia masih highlyforeign sensitive. Pelemahan rupiah akan mempercepat risk-off terutama di big caps,” katanya kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
Selain itu, risiko lain yang turut membayangi dinilai datang dari ketidakpastian arah suku bunga global, volatilitasa harga komoditas, hingga isu tata kelola pasar seperti yang disorot lembaga penyedia indeks MSCI Inc.
”Unfreeze dari MSCI dan perbaikan kebijakan dapat menjadi katalis positif. Kami masih menargetkan IHSG di 6.600,” katanya.
Head of Research/Chief Economist of PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, menerangkan pihaknya berencana melakukan revisi terhadap target IHSG. Namun, saat ini Mirae Asset masih melakukan kajian mengenai target anyar IHSG.
Dia memprediksi, bakal terjadi perlambatan kinerja earnings emiten pada paruh kedua 2026. Kondisi rupiah yang lesu, telah membuat potensi perlambatan ekonomi semakin nyata ke depan.
Pasalnya, sebagian besar pengeluaran pemerintah dan masyarakat telah terlaksana pada momentum Lebaran 2026 yang jatuh pada kuartal I. Memasuki paruh kedua 2026, perlambatan kinerja emiten diprediksi terjadi lantaran suku bunga yang tinggi pada periode ini.
“Ini sedang kami review [target IHSG]. Sepertinya kemungkinan besar akan kami revisi. Sebagian besar [sentimen] memang sudah priced-in, kenaikan suku bunga, kemudian potensi slow down, potensi adanya earnings yang akan melambat dari sisi emiten,” katanya dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Selasa (30/6/2026).
Sebelumnya, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memprediksi IHSG akan mencapai level 7.246—5.068 sebagai target optimistis dan pesimistis. Langkah emiten besar untuk memperjelas struktur kepemilikan saham bakal menjadi salah satu katalisnya.
Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Cameliamemprediksi IHSG akan bertengger pada level 7.000—7.250 hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut dengan asumsi kondisi global tidak mengalami ketegangan baru yang signifikan terhadap pasar.
Menurutnya, peluang IHSG untuk mencatatkan reli sebetulnya lebih terbuka dibandingkan periode paruh pertama 2026. Namun, reli akan bersifat gradual dan tidak sekuat kondisi recovery pascapandemi.
”Namun kami melihat semester II masih akan menjadi periode pembuktian. Agar IHSG dapat bergerak lebih tinggi secara berkelanjutan, pasar membutuhkan kombinasi stabilitas rupiah, kembalinya arus dana asing, serta pertumbuhan laba emiten yang tetap resilien,” kata Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi berharap laju IHSG dapat mendekati level 7.000 hingga akhir tahun. Motor penggerak laju IHSG dinilai akan datang dari sentimen lanjutan MSCI dan arah pengelolaan kebijakan pemerintah.
Target IHSG Akhir Tahun:
Lembaga | Target IHSG |
Kiwoom Sekuritas | 7.000—7.250 |
Mirae Asset Sekuritas | 7.246—5.068 |
Samuel Sekuritas | 6.600 |
Henan Putihrai AM | 6.200—6.800 |
Batavia Prosperindo AM | <7.000 |
Strategi Mengelola Aset
Di satu sisi, pasar SBN RI dibayangi tekanan serupa. Imbal hasil acuan yang mencerminkan kondisi surat utang RI di pasar sekunder, telah jatuh ke level 7,21% hingga perdagangan hari ini. Meskipun begitu, intervensi Bank Indonesia (BI) dan stakeholder telah mampu menarik dana asing senilai Rp4,32 triliun kembali ke RI.
Kini pasar keuangan RI tampak terjepit dari dua sisi. Pengelolaan investasi yang matang menjadi kunci untuk memaksimalkan return di tengah kondisi ini.
Batavia Prosperindo Asset Management, menetapkan target yield SBN bertenor 10 tahun berada pada level 6,7—7,2%. Menurutnya, arah suku bunga hingga pengelolaan fiskal yang prudent bakal menjadi bahan bakar yang menggerakkan yield SBN.
”Rentang ini kami perkirakan terjadi di tutup tahun, tentunya masih bisa berubah apabila terjadi pergeseran suku bunga yang signifikan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
Di tengah kondisi ini, Batavia Prosperindo memilih untuk memendekkan durasi surat utang. Terutama, di tengah kondisi suku bunga yang tinggi, memendekkan durasi dinilai menjadi opsi yang umum dilakukan manajer investasi.
Sementara terhadap saham, Batavia mengaku saham-saham yang saat ini mengalami kenaikan di tengah laju terbatas indeks, telah sesuai prediksi perusahaan, sehingga laju reksa dana saham saat ini dapat mengejar ketertinggalan pada tahun lalu.
”Tahun ini kami beruntung kondisi market fundamentally bergerak sesuai dengan pandangan kami, harapan kami selaras dengan filosofi kami, sehingga sampai saat ini kinerja kami lebih baik dari IHSG secara cukup signifikan,” tambahnya.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi, menerangkan di tengah kondisi ini, pihaknya masih akan berfokus pada saham-saham berkualitas tinggi, dengan fundamental solid, likuid, hingga memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan domestik.
HPAM juga mempertahankan fleksibilitas alokasi kas untuk mengantisipasi volatilitas dan menangkap peluang ketika koreksi kembali terjadi.
Sementara di RDPT, strategi Henan difokuskan pada obligasi pemerintah dan korporasi yang memiliki durasi pendek—menengah. Pendekatan ini dinilai bertujuan menjaga keseimbangan antara potensi capital gain dan mitigasi risiko pergerakkan yield.
Sementara itu, RDPU tetap menjadi instrumen stabilisasi portofolio. Henan berupaya mengoptimalkan penempatan pada instrumen berisiko rendah dan tenor pendek guna menjaga likuiditas dan memberikan imbal hasil yang kompetitif.
”Secara keseluruhan, strategi investasi kami pada semester II/2026 menitikberatkan pada balance allocation, disiplin manajemen risiko, dan penciptaan risk-adjusted return yang optimal, dibandingkan sekadar mengejar retrun jangka pendek,” tegasnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.