#30 tag 24jam
Dari tradisi, Nyobeng jadi potensi wisata perbatasan
Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan ... [2,115] url asal
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng
Pontianak (ANTARA) - Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Udara pagi yang sejuk menyelimuti kampung kecil di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia itu ketika satu per satu warga mulai meninggalkan rumah mereka.
Beberapa warga terlihat memanggul peralatan pertanian, berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang yang membentang di lereng-lereng bukit. Bagi masyarakat Dayak Bidayuh di wilayah ini, kehidupan masih berjalan mengikuti ritme alam yang telah diwariskan turun-temurun.
Ladang bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sanalah identitas, nilai kehidupan, dan kebudayaan mereka tumbuh serta dipelihara dari generasi ke generasi.
Padi yang ditanam di ladang menjadi sumber kehidupan utama masyarakat. Namun lebih dari itu, hasil panen juga menjadi penanda berakhirnya satu siklus kehidupan sekaligus awal dari perayaan budaya terbesar yang dimiliki masyarakat Dayak Bidayuh, yakni Nyobeng.
Di wilayah perbatasan yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Sarawak, Malaysia, tradisi tersebut tidak lahir sebagai pertunjukan wisata yang sengaja diciptakan untuk menarik pengunjung. Nyobeng tumbuh secara alami dari kehidupan agraris masyarakat yang selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada hasil ladang.
Ketika musim panen berakhir dan padi telah tersimpan rapi di lumbung, masyarakat memasuki masa syukur yang diwujudkan melalui pelaksanaan gawai adat. Dari momentum inilah tradisi Nyobeng dilaksanakan.
Kepala Dusun Sebujit Baru Novel Andika mengatakan, pelaksanaan Nyobeng selalu berkaitan erat dengan selesainya musim panen.
"Nyobeng dilaksanakan setelah masyarakat selesai panen. Jadi ini merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil panen yang diberikan Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur yang selama ini menjaga kampung dan kehidupan masyarakat," katanya.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang dipercaya turut menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, rasa syukur tidak dirayakan secara individual, melainkan menjadi perayaan bersama seluruh komunitas.
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng. Bangunan kayu berusia puluhan tahun itu menjadi saksi perjalanan panjang sejarah masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru.
Di dalam rumah adat tersebut, para tetua adat memimpin berbagai prosesi yang sarat makna. Denting gong bertalu-talu mengiringi tarian tradisional. Generasi muda mengenakan pakaian adat lengkap, sementara para orang tua berkumpul menceritakan kembali kisah-kisah leluhur kepada anak cucu mereka.
Di sinilah Nyobeng memainkan perannya sebagai jembatan antargenerasi. Tradisi ini menjadi ruang kolektif untuk memperkuat ikatan sosial, menjaga memori budaya, sekaligus memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi yang terus bergerak hingga ke kawasan perbatasan.

Potensi wisata budaya
Keunikan Nyobeng tidak hanya terletak pada ritual adatnya. Tradisi ini juga menjadi simbol kuat hubungan kekeluargaan masyarakat Dayak Bidayuh yang melampaui batas negara.
Setiap kali Nyobeng digelar, ribuan kerabat Dayak Bidayuh dari berbagai wilayah di Sarawak, Malaysia, berdatangan ke Desa Hlibuei. Mereka menempuh perjalanan berjam-jam melintasi perbatasan untuk menghadiri perayaan yang sama.
Pada momentum tersebut, garis batas negara yang memisahkan Indonesia dan Malaysia seolah kehilangan maknanya.
Di setiap rumah warga, meja-meja dipenuhi makanan tradisional, kopi hangat, tuak, serta berbagai hidangan khas yang disiapkan untuk menyambut tamu. Tawa dan percakapan dalam bahasa Bidayuh terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Keluarga yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertemu kembali berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Anak-anak bermain bersama tanpa mempersoalkan kewarganegaraan. Orang-orang tua mengenang hubungan keluarga yang telah terjalin jauh sebelum batas negara modern dibentuk.
Selama beberapa hari, Sebujit Baru berubah menjadi ruang besar persaudaraan lintas batas yang memperlihatkan kuatnya ikatan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
"Di balik kemeriahan budaya tersebut, Nyobeng juga menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat setempat," kata Novel Andika.
Ribuan pengunjung yang datang setiap tahun menciptakan perputaran ekonomi di desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Warung-warung dadakan bermunculan di sepanjang jalan desa. Warga menjual makanan tradisional, hasil kebun, kerajinan tangan, hingga berbagai cendera mata khas perbatasan.
Pemuda desa membantu mengatur parkir kendaraan, menyediakan jasa transportasi lokal, serta menjadi pemandu bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
Beberapa rumah warga bahkan mulai dimanfaatkan sebagai tempat menginap bagi tamu yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.
Bagi masyarakat Hlibuei, Nyobeng kini tidak hanya menjadi instrumen pelestarian budaya, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan yang semakin penting bagi ekonomi keluarga.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahun. Pada pelaksanaan Nyobeng tahun ini, lebih dari 300 kendaraan roda empat dari luar memadati kawasan Desa Hlibuei, sementara jumlah pengunjung mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat maupun dari Malaysia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata budaya.
Berbeda dengan destinasi yang dibangun secara artifisial, Nyobeng menawarkan pengalaman yang autentik. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi leluhur sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
"Keaslian itulah yang kini menjadi daya tarik utama wisata budaya di berbagai belahan dunia," kata Novel.
Ketika banyak tradisi mulai tergerus modernisasi, masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru justru berhasil mempertahankan warisan budaya mereka tanpa kehilangan makna dan nilai aslinya.
"Saya dan keluarga baru pertama kali datang ke Sebujit untuk menyaksikan gawai Nyobeng. Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Perayaannya spektakuler dan sarat makna budaya," kata Zikri, warga Sarawak.
Dia menyatakan sangat berminat untuk datang kembali dan akan mengajak sahabatnya pada perayaan tahun depan.
Sementara itu, Hermandari, warga Jakarta yang sengaja datang ke Sebujit menyatakan tertarik untuk datang langsung ke sebujit setelah melihat keseruan Nyobeng di media sosial.
"Saya mengikuti setiap ritual dan pelaksanaannya dan ini benar-benar menarik. Saya kebetulan sangat suka dengan budaya, termasuk ciri khas setiap rumah adat dan Nyobeng ini salah satu budaya yang menarik," tuturnya.

Budaya unik Dayak Bidayuh
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tradisi Nyobeng sebagai upaya nyata menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Perwakilan DAD Bengkayang, Rudi MPD, mengatakan pelaksanaan Nyobeng tahun 2026merupakan kebanggaan bersama masyarakat adat Dayak, khususnya Suku Bidayuh, yang hingga kini masih konsisten menjaga tradisi turun-temurun tersebut.
“Kita bersyukur bisa hadir dalam kegiatan ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, karena Nyobeng bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik kita bersama sebagai warisan budaya,” kata Rudi dalam sambutannya pada pembukaan acara, di Desa Hlibuei.
Ia menuturkan, pada pelaksanaan tahun ini, berbagai pertunjukan adat ditampilkan sejak awal acara, termasuk suguhan minuman khas Dayak Bidayuh serta atraksi budaya yang menjadi daya tarik utama bagi para tamu undangan dan wisatawan.
Salah satu atraksi yang menjadi perhatian adalah panjat bambu “putar balik”, yang disebutnya sebagai ikon khas yang hanya ada di Kabupaten Bengkayang dan tidak ditemukan di daerah lain.
“Ini luar biasa dan menjadi ikon tersendiri. Dibutuhkan kekuatan, konsentrasi, dan ketahanan fisik yang tinggi untuk melakukan atraksi ini,” ujarnya.
Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pengurus adat yang telah menyelenggarakan kegiatan Nyobeng 2026 dengan baik, sehingga dapat berjalan lancar dan menarik perhatian banyak pengunjung, termasuk wisatawan dari luar negeri.
Ia menyebutkan, pada tahun ini terdapat tamu dari berbagai daerah dan negara, termasuk wisatawan dari Malaysia seperti Kuala Lumpur dan Sarawak, serta pengunjung dari negara lain seperti India dan Thailand yang turut menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa budaya Nyobeng sudah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. Kita patut bersyukur karena budaya ini terus hidup dan berkembang,” katanya.
Selain itu, DAD Bengkayang juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat tersebut. Kehadiran Bupati, Sekretaris Daerah, dan Ketua DPRD Bengkayang menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya Dayak, khususnya Nyobeng di Kecamatan Siding,” ujarnya.
Rudi menegaskan pentingnya peran semua pihak, terutama tokoh adat dan generasi muda, untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi Nyobeng agar tidak hilang tergerus zaman.
Ia berharap pelestarian budaya ini dapat terus diperkuat sehingga menjadi warisan yang dapat dinikmati dan dipahami oleh generasi mendatang.
Pembenahan infrastruktur
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata budaya di perbatasan Bengkayang, pemkab setempat menegaskan komitmennya untuk membenahi infrastruktur pariwisata di kawasan perbatasan sebagai langkah memperkuat pengembangan destinasi wisata budaya Nyobeng di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.
Menurut Sebastianus, tradisi Nyobeng tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun.
Karena itu, pengembangan kawasan budaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan leluhur.
“Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih baik. Karena itu perlu penataan bersama agar ke depan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” kata Sebastianus di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Nyobeng bukan lagi sekadar agenda budaya tahunan, melainkan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Tingginya minat wisatawan tersebut, menurut Sebastianus, menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk mulai menata kawasan wisata budaya Nyobeng secara lebih terencana.
Berbagai fasilitas dasar seperti area parkir, sarana sanitasi, ruang publik, akses menuju lokasi kegiatan, hingga pengembangan fasilitas pendukung wisata lainnya menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian agar kawasan budaya tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai, pengembangan wisata budaya di perbatasan memiliki prospek yang besar karena menawarkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.
Tradisi Nyobeng yang tetap dijalankan secara alami oleh masyarakat Dayak Bidayuh menjadi kekuatan utama yang dapat menarik wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat perbatasan.
Menurut dia, penguatan sektor pariwisata budaya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan wisata budaya di perbatasan.
Selain infrastruktur fisik, Pemkab Bengkayang juga terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya melalui fasilitasi kegiatan adat dan dukungan anggaran yang diberikan setiap tahun.
Sebastianus menegaskan pembangunan kawasan wisata budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai adat yang menjadi identitas masyarakat Dayak Bidayuh.
Ia menilai keberhasilan pengembangan wisata budaya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan tradisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap pengembangan infrastruktur pariwisata di kawasan Nyobeng dapat menjadikan Desa Hlibuei sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan perbatasan yang selama ini dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia di utara Kalimantan itu diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya Dayak Bidayuh, tetapi juga tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.

Dukungan Provinsi
Komitmen pengembangan pariwisata perbatasan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, menegaskan bahwa pembenahan destinasi wisata di kawasan perbatasan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menurut dia, berbagai destinasi wisata budaya dan alam di kawasan perbatasan memiliki daya tarik yang besar. Namun, pengembangannya harus diiringi dengan perbaikan fasilitas dasar yang mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai budaya dan keaslian destinasi.
"Kita terus mendorong agar destinasi-destinasi wisata diperbaiki dan disempurnakan. Yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan pariwisata berkelanjutan, menjaga kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta menyiapkan sanitasi yang memadai di setiap destinasi wisata," katanya.
Sugeng menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengusulkan peningkatan fasilitas pendukung wisata melalui program yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.
Berbagai kebutuhan dasar seperti peningkatan akses jalan menuju destinasi, pembangunan toilet umum, tempat ibadah, hingga fasilitas pelayanan wisata lainnya dapat diusulkan oleh pemerintah kabupaten dan kota untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi peluang penting bagi daerah-daerah perbatasan yang memiliki potensi wisata besar, namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
"Kementerian Pariwisata sudah meminta daerah untuk mengusulkan kebutuhan fasilitas yang perlu diperbaiki maupun dilengkapi. Ini menjadi kesempatan bagi daerah untuk mempercepat pengembangan destinasi wisata," ujarnya.
Khusus untuk kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Sugeng mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong penguatan destinasi melalui peningkatan fasilitas pendukung sekaligus pengembangan berbagai atraksi dan event wisata yang melibatkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Menurut dia, posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan peluang besar untuk mengembangkan wisata lintas batas berbasis budaya, sejarah, dan kearifan lokal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat promosi melalui kalender event pariwisata yang terintegrasi serta berbagai platform digital guna memperluas jangkauan promosi wisata.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Pemkab Gianyar berbagi strategi pengembangan wisata kepada BI Sumut
Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali membagikan strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya kepada Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara ... [300] url asal
Gianyar, Bali (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali membagikan strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya kepada Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) guna mendongkrak sumber pertumbuhan ekonomi daerah.“Kunjungan ini merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antardaerah dalam pengembangan kawasan strategis berbasis pariwisata berkelanjutan,” kata Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun dalam siaran pers saat menerima BI Sumatera Utara dan pemda Sumut di Gianyar, Bali, Senin.
Wakil Bupati Gianyar memaparkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus mampu menjaga dan mempertahankan identitas budaya, memberdayakan masyarakat lokal, serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Selain itu, lanjut dia, pengembangan kawasan strategis membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, akademisi, investor, hingga masyarakat.
Oleh karena itu, forum diskusi kedua daerah itu menjadi penting sebagai wadah bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, sekaligus menyusun strategi pengembangan kawasan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Pihaknya terus berupaya menciptakan ekosistem investasi yang sehat melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi pelayanan, serta pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Adapun pengembangan pariwisata menyeimbangkan tiga aspek utama yaitu keberlanjutan lingkungan, keberlanjutan sosial budaya, dan keberlanjutan ekonomi.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara Iman Gunadi menyampaikan kunjungan ke Kabupaten Gianyar bertujuan mempelajari strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya yang telah berhasil diterapkan Gianyar.
Selain itu, perwakilan bank sentral di daerah itu juga menggali praktik baik dalam pengelolaan destinasi terpadu yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Danau Toba.
Kunjungan ini, kata dia, juga menjadi ajang memperkuat kolaborasi antar-daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Gianyar yang telah menerima kunjungan kami dengan baik. Kami berharap berbagai pengalaman dan masukan yang diperoleh melalui pertemuan ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan KEK Danau Toba,” ujarnya.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Komisi VII DPR dorong daerah lain tiru inovasi Adeging Mangkunegaran
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia mendorong pemerintah daerah lain meniru inovasi gelaran Adeging Mangkunegaran yang mampu menggabungkan budaya dan ... [299] url asal
#adeging-mangkunegaran #chusnunia #ekonomi-daerah #mangkunegaran-run #pariwisata-budaya
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia mendorong pemerintah daerah lain meniru inovasi gelaran Adeging Mangkunegaran yang mampu menggabungkan budaya dan ajang modern untuk menggerakkan perekonomian lokal.
"Kesuksesan ini tentunya diharapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lainnya yang tengah berupaya keras memajukan sektor pariwisatanya dalam rangka menggenjot perekonomian daerah ujar Chusnunia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan Adeging Mangkunegaran tidak lagi sekadar seremoni budaya, melainkan telah bertransformasi menjadi model kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut dia, konsep yang menggabungkan budaya, kuliner, dan olahraga menjadi kekuatan utama dalam menarik partisipasi publik sekaligus memperluas dampak ekonomi.
Pada penyelenggaraan ke-269 yang berlangsung 1–3 Mei 2026, rangkaian kegiatan meliputi Mangkunegaran Makan-Makan dengan lebih dari 80 stan kuliner tradisional, Royal Heritage Dinner bagi sekitar 150 tamu, serta Mangkunegaran Run yang diikuti 7.700 pelari pada kategori 5K, 10K, dan half marathon.
"Mangkunegaran Run sukses menjadi ruang kebersamaan yang menggabungkan olahraga, budaya, dan interaksi sosial dalam satu pengalaman terbuka untuk semua kalangan," katanya.
Chusnunia menyebut keberhasilan ajang bertema "From Culture For Future" tersebut menjadi momentum dalam mendorong pariwisata berbasis budaya sekaligus sport tourism yang berdampak ekonomi luas.
Dia mengungkapkan gelaran itu diproyeksikan menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp40 miliar bagi Kota Surakarta.
"Indonesia dengan kekayaan dan sejarah panjang budaya tentunya dapat terus berinovasi mengemasnya menjadi daya tarik tersendiri, daerah-daerah lain dapat belajar dan berinovasi bagaimana mengemas acara pelestarian tradisi dan event modern yang menarik puluhan ribu pengunjung sehingga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Chusnunia juga mendorong Kementerian Pariwisata untuk memperluas dukungan terhadap ajang serupa agar manfaat pariwisata semakin dirasakan masyarakat.
"Dengan demikian dampak pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, para pelaku UMKM dan juga perekonomian daerah," katanya.
Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Bali Berkontribusi 54,5% terhadap Pariwisata Nasional
Bali menyumbang 54,5% pariwisata nasional dengan 6,3 juta wisatawan. Gubernur Koster fokus pada pariwisata budaya, keberlanjutan, dan kolaborasi pelaku usaha. [420] url asal
#bali-pariwisata #kontribusi-bali #pariwisata-nasional #wisatawan-bali #ekonomi-bali #pariwisata-budaya #tantangan-pariwisata #alih-fungsi-lahan #pengelolaan-sampah #kemacetan-bali #keberlanjutan-pariw
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/12/25 12:05
v/61976/
Bisnis.com, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut Bali berkontribusi 54,5% terhadap pariwisata nasional, dengan jumlah kedatangan wisatawan yang mencapai 6,3 juta orang.
Pariwisata juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Bali saat ini yang tumbuh 5,48%, bahkan naik menjadi 5,88% pada triwulan III. Tingkat kemiskinan terus menurun menjadi 3,7%, sementara tingkat pengangguran berada pada level sangat rendah yaitu 1,7%.
Koster menekankan pentingnya menjaga karakter pariwisata Bali yang berbasis budaya.
Kita harus bersyukur diberikan pariwisata di Bali. Jangan coba-coba mengabaikan pariwisata budaya yang menjadi roh Bali. Karena itu kita harus merawat pariwisata ini dengan baik,” jelas Koster di Musda PHRI dikutip Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, pelaku usaha pariwisata sering kali "asyik sendiri", padahal tantangan pariwisata ke depan semakin kompleks dan memerlukan tindakan yang tegas, cepat, serta terkoordinasi.
“Saya akan tegas di periode kedua ini dalam menangani berbagai tantangan pariwisata. Tidak bisa lagi berjalan parsial, semua harus solid dan berkolaborasi," ujar Koster.
Terkait tata ruang dan keberlanjutan, Gubernur menegaskan kebijakan pengendalian alih fungsi lahan, dimana tidak ada lagi lahan produktif yang digunakan untuk membangun hotel, terutama lahan persawahan.
Isu lingkungan seperti pengelolaan sampah dan kemacetan juga menjadi perhatian serius. Gubernur meminta seluruh hotel, restoran, dan pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah serta mendukung penataan transportasi dan pengurangan kemacetan di kawasan wisata.
Lebih lanjut, dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster kembali menekankan PHRI harus solid, dan menjadi pelopor utama dalam menjaga keberlanjutan pariwisata Bali.
Ketua BPP PHRI, Hariyadi B.S. Sukamdani, menyampaikan apresiasi mendalam kepada PHRI Bali yang disebutnya sebagai tulang punggung PHRI Nasional. Menurutnya kontribusi Bali sangat signifikan bagi promosi pariwisata Indonesia karena citra pariwisata nasional banyak diperkuat oleh reputasi Bali di mata dunia.
Hariyadi menegaskan sebagian besar jasa akomodasi resmi di Bali dimiliki oleh pengusaha lokal Bali dan nasional, sementara unit akomodasi tidak berizin umumnya berasal dari pihak asing yang beroperasi melalui platform ekonomi berbagi. Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan persaingan usaha sehat, legalitas, serta penerimaan pajak daerah.
Terkait isu lingkungan dan transformasi pariwisata, Hariyadi menggarisbawahi pentingnya arah pembangunan pariwisata nasional yang berkelanjutan sebagaimana ditegaskan dalam kebijakan pemerintah.
"Fenomena sharing economy disebutnya tidak dapat dihindari, namun perlu penyelarasan agar memberikan manfaat ekonomi yang adil melalui kepastian izin dan kepatuhan pajak," kata Hadiyadi.
Ia menyampaikan dukungan terhadap penyusunan panduan bersama mengenai model pengelolaan pariwisata nasional, peta jalan keberlanjutan, peningkatan kualitas SDM pariwisata, serta percepatan digitalisasi layanan.
Hariyadi menegaskan PHRI secara nasional akan terus mendukung kemajuan Bali sebagai pusat daya tarik pariwisata Indonesia dan motor penggerak pertumbuhan sektor hospitality.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56