KKP berencana membangkitkan kejayaan tambak udang di Waingapu, NTT, dengan target ekspor ke Eropa dan Timur Tengah, didukung investasi Rp7 triliun. [615] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik kebangkitan tambak udang Tanah Air dari Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Apakah mampu mengulang kejayaan kisah tambak udang terintegrasi Dipasena pada era 1990-an?
Dalam catatan Bisnis, tambak udang terintegrasi Dipasena, Lampung menjadi salah satu cerita sukses Tanah Air pada era 1990-an. Kawasan pertambakan udang terintegrasi dan salah satu yang terbesar di dunia seluas 16.250 hektare itu mampu berproduksi 200 ton setiap hari. Kesuksesan yang diharapkan berulang di Waingapu.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP TB Haeru Rahayu mengatakan produksi udang Indonesia secara nasional saat ini berada di kisaran 1,2–1,3 juta ton per tahun, dengan nilai ekspor sekitar US$1,6 miliar—US$2,2 miliar, dari total nilai industri udang nasional sekitar US$5,5 miliar.
Namun, sebagian besar ekspor udang atau sekitar 67–70% masih ditujukan ke Amerika Serikat (AS). Untuk itu, KKP mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan.
“Ekspor sementara ini masih ke Amerika, tetapi Ditjen PDSPKP [Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan]sedang menjajaki ke Eropa, kemudian ke Asia Timur, Jepang, Korea, dan ke Timur Tengah,” kata Haeru saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Haeru menjelaskan kontribusi NTT terhadap produksi udang nasional saat ini masih relatif kecil dibandingkan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, kondisi tersebut diproyeksikan berubah dalam 2 tahun ke depan seiring mulai beroperasinya tambak udang terintegrasi di Waingapu.
“NTT memang masih kecil dibandingkan dengan NTB, tetapi jangan khawatir 2 tahun ke depan insya Allah nanti akan ada terobosan dari Waingapu, setiap tahunnya akan tersuplai paling tidak 52.000 ton udang nanti dari Waingapu,” ujarnya.
Adapun, proyek ini dibiayai melalui skema pinjaman luar negeri berupa kredit swasta asing (KSA) dengan nilai sekitar Rp7 triliun. Adapun, mekanisme teknis pembiayaan berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Kita loan. KSA. Rp7 triliunan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haeru menyampaikan proyek bernilai jumbo ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas pasar ekspor, sekaligus menjadi program strategis pemerintah untuk memperkuat industri perikanan budi daya nasional secara berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dia menjelaskan, kawasan tambak udang di Waingapu dirancang dengan konsep terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pembenihan, penyediaan pakan, pabrik es,cold storage, hingga fasilitas pengolahan.
Nantinya, tambak tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 2.000 hektare, dengan sekitar 1.300 hektare dialokasikan khusus untuk kolam dan sisanya untuk fasilitas penunjang.
“Kita punyaintegrated shrimp farmingyang letaknya di Waingapu Sumba Timur. Jadi mungkin akan naik kurvanya atau grafiknya, tahun depan harapannya itu sudah mulai ada produksi,” jelasnya.
Pada tahap awal, pengembangan tambak udang di Waingapu akan mengoperasikan setidaknya dua klaster dari total 12 klaster yang direncanakan. Setiap klaster terdiri atas 128 petak tambak, sehingga dua klaster tersebut mencakup sekitar 256 petak, dengan udang vaname yang dibudidayakan.
Menurut Haeru, pemilihan Waingapu sebagai lokasi pengembangan tambak udang terintegrasi didasarkan pada konsep Indonesia-sentris, ketersediaan hamparan lahan yang luas, bersih, bebas konflik, serta telah menjadi hak pengelolaan KKP.
Dia juga menegaskan proyek tambak udang Waingapu ini akan menjadi proyek modeling terbesar yang pernah dikembangkan pemerintah di sektor budi daya udang pasca reformasi.
“Ada segala macam [di Waingapu]. Semuanya didekatkan di sana, sehingga menjadi betul-betul udang yang premium dan harganya bagus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, proyek ini ditargetkan rampung hingga tiga tahun, namun KKP optimistis mampu menyelesaikan dalam 3 tahun sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun demikian, dia tak menampik pembangunan tambak udang terintegrasi ini juga diselimuti tantangan berupa letak geografis yang cukup jauh serta akses penerbangan yang masih terbatas.
“Kita mau nengok ke sana juga kadang pesawat aksesnya masih agak susah. Saya sudah koordinasi dengan Dirjen Perhubungan Udara untuk bisa ada penambahan penerbangan ke sana,” pungkasnya.
KKP berencana membangkitkan kejayaan tambak udang di Waingapu, NTT, dengan target ekspor ke Eropa dan Timur Tengah, didukung investasi Rp7 triliun. [615] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik kebangkitan tambak udang Tanah Air dari Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Apakah mampu mengulang kejayaan kisah tambak udang terintegrasi Dipasena pada era 1990-an?
Dalam catatan Bisnis, tambak udang terintegrasi Dipasena, Lampung menjadi salah satu cerita sukses Tanah Air pada era 1990-an. Kawasan pertambakan udang terintegrasi dan salah satu yang terbesar di dunia seluas 16.250 hektare itu mampu berproduksi 200 ton setiap hari. Kesuksesan yang diharapkan berulang di Waingapu.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP TB Haeru Rahayu mengatakan produksi udang Indonesia secara nasional saat ini berada di kisaran 1,2–1,3 juta ton per tahun, dengan nilai ekspor sekitar US$1,6 miliar—US$2,2 miliar, dari total nilai industri udang nasional sekitar US$5,5 miliar.
Namun, sebagian besar ekspor udang atau sekitar 67–70% masih ditujukan ke Amerika Serikat (AS). Untuk itu, KKP mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan.
“Ekspor sementara ini masih ke Amerika, tetapi Ditjen PDSPKP [Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan]sedang menjajaki ke Eropa, kemudian ke Asia Timur, Jepang, Korea, dan ke Timur Tengah,” kata Haeru saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Haeru menjelaskan kontribusi NTT terhadap produksi udang nasional saat ini masih relatif kecil dibandingkan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, kondisi tersebut diproyeksikan berubah dalam 2 tahun ke depan seiring mulai beroperasinya tambak udang terintegrasi di Waingapu.
“NTT memang masih kecil dibandingkan dengan NTB, tetapi jangan khawatir 2 tahun ke depan insya Allah nanti akan ada terobosan dari Waingapu, setiap tahunnya akan tersuplai paling tidak 52.000 ton udang nanti dari Waingapu,” ujarnya.
Adapun, proyek ini dibiayai melalui skema pinjaman luar negeri berupa kredit swasta asing (KSA) dengan nilai sekitar Rp7 triliun. Adapun, mekanisme teknis pembiayaan berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Kita loan. KSA. Rp7 triliunan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haeru menyampaikan proyek bernilai jumbo ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas pasar ekspor, sekaligus menjadi program strategis pemerintah untuk memperkuat industri perikanan budi daya nasional secara berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dia menjelaskan, kawasan tambak udang di Waingapu dirancang dengan konsep terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pembenihan, penyediaan pakan, pabrik es,cold storage, hingga fasilitas pengolahan.
Nantinya, tambak tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 2.000 hektare, dengan sekitar 1.300 hektare dialokasikan khusus untuk kolam dan sisanya untuk fasilitas penunjang.
“Kita punyaintegrated shrimp farmingyang letaknya di Waingapu Sumba Timur. Jadi mungkin akan naik kurvanya atau grafiknya, tahun depan harapannya itu sudah mulai ada produksi,” jelasnya.
Pada tahap awal, pengembangan tambak udang di Waingapu akan mengoperasikan setidaknya dua klaster dari total 12 klaster yang direncanakan. Setiap klaster terdiri atas 128 petak tambak, sehingga dua klaster tersebut mencakup sekitar 256 petak, dengan udang vaname yang dibudidayakan.
Menurut Haeru, pemilihan Waingapu sebagai lokasi pengembangan tambak udang terintegrasi didasarkan pada konsep Indonesia-sentris, ketersediaan hamparan lahan yang luas, bersih, bebas konflik, serta telah menjadi hak pengelolaan KKP.
Dia juga menegaskan proyek tambak udang Waingapu ini akan menjadi proyek modeling terbesar yang pernah dikembangkan pemerintah di sektor budi daya udang pasca reformasi.
“Ada segala macam [di Waingapu]. Semuanya didekatkan di sana, sehingga menjadi betul-betul udang yang premium dan harganya bagus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, proyek ini ditargetkan rampung hingga tiga tahun, namun KKP optimistis mampu menyelesaikan dalam 3 tahun sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun demikian, dia tak menampik pembangunan tambak udang terintegrasi ini juga diselimuti tantangan berupa letak geografis yang cukup jauh serta akses penerbangan yang masih terbatas.
“Kita mau nengok ke sana juga kadang pesawat aksesnya masih agak susah. Saya sudah koordinasi dengan Dirjen Perhubungan Udara untuk bisa ada penambahan penerbangan ke sana,” pungkasnya.
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkap Amerika Serikat (AS) menjadi pasar ekspor udang terbesar bagi Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, nilai ekspor udang Indonesia ke AS mencapai hingga US$2 miliar atau sekitar Rp33,25 triliun (asumsi kurs Rp16.625 per US$).
“Udang sendiri nilai ekspor kita itu sangat besar US$1,6 miliar—2 miliar dan terima kasih Amerika adalah pasar yang paling besar,” kata Trenggono dalam acara Pelepasan Ekspor Udang Indonesia Bersertifikat Bebas Cesium-137 ke AS di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Apalagi, Trenggono menuturkan, otoritas AS telah menunjuk KKP sebagai satu-satunya otoritas yang diberi kepercayaan untuk memberikan sertifikasi terkait ekspor, termasuk udang.
Dia menambahkan, pemerintah juga telah menerima spesifikasi dari pihak AS, yang nantinya akan memudahkan para pengolah udang di Indonesia memiliki peralatan sendiri.
“Mereka yakinkan bahwa itu tidak ada, kita akan berikan sertifikasi. Itu cara-cara untuk kita adalah bekerja bersama, transparan, dan tujuannya adalah bagaimana kita betul-betul bisa sukses dalam ekspor sektor seafood atau udang,” tuturnya.
KKP mencatat, total nilai ekspor udang mencapai US$1,4 miliar pada Januari—September 2025. Nilainya naik 17,5% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari nilai tersebut, AS masih menjadi tujuan utama ekspor udang dengan pangsa 63,1% dari total ekspor udang Indonesia pada 9 bulan pertama 2025.
Adapun, nilai ekspor udang ke AS mencapai US$881,27 juta atau naik 16,3% yoy pada Januari—September 2025, dengan volume 99.170 ton.
Sementara itu, sejak 31 Oktober—2 Desember 2025, sebanyak 303 kontainer udang telah dikapalkan ke AS, yang terdiri atas 228 kontainer dari Tanjung Perak, Surabaya, dan 75 kontainer dari Tanjung Priok, Jakarta, dengan nilai total Rp949 miliar.
Teranyar, pada 3 Desember 2025, Indonesia kembali mengirimkan udang yang telah tersertifikasi ke AS sebanyak 182 ton senilai Rp25 miliar melalui pelabuhan di Jakarta dan Surabaya.
Adapun, Indonesia kembali siap mengekspor udang hingga akhir Desember 2025 mencapai 292 kontainer seberat 5.000 ton senilai Rp900 miliar.
Dengan demikian, sejak 31 Oktober sampai akhir Desember 2025, ekspor udang ke AS akan mencapai 605 kontainer atau 10.000 ton dengan nilai Rp1,8 triliun.
Sebelumnya, Direktur Pemberdayaan Usaha di Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Catur Sarwanto mengatakan, ekspor produk udang sampai dengan September 2025 masih terjadi peningkatan.
“Ini menunjukkan bahwa terkait kondisi yang ada kita sudah dapat cepat memulihkan kondisi dengan adanya peningkatan ekspor sampai dengan triwulan III, ekspor [udang pada Januari—September 2025] di Amerika itu tumbuh 16,3% [yoy],” ujarnya.
Secara diplomatis, KKP juga telah melakukan penyesuaian resmi dengan asosiasi seafood AS National Fisheries Institute (NFI). Dalam hal ini, NFI menyatakan mereka masih percaya kepada Indonesia dan akan terus mendukung komunikasi antara KKP dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM AS).
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56