Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Thailand merevisi turun target kunjungan wisatawan asing untuk 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik.
Otoritas Pariwisata Thailand atau Tourism Authority of Thailand (TAT) kini memperkirakan jumlah wisatawan internasional berada di kisaran 30 juta hingga 34 juta, atau turun sekitar 18% dari target sebelumnya.
Mengutip Nation Thailand, Gubernur TAT, Thapanee Kiatphaibool, mengatakan revisi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mereda dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Sepanjang 2025, Thailand mencatat sekitar 32,9 juta kunjungan wisatawan asing. Angka ini menjadikannya negara kedua yang paling banyak dikunjungi di Asia Tenggara setelah Malaysia yang menerima lebih dari 42 juta wisatawan.
Penurunan proyeksi ini mencerminkan melemahnya permintaan dari pasar jarak jauh seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat. Selain itu, keterbatasan kapasitas penerbangan dan volatilitas harga minyak global turut menekan minat perjalanan.
Tak hanya wisatawan mancanegara, perjalanan domestik juga diperkirakan melambat. Jumlah perjalanan wisatawan lokal diproyeksikan mencapai sekitar 206 juta perjalanan, turun 3% dari target awal.
Meski demikian, sektor pariwisata masih diperkirakan menyumbang pendapatan sekitar 2,58 triliun baht atau setara US$79,2 miliar, menegaskan perannya sebagai motor utama ekonomi Thailand.
Menghadapi kondisi tersebut, TAT menggeser strategi ke pendekatan “value over volume” atau menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan belanja wisatawan, bukan sekadar jumlah kunjungan.
Langkah ini mencakup pengembangan produk wisata premium, penguatan citra destinasi yang aman dan bernilai, serta optimalisasi platform digital untuk meningkatkan daya saing.
Menurut Thapanee, tren pemulihan jumlah wisatawan yang tidak diiringi peningkatan belanja menunjukkan wisatawan kini lebih berhati-hati dalam pengeluaran. Hal ini menjadi sinyal bagi industri untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisata.
"Ke depan, strategi berbasis nilai tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan bagi sektor pariwisata Thailand di tengah persaingan regional yang semakin ketat dan dinamika global yang belum stabil," ungkap Thapanee.