Bisnis.com, BANDUNG—Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti sistem pengaturan lampu lalu lintas di Kota Bandung yang dinilai belum terintegrasi dan justru berkontribusi terhadap kemacetan, terutama di kawasan pintu masuk kota.
Dedi menuturkan, salah satu titik yang paling terdampak adalah kawasan Jalan Pasteur, tepatnya di sekitar Gerbang Tol Pasteur. Di lokasi tersebut terdapat persimpangan dengan lampu lalu lintas yang kerap memicu antrean panjang kendaraan, khususnya setiap akhir pekan.
Ia menilai, keberadaan traffic light di persimpangan tersebut membuat arus kendaraan dari tol menuju pusat kota tidak mengalir lancar ketika volume kendaraan meningkat.
“Setiap Jumat sampai Minggu, Bandung pasti macet di Pasteur. Problemnya ada perempatan dengan traffic light di depan gerbang tol. Kalau akhir pekan, antreannya panjang,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengusulkan pembangunan underpass di kawasan tersebut. Infrastruktur itu diharapkan mampu menghilangkan hambatan lampu merah sehingga kendaraan dari arah tol dapat langsung mengalir menuju pusat kota tanpa harus berhenti di persimpangan.
Selain mendorong pembangunan underpass, Dedi juga meminta agar sistem lampu lalu lintas di Kota Bandung ditata ulang secara menyeluruh. Ia menugaskan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung guna mengevaluasi pengoperasian traffic light yang dinilai belum optimal.
“Saya sudah minta Bappeda koordinasi dengan Pemkot Bandung. Traffic light di Kota Bandung ini tidak beraturan,” katanya.
Menurutnya, persoalan semakin kompleks karena sebagian lampu lalu lintas masih dioperasikan secara manual. Kondisi tersebut membuat pengaturan arus kendaraan tidak adaptif terhadap perubahan volume lalu lintas. Padahal, menurutnya, pengelolaan lampu lalu lintas di kota besar seharusnya menggunakan sistem yang terintegrasi sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi lalu lintas secara real time.
“Ini pusat kota. Harus segera dikonektivitasikan supaya pengaturannya efektif,” ujarnya.
Dedi juga menilai tidak semua wilayah membutuhkan lampu lalu lintas. Di beberapa daerah dengan mobilitas kendaraan rendah, keberadaan traffic light justru bisa menjadi penghambat arus lalu lintas.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana pengurangan penggunaan lampu lalu lintas di beberapa persimpangan justru membuat arus kendaraan lebih lancar.
“Traffic light itu untuk mengatur kemacetan. Tapi kadang ada daerah mobilnya sedikit malah pakai lampu merah. Itu justru jadi penghambat,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan lampu lalu lintas, termasuk integrasi sistem antarjalan agar pengaturan arus kendaraan lebih efektif dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu.