Bisnis.com, MALANG—Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Prof Agustin Iskandar, memperkenalkan prognosis penyakit infeksi berbasis respon inang sehingga masyarakat dapat mengetahui kegawatan penyakit infeksi yang mereka derita sehingga segera diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit.
Dalam pidato ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar, dia memperkenalkan Model HOPE-ID (Host-Oriented Prognostic Evaluation in Infectious Diseases) sebagai paradigma baru prognosis penyakit infeksi berbasis respons inang. Model ini mengintegrasikan biomarker inflamasi, disfungsi endotel, parameter molekuler, serta faktor klinis kontekstual dalam satu kerangka evaluasi prognostik.
“Kekuatan utama HOPE-ID terletak pada pendekatan multidimensional, relevansi lintas spektrum, serta potensinya untuk dikembangkan melalui integrasi dengan kecerdasan artifisial guna mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih presisi dan tepat waktu,” katanya, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, HOPE-ID merepresentasikan pergeseran paradigma Patologi Klinik dari sekadar penegakan diagnosis menuju prediksi luaran klinis yang lebih bermakna dan presisi.
Dia menjelaskan, penyakit infeksi hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di tingkat global, terutama di negara berkembang.
Perkembangan terbaru di bidang patologi klinik, kata dia,m telah menghasilkan berbagai metode diagnostik dan biomarker yang semakin sensitif dan spesifik, termasuk biomarker inflamasi, biomarker endotel, dan teknik molekuler berbasis PCR.
Kemajuan ini, menurutnya, secara signifikan meningkatkan kemampuan identifikasi patogen dan konfirmasi diagnosis penyakit infeksi. Namun demikian, peningkatan kemampuan diagnostik tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kemampuan dalam memprediksi perjalanan penyakit dan luaran klinis pasien.
Dalam praktik klinis, pasien dengan diagnosis infeksi yang serupa dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda, mulai dari perbaikan klinis yang cepat hingga perburukan yang berujung pada syok, kegagalan organ, atau kematian.
Fenomena ini, dia menegaskan, mencerminkan bahwa penyakit infeksi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan patogen, tetapi juga oleh interaksi kompleks antara patogen, respons biologis inang, dan faktor lingkungan.
Dalam konteks tersebut, dia menilai, patologi klinik memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyedia informasi diagnostik, tetapi juga sebagai disiplin yang berpotensi berkontribusi dalam penilaian risiko dan prediksi luaran klinis.
Prof. Agustin Iskandar, dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Patologi Klinik/Penyakit Infeksi pada FK UB. Ia merupakan profesor aktif ke-9 di FK, ke-260 di UB, serta ke-452 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.