Bisnis.com, BALIKPAPAN — Warga Kota Balikpapan berhasil meraih omzet Rp40 juta per bulan dari pengelolaan 20 ton sampah terpilah.
Bisnis yang dimulai dari bekas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar pada 2012 tersebut kini membina 74 bank sampah di Balikpapan dan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, sekaligus meraih Juara Tiga Nasional Lokasi Terbaik Kelas Generasi Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2021.
Koordinator Kampung Berseri Astra (KBA) Sepinggan Abdul Rahman mengungkapkan, omzet puluhan juta rupiah tersebut dialokasikan untuk operasional, membayar karyawan, dan membeli sampah dari warga.
"Dalam sebulan, bank sampah induk kami dapat mengumpulkan sekitar 20 ton sampah terpilah yang kemudian diambil oleh pihak ketiga. Rp40 juta itu semuanya akumulasi 74 (bank sampah), sama Samboja tadi," kata Abdul Rahman, Selasa (18/11/2025).
Bank sampah ini, lanjut Abdul, fokus mengumpulkan 32 jenis sampah anorganik bernilai ekonomis tinggi seperti botol, buku, plastik, tali rafia, karung, dan kantong kresek. Sampah terkumpul tidak diekspor, melainkan diserap oleh pengepul sebagai pihak ketiga.
Dia mengaku bahwa permintaan pasar terus meningkat. Bahkan, salah satu mitra dari Banjarmasin siap menyerap satu kontainer penuh sampah terpilah.
Bank sampah Sepinggan beroperasi sebagai induk yang membina 13 bank sampah unit di Kelurahan Sepinggan.
"Warga menyetor ke unit terdekat, lalu kami sebagai induk akan menjemput sampah yang sudah terpilah dari unit-unit tersebut. Cakupan layanan kami luas, kami menjemput sampah hingga ke Samboja dan juga bekerja sama dengan rumah sakit," kata Abdul.
Dia menyebutkan, terdapat 7 tenaga kerja yang terdiri dari warga sekitar yang mayoritas ibu rumah tangga dan bertugas memilah sampah.
"Seluruh pekerja telah didaftarkan dalam program BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan dengan jam kerja fleksibel," ujar dia.
Tidak hanya menjual bahan baku, bank sampah juga mengembangkan diversifikasi produk olahan sejak 2021. Sampah organik diolah menjadi kompos dan eco-enzyme, sementara sampah anorganik diubah menjadi paving block dan batako dari ban bekas.
Abdul mengungkapkan bahwa produk unggulannya yang berupa cairan pembersih murni organik tanpa bahan kimia telah menembus pasar Jayapura, Palu, Manado, dan Maluku melalui UMKM Center.
Terdapat pula, minyak jelantah yang disulap menjadi lilin aromaterapi beraroma sereh wangi seharga Rp15.000 per buah.
"Kami memiliki beberapa produk olahan, salah satunya adalah cairan pembersih murni organik. Produk ini tidak menggunakan campuran bahan kimia dan hanya memakai essential oil dari sereh wangi untuk aroma," ungkapnya.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal, kata Abdul, bank sampah induk telah melatih sekitar 100 UMKM yang telah mandiri dan memiliki pasar sendiri
Berawal dari TPS Liar
Perjuangan di bidang lingkungan ini dimulai pada 2007 ketika Abdul Rahman pindah ke lokasi yang saat itu menjadi TPS bayangan (liar). Dia mulai membersihkan area tersebut dan menanam berbagai jenis tanaman.
Pada 2010, seorang tetangga mengajaknya bergabung dengan bank sampah di Gunung Bahagia (Wijaya Kusuma).
"Pertama itu saya di sini tahun 2007, nah tempat saya ini sebagai TPS bayangan warga di sini. Akhirnya saya mencoba mengelola bagaimana sampah-sampah ini bisa bersih enggak dibuangin orang," kenang Abdul.
Bank sampah Sepinggan resmi berdiri pada 2012 murni dari swadaya pengurus. Pada masa awal, harga sampah plastik hanya Rp500 per kilogram, bahkan kantong kresek tidak memiliki nilai ekonomis.
"Yang penting saya bersihkan lingkungan saya, saya bisa menanami di sini. Sampah sudah tidak dibuang sembarangan, masyarakat sudah mulai tidak membakar sampahnya," tegasnya.
Konsistensi dalam pengelolaan sampah ini pun akhirnya membuahkan hasil. Kegiatan bank sampah terus berkembang hingga Kelurahan Sepinggan diikutsertakan dalam Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mencakup 70 RT pada 2021.
"Saya bertugas mengoordinasi dan mengedukasi ke-70 RT tersebut. Kami mengumpulkan mereka di kantor kelurahan, difasilitasi oleh Pak Lurah, untuk menyosialisasikan program," ujar Abdul.
Pada 2021, Kelurahan Sepinggan meraih penghargaan Proklim Utama. Di tahun yang sama, mereka juga lolos dalam Program KBA setelah 3 kali mendaftar dan meraih Juara Tiga Nasional Lokasi Terbaik Kelas Generasi KBA.
Melalui program KBA, kata Abdul, berbagai manfaat disalurkan kepada warga melalui empat pilar, yaitu pendidikan berupa beasiswa, kesehatan melalui bantuan ke Posyandu, lingkungan dengan pembentukan bank sampah di RT 54, serta kewirausahaan dan tanggap darurat bencana di RT 1.
"Peran kami adalah menjembatani fasilitas dari Astra agar diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan," katanya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan kendala utama saat ini adalah keterbatasan lahan penyimpanan dan teknologi pengolahan. Padahal, permintaan pasar terus meningkat.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi, bank sampah membutuhkan mesin cacah, mesin press, mesin peleleh, dan mesin cetak untuk paving block serta batako.
"Kendala utama kami saat ini adalah keterbatasan lahan penyimpanan, padahal permintaan yang dari Banjarmasin bisa mencapai satu kontainer penuh," ungkapnya.
Untuk pendanaan pengembangan, Abdul Rahman tidak berencana mencari pinjaman perbankan. Harapannya tertuju pada perusahaan di bawah naungan Astra International yang beroperasi di Balikpapan.
"Kami tidak berencana mencari pendanaan dari perbankan. Kami berharap perusahaan-perusahaan di bawah naungan Astra yang beroperasi di Balikpapan dapat membantu memenuhi kebutuhan teknologi kami," ujarnya.
Lebih lanjut, dia memaparkan strategi pasar ke depan adalah menawarkan produk olahan seperti paving block dari plastik kepada pemerintah.
"Kami berencana menawarkan produk olahan ini kepada pemerintah. Pemerintah memiliki banyak proyek, seperti pembangunan taman, sehingga kami harap kolaborasi ini dapat memastikan produk kami terserap secara berkelanjutan," paparnya.
Selain itu, visi jangka panjangnya adalah mereplikasi model bisnis ini ke lokasi lain. Sebagaimana diketahui, untuk mencapai tingkatan 'Lestari' dalam Program Kampung Iklim, Abdul dan tim wajib membina 10 kelompok di luar Kelurahan Sepinggan.
"Harapan kami untuk KBA Sepinggan adalah bisa kembali mengikuti program Proklim agar dapat mencapai tingkatan tertinggi, yaitu 'Lestari'. Saat ini, kami sudah mulai melakukan pembinaan dengan harapan 10 kelompok ini bisa melakukan perubahan dan mereplikasi apa yang kami lakukan," tuturnya.
Adapun dia menegaskan, dengan dukungan teknologi yang memadai, produksi dapat ditingkatkan secara masif yang otomatis menggandakan omzet bulanan.
"Kami sudah membuktikan bahwa produk ini bisa dibuat. Kami hanya tinggal membutuhkan dukungan teknologi agar bisa berproduksi secara optimal," pungkasnya.