Bisnis.com, JAKARTA — Emiten kongsi Boy Thohir dan TP Rachmat, PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA) memproyeksikan perbaikan kinerja pada 2026 setelah menorehkan performan yang lesu pada tahun ini.
Direktur dan Chief Financial Officer ESSA Industries Indonesia Prakash Chand Bumb menjelaskan ESSA menargetkan produksi harian rata-rata dari bisnis elpiji sebesar 174,3 metric ton per day (MTPD) pada 2026. Sementara itu, volume penjualan diproyeksikan mencapai 62.222 metric ton (MT).
Pada 2026, untuk bisnis elpiji, ESSA akan melakukan perombakan besar-besaran pada unit mesin dan kompresor untuk mengembalikan kinerja serta memastikan keandalan jangka panjang.
Di bisnis amonia, ESSA menargetkan produksi harian rata-rata 2.154 MTPD dengan target volume penjualan 710.000 MT. ESSA akan berupaya meningkatkan produktivitas, keandalan, dan efisiensi di bisnis amonia perseroan.
"Namun, untuk total pendapatan dan laba akan bergantung pada harga jual atau harga pasar yang ditentukan oleh pasar internasional. Baik bisnis amoniak maupun elpiji merupakan komoditas, dan harganya ditentukan oleh permintaan dan penawaran produk," ujar Prakash dalam public expose pada Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, perseroan memang tidak menetapkan target pendapatan dan laba pada 2026 yang bershio Kuda Api, tetapi ESSA berupaya untuk bisa mengontrol biaya dan mendorong efisiensi operasional bisnis.
Pada tahun ini, performa ESSA mencatatkan kinerja yang lesu. Produksi elpiji lebih rendah 8% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 47.624 MT sampai kuartal III/2025. Penurunan seiring dengan rata-rata harga elpiji yang melemah 2% YoY menjadi US$584 per ton.
Begitu juga dengan bisnis amonia yang melemah 2% YoY menjadi 549.956 MT per kuartal III/2025. Pelemahan ini juga seiring dengan rata-rata harga amoniak yang turun 10% YoY menjadi US$312 per MT.
Perseroan pun membukukan pendapatan senilai US$200,35 juta pada kuartal III/2025. Torehan tersebut susut 12,93% YoY dari US$230,11 juta pada periode yang sama 2024
ESSA kemudian hanya mampu meraup laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih senilai US$21,30 juta pada kuartal III/2025, turun 36,53% YoY dari US$33,56 juta pada periode yang sama 2024.
Padahal, Presiden Direktur ESSA Industries Indonesia Kanishk Laroya, menerangkan bahwa ESSA telah mencatatkan fasilitas produksi amoniak yang mencapai tingkat utilitas hingga 113%. Namun, tantangan datang dari penurunan harga amonia hingga 10% secara YoY. Begitu juga pada harga LPG yang sempat terkoreksi 2% secara tahunan.
“Mencapai posisi tanpa utang merupakan langkah penting dalam perjalanan ESSA menuju pertumbuhan. Pencapaian ini memberikan fleksibilitas bagi kami untuk berinvestasi pada proyek-proyek yang akan membentuk masa depan ESSA, khususnya dalam pengembangan amoniak rendah karbon dan Sustainable Aviation Fuel [SAF]," katanya dalam keterangan resmi pada beberapa waktu lalu.