Bisnis.com, SOLO – Agenda Solo Investment Forum (SIF) 2025 di Hotel Swiss-Belinn Saripetojo, Solo, Jumat (12/12/2025), menegaskan posisi Kota Solo sebagai salah satu kota dengan iklim investasi paling atraktif di Jawa Tengah.
Dalam forum yang dikemas sebagai festival aset Solo itu, Pemerintah Kota menghadirkan Talkshow Investasi Solo dengan narasumber Wali Kota Solo Respati Ardi, Staf Ahli Bidang
Pengembangan Sektor Investasi Prioritas Kementerian Investasi–Hilirisasi Dedi Latip, dan Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Muhammad Rifqi, Ph.D., CFA. Diskusi dipandu CEO Solopos Media Group (SMG), Arief Budisusilo.
Dalam talkshow tersebut, Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan arah investasi Solo tidak lagi bertumpu pada proyek fisik, melainkan pada infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang menjadi pendorong ekonomi jangka panjang.
Menurut Respati, perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi milenial, menjadi indikator penting.
Masyarakat kini lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk wellness (kebugaran), pendidikan, dan kesehatan, termasuk layanan psikologi, klinik kecantikan, klinik gigi, hingga fasilitas kebugaran seperti yoga dan spa.
"Kami ingin menuju Surakarta sebagai center of education and cultural development.
Investasi yang masuk tidak lagi berbasis fisik, tetapi berbasis peningkatan kualitas
manusia," ujar Respati.
Ia menyebut Solo memiliki modal lengkap berupa perguruan tinggi nasional, lembaga pendidikan formal, lembaga pendidikan nonformal, 40 rumah sakit, serta puluhan fasilitas kesehatan pendukung lainnya.
Ekosistem ini, menurut Respati, membentuk peluang bisnis baru di sektor jasa kesehatan dan kebugaran.
Ia juga menyoroti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Solo yang mencapai 84,41% dan tergolong sangat tinggi sehingga menjadi daya tarik bagi investor.
Pertumbuhan ekonomi Solo tetap terjaga di kisaran 5%–6%, bahkan setelah masa pandemi Covid-19 dan pengalihan sejumlah proyek strategis nasional.
"Kita mendapatkan warisan ekonomi yang baik. Pertumbuhan tetap stabil, tenaga kerja
baru terus muncul, dan sektor usaha berjalan dinamis," kata Respati.
Sementara itu, bidang perdagangan dan pariwisata masih mendominasi struktur ekonomi Solo.
Sepanjang 2025, terdapat 4.865 pelaku usaha perdagangan, 4.330 usaha pariwisata, termasuk 174 izin usaha baru, termasuk perkembangan pesat sektor coffee shop yang kini menjadi bagian dari gaya hidup warga Solo.
Distribusi Logistik
Respati mengungkapkan Pemkot Solo sedang menyiapkan kawasan pusat distribusi logistik
sebagai salah satu proyek investasi unggulan.
Proyek tersebut menyasar kebutuhan pergudangan dan manajemen logistik, sekaligus merapikan arus distribusi komoditas di wilayah Soloraya.
"Kami akan menawarkan sekitar 10 hektare lahan di Pedaringan untuk warehousing,
manajemen logistik, dan kompleks pergudangan modern. Ini akan kita umumkan dan lelang sebagai peluang investasi baru," katanya.
Sebagian aktivitas bongkar muat besar di Pasar Legi, lanjut Respati, akan direlokasi ke kawasan tersebut untuk memperlancar lalu lintas komoditas dan meningkatkan efisiensi pasar.
Respati juga menegaskan stabilitas sosial dan keamanan Solo menjadi modal utama dalam menggaet investor.
“Solo adalah kota paling sehat, paling nyaman, dan dengan biaya hidup rendah. Ini momentum bekerja dari Solo, work from Solo," ujar Respati.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Dedi Latip, mengapresiasi geliat investasi di Solo.
Akan tetapi dia menilai Kota Bengawan masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusi secara nasional.
Realisasi investasi nasional hingga Triwulan III/2025 telah mencapai Rp1.434 triliun,
mendekati target tahunan Rp1.905 triliun.
Jawa Tengah berkontribusi Rp66 triliun dari jumlah itu, sementara kontribusi Kota Solo baru mencapai Rp675,9 miliar.
"Ini tantangan. Tahun ini masih ada peluang untuk menaikkan capaian. Solo harus
menampilkan peta peluang investasi agar dapat ditawarkan lebih jelas ke investor," ujar
Dedi.
Ia menyebut 3 syarat utama investasi, yaitu regulasi dan perizinan yang pasti serta cepat,
daya saing produk, dan ketersediaan SDM produktif.
Dedi menambahkan, perusahaan yang melakukan riset dan pengembangan dapat
memperoleh insentif hingga 300%, sebuah daya tarik untuk mengembangkan industri pendidikan dan kesehatan di Solo.
Sementara itu, Ekonom LPS, Muhammad Rifqi, menyampaikan indikator ekonomi nasional
secara umum menunjukkan tren positif, terutama konsumsi rumah tangga dan PMI
manufaktur yang kembali meningkat.
Pada tingkat kota, Solo mencatat kinerja lebih baik dibanding rata-rata nasional.
Pertumbuhan ekonomi Solo konsisten lebih tinggi dibanding PDB nasional dan Jawa Tengah.
Pengangguran Solo berada di angka 4,8%, lebih rendah dari Jawa Tengah maupun nasional. Inflasi juga terkendali di bawah 3 persen.
Dari sisi keuangan, Rifqi menyoroti
fenomena menarik bahwa perbankan Solo kelebihan dana.
"Simpanan masyarakat mencapai Rp63 triliun, sementara penyaluran kredit sekitar Rp60
triliun. Artinya ada surplus dana yang besar dan potensial untuk disalurkan ke sektor
produktif di Solo," ujar dia.
Lebih menarik lagi, komposisi dana perbankan Solo didominasi dana murah (tabungan dan
giro), bukan deposito.
Hal itu menciptakan ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit dengan efisien dan tepat sasaran.