Bisnis.com, JAKARTA — PT MRT Jakarta (Perseroda) melakukan pengadaan sebanyak 336 pintu tepi peron untuk stasiun MRT lintas Thamrin hingga Kota. Pengadaan tersebut berasal dari Panasonic, selaku penyedia teknologi asal Jepang dengan pabrikasi unit yang berada di China.
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menyampaikan, saat ini proses pintu tepi peron yang akan melengkapi proyek Fase 2A ini telah memasuki tahap acceptance test dan harapannya dapat selesai lebih cepat dari target.
“Sejauh ini, MRT Jakarta masih menargetkan penyelesaian segmen 1 Bundaran HI—Monas pada akhir 2027 mendatang. Oleh karena itu, seluruh paket kontrak fase 2A saat ini sedang bekerja seoptimal mungkin," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (27/2/2026).
Percepatan penyelesaian proyek MRT Fase 2A tercermin dari realisasi hingga akhir 2025 lalu, pembangunannya berhasil melampaui target, yaitu 55% dari target 52,24%. Sementara Per 25 Januari 2026, pembangunan fase 2A lintas utara selatan ini mencapai 56,88% dari target 55,76%.
Adapun, pintu tepi peron merupakan dinding pembatas antara area peron dan jalur rel (track). Tujuan penggunaannya adalah sebagai aspek keselamatan pelanggan saat berada di peron stasiun.
Selain itu, pintu otomatis ini juga mencegah penggunaan energi berlebihan dari penyejuk udara stasiun yang masuk ke area terowongan sehingga mengoptimalkan penghematan energi. Pintu ini juga terintegrasi dengan sistem persinyalan sehingga akan otomatis terbuka ketika kereta datang.
Pada proyek fase 2A ini, akan diproduksi sekitar 336 unit untuk memenuhi kebutuhan tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Saat ini, PSD untuk segmen Bundaran HI—Monas dalam proses pengiriman ke Jakarta.
Pada pembangunan fase 2A lintas utara selatan ini, pengadaan platform screen doors menjadi bagian dari paket kontrak CP205 Sistem Perkeretaapian dan Rel (railway systems and track) yang dikerjakan oleh Sojitz Corporation.
Pekerjaannya meliputi gardu induk (substation system), sistem distribusi daya (power distribution system), listrik aliran atas (overhead contact system), persinyalan (signaling), telekomunikasi, Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), rel (track), dan pintu tepi peron (platform screen doors) dengan nilai kontrak sebesar Rp4,2 triliun.
Per 25 Januari 2026, pengerjaan CP205 telah mencapai 34,52%. Pekerjaan meliputi pengelasan rel seksi satu (section 1 Bundaran HI—Harmoni) menggunakan teknik flashbutt welding yang telah selesai dan pengecoran concrete trackbed segmen Bundaran HI—Thamrin telah mencapai 25%.
Pada 2019 lalu, pintu tepi peron yang ada di 13 stasiun di fase 1 lintas utara selatan, mendapatkan penghargaan International Innovation Awards (IIA) 2019 yang diselenggarakan oleh Enterprise Asia di Singapura dalam kategori layanan jasa transportasi. Kehadirannya dianggap mempercepat perubahan budaya mobilitas masyarakat menjadi lebih tertib dan disiplin saat mengantre masuk ke ratangga atau berada di area peron.
Untuk diketahui, fase 2A lintas utara selatan akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
Kemudian, fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.
Fase ini dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Sedangkan Fase 2B yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).