#30 tag 24jam
Program MBG Bisa Jadi Bantalan Pasar Menyerap Overproduksi Telur Ayam Ras
Program MBG tidak hanya meningkatan kualitas gizi siswa. Tetapi juga membantu menyerap komoditas pangan seperti telur ayam ras yang sedang mengalami tekanan harga.... | Halaman Lengkap [884] url asal
#telur #perekonomian-daerah #penggerak-ekonomi-bangsa #makan-bergizi-gratis #mbg
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/05/26 13:57
v/221788/
YOGYAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi siswa. Tetapi juga berpotensi menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, khususnya melalui penyerapan komoditas pangan seperti telur ayam ras yang belakangan mengalami tekanan harga akibat kelebihan pasokan di pasar.Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr Imamudin Yuliadi mengatakan, peningkatan konsumsi telur dalam program MBG dapat menjadi solusi jangka pendek untuk membantu peternak ayam petelur yang selama beberapa waktu terakhir menghadapi penurunan harga di tingkat produsen akibat overproduksi.
“Program MBG bisa menjadi bantalan pasar. Ketika produksi telur melimpah dan harga turun, negara hadir melalui skema penyerapan untuk menjaga keseimbangan harga sekaligus melindungi peternak,” kata Imamudin di Yogyakarta, Jumat (15/5/2026).
Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah mendorong optimalisasi penggunaan telur dalam menu MBG sebagai bagian dari strategi menjaga harga telur ayam ras tetap stabil di tingkat peternak. Prof Imamudin menilai kondisi tersebut merupakan fenomena pasar yang wajar ketika sebuah program pemerintah menciptakan permintaan baru dalam skala besar.
“Saya meliat itu sebagai fenomena pasar. Tugas pemerintah adalah memastikan mekanisme pasar berjalan baik. Produksi telur misalnya harus dijaga stabilitasnya dari sisi biaya produksi, harga pangan, distribusi, dan lainnya. Itu sesuatu yang tidak bisa dielakkan,” jelasnya.
Menurut dia, ketika ada program besar seperti MBG, pasar secara otomatis akan memberikan respons. “Begitu ada program dan permintaan, pasti ada respons pasar. Itu justru positif karena membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila penyerapan telur melalui MBG mampu memberi dampak positif, maka hal yang sama dapat terjadi pada komoditas lain seperti beras, sayuran, garam, bumbu dapur, hingga daging. “Kalau fenomena telur bisa terjadi, berarti komoditas lain juga bisa ikut bergerak. Ini sinyal positif sebuah program. Dari sisi ekonomi, ada multiplier effect yang nyata,” katanya.
Dampak tersebut dinilai penting karena program MBG dapat menjadi penghubung antara kebutuhan gizi siswa dengan penguatan ekonomi rakyat melalui penyerapan produk lokal dariPetani,Peternak,Nelayan, hinggaUMKM.
Namun demikian, pemerintah dinilai perlu memberikan komunikasi yang lebih kuat kepada pasar agar pelaksanaan MBG tidak justru memunculkan spekulasi baru terkait potensi kenaikan harga bahan pokok akibat meningkatnya permintaan bahan pangan secara nasional.
Menurutnya, dampak ekonomi MBG tidak bisa digeneralisasi karena setiap daerah memiliki karakter pasar yang berbeda. Di sejumlah wilayah dengan basis produksi kuat, program ini justru berpotensi memperkuat ekonomi lokal. Sebaliknya, di daerah dengan pasokan terbatas, perlu mitigasi agar tidak terjadi distorsi harga.
Karena itu, evaluasi menyeluruh dinilai penting dilakukan dengan melibatkan unsur masyarakat seperti Perguruan Tinggi, Organisasi Kemasyarakatan, pemerintah daerah, serta pelaku usaha lokal. Evaluasi tersebut perlu mencakup rantai pelaksanaan dari hulu ke hilir, mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi, pengolahan, hingga makanan sampai ke tangan siswa.
Langkah itu dinilai penting untuk mengetahui titik-titik rawan yang dapat mengganggu mutu program maupun efisiensi anggaran. Selain aspek teknis, kajian akademik juga dibutuhkan untuk mengukur dampak multiplier effect MBG terhadap peningkatan pendapatan Petani, Nelayan, pedagang pasar, hingga UMKM.
“Kalau dikelola benar, manfaat MBG bukan hanya untuk siswa. Program ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.
Namun demikian, pemerintah dinilai perlu lebih aktif menjelaskan dampak ekonomi program kepada masyarakat agar tidak muncul spekulasi liar, termasuk soal tudingan bahwa MBG memperbesar utang negara. “Masyarakat butuh penjelasan yang rasional. Kalau pemerintah bisa menjelaskan dengan baik, masyarakat pasti merespons positif,” ujarnya.
Menurut dia, isu utang negara harus ditempatkan dalam konteks kebijakan fiskal nasional. “Fenomena utang itu realitas negara berkembang karena kita menganut politik defisit anggaran. Pertanyaannya bukan ada atau tidak ada utang, tapi defisit itu dialokasikan untuk apa dan dampaknya apa bagi masyarakat,” katanya.
Ia menilai, logika masyarakat sebenarnya sederhana: pemerintah cukup menunjukkan bukti manfaat program.
“Kalau ada tuduhan MBG memperbesar utang, maka jawabannya harus berbasis data. Sejauh mana MBG meningkatkan kesehatan siswa, konsentrasi belajar, prestasi belajar, kesehatan fisik, lalu sejauh mana program ini menyerap komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan. Itu yang perlu dijelaskan pemerintah,” ujarnya.
Oleh karena itu, MBG dinilai tidak bisa berjalan sendiri. Program ini membutuhkan sinergi lintas sektor agar manfaatnya maksimal. “Program ini harus dikolaborasikan dengan sektor lain. Harus ada kesamaan persepsi dan langkah bersama antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, kampus, dan masyarakat agar dampaknya lebih besar,” katanya.
Ia menilai, kolaborasi itu dinilai penting, untuk memperkuat rantai pasok bahan pangan dan menjaga efisiensi distribusi.
Di sisi lain, Prof Imamudin mengingatkan bahwa masyarakat saat ini sudah semakin kritis dan cepat merespons isu.
“Sekarang masyarakat sudah well informed. Apa pun isu yang berkembang pasti cepat trending. Belum lagi ada faktor politiking. Jadi wajar kalau muncul kritik, misalnya soal kualitas MBG yang dianggap belum standar,” katanya.
Karena itu, isu tata kelola dan potensi korupsi harus direspons secara serius oleh pemerintah. “Jangan sampai program sebesar ini dibajak oleh kelompok kecil yang punya kepentingan pragmatis, baik politik maupun ekonomi. Ini tugas berat pemerintah, bukan hanya menggulirkan program, tapi juga membersihkannya dari oknum yang ingin mengambil keuntungan pribadi,” ujarnya.
Pun terkait langkah pemerintah yang melibatkanKomisi Pemberantasan Korupsidalam pengawasan program yang dinilai sebagai sinyal positif.
“Ketika pemerintah melibatkan KPK, itu langkah yang sangat tepat dan patut diapresiasi. Publik pasti akan melihat ada keseriusan menjaga integritas program,” katanya.
Dengan komunikasi publik yang kuat, pengawasan ketat, serta sinergi lintas sektor, MBG dinilai berpotensi menjadi salah satu program strategis nasional yang bukan hanya meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat dari desa hingga tingkat nasional.
MBG: Program Makan atau Mesin Ekonomi yang Kita Abaikan?
Apakah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya sekadar program makan, atau sebenarnya merupakan sebuah mesin ekonomi besar yang selama ini kita abaikan? Roy NendissaGuru... | Halaman Lengkap [1,781] url asal
#makan-bergizi-gratis #penggerak-ekonomi-bangsa #mbg #ekonomi-kerakyatan #badan-gizi-nasional
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/04/26 18:54
v/181199/
Roy NendissaGuru Besar Ekonomi Pertanian/Pemasaran Agribisnis Fakultas Pertanian UNDANA
KITA mungkin sedang melihat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sudut yang keliru. Selama ini, perhatian publik lebih banyak tersedot pada berbagai persoalan insidental makanan basi, distribusi yang terlambat, hingga tata kelola yang belum rapi. Semua itu penting, tetapi bukan inti persoalannya.
Pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru jarang diajukan. Apakah MBG hanya sekadar program makan, atau sebenarnya sebuah mesin ekonomi besar yang selama ini kita abaikan? Pertanyaan ini menjadi sangat penting jika diletakkan dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebagai daerah kepulauan dengan tantangan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, biaya logistik yang tinggi, serta basis ekonomi masyarakat yang masih sangat bertumpu pada pertanian dan usaha kecil, NTT seharusnya melihat MBG bukan hanya sebagai program sosial, tetapi sebagai peluang strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Justru di daerah seperti NTT, setiap kebijakan publik yang menghadirkan pasar dalam jumlah besar dan terus-menerus harus dibaca sebagai momentum pembangunan ekonomi masyarakat. Jika MBG hanya dipahami sebagai program makan, maka yang kita lihat hanyalah piring, menu, dan anggaran.
Tetapi jika dilihat dari perspektif ekonomi, MBG adalah sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah pasar raksasa yang dibiayai negara, berlangsung setiap hari, dan sangat mungkin berjangka panjang. Di titik inilah persoalan sebenarnya muncul: bukan pada programnya, tetapi pada cara kita memaknainya.
Sebagai akademisi di bidang ekonomi pertanian dan agribisnis di Universitas Nusa Cendana, saya melihat ada kegelisahan yang cukup mendasar. Kita terlalu sibuk memperdebatkan masalah di permukaan, tetapi belum cukup serius menangkap peluang besar di baliknya.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menambah kritik terhadap MBG, melainkan untuk menggeser cara pandang: bahwa program ini harus dibaca sebagai instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi daerah, khususnya di NTT.
MBG sebagai Pasar yang Pasti
Selama ini, kita terlalu sibuk memperdebatkan biaya per porsi, tetapi belum cukup serius menghitung siapa yang menikmati perputaran uang dari program ini. Padahal, setiap program makan sekolah menciptakan permintaan besar untuk beras, sayur, telur, ayam, ikan, buah, bumbu, jasa memasak, distribusi, pengemasan, hingga tenaga kerja.
Artinya, negara sedang membangun sebuah pasar institusional yang sangat kuat. Pengadaan pangan publik seperti ini dapat menjadi alat untuk memperkuat rantai nilai lokal dan membuka pasar bagi produsen kecil bila dirancang dengan tepat (Leao et al., 2023; Xie et al., 2022).
Bagi NTT, hal ini memiliki arti yang jauh lebih strategis. Selama ini, salah satu persoalan mendasar ekonomi daerah adalah lemahnya keterhubungan antara produksi masyarakat dengan pasar yang pasti. Petani menanam, tetapi tidak tahu ke mana menjual. Peternak berproduksi, tetapi tidak memiliki kontrak pembelian yang jelas.
Koperasi ada, tetapi sering tidak punya fungsi ekonomi yang kuat. Dalam konteks itu, MBG sesungguhnya menawarkan sesuatu yang sangat mahal nilainya bagi NTT: kepastian permintaan.
Di sinilah letak kekeliruan kita. MBG terlalu sering dibaca sebagai beban anggaran, bukan sebagai peluang ekonomi. Seolah-olah tugas pemerintah selesai ketika makanan sampai ke tangan siswa.
Padahal, di balik makanan itu terdapat rantai ekonomi yang panjang. Ada petani yang bisa menanam lebih pasti. Ada peternak yang bisa berproduksi lebih berani.
Ada koperasi yang bisa hidup. Ada UMKM yang bisa berkembang. Ada jasa logistik yang bisa tumbuh. Dan yang terpenting, ada uang negara yang seharusnya bisa berputar di NTT, bukan keluar tanpa jejak.
Mengapa Ini Sangat Penting untuk NTT
Dalam konteks NTT, cara pandang terhadap MBG tidak boleh sama dengan daerah yang sudah memiliki infrastruktur pasar yang lebih matang. NTT adalah wilayah yang masih menghadapi tantangan serius dalam kemiskinan, pengangguran, produktivitas pertanian, distribusi pangan, dan keterhubungan antarwilayah.
Karena itu, program sebesar MBG seharusnya tidak diperlakukan sekadar sebagai program konsumsi, tetapi harus dijadikan alat intervensi ekonomi yang sengaja diarahkan untuk memperkuat masyarakat lokal. Kalau kebutuhan MBG di NTT dipenuhi dari luar daerah, maka yang terjadi adalah kebocoran manfaat ekonomi.
Anak-anak memang mendapat makanan, tetapi petani lokal tidak mendapat pasar. Anggaran tetap berjalan, tetapi ekonomi desa tidak tumbuh.
Sebaliknya, jika kebutuhan MBG setidaknya untuk komoditas yang realistis seperti sayuran, telur, ayam, dan bahan pangan lokal tertentu dapat dipenuhi dari dalam daerah, maka MBG akan menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat NTT.
Ini sangat relevan karena struktur ekonomi NTT masih sangat bergantung pada rumah tangga tani, petani kecil, peternak rakyat, pedagang lokal, dan usaha mikro. Artinya, pasar yang stabil dan rutin seperti MBG berpotensi menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk menghubungkan kebijakan sosial dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Mengapa Selama Ini Belum Dimanfaatkan dengan Baik
Masalahnya bukan pada kurangnya peluang. Peluangnya justru sangat besar. Yang belum kuat adalah cara pandang dan desain kebijakannya. Program seperti MBG masih terlalu sering dikelola dalam logika belanja jangka pendek: yang penting makanan tersedia, yang penting program jalan. Pendekatan ini memang cepat, tetapi miskin visi.
Akibatnya, pemerintah cenderung mencari pemasok yang paling siap secara cepat, tanpa sungguh-sungguh membangun sistem agar masyarakat lokal juga siap menjadi pemasok. Padahal, manfaat ekonomi dari pengadaan pangan publik tidak akan muncul maksimal bila program berdiri sendiri. Ia membutuhkan dukungan kelembagaan, pelatihan, pembiayaan, koordinasi, dan keterlibatan sektor swasta (Leao et al., 2023; Omuse et al., 2025).
Bagi NTT, kekeliruan seperti ini akan jauh lebih mahal. Sebab jika program tidak didesain untuk menghubungkan masyarakat lokal dengan pasar MBG, maka daerah ini akan kembali hanya menjadi lokasi pelaksanaan program, bukan penerima manfaat ekonomi yang sesungguhnya.
Yang Dibutuhkan adalah Kebijakan Daerah yang Tepat
Agar MBG benar-benar menjadi instrumen ekonomi, program ini harus dilihat sebagai sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai aktor dalam satu ekosistem ekonomi. Pemerintah daerah tidak cukup hanya menjadi pembayar program; pemerintah harus menjadi arsitek sistemnya.
Dalam konteks NTT, ini berarti pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota perlu secara sadar membangun kebijakan yang memprioritaskan keterlibatan produksi lokal dalam rantai pasok MBG. Tidak semua komoditas mungkin bisa dipenuhi sekaligus, tetapi komoditas yang realistis dan sesuai dengan potensi wilayah harus mulai diarahkan ke sana.
Ini memerlukan peta sentra produksi, pola tanam yang terjadwal, penguatan koperasi, dukungan pembiayaan, dan kemitraan dengan pelaku usaha. Untuk melihat bagaimana MBG dapat berfungsi sebagai instrumen ekonomi daerah, perlu dipahami bahwa program ini harus dibangun sebagai sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai aktor dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Gambar 1. Ekosistem MBG sebagai Instrumen Ekonomi Daerah Berbasis Kolaborasi
Gambar tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak berdiri sendiri sebagai program konsumsi, tetapi menjadi pusat dari sebuah ekosistem yang menghubungkan produksi, pasar, pembiayaan, pengetahuan, dan kebijakan. Dalam konteks NTT, pemerintah daerah berperan dalam kebijakan dan koordinasi.
Perguruan tinggi seperti Universitas Nusa Cendana (UNDANA) menjadi pusat riset, pelatihan, dan pendampingan. Kelompok tani menjadi produsen utama. KADIN dan pelaku industri berperan membuka akses pasar dan kontrak.
Perbankan atau lembaga keuangan mendukung pembiayaan usaha. Jika seluruh unsur ini terhubung, maka MBG tidak lagi hanya memberi makan siswa, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal NTT.
Kajian tentang adopsi inovasi pertanian menunjukkan bahwa petani lebih mampu berkembang bila ada akses informasi, kelembagaan kelompok, pendampingan, dan kebijakan yang sesuai dengan konteks lokal (Ogunyiola et al., 2022; Manono et al., 2025; Belay et al., 2022).
Artinya, pemerintah daerah di NTT tidak cukup hanya menjadi pelaksana administrasi. Pemerintah harus menjadi pengarah ekosistem ekonomi MBG.
MBG Harus Menghubungkan Konsumsi, Produksi, dan Distribusi
Selama ini, konsumsi dan produksi sering berjalan sendiri-sendiri. Anak sekolah butuh makan, tetapi petani tidak otomatis menjadi pemasok. Di sinilah MBG harus menjadi jembatan.
Program ini harus menghubungkan kebutuhan konsumsi siswa, kapasitas produksi petani, kelembagaan distribusi, pembiayaan usaha, dan kepastian pasar. Dalam konteks implementasi di NTT, integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui model kemitraan yang melibatkan perguruan tinggi, kelompok tani, koperasi, dan dunia usaha sebagaimana ditunjukkan pada model berikut.

Gambar 2. Model Bisnis Supply Sayuran untuk Mendukung MBG Berbasis Kemitraan Undana dan KADIN
Model tersebut menunjukkan bagaimana ekosistem dapat dioperasionalkan di lapangan. Fakultas Pertanian Undana ditempatkan sebagai penggerak utama yang memastikan pelatihan, pendampingan, dan inovasi produksi berjalan.
Kelompok tani menjalankan produksi secara terjadwal agar pasokan stabil. Koperasi atau BUMDes berperan dalam pengumpulan dan distribusi hasil. KADIN menjadi mitra strategis dalam kontrak bisnis, akses pasar, dan penguatan
investasi.
Dengan model ini, MBG tidak lagi dipahami sebagai urusan dapur semata, tetapi sebagai rantai nilai ekonomi yang dapat menghubungkan petani, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pasar institusional di NTT. Bagi NTT, model seperti ini sangat relevan.
Daerah ini membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya menyalurkan program, tetapi juga membangun sistem. Undana memiliki posisi strategis sebagai pusat pengetahuan dan inovasi lokal. Kelompok tani dan koperasi menjadi basis ekonomi masyarakat.
KADIN dapat membuka pintu bagi kemitraan bisnis. Pemerintah menjadi pengarah kebijakan. Jika semua ini dirangkai dalam ekosistem MBG, maka manfaat program akan jauh melampaui fungsi sosialnya.
Kalau hubungan ini dibangun, maka dampaknya besar. Anak-anak mendapat makanan bergizi. Petani mendapat pembeli tetap. Koperasi mendapat fungsi ekonomi nyata. UMKM tumbuh.
Dunia usaha masuk sebagai mitra. Perguruan tinggi berperan dalam inovasi. Daerah memiliki rantai pasok pangan yang semakin kuat. Sejumlah kajian menekankan bahwa sistem pangan lokal yang kuat dapat memperbaiki penghidupan masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, dan membuat daerah lebih tangguh terhadap gangguan ekonomi atau logistik (Godrich, 2023; Godrich et al., 2023).
Terlepas dari Masalah Insidentil, Peluang Besarnya Tetap Ada
Tentu, program sebesar MBG akan selalu menghadapi masalah. Akan ada kekurangan, akan ada kesalahan, dan mungkin juga ada penyimpangan.
Namun, kita tidak boleh terjebak dalam cara berpikir yang membuat masalah insidental menutupi peluang struktural yang jauh lebih besar.
Masalah teknis harus dibenahi. Tata kelola harus diperkuat. Pengawasan harus ditingkatkan. Tetapi visi ekonominya tidak boleh hilang. Jika tidak, kita akan terus mengulang kesalahan lama: negara membelanjakan anggaran besar, tetapi masyarakat lokal tidak menjadi pelaku utama. NTT hanya menjadi lokasi program, bukan penerima manfaat ekonomi yang sesungguhnya.
Mengubah MBG Menjadi Mesin Ekonomi NTT
Kalau pemerintah daerah berani melihat MBG secara strategis, maka program ini bisa menjadi salah satu mesin ekonomi daerah yang paling kuat di NTT. Setiap rupiah yang dibelanjakan untuk makan siswa tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga dapat mendorong produksi lokal, menggerakkan perdagangan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat koperasi, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Bahkan, dalam jangka panjang, MBG bisa menjadi dasar bagi pembangunan ekonomi pangan lokal NTT yang lebih mandiri. NTT tidak lagi hanya menjadi konsumen, tetapi menjadi produsen yang terhubung dengan pasar institusional.
Inilah mengapa MBG tidak boleh dipahami sebagai pengeluaran rutin semata. Ia harus dilihat sebagai investasi sosial-ekonomi bagi masa depan NTT.
Karena itu, kita perlu menegaskan kembali: MBG bukan sekadar program makan, tetapi instrumen ekonomi daerah. Bagi Nusa Tenggara Timur, ini bukan sekadar wacana. Ini adalah peluang nyata.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah program ini penting, tetapi apakah kita cukup cerdas untuk memanfaatkannya. Apakah kita akan terus melihat MBG sebagai beban yang harus dijalankan, atau mulai melihatnya sebagai peluang yang harus dimenangkan untuk kepentingan masyarakat NTT?
Pada akhirnya, setiap piring makanan yang sampai ke tangan siswa seharusnya tidak hanya memberi gizi bagi anak, tetapi juga memberi kehidupan bagi petani, peluang bagi UMKM, kekuatan bagi koperasi, ruang bagi dunia usaha, dan masa depan bagi ekonomi daerah.
Jika itu tidak terjadi, maka kita memang memberi makan anak-anak—tetapi kita gagal memberi makan masa depan Nusa Tenggara Timur itu sendiri.
Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z
Gotong royong dan konsep saling menolong dalam koperasi di mana tidak terdapat majikan dan pegawai, menjadi daya tarik tersendiri, terutama anak-anak gen Z. Deva... | Halaman Lengkap [1,166] url asal
#ekonomi-indonesia #koperasi #gen-z #penggerak-ekonomi-bangsa #koperasi-desa-merah-putih
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/02/26 15:16
v/135955/
Deva RachmanDirektur Umum dan Hukum LPDB Koperasi & Praktisi Public Affairs Global
BARU-BARU ini, Ajay Banga, Presiden World Bank Group menyoroti tantangan yang sedang berpotensi terjadi pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki kurang lebih 140 juta generasi muda dengan umur 16 – 30 tahun yang akan mendominasi bangsa kita.
Data BPS pada November 2025 sekitar 42,3% pekerja Indonesia berada pada sektor formal, dan sisanya sekitar 58% bekerja sektor Informal. Mereka yang bekerja di sektor informal bekerja di pekerja keluarga tidak dibayar, ojek online, penjual makanan keliling, buruh tak tetap dengan gaji harian atau dengan gaji berdasarkan komisi. Dari total 155,27 juta angkatan kerja yang saat ini aktif, mayoritas tidak mempunyai status kerja yang aktif atau tetap.
Indonesia akan memasuki masa Indonesia Emas pada tahun 2045, sehingga kurang lebih 15 tahun kita memiliki waktu untuk mempersiapkan sosial kapital dan ekonomi bagi angkatan kerja aktif ini. Demografi yang bisa menjadi senjata rahasia Indonesia, bisa berubah menjadi petaka yang besar jika kita tidak mampu menghadirkan program yang komprehensif dan holistik dalam bidang sosial dan ekonomi.
Laporan ILO (International Labour Organisation) baru-baru ini menunjukkan pekerja yang pendidikan sesuai dengan pekerjaannya kurang lebih hanya 34% dan kebanyakan mereka under educated. Indonesia sendiri total penduduk yang lulus dari pendidikan tinggi hanya kira-kira 10-11% atau sekitar 28 juta orang, pendidikan tinggi disini adalah setaraf SMA. Sedangkan sisanya lulusan SD dan SMP.
Disimpulkan disini bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita nikmati tidak menghasilkan penyediaan pekerjaan yang layak arena sebagian besar tenaga kerja terserap di sektor informal dan berupah rendah atau hidup berdasarkan komisi, minim perlindungan dan rentan.
Di mana Koperasi dapat Membalikan Keadaan?
Dari semua permasalahan yang ada ditambah dengan parahnya kerusakan alam dan tingkat korupsi yang tinggi, di mana Gerakan Koperasi dapat membalikan keadaan ini? Pertumbuhan ekonomi sebesar 5% lebih ternyata hanya mampu dinikmati oleh segelintir piramida populasi kita.
Konsentrasi ekonomi berputar di sekitar sektor-sektor besar, pembangunan infrastruktur tidak dinikmati oleh kebanyakan penduduk Indonesia dan kebanyakan mereka tidak mendapatkan pendapatan dan perlindungan yang memadai. Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia dan telah mengakar sejak tahun 1905 sejak HOS Tjokroaminoto, pendiri Syarikat Islam dan Bapak ideologis dari Presiden Soekarno dan banyak tokoh bangsa lainnya, telah membuat landasan koperasi bagi bangsa Indonesia.
Gotong royong dan konsep saling menolong di mana tidak terdapat majikan dan pegawai, menjadi daya tarik tersendiri dari gerakan ini terutama anak-anak gen Z yang masih memiliki semangat untuk membentuk dunianya sendiri selain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan konsep pekerja kantoran pada umumnya.
Koperasi yang saat ini berjumlah kurang lebih 300 ribuan unit dan tersebar lebih banyak di pulau Jawa terutama di Jawa Timur. Baru-baru ini saya mengikuti perjalanan lebih dari 35 pengusaha muda berumur rata-rata 25 – 35 tahun ke kota Shenzhen dan Guangzhou bersama Sands Bossum dan Business Leader Sandiaga Uno.
Dari ke 35 pebisnis muda tersebut, banyak harapan dan kerjasama bisnis serta pembelajaran dari berbagai industri kelas dunia dari Cina seperti Huawei, Mindray, pembuat mobil listrik BYD dan industri kosmetik Tian Wu. Kegigihan, keberanian dan dukungan dari pemerintah dalam mengembangkan usaha industri dalam negeri dan menjadi tuan di negeri sendiri terasa di dalam presentasi yang mereka berikan.
Di kompleks Huawei, saya melihat bagaimana Huawei menghadirkan mindset bahwa Cina tidak kalah dengan Eropa dengan menghadirkan teknologi kelas dunia dan gedung-gedung serta suasana seperti di negara German, Swiss, Prancis, Inggris dan Eropa. Pembuatan teknologi smartphone kelas dunia Huawei yang high-tech dan sangat rapi di bangun sejak tahun 1987-an.
Salah satu yang menarik adalah kunjungan ke Huawei di mana kepemilikan saham dimiliki owner hanya 0.6% dari keseluruhan saham yang ada dan sisanya dimiliki oleh pegawai — mirip dengan gerakan koperasi. Saya melihat bahwa hal ini, dapat menjadi pembelajaran besar bagaimana suatu bisnis dibangun dengan asas kebersamaan dan mampu bertahan di tengah tunjangan global dan pasar yang sering menyerang mereka terutama dari pihak Amerika Serikat.
Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia, bisa belajar banyak dari perjalanan ini. Anak-anak muda yang masih “green fields” atau belum tersentuh dengan gerakan koperasi dapat dirangkul dan diberikan fasilitas pembiayaan yang menarik. Salah satu yang menarik adalah pembiayaan dari LPDB Koperasi (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) Koperasi.
Dengan rate yang menarik sebesar 6,5% untuk bisnis konvensional non – shariah dan 3.5% untuk bisnis syariah tanpa biaya provisi dan administrasi tentu amat menarik bagi mereka. Dari ke 35 pengusaha muda tersebut, banyak dari mereka yang berminat untuk bergabung ke Koperasi. Bayangkan jika mereka bisa bergabung dan sama-sama membangun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Relevansi Gerakan Koperasi dengan Generasi Muda
Indonesia sudah saatnya membangun angkatan muda Koperasi ke depan. Dengan bonus 15 tahun dan 140 juta angkatan kerja di mana 60% adalah di sektor informal, diperlukan social engineering program yang dapat membalikan suasana dan keadaan dengan pemahaman dan program-program yang menarik bagi anak muda.
Saat ini, rata-rata umur dari anggota koperasi berumur 55 tahun, kebanyakan dari mereka adalah pensiunan dari pekerja tradisional yang ingin menginvestasikan uangnya secara aman dan mendapatkan sisa hasil usaha lebih dari sekedar deposito belaka. Hal ini harus dapat kita ubah segera dengan pendekatan koperasi bagi angkatan muda.
Koperasi Start-Up dan Digital Creative adalah salah satu yang dapat digarap untuk meningkatkan minat anak muda selain memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka selain menyediakan sisa hasil usaha akhir tahun. Koperasi amat menarik bagi anak muda dengan berbagai keunikannya, yaitu pertama anak muda saat ini lebih tertarik pada bisnis yang fokus ada alternatif etis di luar perusahaan tradisional yang hanya mengejar profit semata.
Gerakan koperasi menawarkan pemberdayaan dan kepemilikan di mana anggota secara langsung bisa mengontrol perusahaan secara demokratis atas usaha mereka. Hal ini memungkinkan para generasi muda jadi pemilik bukan hanya sebagai buruh atau objek penderita suatu usaha.
Yang kedua adalah keselarasan nilai, dengan prinsip koperasi yang peduli terhadap komunitas dan keanggotaan sukarela, amat cocok dengan DNA anak muda Gen Z dan prioritas sosial mereka. Ketiga adalah kewirausahaan dan kebebasan dalam berusaha, koperasi yang dipimpin pemuda seperti mobil berbasis layanan anak muda, services industry memberikan pemahaman dan pengalaman langsung dalam manajemen sinis dn liberasi keuangan.
Terakhir adalah peluang ekonomi di mana koperasi dapat menciptakan lapangan kerja di wilayah yang tersulit seperti mencari pekerjaan yang layak, bahkan seringkali dapat meningkatan pendapatan anak-anak muda secara signifikan. Dalam studi CICOPA (Young Entrepreneurship in Cooperative), lebih dari 60% pesertanya mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan dengan proteksi pekerjaan yang lebih baik daripada sektor perusahaan tradisional.
Apa yang harus Indonesia lakukan?
Indonesia baru-baru ini menggagas 83 ribu koperasi desa dan kelurahan merah putih di mana 30 ribu ditargetkan beroperasi pada bulan Maret ini. Apakah target ini terlalu besar? Tidak ada yang terlalu besar dalam mimpi yang besar.
Dengan kekuatan dan senjata rahasia angkatan pemuda Indonesia sebesar 140 juta orang, Indonesia memiliki segala kekuatan untuk membalikan keadaan asalkan didukung oleh strategi yang mumpuni untuk menggerakkan para pemuda ini.
Saatnya generasi muda berkoperasi dan saat nya Indonesia menjawab tantangan dan mimpi sejak hampir 120 tahun yang lalu, menjadi bangsa yang besar, berkoperasi dan berkeadilan. (Pendapat di tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mempresentasikan organisasi di mana penulis berkarya).
GP Ansor Siap Jadi Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Syariah dan UMKM
GP Ansor menunjukkan komitmennya menjadi kekuatan baru dalam pengembangan ekonomi umat dan ekonomi syariah melalui kegiatan Gerakan Ekonomi Rakyat di Kabupaten... | Halaman Lengkap [386] url asal
#gp-ansor #ekonomi-syariah #umkm #bank-bsi #penggerak-ekonomi-bangsa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/10/25 17:34
v/8178/
BANDUNG - GP Ansor menunjukkan komitmennya menjadi kekuatan baru dalam pengembangan ekonomi umat dan ekonomi syariah melalui kegiatan Gerakan Ekonomi Rakyat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (18/10/2025).Kegiatan ini bertema Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Umat melalui Pengembangan UMKM.
GP Ansor menegaskan kemandirian ekonomi umat harus dibangun melalui sinergi, inovasi, dan kolaborasi strategis dengan lembaga keuangan syariah serta pelaku UMKM. Dirut PT Bank Syariah Indonesia Tbk ( BSI ) Anggoro Eko Cahyo mengatakan, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Dapat Duit Rp10 Triliun dari Purbaya, Dirut BSI: Sebentar Lagi Juga Habis
Namun, potensi besar itu hanya bisa diwujudkan jika seluruh elemen umat, termasuk organisasi kepemudaan seperti GP Ansor, ikut aktif menggerakkan roda ekonomi di akar rumput. “Ekonomi syariah bisa menjadi yang terbesar di dunia. Kita butuh dukungan dari Ansor untuk sama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia,” katanya.
BSI terus memperluas akses dan layanan bagi UMKM melalui berbagai platform kebijakan. Termasuk dukungan inovasi digital, pengembangan SDM, pendampingan bisnis, serta kemudahan akses terhadap pembiayaan berbasis prinsip syariah. “UMKM kalau mau tumbuh, butuh inovasi, teknologi, dan akses pasar. Tantangan itu harus dijawab dengan kolaborasi,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Addin Jauharudin menegaskan komitmen Ansor membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam pemberdayaan ekonomi umat. “Kita terbuka untuk berkolaborasi. Ansor memiliki jaringan luas, kader yang kreatif, dan semangat tinggi. Apa pun peluang bisnis dan sinergi yang bisa dilakukan bersama akan sangat bermanfaat, bukan hanya bagi kader, tapi juga bagi umat,” tegasnya.
Melalui gerakan ekonomi rakyat ini, GP Ansor bertekad memperkuat peran strategisnya dalam menghubungkan pelaku UMKM dengan sistem keuangan syariah, menciptakan ekosistem bisnis yang beretika, dan membangun kemandirian ekonomi yang berkeadilan. Gerakan ini menjadi wujud nyata kontribusi GP Ansor dalam menjadikan ekonomi syariah sebagai kekuatan baru bagi kemajuan bangsa.
Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal memberikan apresiasi atas transformasi ekonomi yang digerakkan GP Ansor di bawah kepemimpinan Addin Jauharudin. Menurutnya, GP Ansor kini tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan, tetapi juga tampil sebagai kekuatan ekonomi baru yang bisa melahirkan banyak pengusaha muda dari kalangan kader dan santri.
“Ketum Addin telah menanamkan semangat entrepreneur di kalangan Ansor dan Banser. Dengan jaringan yang luas dan semangat besar, Ansor mampu melahirkan generasi pengusaha baru yang berjiwa sosial dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” ujarnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56