Bisnis.com, JAKARTA — Emiten kontraktor batu bara PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) membukukan penurunan pendapatan di sepanjang 2026 imbas gangguan operasional. Rugi bersih perseroan pun membengkak.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, emiten berkode saham DOID mencatatkan pendapatan neto sebesar US$1,48 miliar atau setara dengan Rp24,72 triliun (kurs Rp16.700 per dolar AS). Realisasi itu turun 15,71% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari realisasi tahun sebelumnya senilai US$1,75 miliar.
Manajemen DOID menjelaskan penurunan itu terjadi terutama karena penurunan volume sementara Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil (-1% YoY), didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi.
Selanjutnya EBITDA turun menjadi US$175 juta dengan margin 14% dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar.
"Jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA tercatat sebesar US$207 juta dengan margin 17%," tulis manajemen DOID.
Rugi tahun berjalan DOID melonjak 93,74% yoy menjadi US$125 juta atau setara dengan Rp2,13 triliun. Sedangkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk membengkak 89,54% yoy menjadi Rp116,25 juta atau setara dengan Rp1,94 triliun.
Rugi yang makin besar ini dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat.
"Faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals, seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun, keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta (berbalik dari kerugian US$19 juta pada 2024 menjadi keuntungan US$17 juta pada 2025), serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026," tulis DOID.
Total aset DOID pada akhir 2025 tercatat senilai Rp1,52 miliar atau setara dengan Rp25,51 triliun, turun 3,74% yoy dari sebelumnya US$1,58 miliar.
Perinciannya, liabilitas bertambah 6,10% yoy menjadi US$1,47 miliar dan ekuitas anjlok 74,74% yoy menjadi US$48,87 juta.
Direktur DOID Iwan Fuad Salim menyebutkan kinerja perseroan di sepanjang 2025 telah terdampak signifikan oleh gangguan operasional dan cuaca buruk. Selain itu, ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia turut menekan kinerja keuangan DOID.
"2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat," kata Iwan dalam keterangan resmi, dikutip Senin (30/3/2026).
Dia menegaskan bahwa perseroan sudah merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan.
Alhasil, langkah-langkah itu mampu mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih
kuat saat memasuki 2026.
Lebih lanjut, kinerja DOID pada tahun lalu juga dipengaruhi oleh biaya-biaya non-operasional (non-underlying charges), termasuk penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset (asset impairment) di operasional Australia dan Amerika Serikat, yang sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar (fair value gain) sebesar US$41 juta atas investasi Grup di 29Metals.
Ditelisik lebih dalam, DOID membukukan volume overburden removal turun 19% yoy menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton (MT).
Realisasi itu mencerminkan gangguan operasional pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.