#30 tag 24jam
Menanti Titik Balik IHSG: Berburu Saham Murah di Paruh Kedua 2026
Koreksi tajam IHSG sepanjang semester I/2026 membuat valuasi saham unggulan kembali menarik. Analis menilai peluang rebound mulai terbuka pada paruh kedua. [1,014] url asal
#ihsg-2026 #saham-murah #valuasi-saham #koreksi-ihsg #stabilitas-rupiah #dana-asing #sentimen-global #saham-blue-chip #sektor-perbankan #sektor-teknologi #sektor-infrastruktur #konsumsi-domestik #risik
(Bisnis.Com - Market) 30/06/26 06:00
v/263248/
Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang paruh pertama 2026 membuat valuasi sejumlah saham unggulan kembali berada pada level yang relatif murah. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang akumulasi saham pada semester II/2026, meski arah pemulihan pasar masih bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, kembalinya aliran dana asing, serta perbaikan sentimen global dan domestik.
Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada perdagangan Senin (29/6/2026) telah terkoreksi 32,81% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD).
Sejalan dengan pelemahan indeks, harga saham-saham berkapitalisasi besar juga diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik. BBCA misalnya, kini diperdagangkan dengan PER 12,58 kali, BBRI 7,35 kali, BMRI 6,29 kali, TLKM 14,37 kali, dan AMMN sebesar 26,32 kali. Kelima emiten tersebut merupakan konstituen terbesar dalam indeks LQ45.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menilai peluang IHSG untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan paruh pertama 2026 masih terbuka. Namun, Liza memprediksi reli yang terjadi akan bersifat gradual dan tidak sekuat pemulihan pascapandemi.
Di satu sisi, Liza menilai koreksi tajam sepanjang Januari-Juni 2026, telah membuat valuasi sejumlah saham kembali pada level yang menarik. Berbagai sentimen yang membayangi pelemahan pasar saham RI, juga dinilai telah tecermin dalam harga saham.
”Namun kami melihat semester II masih akan menjadi periode pembuktian. Agar IHSG dapat bergerak lebih tinggi secara berkelanjutan, pasar membutuhkan kombinasi stabilitas rupiah, kembalinya arus dana asing, serta pertumbuhan laba emiten yang tetap resilien,” kata Liza, dikutip Minggu (28/6/2026).
Kiwoom memprediksi IHSG akan bertengger pada level 7.000-7.250 hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut dengan asumsi kondisi global tidak mengalami ketegangan baru yang signifikan terhadap pasar.
Untuk mencapai target itu, stabilitas rupiah dinilai menjadi satu hal krusial yang dapat mendorong laju IHSG lebih bertenaga pada paruh II/2026. Pasalnya, rupiah yang stabil bakal meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap aset Tanah Air.
Potensi penurunan suku bunga global, pertumbuhan laba emiten yang masih solid, hingga berlanjutnya stimulus pemerintah untuk menjaga konsumsi domestik dinilai menjadi motor penggerak lainnya.
Di satu sisi, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menilai langkah emiten besar untuk memperjelas struktur kepemilikan dan respons cepat regulator dalam meningkatkan standar keterbukaan informasi, bakal menjadi stimulus utama rebound IHSG pada semester depan.
Berdasarkan skenario optimistis, Mirae Asset memprediksi IHSG akan mencapai level 7.246 sebagai target akhir tahun. Sebaliknya, jika pelemahan berlanjut, skenario pesimis Mirae Asset berada pada level 5.068.
”Setelah mengalami aksi jual yang cukup masif pada paruh pertama, valuasi saham-saham blue chip di sektor perbankan dan komoditas kini berada pada area yang relatif murah secara historis. Menjadikannya target akumulasi yang menarik bagi investor berorientasi jangka panjang,” tegas Nafan, dikutip Minggu (28/6/2026).
Tantangan dan Peluang
Kiwoom Sekuritas menilai kondisi rupiah dan arus dana asing merupakan faktor yang paling menentukan bagi arah IHSG dalam jangka menengah. Fenomena beberapa bulan belakangan, menunjukkan setiap rupiah mengalami tekanan tajam, investor asing cenderung meningkatkan aksi jual.
Selain itu, risiko lainnya yang perlu disoroti investor adalah ketidakpastian arah kebijakan The Fed, perlambatan ekonomi global, tensi geopolitik, pelemahan daya beli domestik, hingga berbagai isu mengenai kualitas institusi dan kepastian regulasi yang berisiko mempengaruhi persepsi investor asing terhadap RI.
”Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan perbaikan yang konsisten, volatilitas pasar diperkirakan masih tetap tinggi,” tegas Liza.
Kinerja rupiah yang masih tertekan juga dinilai menjadi salah satu tantangan IHSG untuk dapat melaju pada enam bulan terakhir. Mirae Asset menilai, pelemahan rupiah bakal secara langsung menekan margin keuntungan emiten yang mengandalkan bahan baku impor atau utang dalam valuta asing.
Menurutnya, jika langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia berhasil menekan volatilitas mata uang, maka kondisi ini bakal memberikan ruang bagi Bursa untuk bergerak lebih stabil ke depan.
Selain itu, risiko datang dari kekhawatiran defisit fiskal RI, sehingga mengalihkan minat investor dari aset berisiko tinggi ke aset minim risiko, seperti surat utang. Selain itu, ketegangan geopolitik yang belum mereda juga dinilai menjadi tantangan lainnya.
”Sikap bank sentral dunia dalam mempertahankan atau melonggarkan suku bunga acuan akan menentukan risk appetite global. Penundaan pelonggaran moneter di tingkat global dapat membuat investor memilih tetap menaruh dananya di aset aman negara maju daripada emerging markets,” kata Nafan.
Nafan memprediksi, sektor teknologi, infrastruktur, hingga konsumer siklikal berpotensi memimpin penguatan IHSG. Sementara sektor finansial dan konsumer non siklikal akan tetap memimpin laju IHSG ke depan.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi, memprediksi sektor berbasis konsumsi domestik bakal menjadi penopang utama IHSG pada semester II/2026.
Dalam strateginya, Henan AM meramal sektor perbankan menjadi salah satu pendorong utama IHSG lantaran didukung oleh valuasi yang murah dan potensi perbaikan arus dana asing. Selain itu, sektor konsumer juga dinilai bakal mendorong IHSG jika daya beli masyarakat menunjukkan perbaikan.
Pendorong IHSG juga dinilai bakal datang dari sektor infrastruktur dan sektor-sektor yang menadah berkah dari belanja pemerintah dan proyek strategis nasional.
Sebaliknya, Henan bakal cenderung menghindari emiten dengan sensitivitas yang tinggi terhadap perlambatan perdagangan global, sektor komoditas tertentu yang bergantung pada volatilitas harga global, hingga emiten dengan likuiditas rendah dan tata kelola yang belum memadai.
”Pendekatan investasi kami tetap berbasis bottom-up stock selection, sehingga keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada preferensi sektoral,” katanya, dikutip Minggu (28/6/2026).
Dengan kata lain, Henan AM berupaya fokus pada saham-saham berkualitas, dengan fundamental solid, likuiditas tinggi, dan memiliki eksposur pada tema pertumbuhan ekonomi domestik. Terhadap reksa dana saham, Henan berupaya mempertahankan fleksibilitas alokasi kas untuk mengantisipasi volatilitas dan segera menangkap peluang saat terjadi koreksi.
”Secara keseluruhan, strategi investasi kami pada semester II/2026 menitikberatkan pada alokasi yang berimbang, disiplin manajemen risiko, dan penciptaan risk-adjusted return yang optimal, dibandingkan sekadar mengejar return jangka pendek,” tegasnya.
Henan AM sendiri, memprediksi IHSG akan bergerak pada level 6.200—6.800 hingga akhir tahun. Prediksi itu dengan asumsi tidak terjadi eskalasi geopolitik baru, stabilisasi nilai tukar rupiah, hingga kembalinya aliran dana asing ke pasar saham RI.
Henan memprediksi reli pasar saham RI pada semester II/2026 akan cenderung selektif dibandingkan broad-based rally.
”Investor akan lebih fokus pada emiten dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan kemampuan menjaga pertumbuhan laba di tengah ketidakpastian global,” kata Reza.
Saham Big Caps Potensi Jadi Motor Penggerak Laju IHSG
Saham big caps berpotensi memulihkan IHSG di semester II/2026, didorong oleh bargain hunting investor domestik dan stabilitas makro ekonomi. [450] url asal
#big-caps #saham-unggulan #motor-ihsg #pemulihan-ihsg #indeks-lq45 #saham-blue-chip #tekanan-msci #dana-asing #bargain-hunting #investor-domestik #stabilitas-makro #investor-asing #nilai-tukar-rupiah
(Bisnis.Com - Market) 23/06/26 15:13
v/257398/
Bisnis.com, JAKARTA — Momentum pemulihan saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo (big caps) membuka peluang bagi kelompok saham unggulan untuk kembali menjadi motor penggerak IHSG pada semester II/2026.
Selama perdagangan 15 – 19 Juni 2026, indeks LQ45 tercatat menguat 2% menuju level 609,40. Kenaikan ini sejalan dengan pemulihan IHSG yang juga membukukan pertumbuhan sebesar 2,82% sepanjang pekan lalu.
Adapun kenaikan itu terjadi setelah saham-saham blue chip menjadi kelompok yang paling tertekan di tengah sentimen negatif terkait MSCI, arus keluar dana asing, dan pelemahan pasar secara umum. Saat tekanan mulai mereda, saham-saham tersebut lantas muncul sebagai motor pemulihan indeks komposit.
Equity Research Analyst Simpan Asset Management Genandy Amiharja menjelaskan bahwa karena IHSG menggunakan metode bobot kapitalisasi pasar, kejatuhan saham-saham blue chip berimbas dalam ke indeks.
Kejatuhan saham bank jumbo, TLKM, dan ASII akibat tekanan MSCI serta aksi jual asing sebelumnya berdampak sangat signifikan terhadap penurunan performa indeks komposit secara keseluruhan.
Namun, Genandy memandang bahwa koreksi tajam yang sempat terjadi belakangan ini mulai memicu aksi perburuan saham murah oleh investor domestik yang menjadi motor utama penguatan indeks.
“Kami juga melihat dari arus lokal yang mulai menciptakan bargain hunting yang muncul dikarenakan penurunan yang cukup dalam ini,” ucapnya saat dihubungi Bisnis pada Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, untuk mendapatkan pemulihan yang berkelanjutan, pasar saham masih membutuhkan konfirmasi dari kembalinya dana asing, realisasi kinerja emiten di semester kedua dan stabilitas makro domestik.
Di sisi lain, sentimen negatif terkait tinjauan MSCI sebenarnya sudah cukup diantisipasi pelaku pasar mengingat besarnya volume arus modal keluar asing.
Apalagi, penilaian MSCI terhadap aksesibilitas pasar Indonesia sejauh ini masih terhitung cukup baik jika dibandingkan negara-negara peers di regional.
Genandy menyatakan investor asing diproyeksikan akan kembali masuk secara konsisten apabila nilai tukar rupiah mulai bergerak stabil, tingkat imbal hasil riil menarik, serta arah kebijakan ekonomi kian jelas.
“Jika hal tersebut dilakukan, peluang untuk asing kembali lagi berinvestasi akan dimulai melalui saham-saham blue chip yang saat ini secara valuasi sedang murah secara historikal,” ucapnya.
Dia menambahkan keunggulan utama saham big caps terletak pada likuiditasnya yang memadai untuk menampung aliran dana besar dari investor global secara fleksibel di pasar.
Selain itu, ketika investor asing memutuskan untuk kembali ke pasar domestik, aliran dana biasanya akan mengalir terlebih dahulu ke saham-saham likuid utama yang sebelumnya mereka lepas.
Situasi tersebut membuat potensi kenaikan harga yang didorong oleh aliran dana terbesar berada di barisan saham-saham berkapitalisasi pasar besar.
“Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi portofolio saham, melihat posisi tingkat valuasi yang sudah terdiskon dalam,” ucapnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sentimen MSCI, Intip Saham Blue Chip Jagoan Sekuritas di Sisa 2026
Sekuritas merekomendasikan saham blue chip perbankan dan komoditas untuk sisa 2026, menunggu evaluasi MSCI yang mempengaruhi IHSG dan aliran modal asing. [862] url asal
#saham-blue-chip #evaluasi-msci #saham-big-caps #saham-perbankan #emiten-komoditas #likuiditas-tinggi #motor-penggerak-modal #indeks-global #pasar-saham-indonesia #emerging-market #relief-rally #forced
(Bisnis.Com - Market) 22/06/26 14:02
v/256176/
Bisnis.com, JAKARTA — Jajaran saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo (big caps) dan emiten komoditas berkinerja solid menjadi rekomendasi saham unggulan sekuritas untuk dikoleksi di sisa tahun 2026.
Fokus pemilihan saham unggulan ini bertumpu pada emiten blue chip dengan likuiditas tinggi yang berpotensi menjadi motor penggerak awal aliran modal asing, sekaligus ditopang saham-saham berfundamental kokoh sebagai jangkar.
Strategi tersebut dinilai potensial guna mengoptimalkan keuntungan investasi setelah mengevaluasi perjalanan indeks sepanjang tahun berjalan 2026.
Rekomendasi saham di sisa tahun ini dibayangi momentum evaluasi aksesibilitas pasar oleh MSCI. Dalam penilaian terbaru, MSCI menyoroti kriteria aliran informasi bursa domestik yang diturunkan peringkatnya dari (+) menjadi (-).
Pemeringkat indeks global tersebut menyoroti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham atau free float, serta adanya indikasi transaksi terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga wajar di Indonesia.
Meski demikian, posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar saham global dinilai masih aman karena kriteria aksesibilitas lain seperti restriksi aliran modal, infrastruktur perdagangan, dan regulasi pasar masih kokoh di level positif.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa pergerakan indeks di sisa tahun ini akan bergantung pada hasil akhir tinjauan MSCI. Setidaknya ada dua skenario dengan probabilitas terbesar 65%—70% bahwa Indonesia akan tetap dipertahankan dalam status emerging market.
Jika skenario dasar itu terjadi, pasar berpotensi mengalami relief rally 8%—15% yang membawa IHSG menguji level 6.500—7.000 dalam 1—2 bulan ke depan seiring akumulasi asing pada saham-saham big caps yang sudah jenuh jual.
Sebaliknya, jika terjadi penurunan klasifikasi, risiko forced outflow senilai US$8—10 miliar membayangi dan dapat menyeret IHSG ke 5.200—5.500.
“Menjelang pengumuman, posisi barbell adalah yang paling aman, jangan overweight di satu posisi. Setelah ada konfirmasi positif, saham seperti BBCA dan BMRI akan menjadi first mover bagi dana asing, disusul TLKM yang memiliki katalis independen, serta AADI,” ujar Wafi kepada Bisnis.
Wafi menambahkan, jika hasil evaluasi di luar ekspektasi, saham-saham seperti AADI, PTBA, ANTM, dan INDF menjadi pilihan safe harbor karena didukung kinerja profitabilitas yang solid serta tidak terekspos risiko eksklusi indeks.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memproyeksikan saham-saham big caps yang selama ini menjadi target utama investor global akan menjadi penerima manfaat paling besar jika sentimen pasar positif.
Sektor perbankan diyakini menjadi motor penguatan indeks. Pilihan utama jatuh pada saham-saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi seperti, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Selain perbankan, saham TLKM, ASII, serta emiten komoditas skala besar berpotensi menangkap arus pemulihan modal asing ini.
Meski demikian, Liza menggarisbawahi bahwa perbaikan indeks global tidak secara otomatis membalikkan arus dana asing secara jangka panjang.
Valuasi saham domestik saat ini diakui sudah cukup murah dan menarik bagi investor global, tetapi konsistensi di dalam negeri tetap menjadi penentu utama.
“Investor tetap akan memperhatikan faktor yang lebih besar, yaitu stabilitas rupiah, disiplin fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, kualitas tata kelola, serta kepastian regulasi ke depan,” ucap Liza.
TARGET IHSG
Sementara itu, target IHSG hingga Desember 2026 diperkirakan berada di level 7.200 seiring adanya peluang pemulihan taktikal jangka pendek. Saham BBCA, ISAT, EXCL, ANTM, dan TINS pun direkomendasikan sebagai pilihan utama.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menilai bahwa pasar domestik berpeluang mengalami pemulihan taktikal.
Adapun skenario pemulihan tersebut mulai berjalan setelah indeks komposit sempat menyentuh level terendah 5.337 pada 8 Juni lalu. Realisasi itu mendekat skenario terburuk BRI Danareksa di level 5.200 yang mengasumsikan peringkat utang secara riil, sebelum akhirnya indeks kembali memantul ke area 6.225.
Erindra mencatat aksi jual investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tidak dihapus dari indeks pun mulai melandai sepekan terakhir. Mata uang rupiah juga pulih ke level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat tertekan hingga menyentuh Rp18.200 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, premi risiko komoditas minyak dan konflik geopolitik mulai mereda dengan jatuhnya harga minyak mentah jenis Brent ke kisaran rendah US$80 per barel menyusul pemberitaan kesepakatan antara AS dan Iran.
Meskipun demikian, dia menggarisbawahi pemulihan ini masih bersifat taktikal jangka pendek karena sejumlah tantangan mendasar belum sepenuhnya tuntas.
“Kami melihat ini sebagai tactical relief, mengingat risiko fiskal, prediktabilitas kebijakan dan kekhawatiran terhadap peringkat utang negara masih belum terselesaikan,” ungkap Erindra dalam riset yang dipublikasikan Rabu (17/6).
Di tengah anomali harga, BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi overweight inti pada sektor perbankan, telekomunikasi, dan logam.
Pilihan utama jatuh pada saham BBCA yang disematkan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.900. Bank swasta terbesar di Indonesia ini dinilai sebagai saham paling aman dari tekanan net interest margin (NIM).
Di sektor telekomunikasi, prospek pertumbuhan bersih ditawarkan oleh ISAT dengan rekomendasi beli dan target harga di Rp3.000, serta EXCL memiliki target harga Rp3.700. Rekomendasi beli juga diberikan kepada ANTM dengan target harga Rp4.800 serta target harga TINS di level Rp4.500 per saham.
Secara keseluruhan, Erindra mempertahankan target IHSG Desember 2026 di level 7.200. Posisi indeks saat ini dinilai telah mengantisipasi skenario terburuk, sehingga arah pergerakan selanjutnya bakal sangat bergantung pada hasil akhir tinjauan aksesibilitas pasar MSCI serta penilaian peringkat utang oleh S&P.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IHSG Melonjak 7,38% Sepekan, Saham BBCA, BMRI hingga TPIA Jadi Top Leaders
HSG menguat 7,38% sepanjang periode 8–12 Juni 2026, ditopang oleh saham-saham top leaders seperti BBCA, BMRI, dan SMMA. [568] url asal
#ihsg #top-leaders-ihsg #saham-penggerak-ihsg #bbca #bmri #bbri #bbni #brpt #bren #tpia #dssa #smma #saham-bank #saham-prajogo-pangestu #reli-ihsg #saham-blue-chip #market-cap-free-float #saham-top-gai
(Bisnis.Com - Market) 14/06/26 06:15
v/249411/
Bisnis.com, JAKARTA — Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 7,38% sepanjang periode perdagangan 8—12 Juni 2026 ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam jajaran top leaders. Beberapa emiten yang menjadi motor utama penguatan indeks di antaranya BBCA, BMRI, hingga TPIA.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi penopang utama laju indeks komposit sepanjang pekan lalu. Saham BBCA melesat 16,75% dalam sepekan dan berkontribusi sebesar 79,63 poin terhadap penguatan IHSG. Kapitalisasi pasar free float (MCFF) emiten perbankan swasta terbesar itu tercatat mencapai Rp274,6 triliun.
Posisi kedua ditempati oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menguat 9,38% sepekan dan menopang gerak IHSG sebesar 28,17 poin. Selanjutnya, saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menjadi motor penguatan indeks berikutnya setelah naik 17,5% sepekan dengan kontribusi sebesar 24,26 poin.
Sementara itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turut masuk dalam daftar top leaders. Saham DSSA melesat 35,25% dan menyumbang 18,96 poin terhadap IHSG, sedangkan BREN naik 13,65% dengan kontribusi sebesar 18,08 poin.
Posisi berikutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang menguat 4,01% dalam sepekan dan menopang indeks sebesar 17,25 poin. Adapun saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turut menjadi motor penguatan IHSG setelah naik 14,86% dan berkontribusi sebesar 12,38 poin.
Selanjutnya, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) ikut menopang pergerakan indeks komposit dengan tambahan 11,33 poin setelah sahamnya naik 10,9% sepekan. Emiten petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga masuk jajaran top leaders setelah melesat 41,76% dan menyumbang 11,27 poin terhadap IHSG.
Adapun posisi terakhir ditempati oleh PT Ekamas Fortuna Tbk. (MORA) yang menguat 10,96% sepanjang pekan dan berkontribusi sebesar 11,21 poin terhadap penguatan IHSG.
Berikut daftar top leaders atau saham penggerak IHSG sepekan 8—12 Juni 2026:
| Kode | Price (%) | MCFF (Rp triliun) | IHSG (poin) |
|---|---|---|---|
| BBCA | 16,75 | 247,60 | 79,63 |
| BMRI | 9,38 | 146,58 | 28,17 |
| SMMA | 17,50 | 72,67 | 24,26 |
| DSSA | 35,25 | 32,45 | 18,96 |
| BREN | 13,65 | 67,14 | 18,08 |
| BBRI | 4,01 | 199,36 | 17,25 |
| BRPT | 14,86 | 42,66 | 12,38 |
| BBNI | 10,90 | 51,42 | 11,33 |
| TPIA | 41,76 | 17,06 | 11,27 |
| MORA | 10,96 | 50,60 | 11,21 |
IHSG Naik 7,38% Sepekan
Indeks harga saham gabungan (IHSG) melonjak 7,38% sepanjang perdagangan pekan ini pada periode 8-12 Juni 2026 hingga kembali menembus level 6.000.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan IHSG parkir di level 6.007,656 dari posisi 5.594,765 pada pekan sebelumnya.
Sejalan dengan penguatan IHSG, kapitalisasi pasar Bursa turut meningkat 7,31% menjadi Rp10.524 triliun dari Rp9.807 triliun pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian naik 4,14% menjadi 2,51 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,41 juta kali transaksi.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian meningkat 7,46% menjadi 36,14 miliar lembar saham dari 33,63 miliar lembar saham pada pekan lalu.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian justru turun 7,07% menjadi Rp25,06 triliun dari Rp26,97 triliun pada pekan sebelumnya.
Adapun, investor asing pada perdagangan Jumat (12/6/2026) mencatatkan beli bersih sebesar Rp287,84 miliar. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing masih membukukan jual bersih Rp67,344 triliun.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IHSG Naik 7% Sepekan, BBCA hingga BRPT Jadi Pendorong Terbesar
Penguatan IHSG hingga 7% selama sepekan didorong oleh sejumlah saham mulai dari BBCA hingga BRPT. [296] url asal
#ihsg #top-leaders-ihsg #saham-penggerak-ihsg #bbca #bmri #bbri #bbni #brpt #bren #tpia #dssa #smma #saham-bank #saham-prajogo-pangestu #reli-ihsg #saham-blue-chip #market-cap-free-float #saham-top-gai
(Bisnis.Com - Market) 13/06/26 11:39
v/249075/
Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan mengalami penguatan signifikan hingga 7,38%. Sejumlah saham menjadi top leaders yang mendorong penguatan IHSG selama sepekan terakhir, mulai dari BBCA hingga BRPT.
Peringkat pertama saham dalam jajaran top leaders sepekan ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang berkontribusi sebesar 79,63 poin terhadap penguatan IHSG. Saham BBCA sendiri tercatat melonjak 16,75% selama sepekan dengan nilai market cap free float (MCFF) mencapai Rp274,6 triliun.
Posisi kedua ditempati oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menyumbang 28,17 poin terhadap IHSG. Harga saham BMRI naik 9,38% dengan MCFF mencapai Rp146,5 triliun.
Selanjutnya, PT Sinarmas Multiartha Tbk. (SMMA) berada di posisi ketiga setelah memberikan kontribusi 24,26 poin terhadap IHSG. Saham SMMA menguat 17,5% dengan MCFF sebesar Rp72,67 triliun.
Top leaders berikutnya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). Saham DSSA naik 35,25% dengan kontribusi 18,96 poin terhadap IHSG, sedangkan saham BREN menguat 13,65% dan menyumbang 18,08 poin terhadap IHSG.
Kemudian, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turut masuk jajaran top leaders sepekan. Saham BBRI melesat 4,01% dengan kontribusi 17,25 poin terhadap IHSG, sementara saham BRPT naik 14,86% dan berkontribusi 12,38 poin.
Selain itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turut menopang laju IHSG dengan kontribusi 11,33 poin setelah harga sahamnya naik 10,9% selama sepekan.
Adapun saham lain yang masuk daftar top leaders sepekan yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang menyumbang 11,27 poin terhadap IHSG setelah naik 41,76%. Selanjutnya, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) berkontribusi 11,21 poin dengan kenaikan harga saham sebesar 10,96%.
IHSG Hari Ini Bakal Lanjut Menguat? Ritel Bisa Cermati Saham TLKM, BMRI, BBNI, hingga HRTA
IHSG diprediksi lanjut menguat menuju 6.000-6.300! Simak rekomendasi saham pilihan untuk investor. [526] url asal
#saham-blue-chip #rekomendasi-saham #ihsg #dollar-cost-averaging
(Kompas.com - Money) 10/06/26 06:31
v/245448/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan lanjut menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026), setelah indeks ditutup menguat 7,57 persen pada Selasa (9/6/2026).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut setelah IHSG berhasil keluar dari tekanan ekstrem dan kembali bergerak di atas level psikologis 5.700, indeks berpotensi melanjutkan reli menuju area 6.000-6.300.
Kendati potensi itu masih bergantung pada sejumlah faktor pendukung, antara lain membaiknya sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kemampuan pemerintah menghadirkan kebijakan yang dapat kembali meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Menurutnya, meski pasar masih dihadapkan pada banyak tantangan, pasar kini justru mulai menghadirkan peluang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Banyak saham berkapitalisasi besar atau blue chip dengan fundamental kuat saat ini diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historis-nya.
“Pasar saat ini menawarkan banyak perusahaan berkualitas dengan harga yang telah terdiskon akibat tekanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, investor disarankan tidak melakukan pembelian sekaligus dalam jumlah besar,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Selasa malam.
Sebaliknya, pendekatan yang dinilai tepat adalah melakukan akumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging. Strategi tersebut penting mengingat volatilitas pasar masih tinggi dan potensi koreksi jangka pendek masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain itu, investor juga perlu lebih selektif dalam memilih emiten dengan fokus pada perusahaan yang memiliki neraca keuangan kuat, arus kas yang sehat, serta kemampuan mempertahankan profitabilitas.
Adapun, Hendra merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor ritel untuk perdagangan Rabu, diantaranya;
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 2.760 per saham. TLKM memiliki karakter defensif, didukung arus kas yang stabil serta kebutuhan layanan data yang terus bertumbuh.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 4.300 per saham. BMRI memiliki tingkat pencadangan yang kuat dan kualitas aset yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata industri.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 3.420 per saham. Emiten perbankan pelat merah ini juga dinilai menarik karena menawarkan potensi pemulihan seiring meningkatnya efisiensi operasional dan pertumbuhan kredit korporasi.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 2.930 per saham tetap layak diperhatikan karena memiliki posisi dominan pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan kualitas kredit pada segmen tersebut apabila tekanan terhadap daya beli masyarakat terus berlanjut.
Sementara itu, analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, merekomendasikan saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Saham HRTA direkomendasikan dengan rentang target harga di kisaran Rp 2.220-Rp 2.400 per saham.
Saham CDIA memiliki target pergerakan di area Rp 715-Rp 770 per saham.
Sedangkan saham INET diproyeksikan bergerak menuju harga Rp 196-Rp 214 per saham.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Melesat Usai BI Rate Naik, Analis Ungkap Peluang dan Risiko bagi Investor
IHSG pulih 7,57%, namun investor ritel dihadapkan tantangan suku bunga tinggi BI. [571] url asal
#investor-ritel #saham-blue-chip #suku-bunga-bi #ihsg-pulih
(Kompas.com - Money) 10/06/26 06:17
v/245427/
JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah sempat terpuruk akibat tekanan jual masif beberapa pekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) perlahan pulih.
Indeks menguat 404,511 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,648 pada penutupan pada perdagangan, Selasa (9/6/2026).
Namun, di balik reli tajam yang membawa indeks keluar dari zona tekanan ekstrem, investor ritel masih dihadapkan pada berbagai tantangan.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelaku pasar tidak bisa mengabaikan berbagai tantangan yang masih membayangi perekonomian domestik.
Salah satu risiko terbesar berasal dari tingginya tingkat suku bunga acuan atau BI Rate yang diterapkan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi.
Tingginya suku bunga berpotensi menekan permintaan kredit, memperlambat ekspansi dunia usaha, dan mengurangi aktivitas konsumsi masyarakat.
Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.
Keputusan itu diumumkan setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa.
Di saat yang sama, daya beli masyarakat dinilai masih lemah lantaran kenaikan biaya hidup tidak sepenuhnya diimbangi peningkatan pendapatan.
“Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, maka pertumbuhan ekonomi domestik dapat melambat dan berpengaruh terhadap kinerja emiten yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Selasa malam.
Di sisi lain, sektor perbankan yang selama ini menjadi motor utama pergerakan IHSG juga menghadapi tantangan tersendiri.
Kenaikan suku bunga memang berpotensi meningkatkan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM). Namun manfaat itu dapat berkurang apabila kualitas kredit mulai mengalami penurunan.
Menurutnya, investor mulai mencermati potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) saat suku bunga lebih tinggi.
Ketika bunga pinjaman meningkat, beban cicilan rumah tangga dan dunia usaha ikut bertambah.
Risiko gagal bayar berpotensi meningkat terutama pada segmen usaha kecil dan menengah, sektor yang sensitif terhadap pelemahan daya beli, serta debitur yang memiliki tingkat utang tinggi.
“Dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, beban cicilan rumah tangga dan dunia usaha ikut meningkat. Risiko gagal bayar dapat bertambah terutama pada segmen usaha kecil dan menengah serta debitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap konsumsi domestik,” paparnya.
Hingga kini kualitas aset perbankan besar masih relatif terjaga.
Kendati begitu Hendra menilai pasar terus memantau apakah perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli mulai tecermin pada kenaikan NPL dalam beberapa kuartal mendatang.
Hal itu menjadi alasan mengapa investor asing masih cenderung berhati-hati, meskipun valuasi saham perbankan jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Meski begitu, Hendra memandang bahwa kondisi pasar saat ini justru mulai menghadirkan peluang yang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Banyak saham blue chip dengan fundamental kuat diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historis-nya.
Secara sederhana, pasar saat ini sedang menawarkan banyak perusahaan berkualitas dengan harga diskon besar akibat tekanan beberapa waktu terakhir.
Namun pendekatan yang digunakan sebaiknya bukan membeli sekaligus dalam jumlah besar, tetapi mengakumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging.
Strategi itu penting karena volatilitas masih tinggi dan kemungkinan koreksi jangka pendek tetap dapat terjadi sewaktu-waktu.
Investor perlu lebih selektif memilih emiten yang memiliki neraca keuangan kuat, arus kas sehat, dan kemampuan mempertahankan profitabilitas.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli?
Saham BBCA dan saham BBRI terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir setelah dibayangi aksi jual investor asing [827] url asal
#investor-asing #pasar-saham #investasi-saham #saham-blue-chip #saham-bbca #saham-bbri #bursa-efek-indonesia #saham-perbankan
(Kompas.com - Money) 05/06/26 09:42
v/240743/
JAKARTA, KOMPAS.com – Saham BBCA dan saham BBRI terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir setelah dibayangi aksi jual investor asing sepanjang tahun ini.
Di tengah koreksi yang dalam, sejumlah analis justru menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.
Tekanan terhadap kedua saham perbankan berkapitalisasi besar itu terjadi seiring pelemahan pasar saham domestik. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,70 persen atau turun 101,28 poin ke level 5.839,78.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 623 saham ditutup melemah, 106 saham menguat, dan 85 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp 25,33 triliun dengan volume perdagangan 39,31 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,29 juta kali. Sementara kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp 10.284,95 triliun.
Saham BBCA dan BBRI kembali ke level lima tahun lalu
Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), saham BBCA turun 1,81 persen ke level Rp 5.425 per saham. Secara tahun berjalan (year to date/YtD), harga saham BBCA telah terkoreksi 32,82 persen.
Sementara itu, saham BBRI merosot lebih dalam, yakni 3,10 persen ke level Rp 2.810 per saham. Sepanjang 2026, saham bank pelat merah tersebut telah turun 23,22 persen.
Jika dibandingkan dengan posisi pada 4 Juni 2021, harga BBCA kini telah melemah 17,80 persen, sedangkan BBRI turun lebih dalam hingga 33,94 persen.
Kondisi ini menjadikan kedua saham tersebut berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Adapun saham bank besar lainnya, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), juga mengalami tekanan. Namun, harga kedua saham tersebut masih berada di atas level yang dicatatkan lima tahun lalu.
Investor asing ramai-ramai keluar
Penurunan harga saham BBCA dan BBRI tidak terlepas dari derasnya aksi jual investor asing sepanjang tahun ini.
BBCA mencatatkan nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 31,34 triliun sepanjang 2026. Sementara net sell asing di saham BBRI mencapai Rp 9,57 triliun.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan kepemilikan investor asing di BBCA pada akhir Mei 2026 turun 10,07 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Saat ini investor asing menguasai sekitar 36,91 miliar lembar saham BBCA.
Di sisi lain, kepemilikan asing di BBRI juga menyusut 6 persen dibandingkan akhir tahun lalu menjadi sekitar 41,6 miliar lembar saham.
Rupiah dan BI rate jadi tekanan utama
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ada dua faktor utama yang menekan saham-saham perbankan besar, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut dia, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sempat memicu kekhawatiran investor terhadap prospek kinerja sektor perbankan sehingga mendorong aksi jual.
Meski demikian, Nafan menilai dampak kenaikan suku bunga tersebut cenderung bersifat jangka pendek karena fundamental bank-bank besar masih terjaga.
"Kinerja empat bank besar sejauh ini masih solid pada empat bulan pertama 2026. BBCA dan BBRI juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih," ujarnya.
Ia menambahkan, sentimen yang lebih dominan saat ini berasal dari pelemahan rupiah. Menurut Nafan, sektor perbankan memiliki korelasi kuat dengan kondisi makroekonomi domestik sehingga depresiasi mata uang berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar saham.
"Sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makro domestik. Pelemahan kurs rupiah dapat memicu aksi offload investor asing," kata Nafan.
Ia juga menilai BBCA dan BBRI menjadi saham yang paling sensitif terhadap sentimen pasar karena memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Masih layak dikoleksi?
Di tengah tekanan yang masih berlangsung, Nafan tetap merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham perbankan besar.
Ia mematok target harga BBCA di level Rp 8.375 per saham dan BBRI sebesar Rp 3.670 per saham.
Pandangan serupa disampaikan Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo. Menurut dia, secara teknikal saham BBCA tengah membentuk pola candle doji, yakni kondisi ketika pergerakan harga berada dalam rentang yang sempit antara kenaikan dan penurunan.
Jika mampu memantul dari area tersebut, BBCA berpotensi bergerak menuju kisaran Rp 5.875 hingga Rp 5.900 per saham dengan level support di Rp 5.300.
Sementara untuk BBRI, Aziz menilai area support berada di level Rp 2.780 per saham. Ia melihat kondisi saat ini sebagai momentum akumulasi dengan target harga jangka pendek di sekitar Rp 3.070 per saham.
Menurut Aziz, valuasi saham-saham bank besar saat ini sudah berada di level yang relatif murah sehingga dapat menjadi peluang bagi investor yang ingin mulai mengoleksi saham sektor perbankan.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Investor Asing Kabur, Saham BBCA & BBRI Terjun Bebas: Saatnya Beli?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Turun 18 Poin, Simak Sentimen Hari Ini
Perdagangan saham pagi ini dibuka di zona merah. IHSG turun 0,29 persen, sedangkan LQ45 masih bergerak positif. [296] url asal
#ihsg-hari-ini #ihsg-melemah #bursa-efek-indonesia #saham-hari-ini #lq45 #pasar-saham-indonesia #ihsg-terbaru #indeks-saham #saham-blue-chip #bei #pergerakan-ihsg #investasi-saham #saham-un
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Rabu pagi. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap investor yang masih mencermati sentimen global dan domestik.IHSG pagi ini turun 18,48 poin atau 0,29 persen ke level 6.352,20 pada awal perdagangan.
Meski IHSG melemah, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 justru masih mampu bergerak positif.
Indeks LQ45 tercatat naik tipis 0,19 poin atau 0,03 persen ke posisi 635,01.
IHSG mengikuti arah bursa AS
Pergerakan IHSG hari ini sejalan juga pada penutupan perdagangan di bursa Wall Street ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,65 persen ke level 49.363,88. Sementara itu, S&P 500 melemah -0,67 persen ke 7.353,61, dan Nasdaq Composite melemah -0,84 persen menjadi 25.870,71.Pelemahan IHSG
Pada perdagangan terakhir, IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 3,46 persen ke level 6.370, meskipun investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp306 miliar di pasar reguler.Tekanan pasar terutama berasal dari saham-saham konglomerasi dan komoditas seiring munculnya rumor terkait rencana pemerintah membentuk badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis, mencakup batu bara, CPO, hingga mineral logam.
"Isu tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengendalian harga jual yang dapat menekan margin dan profitabilitas emiten terkait," jelas Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut tim riset, secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berpotensi bergerak dalam tekanan dengan area support di 6.322 dan resistance pada 6.635.
"Fokus pasar selanjutnya tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,00 persen, serta pidato Presiden Prabowo terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar jangka pendek," jelasnya.
(ANN)
IHSG Berpeluang Bangkit di Tengah Potensi Rotasi Saham Blue Chip
IHSG berpotensi rebound didorong rotasi modal asing ke saham blue chip perbankan, meski tertekan rebalancing MSCI. Outflow asing diprediksi melandai. [481] url asal
#ihsg-rebound #ihsg-potensi #ihsg-rotasi #saham-blue-chip #saham-perbankan #outflow-asing #msci-rebalancing #indeks-msci #saham-indonesia #modal-asing #saham-berfundamental-kuat #saham-perbankan-jumbo
(Bisnis.Com - Market) 16/05/26 17:53
v/222508/
Bisnis.com, JAKARTA — Meskipun mencatatkan performa terburuk di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik akibat sentimen rebalancing indeks MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melakukan rebound.
IHSG diketahui mencatatkan performa terburuk di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dan Asia Pasifik sepanjang pekan perdagangan 11—13 Mei 2026.
Berdasarkan data Global Index Comparison, indeks komposit parkir di zona merah dengan koreksi sebesar 3,53% ke level 6.723,32. Penurunan ini kontras jika dibandingkan dengan performa bursa ASEAN lainnya.
Singapore Straits Times Index (STI), misalnya, justru melonjak 1,67%, disusul oleh Thailand SET Index yang tumbuh 1,13% pada periode yang sama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan hebat yang dialami bursa domestik bersifat sangat spesifik terhadap isu lokal, yakni hasil tinjauan indeks MSCI Mei 2026 yang mendepak 18 saham Indonesia secara neto.
Pelemahan IHSG semakin terlihat mencolok jika ditarik ke skala Asia Pasifik. Bursa Korea Selatan (KOSPI) justru terbang dengan kenaikan 4,61%, sementara bursa China (SSE Composite) dan Jepang (Nikkei 225) juga mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan masing-masing 1,50% dan 0,89%.
Kendati demikian, tekanan jual akibat penataan ulang atau rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026 dinilai mulai mencapai titik jenuh. Meski 18 saham domestik keluar dari daftar indeks global itu, ada peluang pemulihan IHSG yang didorong oleh potensi rotasi modal asing ke saham-saham berfundamental kuat.
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, kekhawatiran pasar terhadap eksodus modal asing kini mulai mereda seiring dengan estimasi arus keluar atau outflow yang ternyata jauh lebih rendah dari prediksi awal.
Jika sebelumnya pasar sempat didera kepanikan dengan skenario outflow di atas Rp50 triliun, proyeksi terbaru kini berada di kisaran yang lebih moderat, yakni Rp27,8 triliun sampai dengan Rp34,7 triliun.
“Tekanan MSCI kelihatannya menyeramkan di permukaan, namun dampak riilnya kemungkinan tidak seburuk headline yang beredar,” tulis riset Kiwoom yang dikutip Sabtu (16/5/2026).
Di sisi lain, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI justru diyakini akan meningkatkan bobot relatif saham-saham blue chip dan perbankan jumbo.
Hal itu membuka ruang bagi rotasi likuiditas asing ke emiten dengan profil tata kelola dan likuiditas yang lebih sehat seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).
"Secara global, banyak saham yang keluar dari indeks MSCI kali ini. Namun, bagi pasar domestik, hal ini justru berpotensi mengarahkan kembali minat asing ke saham-saham perbankan raksasa kita," tulis riset tersebut.
Secara teknikal, meskipun IHSG sempat menyentuh level terendah tahun ini di 6.762, pasar melihat adanya peluang untuk menetralisir tekanan jual. Jika IHSG mampu menembus area resistance terdekat di kisaran 6.980–7.015, maka momentum rebound menuju zona hijau diperkirakan akan semakin kuat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
MSCI Coret 19 Saham RI, OJK Sebut Jadi Momentum Reformasi Pasar Modal
Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghapus 19 saham Indonesia dari indeks global memicu tekanan di pasar saham domestik. [1,267] url asal
#pasar-saham #saham-blue-chip #indepth #saham-indonesia #msci #rebalancing-msci
(Kompas.com - Money) 13/05/26 19:50
v/220694/
JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghapus 19 saham Indonesia dari indeks global memicu tekanan di pasar saham domestik.
Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi tersebut menjadi momentum untuk melanjutkan reformasi pasar modal Indonesia dan memperkuat integritas pasar keuangan domestik.
Pengumuman hasil rebalancingMSCI pada 12 Mei 2026 langsung memicu reaksi pasar. Tekanan diperkirakan berasal dari fund manager pasif global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
PIXABAY Ilustrasi saham.Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar diminta tidak terjebak dalam panic selling karena perubahan komposisi indeks dinilai lebih bersifat teknikal dibanding mencerminkan pelemahan fundamental emiten.
Co Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan, penghapusan sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI tidak serta-merta menunjukkan adanya kerusakan fundamental perusahaan.
“Pelaku pasar seharusnya lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual. Penghapusan sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas,” ujar Hans, Rabu (13/5/2026).
Menurut Hans, banyak pelaku pasar dan fund manager sebenarnya telah mengantisipasi penghapusan saham tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
“Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI,” kata Hans.
KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghapus 19 saham Indonesia dari indeks global memicu tekanan di pasar saham domestik.OJK sebut rebalancing MSCI jadi momentum reformasi
OJK menyatakan terus mencermati pengumuman index review rebalancing MSCI yang dirilis pada 12 Mei 2026 serta memantau pergerakan pasar modal domestik pasca-pengumuman tersebut.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala berdasarkan sejumlah parameter seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham.
“Perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham. Rebalancing ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga hampir seluruh pasar Asia-Pasifik pada review kali ini,” kata Friderica.
Friderica mencontohkan, Jepang mengalami 14 emiten keluar dari MSCI Global Standard Index, Taiwan tujuh emiten, Malaysia enam emiten, dan Korea Selatan tiga emiten. Sementara Tiongkok, meski menambah 22 emiten baru, juga mengalami 24 emiten keluar dari indeks.
Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan adanya penyesuaian global portfolio allocation dan dinamika pasar yang terjadi secara luas di berbagai negara, bukan semata isu spesifik Indonesia.
“Hali ini mencerminkan adanya penyesuaian global portfolio allocation dan dinamika pasar yang cukup luas di berbagai negara dan bukan semata isu spesifik Indonesia,” ujar Friderica.
Friderica menegaskan, OJK memandang hasil rebalancing MSCI sebagai momentum untuk memperkuat integritas dan pendalaman pasar modal Indonesia.
“Kami memandang ini sebagai momentum untuk terus memperkuat integritas dan pendalaman pasar modal Indonesia. OJK bersama seluruh stakeholders akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” kata dia.
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.Menurut Friderica, fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil sehingga volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen regulator dalam mewujudkan pasar modal yang sehat, transparan, dan kredibel.
19 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI
MSCI resmi mengumumkan hasil tinjauan berkala atau index review periode Mei 2026 pada Rabu (13/5/2026).
Hasil rebalancing MSCI kali ini dinilai mengejutkan pelaku pasar karena jauh melenceng dari ekspektasi.
Dalam penyesuaian tersebut, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Meski keluar dari MSCI Global Standard Indexes, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.
Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG), dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN).
MSCI menyebut seluruh perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Tekanan jangka pendek diperkirakan terjadi
SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan keluarnya saham-saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes berpotensi memicu aksi jual investor asing, khususnya fund manager yang menggunakan MSCI sebagai acuan portofolio investasi.
“Hemat saya outflow ya pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru,” ujar Nafan.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, hasil rebalancing MSCI sebenarnya telah diantisipasi sebelumnya.
Menurut Hasan, keluarnya sejumlah emiten Indonesia dari indeks MSCI merupakan konsekuensi jangka pendek dari proses reformasi integritas pasar modal yang dilakukan OJK dan self-regulatory organization (SRO).
“Secara struktural ini tentu akan memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak. Sehingga istilah short-term pain, bahwa kita harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek ini menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” kata Hasan.
Hasan mengatakan, pengumuman rebalancing MSCI kali ini akan menjadi momentum pembentukan baseline baru pasar modal Indonesia untuk menghadirkan kualitas saham-saham tercatat yang lebih baik di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kita harapkan akan membentuk baseline baru, untuk kemudian ke depan akan semakin menghadirkan kualitas saham-saham tercatat di Bursa, dan tentu semakin banyak kita harapkan nanti saham-saham tersebut kita dorong untuk menjadi pilihan investasi para investor,” ujar Hasan.
Transparansi dinilai jadi kunci
Hans menilai volatilitas jangka pendek akibat rebalancing MSCI justru membuka peluang akumulasi pada saham-saham blue chip maupun small cap yang mengalami koreksi berlebihan akibat tekanan jual paksa oleh fund manager pasif.
Dokumentasi OJK Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital, dan Kripto OJK Hasan Fawzi.“Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa,” ujar dia.
Menurut Hans, pengumuman MSCI kali ini juga dapat menjadi momentum evaluasi pasar modal Indonesia untuk memperkuat transparansi dan perlindungan investor.
Ia mengatakan, transparansi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengikuti jejak India yang berhasil kembali menjadi primadona pasar berkembang.
Dalam konteks itu, Hans menilai peran OJK dan SRO seperti Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menjadi sangat vital.
“Peran OJK dan SRO sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil,” kata Hans.
Ia menambahkan, keterbukaan informasi yang lebih real-time dan reformasi perlindungan investor minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI.
Menurut Hans, India berhasil pulih setelah menyelaraskan batas kepemilikan asing dan memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi secara masif.
“Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum ‘pembersihan’ untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel,” ujar Hans.
Hans juga menilai pengumuman MSCI kali ini dapat menjadi titik bawah koreksi IHSG sebelum kembali bergerak mengikuti fundamental perusahaan.
“Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan,” kata Hans.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Rebalancing MSCI Buka Peluang Akumulasi Saham Blue Chip dan Small Cap
Praktisi pasar modal menilai tekanan akibat MSCI hanya bersifat teknikal. [541] url asal
#rebalancing-msci #pasar-modal-indonesia #ihsg #saham-blue-chip #panic-selling #otoritas-jasa-keuangan-ojk #fund-manager #keterbukaan-informasi #saham-kecil-small-cap #volatilitas-pasar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Praktisi pasar modal yang juga Co-founder PasarDana Hans Kwee menanggapi dampak pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Mei 2026 yang mendepak sejumlah saham di pasar modal Indonesia. Menurutnya, ada peluang potensial yang bisa dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan dari momentum tersebut.
“Pasar saham bereaksi atas pengumuman rebalancing MSCI 12 Mei 2026. Tetapi pelaku pasar seharusnya lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling),” kata Hans dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (13/5/2026).
Ia menuturkan, perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks MSCI lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas. Bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut.
Selain itu, banyak pelaku pasar dan fund manager sudah mengantisipasi penghapusan saham tersebut oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir. Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir pada 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI.
“Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif,” ungkapnya.
Hans mengatakan, transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India. Dalam hal itu, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi untuk memastikan pasar yang lebih adil.
“Upaya SRO dalam mendorong keterbukaan informasi yang lebih real-time serta langkah tegas OJK dalam mereformasi perlindungan investor minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI,” tuturnya.
Ia mencontohkan, India sendiri berhasil pulih dan menjadi primadona pasar berkembang dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi yang masif. Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum ‘pembersihan’ untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel.
“Bagi investor Indonesia, inilah saatnya melakukan evaluasi portofolio secara objektif, karena pasar yang mampu berbenah pasca-koreksi teknikal sering kali menghasilkan pertumbuhan yang jauh lebih tangguh dalam jangka panjang. Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan,” tegasnya.
Diketahui sebelumnya, lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengumumkan hasil tinjauan indeks pasar Indonesia dalam MSCI May 2026 Index Review.
Dalam pengumuman rebalancing indeks MSCI, enam saham Indonesia resmi dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Index. Keenam saham tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
MSCI juga menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham tersebut yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56