KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengajukan gugatan senilai 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 84,13 triliun terhadap bank terbesar di AS, JPMorgan Chase. Trump menuding bank tersebut menutup rekening miliknya secara ilegal karena alasan politik.
Gugatan tersebut juga mencantumkan nama CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon. Trump menyatakan, penutupan rekening itu telah menyebabkan kerugian finansial dan reputasi yang besar bagi dirinya dan bisnisnya.
Penutupan rekening dilakukan pada 2021, tak lama setelah kerusuhan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021, ketika para pendukung Trump mendatangi Capitol untuk mengganggu proses pengesahan hasil pemilu.
Respons JPMorgan Chase
Dikutip dari BBC, Jumat (23/1/2026), JPMorgan Chase membantah tudingan tersebut. Juru bicara bank menyatakan bahwa gugatan Trump tidak memiliki dasar.
“Gugatan ini tidak memiliki merit. JPMC tidak menutup rekening karena alasan politik atau agama,” kata perwakilan JPMorgan Chase.
Bank menegaskan bahwa penutupan rekening dilakukan karena alasan hukum dan regulasi.
“Kami menutup rekening karena menimbulkan risiko hukum atau regulasi bagi perusahaan,” lanjut pernyataan tersebut.
Gugatan ini menjadi konflik terbaru antara Trump dan Jamie Dimon, yang telah memimpin JPMorgan Chase selama dua dekade. Dalam beberapa pekan terakhir, Dimon juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Trump.
Dimon mengkritik rencana pembatasan bunga kartu kredit, kebijakan imigrasi, serta sikap pemerintahan terhadap Federal Reserve (The Fed).
Gugatan Diajukan di Florida
Gugatan diajukan di Florida, negara bagian yang melarang bank mendiskriminasi nasabah berdasarkan pandangan politik.
Dalam dokumen gugatan, Trump menyebut keputusan JPMorgan sebagai indikator praktik sistemik di industri perbankan.
Trump menilai praktik tersebut bertujuan “memaksa publik untuk mengubah dan menyesuaikan pandangan politik mereka”.
Gugatan itu juga menyebut bahwa keputusan JPMorgan didorong oleh “keyakinan ‘woke’ yang tidak berdasar” untuk menjauhkan diri dari Trump dan pandangan politik konservatifnya.
“Pada dasarnya, JPMC menutup rekening para penggugat karena meyakini bahwa arus politik saat itu menguntungkan langkah tersebut,” demikian isi gugatan.
WIKIMEDIA COMMONS/STEVE JURVETSON CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon.Tuduhan Daftar Hitam
Trump juga menuduh JPMorgan melakukan pencemaran nama baik dalam perdagangan. Ia menilai bank memasukkan namanya, serta nama bisnis dan/atau keluarganya, ke dalam daftar hitam.
Daftar tersebut disebut dibagikan kepada bank lain untuk mengidentifikasi individu dengan riwayat aktivitas yang dianggap bermasalah. Trump mengeklaim keputusan tersebut disetujui langsung oleh Jamie Dimon.
Setelah kerusuhan Capitol, sejumlah perusahaan memang memilih menghentikan hubungan bisnis dengan Trump.
Debanking Jadi Isu Utama
Dalam pernyataan terpisah, JPMorgan menyatakan penyesalan atas penutupan rekening tersebut, tetapi menegaskan keputusan itu dipicu oleh aturan dan ekspektasi regulator.
“Kami telah meminta pemerintahan saat ini dan sebelumnya untuk mengubah aturan dan regulasi yang menempatkan kami pada posisi seperti ini, dan kami mendukung upaya pemerintah mencegah penggunaan sektor perbankan sebagai alat politik,” ujar JPMorgan.
Isu debanking atau penutupan rekening menjadi perhatian utama Trump. Ia secara terbuka mengkritik JPMorgan dan bank-bank lain terkait praktik tersebut serta memerintahkan peninjauan aktivitas perbankan.
Bulan lalu, regulator menyatakan sembilan bank terbesar di Amerika Serikat terbukti membuat pembedaan yang tidak semestinya terhadap nasabah berdasarkan jenis usaha.
Sektor seperti minyak dan gas, penjara swasta, serta hiburan dewasa dilaporkan menghadapi pembatasan akses layanan perbankan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang