#30 tag 24jam
BNC pastikan operasional tetap berjalan, tak terdampak keputusan OJK
PT Bank Neo Commerce Tbk atau BNC (BBYB) memastikan kegiatan operasional bank hingga layanan nasabah tetap berjalan dan tak terdampak keputusan Otoritas Jasa ... [335] url asal
Seluruh layanan perbankan digital BNC tetap beroperasi secara normal, termasuk layanan produk Wealth Management, di antaranya reksa dana, bancassurance, layanan emas
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Neo Commerce Tbk atau BNC (BBYB) memastikan kegiatan operasional bank hingga layanan nasabah tetap berjalan dan tak terdampak keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Seluruh layanan perbankan digital BNC tetap beroperasi secara normal, termasuk layanan produk Wealth Management, di antaranya reksa dana, bancassurance, layanan emas, serta produk dan layanan perbankan digital lainnya,” kata Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Eri Budiono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Putusan yang dimaksud tertuang dalam Keputusan Dewan Komisioner OJK No. KEP-3/PM.13/2026 tentang Pembatalan Surat Tanda Terdaftar Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level I PT Bank Neo Commerce Tbk.
Keputusan itu berkaitan dengan pembatalan izin bagi bank untuk memberikan referal kepada perusahaan sekuritas kepada nasabah yang memiliki minat dalam melakukan perdagangan saham.
BNC menjelaskan program referal tersebut direncanakan sebagai produk baru untuk mengembangkan layanan Wealth Management. Namun, program tersebut belum diluncurkan lantaran bank masih mematangkan kesiapan operasional, sistem, serta pengalaman nasabah sebelum mengimplementasikan program.
“Dalam setiap aktivitas operasional dan pengambilan keputusan bisnis, BNC memastikan penerapan manajemen risiko yang terukur serta kepatuhan terhadap seluruh ketentuan dan peraturan yang berlaku dari otoritas terkait,” ujar Eri.
Untuk itu, BNC menghormati keputusan OJK dan akan berkoordinasi secara aktif dengan pihak terkait.
“Bank Neo Commerce menghormati sepenuhnya setiap kebijakan dan arah pengaturan yang diterapkan oleh regulator terkait dan akan terus menjalin koordinasi secara aktif guna memastikan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku,” jelas Eri.
Bank menyatakan akan terus berkomitmen untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang aman, lengkap, dan berdaya saing bagi masyarakat Indonesia.
Seluruh layanan saat ini juga dapat diakses secara penuh tanpa gangguan.
“Kami menegaskan bahwa keamanan transaksi nasabah pada seluruh produk dan layanan di aplikasi neobank milik Bank Neo Commerce yang saat ini dapat diakses oleh masyarakat telah memiliki perizinan yang sah, serta diawasi oleh regulator, baik oleh OJK maupun Bank Indonesia,” tutur Eri.
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
IHSG Anjlok 8%, BEI Aktifkan Trading Halt Hentikan Sementara Perdagangan Saham
BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan saham atau trading halt pada Rabu (28.1) menyusul penurunan tajam IHSG yang mencapai 8% ke level 8.261. PT Bursa Efek... | Halaman Lengkap [160] url asal
#bursa-efek-indonesia-bei #ihsg #perdagangan-saham #bursa-saham #pergerakan-ihsg
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/01/26 14:11
v/117047/
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan saham atau trading halt pada Rabu (28/1) menyusul penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8% ke level 8.261.Penghentian sementara perdagangan dilakukan pada pukul 13.43.13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). BEI menyampaikan bahwa perdagangan akan kembali dibuka pada pukul 14.13.13 waktu JATS, tanpa adanya perubahan jadwal perdagangan bursa pada hari yang sama.
Langkah trading halt ini dilakukan sebagai bagian dari mekanisme pengamanan pasar untuk menjaga agar aktivitas perdagangan saham tetap berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Bursa Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, serta ketentuan yang diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
BEI menegaskan bahwa penghentian sementara perdagangan merupakan prosedur standar yang diterapkan ketika terjadi penurunan IHSG dalam batas tertentu, guna memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencermati kondisi dan mencegah volatilitas yang berlebihan.
Buka Perdagangan 2026, Purbaya Optimistis IHSG Tembus Level 10.000 Tahun Ini
Purbaya memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus melaju hingga menyentuh level psikologis 10.000 pada akhir tahun ini. Menteri Keuangan Purbaya... | Halaman Lengkap [304] url asal
#purbaya-yudhi-sadewa #bursa-saham #ihsg #perdagangan-saham
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/01/26 15:12
v/91492/
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menebar optimisme tinggi pada hari pertama perdagangan bursa tahun 2026. Purbaya memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus melaju hingga menyentuh level psikologis 10.000 pada akhir tahun ini.Purbaya menilai penguatan indeks di awal tahun merupakan cermin dari kepercayaan pasar terhadap pondasi ekonomi nasional yang kian solid.
"Kan tadi naik (IHSG), memang itu ada optimisme di pasar bahwa kita akan membaik ke depan. Kalau saya lihat pondasi ekonominya yang sudah ada membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah maksimum," ujar Purbaya usai menghadiri pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2026).
Keyakinan Menkeu terhadap target 10.000 didasari oleh sinergi kebijakan yang lebih matang antara pemerintah, bank sentral, dan otoritas bursa. Ia menekankan bahwa efektivitas kebijakan yang telah disusun dalam setahun terakhir akan memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat dibandingkan tahun sebelumnya.
Purbaya juga mengingatkan para pelaku pasar untuk tidak melewatkan momentum pertumbuhan ini, karena kenaikan ekonomi akan berdampak langsung pada peningkatan laba perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa.
"Waktunya ekonomi akan tumbuh dengan cepat, dicapai tahun ini. Jadi pelaku pasar siap-siap saja. Tahun ini Rp10.000 (IHSG). Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga. Jadi kalau investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan," tegasnya.
Prediksi optimis Menkeu sejalan dengan performa pasar pada pembukaan perdagangan pagi ini. Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka menguat 0,34 persen ke level 8.676,74. Dalam hitungan menit, indeks merangkak naik 0,46 persen ke posisi 8.686. Sebanyak 350 saham berada di zona hijau, 175 saham melemah, dan 433 saham stagnan.
Sinergi yang lebih simpel dan terkoordinasi dengan otoritas moneter diakui Purbaya menjadi mesin utama penggerak ekonomi tahun ini. Dengan fundamental yang kuat, pemerintah percaya diri bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun keemasan bagi pasar modal Indonesia.
BEI terapkan noncancellation period agar harga saham lebih teratur
Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan, kebijakan non-cancellation period atau periode larangan pengubahan maupun ... [431] url asal
#non-cancellation-period #bursa-efek-indonesia #investasi-saham #perdagangan-saham #harga-saham
Aktivitas perdagangan yang terus meningkat di bursa tentu harus dibarengi dengan pengaturan yang semakin baik, dan salah satu yang kami lakukan adalah implementasi noncancellation period ini,
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan, kebijakan non-cancellation period atau periode larangan pengubahan maupun pembatalan pesanan mulai diberlakukan15 Desember mendatang untuk memastikan pembentukan harga saham (price discovery) yang lebih wajar.
Ia mengatakan, langkah tersebut diambil untuk menjaga integritas perdagangan di tengah lonjakan aktivitas transaksi pasar modal domestik, yang pada tahun ini mencapai rata-rata Rp17,5 triliun dari 1,7 juta kali transaksi per hari.
“Aktivitas perdagangan yang terus meningkat di bursa tentu harus dibarengi dengan pengaturan yang semakin baik, dan salah satu yang kami lakukan adalah implementasi noncancellation period ini,” kata Jeffrey Hendrik di Jakarta, Jumat.
Ia menuturkan, penerapan kebijakan tersebut diharapkan dapat menciptakan perdagangan saham yang lebih teratur dan efisien.
Kebijakan tersebut juga ditujukan agar fitur market order dapat digunakan lebih optimal oleh para investor.
BEI memastikan kesiapan sistem baru tersebut setelah melalui proses sosialisasi sejak awal tahun dan tujuh kali pengujian intensif sejak Agustus hingga awal Desember.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 1 BEI Firza Rizqi Putra menjelaskan bahwa noncancellation period tidak berlaku sepanjang waktu perdagangan, melainkan hanya pada menit-menit krusial di sesi pra-pembukaan (pre-opening) dan pra-penutupan (pre-closing).
"Ketika masuk sesi noncancellation period, pesanan yang telah masuk tidak dapat diubah (amend) dan/atau dibatalkan (withdraw). Namun, investor tetap dapat meng-input (memasukkan) pesanan jual atau beli yang baru," ujarnya.
Pada sesi pre-opening, larangan mengubah penawaran jual dan/atau permintaan beli berlaku pukul 08.56.00 sampai dengan 08.59.59 dan larangan untuk mengubah dan/atau membatalkan penawaran jual dan/atau permintaan beli.
Sementara di sesi pre-closing, pukul 15.56.00 hingga 16.01.59 anggota bursa tidak boleh mengubah penawaran jual dan/atau permintaan beli, kemudikan pukul 15.56.00 hingga 15.59.59, anggota bursa tidak diperkenankan untuk mengubah dan/atau membatalkan penawaran jual dan/atau permintaan beli.
Firza mengatakan, kebijakan tersebut juga diterapkan untuk meminimalisir adanya potensi manipulasi pasar dengan memasukkan order (penawaran/permintaan) besar untuk memengaruhi Indikasi Harga Ekuilibrium (IEP), namun membatalkannya di detik-detik terakhir jelang penutupan sesi.
Ia menuturkan, praktik tersebut sering membuat harga indikatif menjadi tidak stabil (volatile) dan mengurangi kepastian bagi investor lain.
"Untuk investor-investor yang ingin mendapatkan kepastian ataupun ada proses rebalancing (penyesuaian portofolio) dan lain-lain akan semakin mendapatkan confidence (keyakinan) untuk melakukan order dengan adanya mekanisme noncancellation period,” ucap Firza Rizqi Putra.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2025
Transaksi saham di Bali tumbuh 72,5 persen didominasi investor muda
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat transaksi saham di Pulau Dewata pada September 2025 mencapai Rp4,8 triliun atau tumbuh 72,5 persen ... [361] url asal
Denpasar (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat transaksi saham di Pulau Dewata pada September 2025 mencapai Rp4,8 triliun atau tumbuh 72,5 persen dibandingkan periode sama 2024 mencapai Rp2,8 triliun yang didominasi oleh investor muda.
“Investor pasar modal di Bali menunjukkan pertumbuhan double digit,” kata Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu di Denpasar, Bali, Minggu.
Ia menilai transaksi saham di Bali tumbuh agresif mengingat secara persentase juga tumbuh dua kali lipat dibandingkan periode sama 2024 yang saat itu tumbuh mencapai 32,4 persen.
Adapun nilai kepemilikan saham di Bali mencapai Rp6,21 triliun atau melonjak 30,4 persen dibandingkan September 2024 mencapai Rp5,09 triliun.
Sedangkan jumlah investor di Bali mencapai 338.168 orang berdasarkan jumlah rekening identifikasi tunggal (SID). Jumlah investor tersebut melejit dibandingkan periode sama 2024 mencapai 133.749 SID.
Puji menjelaskan pertumbuhan saham yang agresif di Bali tidak terlepas dari literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan bersama lembaga jasa keuangan.
Hingga saat ini, pihaknya telah melaksanakan total 1.404 kegiatan literasi dan inklusi keuangan menyasar berbagai kalangan termasuk pekerja, pelaku usaha mikro, keccil, dan menengah (UMKM), petani, penyandang disabilitas, pelajar, dan mahasiswa, dengan total peserta mencapai 610 ribu orang.
Dalam edukasi itu, pihaknya juga menggandeng sekolah dan perguruan tinggi termasuk melalui program integrasi kuliah kerja nyata literasi dan inklusi keuangan (KKN LIK).
Sementara itu, Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Denpasar menambahkan berdasarkan umur, klasifikasi investor saham di Bali didominasi usia 18-25 tahun dengan persentase mencapai 30,1 persen, disusul usia 31-40 tahun sebesar 25,6 persen dan usia 26-30 tahun mencapai 24,4 persen.
Sedangkan investor berusia di atas 41 tahun mencapai 19 persen.
Apabila dirinci berdasarkan jenis pekerjaan, pekerja swasta mencapai 41 persen dan terbesar kedua adalah pelajar atau mahasiswa mencapai 18,3 persen.
Berdasarkan asal Investor, tiga besar berasal dari Kota Denpasar mencapai 32,6 persen, kemudian Kabupaten Badung mencapai 19,4 persen dan Kabupaten Buleleng mencapai 11,8 persen.
Selain itu, sudah ada 29 galeri investasi di Bali dengan menggandeng perguruan tinggi, hingga asosiasi lembaga jasa keuangan yang ikut berkontribusi mendorong peningkatan jumlah investor saham.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025
IHSG Balik Arah, Asing Masih Sibuk Akumulasi Saham Ini
Net foreign buy di pasar saham Indonesia mencapai Rp 281,3 miliar. IMPC jadi saham dengan net buy terbesar, sementara IHSG terkoreksi 0,65%. [416] url asal
#net-foreign-buy #perdagangan-saham #investasi #saham-perbankan #ihsg #aksi-jual-beli #pasar-modal #transaksi-saham #imapck-pratama-industri
(CNBC Indonesia - Market) 18/11/25 21:44
v/42804/
Jakarta, CNBC Indonesia — Net foreign sell pada perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025) menciut dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.
Total pembelian asing mencapai Rp 6,25 triliun dan aksi jual mencapai Rp 5,96 triliun, sehingga asing mencatat net buy Rp 281,3 miliar. Pada awal pekan asing mencatat net buy Rp 710,1 miliar.
Asing tercatat masih mengakumulasi saham-saham perbankan menjelang akhir tahun. Akan tetapi net buy terbesar pada perdagangan kemarin bukan emiten bank.
Impack Pratama Industri (IMPC) tercatat menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, yakni Rp 544,8 miliar. Asing masuk ke saham IMPC melalui pasar negosiasi dengan harga Rp 995.
Pada perdangagan kemarin saham IMPC turun 3,04% ke level 2.550.
Di posisi kedua, Bank Negara Indonesia (BBNI) membukukan net buy asing senilai Rp 256,6 miliar dan diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) Rp 117,5 miliar.
Bank Mandiri berada di posisi kelima sebagai saham dengan net buy asing terbesar. Di antara emiten perbankan, Barito Renewables Energy (BREN) menyelip di urutan keempat.
Selengkapnya berikut 10 saham dengan net foreign buy terbesar pada perdagangan kemarin:
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) - Rp544,8 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp256,63 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) - Rp115,70 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) - Rp74,35 miliar
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) - Rp58,11 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) - Rp48,38 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) - Rp40,31 miliar
- PT MD Entertainment Tbk. (FILM) - Rp36,12 miliar
- PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) - Rp34,30 miliar
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) - Rp32,04 miliar
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah setelah menguat 0,15% pada pembukaan.
Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 54,96 poin atau melemah 0,65% ke level 8.361,92. Sebanyak 230 saham naik, 418 turun, dan 162 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 19,56 triliun yang melibatkan 40,85 miliar saham dalam 2,52 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah dengan koreksi terbesar dicatatkan sektor kesehatan energi dan industri. Sedangkan sektor properti menjadi satu-satunya yang mengalami penguatan.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Kolaps, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41308/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Ambyar, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41288/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Asing Net Buy Rp4,8 T Pekan Lalu, Diam-Diam Borong 10 Saham Ini
IHSG melemah 0,02% di akhir pekan, ditutup di 8370,43. Investor asing beli bersih Rp4,84 triliun, dengan CASA dan EMAS jadi saham terfavorit. [286] url asal
#saham #net-buy #investor-asing #ihsg #pasar-modal #perdagangan-saham #analisis-saham #bursa-efek-indonesia #aksi-beli #saham-unggulan
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 08:09
v/40129/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah tipis pada akhir pekan lalu. Indeks ditutup menyusut 0,02% ke posisi 8370,43 pada perdagangan Jumat (16/11/2025).
Selama sepekan lalu, iHSG hanya ditutup di zona hijau dalam satu hari perdagangan. Secara akumulatif, indeks tercatat melemah 0,29% sepanjang perdagangan pekan lalu.
Namun demikian, investor asing terpantau gencar melakukan aksi beli bersih, tembus Rp4,84 triliun di seluruh pasar. Perinciannya, sebesar Rp600,82 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp4,24 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
Lantas, saham-saham apa saja yang kompak masuk keranjang beli asing? Mengutip Indo Premier, berikut 10 saham terbanyak dalam net foreign buy perdagangan pekan lalu.
1. PT Capital Finance Indonesia Tbk. (CASA) - Rp2,68 triliun
2. PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) - Rp1,20 triliun
3. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) - Rp445,1 miliar
4. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) - Rp431,3 miliar
5. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) - Rp345,6 miliar
6. PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) - Rp297 miliar
7. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) - Rp290,2 miliar
8. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) - Rp150,1 miliar
9. PT United Tractors Tbk. (UNTR) - Rp149,5 miliar
10. PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) - Rp146,2 miliar
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Asing Terciduk Kompak Lego 10 Saham Ini Kala Bukukan Net Buy Rp4,8 T
IHSG ditutup melemah 0,02% pada Jumat lalu, dengan akumulasi penurunan 0,29% sepanjang pekan. Investor asing mencatat beli bersih Rp4,84 triliun. [287] url asal
#ihsg #pasar-saham #investasi #aksi-beli #investor-asing #net-foreign-sell #perdagangan-saham #analisis-pasar #jakarta #laporan-keuangan
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 07:34
v/40079/
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal happy weekend. Indeks ditutup menyusut 0,02% ke posisi 8370,43 pada perdagangan Jumat (16/11/2025).
Selama sepekan lalu, IHSG hanya ditutup di zona hijau dalam satu hari perdagangan. Secara akumulatif, indeks tercatat melemah 0,29% sepanjang perdagangan pekan lalu.
Sementara itu, investor asing terpantau gencar melakukan aksi beli bersih, tembus Rp4,84 triliun di seluruh pasar. Perinciannya, sebesar Rp600,82 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp4,24 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
Di samping itu, terdapat pula saham-saham yang bersamaan masuk ke antrean jual asing selama pekan lalu. Mengutip Indo Premier, berikut 10 saham terbanyak dalam net foreign sell perdagangan pekan lalu.
1. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) - Rp356,9 miliar
2. PT MNC Energy Investments Tbk. (IATA) - Rp265 miliar
3. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) - Rp224,2 miliar
4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp204,7 miliar
5. PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) - Rp190,3 miliar
6. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) - Rp186,2 miliar
7. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) - Rp181,1 miliar
8. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) - Rp171,6 miliar
9. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) - Rp153,9 miliar
10. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) - Rp152,4 miliar
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Net Buy Asing Tembus Rp2,9 T, 10 Saham Ini Paling Banyak Diincar
IHSG merosot 0,2% di posisi 8.372 pada 13 November 2025. Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp2,91 triliun. Temukan saham teratas yang dibeli! [283] url asal
#ihsg #pasar-saham #transaksi-saham #investasi #pembelian-asing #net-foreign-buy #saham-unggulan #bumi-resources #analisis-pasar #perdagangan-saham
(CNBC Indonesia - Market) 14/11/25 07:46
v/38154/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot pada perdagangan Kamis (13/11/2025). Indeks ditutup turun tipis 0,2% di posisi 8.372.
Nilai transaksi kemarin mencapai Rp25,45 triliun, melibatkan 62,37 miliar saham dalam 2,75 juta kali transaksi. Sebanyak 314 saham menguat, 345 saham melemah dan 154 tidak bergerak.
Sementara itu, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih jumbo, sebesar Rp2,91 trilliun di seluruh pasar dan sebesar Rp2,99 triliun di pasar negosiasi dan tunai. Di samping itu, asing juga mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp76,60 miliar di pasar reguler.
Lantas, apa saja saham yang kompak masuk keranjang beli asing selama perdagangan kemarin? Mengutip Stockbit, berikut 10 saham terbanyak dalam net foreign buy perdagangan Kamis!
- PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) - Rp178,82 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) - Rp125,94 miliar
- PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) - Rp98,10 miliar
- PT Petrosea Tbk. (PTRO) - Rp81,25 miliar
- PT Timah Tbk. (TINS) - Rp46,30 miliar
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) - Rp43,74 miliar
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) - Rp37,53 miliar
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) - Rp25,35 miliar
- PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA) - Rp19,12 miliar
- PT United Tractors Tbk. (UNTR) - Rp17,67 miliar
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Lagi-Lagi Ada Transaksi Jumbo Rp 2,7 T di Saham Induk Bank Capital
Transaksi jumbo saham PT Capital Finance Indonesia (CASA) mencapai Rp2,7 triliun dengan 2,5 miliar saham berpindah tangan. Saham CASA naik 1,85% hari ini. [316] url asal
#saham-casa #transaksi-jumbo #pasar-negosiasi #pt-capital-finance-indonesia #investasi-saham #kapitalisasi-pasar #danny-nogroho #emiten-jasa-keuangan #perdagangan-saham
(CNBC Indonesia - Market) 13/11/25 12:56
v/37373/
Jakarta, CNBC Indonesia — Transaksi jumbo terpantau terjadi pada saham PT Capital Finance Indonesia Tbk (CASA). Aksi ini melibatkan perpindahan sebanyak Rp2,7 triliun saham emiten jasa keuangan tersebut di pasar negosiasi.
Menurut data pasar, setidaknya sebanyak 2,5 miliar saham PT Capital Finance Indonesia Tbk (CASA) berpindah tangan pada perdagangan hari ini, Kamis, 13/11/2025). Adapun rata-rata harga transaksi dilakukan pada Rp 1.075.
Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan mengenai pihak-pihak yang melakukan transaksi dan juga tujuan aksi korporasi.
Sebelumnya, pada 13 Oktober 2025 CASA juga mencatat transaksi di pasar negosiasi dengan nilai serupa atau tepatnya Rp 2,86 triliun. Sebanyak 2,67 miliar saham berpindah tangan dengan rata-rata nilai transaksi Rp 1.070.
Adapun seiring dengan transaksi jumbo hari ini, saham CASA naik 1,85% ke level 1.100 pada akhir sesi I. Sepanjang hari saham CASA bergerak pada rentang 1.065-1.105.
Akan tetapi sepanjang tahun berjalan (ytd) saham CASA telah naik 94.69%. Adapun kapitalisasi pasarnya mencapai Rp59,92 triliun.
Sebagai informasi, pemegang manfaat akhir saham CASA adalah Danny Nogroho. Dia menguasai CASA melalui PT Capital Strategic Invesco yang menggenggam 36,53 miliar saham atau 67,06% per 30 September 2025.
CASA tercatat sebagai perusahaan jasa keuangan dan induk dari sejumlah perusahaan finansial. Satu di antaranya adalah PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA). Melalui PT Capital Global Investama, CASA mengendalikan 64,7% saham BACA per 30 September 2025.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56