Bisnis.com, SURABAYA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim kemampuan Indonesia untuk tidak mengimpor beras dalam dua tahun terakhir karena stok domestik yang memadai telah berkontribusi pada penurunan harga beras di pasar global.
Amran menyebut Indonesia berhasil menahan potensi impor hingga tujuh juta ton beras dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, langkah tersebut berdampak pada turunnya harga beras di 33 negara konsumen dari kisaran US$660 menjadi US$340–US$380 per ton.
"Ada 33 negara yang konsumsi beras itu harganya turun. Dulu US$660 menjadi US$340 sampai US$380 karena Indonesia tiba-tiba tidak impor tujuh juta ton [beras] dua tahun berturut-turut. Indonesia adalah importir beras terbesar dunia dan tiba-tiba punya stok. Pasti harga turun kan? Lah, ini saja data-data ini kalau diolah dengan baik dengan akal sehat. Ini pasti mengatakan, 'Oh iya benar'," kata Amran, dikutip Jumat (15/5/2026).
Mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO), rata-rata indeks harga beras memang sempat mencapai level 132,0 pada 2023 dan 133,1 pada 2024. Harga memperlihatkan penurunan pada 2025 dengan indeks harga beras rata-rata yang menyentuh 103,5.
Adapun untuk Januari–April 2026, indeks harga beras bertengger di angka 102,1, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di level 107,1.
Amran memaparkan Indonesia telah mencapai swasembada beras dengan surplus cadangan mencapai 5,3 juta ton. Dia menyebut data tersebut telah dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), FAO, dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).
Sebagai bukti melimpahnya stok, Amran menunjuk kapasitas gudang Perum Bulog yang diklaim sudah penuh. Pemerintah disebut terpaksa menyewa gudang tambahan untuk menampung kelebihan stok.
"Kalau ada yang mengatakan ini diragukan [swasembadanya]. Lah, kalau ini diragukan stok yang ada sekarang, ini sewa gudang nih sekarang nih. Ini gudang yang kita lihat ini disewa, kenapa? Sudah full. Kapasitas gudang hanya 3 juta ton. Sekarang 5 juta, sudah sewa 2 juta ton," kata Amran.
Dengan stok yang diklaim melimpah, Amran mengatakan Indonesia bahkan menerima permintaan ekspor beras dari Malaysia sebesar 500.000 ton.
"Ini ada saudara kita mumpung di sini. Dari Malaysia. Ini minta beras 500.000 ton. Ini menarik ini menjadi judul lagi nanti. Kebetulan tadi mau ketemu, saya bilang ke Surabaya. Ini orangnya dulu impor jagung dari Indonesia. Sekarang saudara kita minta 500.000 ton," jelasnya.
Amran menegaskan akurasi data stok beras nasional dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan mempersilakan pihak yang meragukan untuk memeriksa langsung kondisi gudang.
"Kalau ini data tidak benar, mana kepala gudang? Itu dipenjara tuh. Langsung masuk. Enggak perlu diperiksa lama. Langsung masuk," ujarnya.