Bisnis.com, MEDAN - Pertamina EP Rantau Field mengenalkan inovasi terbaru perseroan untuk mencegah loss production atau risiko kehilangan produksi akibat masalah 'kepasiran', kondisi di mana pasir ikut naik bersama aliran fluida yang dapat mengakibatkan kerusakan pada pompa.
Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau Tomi Wahyu Alimsyah mengatakan sumur-sumur migas yang telah mature di lapangan PEP Rantau kerap menghadapi masalah 'kepasiran'. Selain membuat pompa menjadi rusak, masalah ini membuat minyak mentah (crude oil) tidak terangkut optimal sehingga memunculkan ide punggawa perseroan untuk mengembangkan inovasi USAT (Ultimate Sand Trap).
"Sebelumnya, inovasi yang diterapkan untuk mengatasi masalah kepasiran adalah We Are Fines di tahun 2023. USAT dikembangkan dan diaplikasikan sejak 2024 untuk melengkapi inovasi sebelumnya. Dengan begitu, pompa tetap beroperasi dengan baik untuk mengalirkan fluida ke permukaan," ujar Tomi dalam keterangan yang diterima Bisnis, Kamis (26/2/2026).
Tomi menjelaskan inovasi USAT hadir untuk meningkatkan masa operasi pompa yang memiliki masalah kepasiran dengan menambahkan aksesoris pada pompa Electric Submersible Pump (ESP) yang digunakan perseroan.
Inovasi pada pompa ESP ini menjadi penting lantaran sebanyak 29 dari 87 sumur di PEP Rantau Field menggunakan pompa ESP.
Dalam praktiknya, lanjut Tomi, pompa ESP dapat mengalami kerusakan karena pasir ikut naik ke permukaan bersama aliran fluida.
Melalui inovasi USAT, tim menambahkan aksesoris USAT di tengah lapisan tubing pompa. Aksesoris USAT ini yang disebutnya akan menahan pasir di dalam sumur yang mengalami fallback.
"Dengan cara ini, pasir tidak akan jatuh atau masuk ke pompa namun terjatuh pada sela antara USAT dengan tubing. Dengan begitu, pompa tetap beroperasi dengan baik untuk mengalirkan fluida ke permukaan," jelasnya.
Dia bahkan menyebut teknologi USAT dapat membuat pompa melakukan reserve circulating jika tersumbat.
Lebih jauh dari sisi biaya, penggunaan USAT juga diklaim mampu menghindarkan perseroan dari biaya tambahan. Inovasi yang telah diterapkan di tiga sumur PEP Rantau Field ini bahkan disebut dapat menambah pendapatan perseroan hingga milyaran Rupiah.
Petroleum Engineering PEP Rantau Field Andi Surianto Sinurat mengatakan produksi USAT tak memerlukan biaya mahal. Proses pengerjaan aksesori ini pun terbilang singkat, hanya 3 (tiga) hari dengan material yang mudah didapat.
"Setiap aksesoris biayanya tidak kurang dari tiga juta Rupiah dengan estimasi masa pakai selama satu tahun. Biaya ini digunakan untuk biaya material dan biaya manpower (tenaga kerja). Material yang diperlukan untuk merakit USAT antara lain mata bor, tubing, tubing coupling, dan kawat," jelas Andi Surianto yang juga merupakan tim pengembangan inovasi We Are Fines dan USAT.
Di samping mengatasi masalah utama 'kepasiran' di sumur-sumur minyak Pertamina yang dikelola PEP Rantau Field, perseroan pun disebutnya berhasil menghemat biaya rig hingga 50% sepanjang Januari 2024 hingga September 2025, serta mengurangi loss produksi sumur sebesar 4% dengan penerapan inovasi We Are Fine dan USAT.
Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau mengatakan USAT merupakan inovasi internal Pertamina EP Rantau Field yang dikerjakan oleh punggawa di bidang Petroleum Engineering (PO) dan Well Service (WS).
"Mereka terus berinovasi untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi. Ini merupakan implementasi komitmen kami untuk mendukung target produksi nasional,” ujar Tomi.
Inovasi inipun berhasil membawa Pertamina EP Rantau lewat tim PC Prove Alumni Pasir memperoleh penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovasi Award (UIIA) 2025 Subholding Upstream Pertamina.
Saat ini, jelasnya, metode We Are Fines sudah diterapkan di seluruh sumur minyak dalam pengelolaan PEP Rantau Field.Sementara teknologi USAT hingga September 2025 telah diterapkan di tiga sumur (P-420, P-383, dan P-406).
"Tadinya, sebelum diterapkan We Are Fines dan inovasi USAT ini angka resikonya mencapai 62%. Kami optimistis, dengan penerapan menyeluruh ini akan semakin meningkatkan penghematan perusahaan,” katanya.